
Disisi lain.
Egalita memejamkan sejenak bola mata nya dan mencoba untuk menarik pelan nafasnya untuk beberapa waktu, hingga dia kembali membuka bola matanya dan pada akhirnya gadis tersebut melirik kearah Nyx, lantas menatap telapak tangan kokoh yang besarnya hampir dua kali lipat dari besar telapak tangannya.
Egalita kembali menatap kearah Nyx. Yah Nyx Zaighum, Laki-laki yang begitu arogansi dengan sifat temperamental buruknya itu menatap dalam wajah nya untuk beberapa waktu.
"Apa dia pernah bersikap buruk pada mu? melukai kamu sedikit pun atau menyakiti kamu?," terngiang kembali pertanyaan seseorang soal laki-laki disampingnya tersebut.
Egalita diam, menatap Nyx dalam keheningan.
"Tidak, aku lah yang terus keras kepala memperlakukan nya dengan kemarahan, mengintimidasi dan menatap nya penuh rasa benci, pertemuan awal sangat tidak menyenangkan, meskipun dia begitu angkuh dan sombong, bermulut pedas dan sedikit arogan, laki-laki tersebut tidak pernah menampilkan sisi buruk nya pada diri ku. aku begitu sensitif dan merasa melihat musuh terbesar dalam kehidupan ku, seakan-akan dia memberikan luka begitu dalam didalam hati ku." itu adalah jawabannya pada sosok tersebut.
Yah dia begitu benci pada Nyx, seolah-olah laki-laki tersebut memiliki sebuah kesalahan besar pada dirinya, tiap kali menatap bola mata Nyx, seakan-akan laki-laki tersebut merampas sesuatu yang berharga didalam dirinya. Dia pikir itu hanya pemikiran tidak masuk akal nya, karena dia benci Nyx tidak memperlakukan putra laki-laki tersebut sendiri dengan tidak baik. Sebagai seorang guru dari putra wali murid nya, Egalita pikir itu sifat alamiah seorang guru pada wali anak didiknya, nyata nya siapa sangka perasaan yang menghantam nya merupakan insting alamiah yang di alami seorang ibu pada anak nya.
Seketika bola mata Egalita berkaca-kaca, ingat bagaimana J kecil terus memanggil nya.
Gadis tersebut seketika menggelengkan kepalanya secara perlahan, menatap kembali telapak tangan kokoh Nyx Zaighum. Secara perlahan gadis tersebut menerima uluran tangan Nyx, menyakinkan diri jika ini adalah pilihan paling tepat yang diputuskan atas semua hal yang terjadi dalam hidupnya selama beberapa waktu ini, dia mencoba untuk menyakinkan diri mungkin seperti ucapan nenek tua Ramira dari keluarga Hillatop, sejak awal di sinilah tempat dia seharusnya.
"Sejak awal benang merah yang terhubung dengan kalian sudah di ikat dengan erat, kau tidak bisa mengelak takdir, karena pada akhirnya sekuat apapun kamu berlari, kau akan kembali pada apa yang seharusnya. J membutuhkan mu Egalita, dia membutuhkan ibunya."
Saat telapak tangan Koko tersebut menggenggam erat telapak tangan Egalita, Nyx terlihat menatap dalam bola mata gadis yang ada di sampingnya tersebut untuk beberapa waktu, kini seorang senyuman mengembang dibalik wajah tampan nya, jantung Nyx sejujurnya terasa tidak baik-baik saja, dalam balutan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu diiringi sebuah kebahagiaan yang tidak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata, laki-laki tersebut merapatkan dirinya pada Egalita, membiarkan diri menatap dalam bola mata Egalita dan membiarkan tangan kanan nya meraih pinggang gadis dihadapannya tersebut, merapatkan diri dan memangkas jarak yang pernah Egalita buat selama berbulan-bulan lamanya.
Pada akhirnya perjuangan nya tidak sia-sia.
"Terimakasih Egalita untuk semuanya, masa depan, Nyx J dan kesempatan yang kamu berikan untuk ku saat ini." ucap Nyx dengan perasaan berdebar-debar dalam balutan kebahagiaan yang sulit untuk dia ungkapan dengan kata-kata.
Egalita tidak menjawab sama sekali, membiarkan laki-laki dihadapan nya tersebut bicara dan mengungkapkan apapun yang ingin dilakukan nya pada dirinya.
"Maafkan aku karena terlambat tahu tentang masa lalu." lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian sambil menyentuh lembut wajah Egalita dan didetik kemudian dalam balutan satu keberanian Nyx melesatkan sebuah ciuman manis di balik bibir Egalita.