King Khan's Shackles

King Khan's Shackles
Dua saudara kandung yang terpisah



Mansion utama Khan dan Ashley,


Ruang belakang menghadap taman.


"Jadi katakan pada ku, semester berapa kamu kuliah?," Khan bertanya pada Zoya ditengah suasana makan malam bersama.


Ashley sengaja memindahkan meja makan malam menuju ke arah belakang bagian taman, dia ingin menciptakan suasana romantis di antara mereka berempat, ingin meninggalkan pesan paling dalam untuk penggabungan di antara mereka. Perempuan itu sengaja membuat hal seperti itu untuk menjadikan yang moment paling berharga.


Zoya yang mendapatkan pertanyaan seperti itu seketika langsung melirik kearah Khan, dia menatap kamar laki-laki tersebut untuk beberapa waktu hingga akhirnya berkata.


"Masuk semester 7 di bulan ini," Zoya menjawab dengan cepat pertanyaan dari Khan.


Tapi tidak tahu kenapa tiba-tiba ekspresi wajahnya jadi sedikit sedih, ingat kata kuliah membuat dia jadi cukup tidak baik-baik saja, seharusnya jika bukan karena kejadian malam itu mungkin saat ini dia sedang tertawa bahagia dan bersenang-senang dengan teman-temannya.


"Sudah hampir selesai untuk urusan kuliah, aku pikir usia mu masih terlalu muda." Khan mengangguk-anggukkan kepalanya, dia tahu usia Zoya jelas masih terlalu muda, cukup selisih jauh dengan Ford saat ini.


Dia melirik kearah Ford yang sejak tadi duduk di samping Zoya, laki-laki tersebut sama sekali tidak mengeluarkan suaranya sejak tadi.


"21 tahun," Zoya kembali menjawab pertanyaan dari laki-laki tersebut.


"Sudah ku duga." Khan terlihat mengembangkan senyuman kemudian dia menelisik wajah Zoya, lantas melirik ke arah istrinya.


Laki-laki tersebut pikir kedua orang tersebut benar-benar memiliki kemiripan antara satu dengan yang lain nya.


"Besok punya acara khusus untuk pergi keluar?," Ashley bergantian membuka suaranya, dia melirik ke arah Zoya kemudian menatap ke arah Ford untuk beberapa waktu.


"Paman akan membawaku ke satu tempat, sayang nya paman belum mengatakan padaku akan membawaku ke mana, tapi dia bilang aku mungkin akan menyukainya." Zoya bicara dengan cepat menjawab pertanyaan dari perempuan yang ada di hadapannya tersebut.


"Pergi ke satu tempat?,"Ashley terlihat menaikkan ujung alis nya, dia melirik ke arah Ford untuk beberapa waktu.


"Mengubah suasana hati Zoya, aku pikir dia cukup bosan di rumah karena keadaan." laki-laki tersebut pada akhirnya menjawab ketika Ashley seolah-olah mempertanyakannya dengan pertanyaannya cukup mengidentifikasi dan dengan pandangan yang cukup mencurigakan pula.


"Pastikan memberikan penjagaan dan pengawasan yang ketat, aku masih khawatir ada orang jahat yang mungkin berniat buruk pada Zoya." Ashley berusaha untuk memperingati Ford agar lebih berhati-hati saat membawa Zoya.


Ada jutaan kekhawatiran di dalam dirinya saat ini tentang gadis tersebut, meskipun sebenarnya seharusnya dia tidak terlalu khawatir karena sejak awal Ford memang pilihan paling tepat untuknya agar melindungi Zoya.


Dia sudah menyusun seluruh rencana di buku jurnalnya siapa saja orang-orang yang seharusnya melindungi orang-orang di sekitarnya dan orang-orang terpenting di dalam hidupnya termasuk Zoya, dan Ford menjadi pilihan paling tepat untuk menjadi laki-laki yang membelenggu Zoya dalam perlindungan nya.


Ford yang mendengar peringatan dari perempuan di hadapannya terlihat menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Jangan khawatir soal apapun, mataku cukup banyak untuk mengawasi tiap pergerakan orang-orang di sekitar." jawab Ford kemudian.


Khan terlihat melirik karena istrinya untuk beberapa waktu kemudian menatap kearah Ford, sebenarnya dia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya kenapa mempercayai Ford untuk menjaga gadis muda, Ford bukan sosok yang harus terlalu dipercaya karena laki-laki tersebut jelas bukan merupakan laki-laki yang cukup di anggap aman menyimpan gadis muda di rumah nya, dia cukup ngeri jika Ford memiliki pemikiran lain terhadap gadis dihadapan mereka tersebut.


Oh shi-t, Khan pikir sejauh itu dia berpikir saat ini.


Laki-laki tersebut menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Sayang ada apa? apa mual lagi?," Ashley yang melihat tingkah suaminya seketika terkejut, jika laki-laki itu akan memuntahkan lagi seluruh isi perutnya.


Apalagi saat ini mereka sedang melewati makan malam bersama.


Mendengar pertanyaan dari istrinya membuat laki-laki itu buru-buru menggelengkan kepalanya.


"Tidak masalah, aku baik-baik saja." ucap Khan kemudian.


Dia kembali mencoba melahap makanan yang ada di hadapan secara perlahan, dan mengabaikan berbagai macam pemikiran yang menghantam dirinya saat ini.


Setelah mereka menyelesaikan makan malam bersama pada akhirnya keempat orang tersebut memilih untuk menikmati lagi malam di atas teras lantai paling atas kediaman Khan. Laki-laki memilih untuk menghabiskan kopi sembari sesekali membuka suara dan bercerita untuk hal-hal di luar jalur mafia, Ashley sudah bergantian mengingatkan kedua orang tersebut untuk tidak membicarakan soal pekerjaan dan lain sebagainya, ingin mereka bicara sebagai laki-laki pada laki-laki dan membahas soal hal yang lainnya.


Sedangkan Ashley dan Zoya lebih memilih untuk mengobrol sambil membaringkan tubuh mereka di sebuah kursi santai di mana mereka berbaring menghadap langit malam yang ditaburi jutaan bintang.


"Apakah Ford memperlakukan dirimu dengan baik?," Ashley bertanya kepada Zoya dengan cepat, dia melirik ke arah gadis itu untuk beberapa waktu.


Zoya yang mendapatkan pertanyaan mendadak dari perempuan tersebut buru-buru menoleh ke arah Ashley, membiarkan bola matanya menatap para perempuan itu untuk beberapa waktu kemudian secara perlahan dia menganggukkan kepalanya.


"He em, paman sangat baik pada ku, kak." Gadis itu menjawab cepat.


"Apa dia pernah berlaku tidak baik atau membuatmu merasa tidak nyaman?," pertanyaan perempuan itu seperti pertanyaan seorang ibu kepada putrinya, terdengar begitu khawatir dan ingin tahu, takut juga nikah ada hal yang membuat saya tidak nyaman terhadap laki-laki yang kini duduk bersama suaminya.


Zoya langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat saat dia mendengar pertanyaan dari Ashley.


"Tidak pernah, setiap kali ingin melakukan sesuatu biasanya Paman akan bertanya lebih dulu pada ku." kembali gadis itu menjawab pertanyaan dari Ashley.


"Paman berlaku sangat hati-hati dan sopan bahkan dia tidak pernah sedikitpun menampilkan sisi buruknya selama bersama ku, kak." gadis itu terus bercerita apa adanya tentang sifat laki-laki yang kini duduk di ujung sana bersama suami dari Ashley.


Mendengar apa yang diucapkan Zoya membuat Ashley mengembangkan senyumannya, dia terlihat senang mendengar apa yang diucapkan oleh Zoya, dia pikir laki-laki tersebut benar-benar memenuhi janji yang pernah di ucapkan nya kepada dirinya, dan hal itu jelas saja membuatnya begitu lega dan puas.


"Itu bagus, aku senang mendengarnya langsung dari kamu, Zoya." setelah berkata seperti itu perempuan tersebut kembali mengarahkan pandangannya ke arah atas di mana dia mencoba untuk menikmati langit malam dan membiarkan tatapan nya tidak beralih sama sekali dari sana.


"Kapan terakhir kali kamu melihat ayah mu?," dan tiba-tiba saja perempuan tersebut bertanya, dia sama sekali tidak menoleh ke arah Zoya saat mempertanyakan hal tersebut.


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Ashley, membuat Zoya langsung menoleh kearah Ashley.


Zoya sama sekali tidak menjawab pertanyaan Ashley, dia kini menatap lurus ke arah depan, membiarkan pandangan yang menembus jutaan bintang yang ada di atas langit.


"Aku tidak ingat kapan kali terakhir aku benar-benar melihat nya tapi saat bertemu dengannya pada masa itu aku seperti melihat sosok orang lain yang tidak mengenalku dan aku tidak mengenal nya," ucap Zoya kemudian.


Ashley hanya mendengarkan ucapan gadis yang ada di sampingnya tersebut, dia membiarkan pandangan nya terus menatap ke arah langit tanpa kembali mengeluarkan suaranya.


*******


The De Angelo Group,


Ruang kerja CEO De Angelo.


Brakkkkkkkk.


Satu hantaman keras terdengar memecah keadaan di mana seorang laki-laki paruh baya terlihat mengeram kesal saat ini.


"Masih belum bisa membujuk Ashley pulang?," laki-laki itu mengerutkan keningnya, bertanya pada sosok laki-laki lain yang ada di hadapannya.


"Setelah sejauh ini berjalan, kalian belum bisa menemukan celah untuk membuat Ashley pulang," laki-laki tersebut kembali bertanya, mencoba menahan kemarahannya.


"Maafkan aku tuan, tapi setelah kekecewaan dimana anda mencoba menekan nya pada pernikahan pertama dengan Alex, nona Ashley terlihat begitu kecewa dan tidak ingin pulang sama sekali," laki-laki berusia 30 tahunan lebih tersebut bicara sambil menundukkan kepalanya.


"Sial," laki-laki tersebut mengumpat dengan perasaan kesal.


"Cari dia sampai dapat, dan jangan lupa cari keberadaan cucu bungsu Barmingham dan temukan gadis itu secepatnya, karena aku pikir usianya telah memasuki waktu cukup untuk menandatangani seluruh berkas pemindahan hak waris keluarga De Angelo dan saham perusahaan." laki-laki itu bicara dengan cepat.


"Jika Ashley tidak bisa di ajak bekerjasama, maka kita bisa menggunakan cucu bungsu Barmingham untuk mencap jari surat wasiat nya sebelum tua bangka itu menghembuskan nafas terakhirnya." lanjut laki-laki tersebut lagi sembari menatap tajam karena laki-laki muda di hadapan tersebut.


Yah jika dia tidak bisa menyeret putri tertua De Angelo, maka dia akan menyeret cucu bungsu Barmingham, mereka adalah dua saudara kandung yang sengaja dia pisahkan di masa lalu dengan cara yang begitu kejam.