
Mansion utama Khan dan Ashley,
kamar tidur utama.
"Mereka akan menginap?," Khan terlihat bertanya, laki-laki itu baru saja keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk putihnya kemudian dia bergerak mendekat ke arah kasur di mana sang istrinya berada.
"He em," Ashley menjawab sambil mengganggukan kepalanya dengan cepat.
"Bukan masalah, itu bisa membuat ramai kediaman kita." Laki-laki itu melihat tumpukan baju ganti yang telah disiapkan oleh istrinya untuk dirinya di atas kasur, menyambar pakaian ganti tersebut dan mulai menggunakannya satu persatu.
"Ini hanya pemikiranku saja tapi aku pikir mungkin aku sedikit berlebihan apa yang aku pikirkan sebenarnya salah," Khan tiba-tiba bicara kepada istrinya tersebut saat dia baru selesai menggunakan baju kaos nya.
"Tidakkah kamu lihat bagaimana cara Ford memperlakukan Zoya?," laki-laki itu bertanya dengan serius ke arah istrinya kemudian dia duduk tepat di samping istrinya secara perlahan, ke atas kasur milik mereka.
Ashley yang mendengar ucapan dari suaminya seketika menganggukkan kepalanya secara perlahan.
"He em, dia memperlakukan Zoya dengan sangat baik." perempuan itu menjawab dengan cepat kemudian mengembangkan senyumannya.
Ashley bergerak mengambil handuk basah yang diletakkan oleh suaminya ke atas kursi yang ada di samping kasur mereka, bergerak menuju ke arah kamar mandi dan menggantung handuk tersebut di sana. Setelah itu, Ashley kembali bergerak menuju ke arah kasur di mana mereka seharusnya tidur dan perempuan itu langsung naik ke atas kasur dan berbaring tepat di samping suaminya.
"Aku pikir Ford jatuh cinta pada gadis muda tersebut." Khan kembali bicara dengan cepat dan berusaha untuk mengeluarkan apa yang ada di dalam pikirannya.
Mendengar apa yang diucapkan oleh suaminya membuat Ashley langsung menaikkan ujung alisnya.
"Begitu yakin?," dia bertanya dengan nada yang begitu serius.
"Aku melihat nya dengan baik, Ford melihat gadis tersebut dalam sisi yang berbeda, bukan sebagai pejuang yang mencoba menyelamatkan orang yang tidak berdaya juga bukan sebagai orang tua yang mencoba untuk melindungi anak-anak muda di sekitar nya, aku melihat cara Ford pada Zoya seperti layaknya laki-laki dewasa yang jatuh cinta kepada perempuan muda, penglihatanku sepertinya tidak salah.".Khan bicara panjang lebar dan mencoba untuk menjabarkan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Ketika dia melihat perlakuan laki-laki tersebut kepada Jaya semalam membuat dia begitu yakin jika Ford jatuh cinta pada gadis muda tersebut, tatapan mata laki-laki itu tidak bisa berbohong sama sekali, dia tahu bagaimana cara sudut pandang laki-laki dewasa mencintai seorang perempuan.
Ashley terlihat diam saat mendengar apa yang diucapkan oleh suaminya.
"Aku mencoba menyimpulkan apa yang kulihat sejak semalam hingga pagi ketika kita menyelesaikan urusan Laura, tatapan matanya dan juga perhatiannya cukup melampaui batasan, apalagi saat Rei tanpa sengaja melakukan interaksi dengan Zoya, aku bisa melihat api kecemburuan menghantam laki-laki tersebut," lanjut laki-laki itu lagi kemudian.
"Aku berpikir hal yang sama," pada akhirnya Ashley bicara, menyetujui ucapan suaminya saat ini.
"Ford terlihat begitu mencintai Zoya saat ini bahkan dia mencoba untuk tidak benar-benar menampilkan perasaannya karena dia takut gadis itu menolaknya tapi meskipun begitu perlakuannya tidak bisa menutupi tentang perasaan yang sebenarnya," lanjut Ashley lagi kemudian.
Khan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat karena dia setuju atas ucapan dari perempuan tersebut.
"Persis seperti apa yang aku pikirkan," lanjut perempuan itu lagi kemudian.
Mereka pada akhirnya mengobrol cukup banyak tentang beberapa hal, bercerita dan bercengkrama bahkan sesekali mereka terlihat tertawa bersama atau terkadang Ashley memukul lengan Khan karena gemas. Namun di tengah obrolan yang terjadi di antara mereka tiba-tiba saja Khan kembali merasa perutnya mual.
"Oh shi-t." laki-laki tersebut mengumpat dengan kesal, buru-buru dia bangun dari posisinya lantas berlarian menuju ke arah kamar mandi tanpa berpikir dua tiga kali.
laki-laki tersebut pikir dia kembali akan memuntahkan seluruh isi perut nya saat ini juga dan ini sangat menyiksa, benar saja ketika dia tiba di kamar mandi tanpa bisa menahannya lagi laki-laki itu benar-benar memuntahkan seluruh isi perutnya tanpa terkecuali, apapun yang dimakannya jelas keluar begitu saja dan itu sangat menjijikan untuk dirinya.
Ashley bergegas mengambil minyak angin yang ada di dalam laci nakas, setelah mendapatkan minyak angin tersebut perempuan itu buru-buru langsung berlarian menuju ke arah kamar mandi menyusul suaminya, bisa dia lihat Khan memutarkan seluruh isi perutnya, membuat perempuan itu cukup iba terhadap suaminya saat ini. Dia memilih untuk memberikan minyak angin di tengkuk sang suami, memijat-mijatnya untuk beberapa waktu tanpa berpikir dua tiga kali.
Khan merasa bola matanya benar-benar memerah karena rasa yang berantakan di dalam dirinya di mana dia sama sekali tidak bisa menahan keinginannya untuk mengeluarkan apapun yang ada di dalam perutnya saat ini. Cukup lama dia berputar di dalam kamar mandi dalam kesengsaraannya di mana Ashley hanya mampu membantu seadanya.
Pada akhirnya setelah meyakinkan diri memutuskan seluruh isi perutnya laki-laki tersebut langsung membersihkan mulutnya dengan cepat, dia seorang laki-laki namun nyatanya penyakit seperti itu membuatnya sangat tersiksa di mana kini bisa dirasakan bola matanya tampak berkaca-kaca karena keadaan, bukan karena dia cengeng atau karena dia merupakan laki-laki yang tidak tahu malu menangis dalam keadaan tidak jelas karena memuntahkan isi perutnya tapi efek yang terjadi benar-benar sangat luar biasa untuk dirinya.
"Aku pikir sebaik nya kita memanggil seorang dokter dan memeriksa keadaan mu, Khan." Ashley langsung memberikan inisiatif agar suaminya mau diperiksa oleh dokter.
"kamu sudah menolaknya berkali-kali dan aku tidak ingin kamu menolaknya lagi saat ini," perempuan itu terus bicara dan mencoba untuk mengingatkan suaminya.
"Sayang?," Khan sebenarnya berusaha untuk menolak karena dia benar-benar tidak ingin berhadapan dengan dokter.
"Aku akan minta dokter Jonathan untuk memeriksa keadaanmu atau kita bisa cari dokter yang lainnya untuk bisa memeriksa apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu belakangan ini," perempuan itu memberikan saran paling terbaik kepada sang suaminya dalam dua pilihan ingin menggunakan dokter mana saat ini.
Khan yang sebenarnya sama sekali tidak ingin diperiksa pada akhirnya berusaha untuk mengalah dan berkata.
"Siapapun bukan masalah, biarkan mereka datang dan memeriksa keadaanku tapi ingat jangan menyulitkanku," jawab laki-laki tersebut kemudian.
Ashley jelas aja langsung mengembangkan senyumannya saat mendengar jawaban dari suaminya.
******
Masih di mansion utama Khan dan Ashley,
kamar tidur utama.
seorang dokter laki-laki berusia lebih dari setengah abad terlihat fokus memeriksa keadaan Khan, dokter tersebut sama sekali tidak mengeluarkan suaranya sejak tadi di mana dia sibuk untuk memeriksa keadaan laki-laki yang ada di hadapannya tersebut saat ini.
Ashley terlihat menatap apa yang dilakukan oleh dokter laki-laki itu kepada suaminya untuk beberapa waktu, dengan perasaan was-was dan cemas dia menunggu apa yang akan diucapkan oleh dokter laki-laki itu kepada mereka.
Sang dokter pada akhirnya terlihat mengganggu-ganggukan kepalanya sendiri untuk beberapa waktu, seolah-olah dia telah mendiagnosa apa yang menimpa pada Khan saat ini. setelah menyelesaikan apa yang dilakukan nya, laki-laki itu mencoba untuk mencatat resep obat untuk Khan.
"Apakah kondisi ku buruk, paman?," Khan bertanya pada laki-laki tersebut sembari mengerutkan keningnya.
dia cukup penasaran dengan apa yang terjadi pada dirinya, berpikir apakah kesehatannya buruk dan apakah dia butuh istirahat saat ini untuk beberapa waktu ke depan.
Laki-laki yang dipanggil Paman tersebut terlihat mengembangkan senyumannya kemudian dia berkata.
"jangan khawatir soal apapun, kamu terlihat baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dicemaskan," laki-laki itu menjawab dengan cepat sembari dia memberikan resep obat kepada Ashley.
Ashley menundukkan kepalanya secara perlahan di mana perempuan itu menerima kertas kecil yang diberikan oleh sang dokter di tangannya.
"jika baik-baik saja kenapa aku selalu memuntahkan seluruh isi perut? aku juga takut terkena penyakit aneh yang tidak ada obatnya," Khan menyahut dengan cepat ucapan dari laki-laki tersebut.
"Sebenarnya ini bukan penyakit," laki-laki tua itu kembali melanjutkan ucapannya kemudian dia melirik ke arah Ashley.
"Pergilah untuk memeriksakan kondisi istrimu ke dokter besok," dan pada akhirnya dokter laki-laki tersebut bicara dengan cepat.
"aku tahu istrimu pasti baik-baik saja namun dia membutuhkan sedikit pemeriksaan terhadap kondisi nya saat ini," dokter laki-laki itu mencoba untuk memberikan saran agar Ashley pergi ke dokter untuk memeriksa keadaannya.
Laki-laki tersebut tidak mungkin memeriksa keadaan asli karena itu jelas bukan bidangnya, ditambah lagi dia memang kurang suka melayani pasien perempuan meskipun pasien tersebut adalah keluarga paling terdekatnya atau bahkan mungkin bagian dari orang-orang paling terpenting didalam hidup nya. selain karena dia tidak suka merawat pasien perempuan itu juga karena dia memang bukan bergerak di bidang sakit ya diderita sepasang suami istri tersebut.
Percayalah, ucapan dokter laki-laki itu sedikit membuat Khan agak bingung dan Blang, dia tidak paham apa yang diucapkan oleh sang paman.
"Jangan khawatir soal apapun, semua baik-baik saja hanya saja aku ingin kamu memeriksa keadaan Ashley." kembali dokter laki-laki itu bicara sembari dia menepuk-nepuh punggung dari laki-laki yang ada di hadapannya.
"Ayolah paman, ekspresi wajahmu juga membuatku khawatir,". meski bagaimana pun juga tetap saja Khan tetap merasa khawatir dengan keadaan.
"Lalu apa hubungannya dengan mual yang ada di dalam diriku saat ini?," Khan terus saja bertanya dalam kepolosan.
"Katakan juga berapa lama keadaan ini akan berlangsung? aku cukup tidak kuat untuk mengeluarkan seluruh isi perutku saat ini," keluh Khan kemudian.
"Tidak lama, hanya saja keadaan ini mungkin akan berlalu setelah dua hingga tiga bulan ke depan,"
Dan mendengar apa yang diucapkan oleh sang dokter membuat Khan langsung terbelalak kaget.
"Apa?," bayangkan bagaimana ekspresi laki-laki tersebut saat ini.
******