King Khan's Shackles

King Khan's Shackles
Seseorang yang bergerak mengikuti nya



Kembali ke Zoya,


Hampir tengah malam.


Zoya terlihat melangkahkan kakinya dengan terburu-buru menuju ke arah cafe yang ada di hadapannya di mana dia mencoba untuk memesan makan malam nya saat ini, dia pikir mungkin sebaiknya dia makan di sana setelah itu memilih untuk pulang namun saat Zoya mencoba untuk memikir ulang semuanya dan melirik ke arah jam tangannya.


Dia memutuskan untuk membungkus makanannya mengingat saat ini waktu sudah cukup larut malam.


Gadis tersebut terlihat duduk sembari menunggu pesanan makanannya tiba gimana dia memilih untuk menatap layar televisi datar yang terpampang di dalam Cafe tersebut untuk beberapa waktu sembari Zoya menggoyangkan kakinya secara perlahan. Dia membiarkan bola matanya terus menetap ke arah layar televisi tanpa mempedulikan orang-orang yang ada di sampingnya saat ini.


Cukup lama dia menunggu antrian, melihat cafe tersebut cukup ramai saat ini jadi dia harus mengikuti nomor antrian yang ada Dan harus bersabar untuk mendapatkan makan malamnya sembari dia menghirup dan menyesat perlahan minuman dingin yang terakhir pesan lebih awal tadi.


Setelah dia selesai menyesap minumannya dan menyisakan sedikit di sana, sejenis fokus bola mata gadis tersebut kembali menuju ke arah jaket yang dia bawa sejak tadi tidak tahu kenapa dia jadi gelisah sendiri melihat jaket tersebut, seharusnya dia tidak membawanya itu yang dia pikirkan lalu Zoya pikir lantas kenapa tadi ingin membawanya seolah-olah dia berharap bertemu kembali dengan laki-laki seram tersebut.


Pada akhirnya Zoya mengehela kasar nafasnya, membawa Jaket itu seketika tiba-tiba menjadi beban besarnya dan dia merasa begitu bodoh melakukannya.


Zoya secara perlahan meraih Jaket itu, dan secara perlahan dia menggunakan jaket tersebut ke tubuhnya, dia pikir dia terpaksa menggunakannya saat ini mengingat dia akan menampung bahwa makanan di tangan kiri dan kanannya juga minuman, menambah beban jaket di tangannya jelas akan sangat rumit untungnya dia keluar tidak membawa jaken dan pada akhirnya mau tidak mau dia menggunakan jaket dari Ford.


Gadis tersebut kembali mencoba untuk menyadarkan tubuhnya di atas kursi di mana dia duduk di dalam kafe tersebut, dia melipat kedua tangannya ke arah depan jaket tersebut di mana tanpa sadar dia menekan sebuah kancing jaket nya yang membuat dia terhubung dengan sesuatu di tempat yang berbeda.


"Nona." satu suara mengejutkan dirinya dan membuang gadis tersebut menoleh dengan cepat, pelayan Cafe menundukan kepalanya dan menyerahkan pesanannya.


"Ah iya." Zoya langsung mengeluarkan ekspresi wajah bahagianya begitu dia mendapatkan pesanan makanannya dan dia pikir ini waktunya dia pulang untuk menikmati makan malamnya dia apartemennya.


Meskipun dia hanya tinggal seorang diri tapi dia berusaha untuk menikmati apapun yang dia jalan saat ini tanpa keluhan sama sekali. Gadis tersebut menerima bungkusan makanannya dengan cepat sembari dia melebarkan senyumannya kemudian dia berdiri dari posisinya dan bergerak melangkah keluar dari kafe tersebut.


Di ujung sana terlihat seorang laki-laki yang sejak tadi memperhatikan dirinya dengan perasaan gelisah kini bergerak perlahan untuk mencoba mengikuti langkahnya tanpa pernah Zoya sadari.


*******


Mansion utama Khan dan Ashley,


Kamar tidur utama.


Ashley terlihat mencoba untuk menghubungi Zoya sejak tadi namun sayangnya gadis itu sama sekali tidak mengangkat panggilannya.


Ashley mencoba memperhatikan kalender tanggal yang ada di hadapannya untuk beberapa waktu sembari dia membiarkan satu jemari tangan yang menggesek-gesek bawah bibirnya, sepertinya perempuan itu tengah menghitung waktu yang terjadi pada semua orang termasuk dirinya dan menyusun semua kepingan kejadian di masa lalu agar tidak terulang.


Sembari bola matanya terus menetap ke arah kalender, tangan kirinya masih berusaha untuk menghubungi Zoya dari handphonenya namun sayangnya gadis tersebut sama sekali tidak mengangkat panggilannya sejak tadi.


Ashley sejenak menaikkan ujung alisnya untuk beberapa waktu dan dia sadar tanggal berapa hari ini dan hari ini seharusnya hari apa, perempuan itu langsung mematikan panggilannya pada Zoya dan di titik berikutnya dia mencoba untuk mencari keberadaan Khan.


Suaminya masih pergi membersihkan dirinya karena rasa lelah yang menghantamnya tadi di mana mereka seharian sejak siang pergi melewati masa untuk berbelanja bersama. Laki-laki tersebut benar-benar menepati janjinya kepada dirinya menemani dia berbelanja pakaian dan menghabiskan waktu bersama.


Kali ini Ashley mampu menatap ke arah layar handphone nya dengan cepat, dia bergerak mendekati ke arah sisi tepian ranjang, dia mencoba untuk mencari sesuatu di balik lemari nakas dengan gerakan yang cepat di mana bola mata perempuan tersebut terus menetap ke arah kamar mandi untuk beberapa waktu dan dia berharap kan tidak keluar pada waktu yang tidak semestinya saat ini.


*******


Disisi lain,


Mansion utama Ford.


Laki-laki tersebut baru saja menyelesaikan sesi mandinya di mana dia sejak tadi berkutat di dalam kamar mandi untuk waktu yang cukup lama, membersihkan dirinya dan juga menghilangkan rasa lelah di dalam dirinya karena seharian dia terus bekerja tanpa henti dan dia pikir mungkin sebaiknya dia pergi untuk beristirahat setelah dia menyelesaikan sesi membersihkan dirinya dan mungkin dia harus mengabaikan keinginan untuk mengkonsumsi makanan karena rasa lelah mengalahkan segala-galanya.


Laki-laki tersebut keluar dari arah kamar mandi dengan gerakan yang begitu tegap, seluruh otot-otot tubuhnya terlihat membentuk Dengan indah apalagi di bagian perut yang membentuk kotak-kotak dengan sempurna membuat siapapun pasti suka melihatnya. laki-laki tersebut hanya menggunakan handuk mendominasi berwarna putih, memilih untuk bergerak menuju ke arah lemari walk in closet, mencari pakaiannya dan memilih untuk mengganti pakaiannya dengan cepat.


Dia cukup mengantuk saat ini di mana dia berharap bisa langsung memberikan dirinya dengan cepat, mengambil pakaiannya dengan buru-buru sembari dia menguap dan meraup wajahnya untuk beberapa waktu.


Laki-laki tersebut langsung menggantikan pakaiannya dengan cepat di mana dia hanya menggunakan kaos oblongnya dan juga celana pendeknya dan setelah itu Ford memutuskan untuk bergerak menuju ke atas kasurnya dengan cepat belum hal tersebut terlaksana tiba-tiba dia melihat laba miliknya yang diletakkan di atas meja kecil tanpa menyala dan mengeluarkan suara nyaringnya, hal tersebut membuat laki-laki itu langsung mengeringkan keningnya sebab dia sadar dari mana asal suara itu.


Awalnya dia mencoba untuk mengabaikannya dan memilih untuk menaikkan dirinya ke atas kasur namun di detik berikutnya tiba-tiba saja handphonenya berdiri dan mengejutkan dirinya hingga membuat laki-laki tersebut langsung menoleh ke arah handphone yang dia letakkan ke atas nakas lemarinya.


Ford menaikkan ujung alisnya dan mencoba untuk melihat siapa yang menghubunginya. Laki-laki tersebut membeku untuk beberapa waktu saat dia melihat satu nomor yang masuk ke dalam handphone nya itu.


*******


Catatan \=


Mau yang tidak nunggu up Mak? Merapat disini jangan lupa Mak yaaa, udah ending sekian dan terimakasih, tinggal bonus manis-manis nya saja kisah mereka, insya'Allah bonus di awal bulan.


Kisah nya bikin gregetan pokok nya.



******


Bagian Gedung tersembunyi


pinggiran kota Paris.


Derap langkah sepatu terdengar memecah keheningan malam, suara layar monitor pengatur detak jantung menggema memecah suasana dan terus memekakkan telinga semua orang, beberapa orang berpakaian serba putih bergerak dengan cepat menampilkan ekspresi wajah panik mereka mendekati satu sosok tubuh seorang gadis yang tidak berdaya.


Gadis tersebut seolah-olah tenggelam dalam ke indahkan dalam alam bawah sadar nya, memilih enggan bangun karena merasa apa yang ada di hadapannya tidak penting lagi, terlalu lama berlalu bukan satu dua hari bukan pula satu dua bulan tapi sudah melewati tahun dan membuat khawatir orang-orang.


Selang-selang yang menancap di tubuh nya terus berusaha untuk menyelamatkan nya, bahkan nafas nya dibantu dengan alat-alat mengerikan, bahkan saat masa kritis tiba tidak jarang AED (automated external defibrillator) alat kejut jantung terus di lesatkan pada bagian dada gadis tersebut untuk menarik terus kesadaran nya.


"Semakin melemah"


Satu dokter bicara gelisah, detak jantung gadis dihadapannya semakin memperlihatkan, semakin lama bergerak semakin melambat, dia memperhatikan garis pada layar monitor dengan keringat bercucuran di kedua pelipis nya.


Jika sesuatu yang buruk terjadi pada gadis tersebut maka bisa dipastikan mungkin kehidupan semua orang yang ada didalam ruangan tersebut terancam punah.


"Lakukan yang paling terbaik, Sekarang"


Dokter lain nya berteriak dengan cepat, mencoba menarik kesadaran gadis yang seolah-olah enggan mendapatkan kehidupan nya kembali tersebut.


"Inj semakin buruk"


Satu dokter lainnya berbisik.


Mendengar hal tersebut, dokter kepala dengan cepat mencengkeram kerah pakaian rekan nya, dia terlihat begitu marah.


"Kita tidak bisa membiarkan nona muda mati saat ini, kau tahu? Alister group akan hancur jika itu terjadi"


Laki-laki tersebut mengeram, menatap laki-laki yang usia nya lebih muda dari dirinya.


"Kita sudah berusaha hampir 2 tahun ini dengan maksimal, nyonya tua Alister tahu itu"


"Bergerak, lakukan lagi, dapatkan kesadaran nya sekali lagi"


Dia masih terus memerintahkan tim nya untuk bergerak tanpa lelah dan kata menyerah, melepaskan cengkraman nya pada kerah pakaian rekan nya.


"Lakukan lagi"


Lagi laki-laki tersebut bicara, menggenggam erat AED (automated external defibrillator) alat kejut jantung yang kini ada di tangan nya.


*****


Disisi lain.


Kediaman Utama Alister Family tua.


Seorang wanita hampir paruh baya terlihat menundukkan kepalanya sejenak tepat ke hadapan seorang wanita tua yang menggunakan kursi roda, dia kemudian bergerak mendekati wanita tua itu lantas memilih berdiri di sisi kanan nya.


Wanita tersebut membiarkan bola mata nya menatap satu sosok laki-laki yang tergeletak di atas kasur mendominasi berwarna putih dalam keadaan tidak berdaya.


Suara monitor detak jantung terdengar mengalun memenuhi kamar tersebut, diiringi suara penghangat ruangan yang menstabilkan suhu didalam ruang tersebut.


"Sudah terlalu lama kamu tidur son"


Wanita tua di atas kursi roda itu bicara, bola matanya terus menatap ke arah laki-laki yang berbaring tak berdaya dengan banyak selang-selang infus ditubuhnya tersebut.


Terlalu lama laki-laki itu tidak bergerak dari posisi tidurnya,dia koma dalam waktu cukup lama.


Wanita tua itu adalah nyonya tua Alister, wanita rentan tidak berdaya yang hampir kehilangan putra nya dan cucu kesayangan nya karena menantu sambung nya.


Jika dia tidak bergerak dengan cepat saat ini, bisa dipastikan kematian dia juga akan mendekat dan menantu ular nya akan menguasai group Alister dengan cara yang kejam.


"Sejak awal aku tahu wanita itu berhati iblis, dia hanya mencintai pundi pundi harta mu,bukan dirimu"


Wanita tua itu terus bicara menatap sedih kearah putranya.


"Seharusnya ayahmu tidak membuang Helena dan memaksa mu mengambil Lunara saat itu,jika saja aku lebih keras kepala dan menentang semua keputusan ayah mu saat itu,maka kejadian ini tidak akan pernah terjadi"


Kali ini wanita tua itu menghapus pelan air matanya dengan tisu yang ada ditangan nya,kemudian wanita tua itu memalingkan wajahnya.


Wanita hampir paruh baya disamping nya menundukkan kembali kepalanya.


Nenek tua Alister sudah tidak sekuat dulu lagi untuk melindungi seluruh aset-aset berharganya, dia tidak lagi memiliki kekuatan yang sama untuk bisa melindungi orang-orang yang dicintainya.


Menantu iblis nya semakin lama semakin merajalela, dia harus bergerak cepat untuk menyingkir kan Lunara jika tidak maka semua kepemilikan Alister group pasti akan jatuh ke tangan nya.


Dalam 2 bulan terakhir dia memiliki kekhawatiran yang sangat tinggi, takut cucu penerus Alister tidak mampu melewati ke kritis'an nya bahkan dia khawatir istri ke dua putra nya bersama anak haramnya bisa menguasai semua saham perusahaan dengan leluasa setelah putra nya koma hampir +- 1/2 tahun ini, harapannya terhadap cucu kandungnya telah sirna sejak 5tahun silam karena rencana busuk menantu nya itu, kecelakaan Cleopatra mengejutkan dirinya.


Dia yakin wanita iblis itu adalah penyebab utamanya, sengaja melakukan hal tersebut untuk melenyapkan pewaris sah Alister.


Ditengah pemikiran nya tiba-tiba suara handphone nya memekakkan telinga, wanita paruh baya yang ada di samping nya buru-buru mengambil handphone nyonya tua Alister yang terletak di atas meja nakas kecil di sisi kanan ruangan tersebut.


"Nyonya"


Wanita itu bicara sambil menyerahkan handphone nya ke arah wanita tua tersebut, menunggu wanita tua itu mengangkat panggilan yang dilakukan diseberang sana.


"Halo?"


Nyonya tua Alister bicara, menunggu jawaban diseberang sana.


Dia mendengar sahutan di ujung sana.


"Ada dua kabar yang akan aku sampaikan nyonya"


Suara di seberang sana terdengar tidak baik-baik saja.


Nyonya tua Alister terlihat bergetar meskipun sebenarnya dia tahu akan datang pada masa ini cepat atau lambat.


"berikan aku berita buruknya lebih dulu"


wanita tua itu bicara dengan cepat mencoba untuk menajamkan pendengarannya.


"Nona muda menghembuskan nafas terakhirnya pukul 22.45"


bagaikan suara petir di malam hari tanpa hujan tanpa angin, wanita tua tersebut seketika hampir jatuh dari posisi duduknya, tubuhnya bergetar hebat sangat mendengar apa yang diucapkan oleh laki-laki di seberang sana.


seolah harapannya pupus saat ini ketika dia mendengar berita yang barusan saja datang hantam dirinya.


tubuhnya terasa lemas dan dipikir apakah ini berarti semuanya akan berakhir? tidak, dia tidak bisa menyerahkan Alister pada menantu mengerikannya.


"katakan padaku apa berita baiknya?"


dan dia berharap ada satu berita yang bisa menutupi kehancuran hatinya saat ini, tangisannya yang mungkin akan meledak, sudah terlalu tua untuk nya bersikap cengeng saat ini.


"Aku menemukan pewaris tahta berikut nya"


dasar dia mendengar suara laki-laki tersebut dengan berita baik nya, seketika membuat wanita tua itu langsung membulatkan bola matanya.


"Apa?"


dan kali ini dia mencoba untuk mencari pegangan atas dirinya agar dia tidak pingsan dari tempat duduknya, wanita yang ada di sampingnya dengan cepat menggenggam erat telapak tangannya, Seolah-olah tahu dengan kegalauan dan kekhawatiran nyonya tua nya.


"Apa kau tidak sedang menipu ku?"


Wanita tua itu mencoba untuk bertanya dan memastikan.


"Anda bisa langsung bertemu dengan nya dalam waktu cepat, kita tidak mungkin lagi menunda waktu nya, nyonya"


Laki-laki diseberang sana kembali Bicara.


****


Brakkkkkk.


Bugggggggg.


Demi apapun saat 3 rentenir menghempas kan tubuh nya ke lantai aspal dan menendang perut nya, Sheena seketika memejamkan bola matanya atas rasa sakit yang dia terima, terlalu sakit dan nyeri, Seolah-olah kini dia pasrah jika kematian menghampiri dirinya, Sheena sudah menyerah.


3 rentenir itu menyeret tubuh gadis tersebut menuju gang sempit disamping pubb malam,tuan dan nona Aoi tidak bisa mencegah,beberapa karyawan dibuat takut oleh ke 3 rentenir itu.


"Tuan,aku pasti akan segera melunasi hutang-hutang itu.sementara hanya bisa mencicilnya,tunggu hingga akhir bulan ini,aku pasti akan berusaha untuk melunasi nya"


Sheena bicara dengan bibir bergetar, menahan tangan kokoh dan kasar yang menjambak rambut nya tanpa ampun, rasa sakit dan ngilu dari kulit kepalanya benar-benar luar biasa, dia hanya mampu meringis, mencoba membuat kesepakatan yang tidak mungkin dan menahan tangis atas rasa sakit yang menghantam nya.


"Cihhh bocah seperti kamu melunasi hutang 1 milyar dengan cara bagaimana? satu-satunya cara dengan menandatangani surat rumah,Memberikan kepada kami rumah ibu mu,itu saja hanya bisa melunasi bunga nya saja belum termasuk pokok nya"


Saat Salah satu rentenir berkata kasar dengan nada menghina kepadanya,Sheena Membelalakkan mata nya,dia pikir tidak bisa memberikan rumah itu kepada mereka,ibunya berkata baru boleh menjualnya saat orang dari kota datang dan bisa menemukannya. Karena sejauh ini itu satu-satu nya tempat yang mungkin satu hari akan mereka datangi, jika pemiliknya berganti ibu nya khawatir kesempatan tidak akan datang kembali untuk kedua kali.


"Tidak paman,aku benar-benar akan melunasi hutang nya akhir bulan ini".


Dia memohon ketika tangan kokoh tersebut melepaskan rambut nya, Sheena meraih salah satu kaki rentenir, meminta agar mereka tidak melakukan nya , rumah itu satu-satunya harapan diri nya.


Bukan soal seseorang akan mencari nya, tapi itu tempat tinggal dan kenangan dia bersama ibu nya. Dia tidak memiliki Keluarga atau siapapun di muka bumi ini, satu-satunya orang yang dia punya ibu nya, kini setelah ibu nya meninggal, satu-satunya kenangan yang tersisa jelas hanya rumah gubuk mereka.


Alih-alih mendengarkan permintaan dan permohonan Sheena, para rentenir mengeluarkan beberapa lembar kertas dan memaksa gadis tersebut untuk menandatangani surat serah Terima rumah.


"Kami sudah cukup malas menagih atau menunggu janji,kau harus segera menandatangani atau mencap jari mu di surat-suratnya. Tidak ada yang dapat diharapkan dari wanita seperti kamu,jika cantik mungkin bisa menghasilkan uang dengan menjual mu ke club malam,tapi wajah mu benar-benar jauh di bawah standar"


Salah satu laki-laki bicara dengan putus asa sambil menggelengkan Kepalanya Menatapi wajah Sheena dengan tatapan menghina dan penuh intimidasi


Mereka memaksa Sheena menandatangani atau mencap surat tersebut, hal tersebut sontak membuat Sheena dengan bersusah Payah untuk Memberontak dan menolak untuk menandatangani surat itu,bahkan dia tidak peduli jika harus mati sekali pun tidak akan pernah menandatangani surat Rumah itu.


"Bos,kalung yang dia pakai juga berguna"


Suara seseorang mengejutkan diri nya, Sheena langsung menundukkan kepalanya, dia menggenggam erat kalung di leher nya.


"kelihatannya cukup mahal"


Saat seseorang yang lainnya bicara, langsung mencoba merampasnya dengan kasar, sungguh tidak ada yang mampu membantu ketidakberdayaan nya, semua karyawan club malam memilih bersembunyi karena takut berurusan dengan para rentenir kejam.


Sheena berjuang seorang diri dengan keadaan, kalung yang dia gunakan tidak tahu emas kadar berapa,ditengah-tengah nya ada mutiara berwarna biru,sepertinya ada sambungannya tapi tidak tahu dimana, karena sejak kecil kalung itu sudah begitu bentuknya saat dipakaikan dilehernya. Sejak awal Sheena memang berniat menjual kalung itu,tapi bukan dengan cara dirampas.


"Tuan kita akan menjualnya besok,besok datanglah kemari dan ambil uang nya"


Sheena memohon dengan sangat, tapi 3 rentenir itu mengambil paksa kalung yang ada di leher gadis tersebut m


"Paman,tolong jangan ambil kalung nya"


Dia memohon tapi.


Plakkkkkkk.


Satu tamparan mendarat di pipi kanan nya, rasa asin menyeruak masuk di sela bibir nya, dia bisa menebak bibir nya berdarah.


Sheena kembali berusaha meraih salah satu tubuh rentenir yang merampas kalung nya, tapi tanpa mempedulikan usaha Sheena,salah satu rentenir itu mendorong tubuh Sheena dengan kasar ke lantai,kemudian menginjak tangan Sheena dengan sepatunya.


"Akhhhh..."


Teriakan penuh kesakitan dari mulut Sheena tidak mereka pedulikan,kemudian memaksa Sheena memberikan cap dengan jari-jarinya.


"Tidak...tidak "


Meskipun Sheena berusaha sekuat tenaga untuk menolak, 3 kekuatan laki-laki tersebut benar-benar tidak sebanding dengan kekuatan nya.


"Bagus,mulai hari ini rumah itu bukan lagi milik mu"


Wajah Sheena memucat,dia berfikir habislah sudah dirinya, tidak ada satu hal pun lagi yang dia miliki saat ini, Sheena pikir jadi orang miskin benar-benar sangat memuakkan, jika dia bisa terlahir kembali,dia berharap jadi orang kaya yang berkuasa,hingga tidak ada satupun orang yang dapat menginjak-injak harga dirinya.


Setelah berkata begitu, para rentenir langsung bergerak menjauhi dirinya, pergi dengan penuh kepuasan.


"Oh tuhan, Sheena apa kau baik-baik saja..??!!"


"Dasar rentenir,tidak begitu cara nya memaksa seorang gadis melunasi hutang-hutang nya"


Tuan aoi berteriak kesal ke arah depan,menatap punggung para rentenir yang pergi menjauh.


"Habislah sudah,mereka membawa semua harta berharga nya"


Nona Aoi membantu Sheena berjalan masuk ke dalam club malam kembali.


"Malam ini tidur saja di sini,besok baru memikirkan kemana harus tinggal selanjutnya"


Tuan Aoi bicara cepat sambil membiarkan salah seorang karyawan membawa Sheena ke kamar istirahat para pegawai nya.


Para karyawan menatap kasihan ke arah Sheena sambil berbisik-bisik, entahlah dia enggan mendengar kan nya, terserah orang ingin bicara apa pikir Sheena.


"Sebaiknya obati dulu luka kamu, Sheena"


Seorang laki-laki yang membantu mengantar diri nya ke kamar istirahat para pegawai bicara cepat sambil lari ke arah kotak p3k di sudut kasir club malam, dia bergerak mendekati Sheena dan mencoba membantu nya.


"Aku akan membantu mengobati nya"


Sheena buru-buru menggelengkan kepalanya, dia kemudian berkata.


"Pergilah, aku bisa melakukannya sendiri"


Ucap nya cepat.


Laki-laki tersebut diam, mengangguk kan kepalanya dan beranjak pergi dari sana, menutup pintu ruangan tersebut secara perlahan.


Sheena terlihat diam seribu bahasa,baginya hari ini adalah hari yang paling menjijikkan dalam hidupnya,dia fikir tidak ada gunanya lagi dia hidup di dunia ini. Jika ibunya pergi,maka siapa yang boleh jadi tempatnya bersandar dan mengadu? omong kosong ibu nya tentang orang dari kota itu adalah omong kosong yang sangat memuakkan,bahkan menunggu omong kosong ibunya bagaikan orang biasa yang berharap bisa naik ke atas bulan yang tinggi di atas sana.


Dia memejamkan sejenak bola mata nya, tanpa terasa buliran air mata jatuh dibalik pelupuk mata nya.


******


Mansion utama Sky Andaram.


Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi mendominasi berwarna hitam tersebut,dimana aliran lembutnya terdengar menembus dinding mansion mewah tersebut sejak tadi, sesekali pula terdengar gerakan berbeda yang menimbulkan suara-suara yang berbeda pula,selang beberapa waktu suara itu terdengar terhenti berganti dengan suara gesekan pintu yang terbuka secara berlahan.


Seorang laki-laki yang memiliki tinggi tubuh hampir 1,90 dan wajah tampan yang terkesan sangat tidak bersahabat keluar dari arah dalam kamar mandi.


Bola mata yang tercipta begitu tajam di antara pahatan wajah rupawan bak patung dewa Yunani tersebut di penuhi oleh bulu-bulu halus yang dapat membuat perempuan manapun yang menyentuh nya atau bahkan merasakan nya akan menjadi tergila-gila.


Sensasi geli pasti mereka rasakan ketika melewati percintaan panjang dengan laki-laki tersebut karena menyentuh bagian-bagian bulu-bulu halus disepanjang wajah nya tersebut.


Percayalah nilai tertinggi dari laki-laki tersebut selain dari wajah nya jelas adalah bagian dari dada depan laki-laki tersebut dimana dada tersebut bisa menimbulkan getaran dahsyat yang membuat perempuan manapun akan menggila dan bermimpi untuk menyentuh nya.


Mereka rela mene..lanjangi diri mereka sendiri hanya untuk melewati malam panas bersama laki-laki tersebut.


Dan Ketika laki-laki itu melangkah keluar dari kamar mandi, bisa di lihat rambutnya masih terlihat begitu basah dan menggoda membuat siapapun akan merasakan sensasi basah yang menggoda jiwa, tetesan air yang belum terlalu kering terus meluncur dari rambut indahnya menuju ke lapisan kulit wajah dan dada nya akan semakin membuat kaum perempuan rela meluncur turun dari pusaran air bah yang bisa menenggelamkan Mereka kedalam lautan samudera.


Beberapa waktu bola mata indahnya tampak menatap Beberapa sudut ruangan tersebut seakan-akan mencari seseorang disana.


Begitu mendapat kan sosok yang dia lihat laki-laki tersebut langsung berkata.


"Ada apa?"


Suara bariton nan seksi itu bertanya sambil meraih handuk kecil yang ada disamping kasur nya, mencoba mengeringkan rambutnya secara berlahan.


Alih-alih menjawab laki-laki yang ditanya tersebut memberikan sebuah berkas map mendominasi berwarna coklat kehadapan laki-laki yang bertelanjang dada tersebut.


"Maaf tuan"


tiba-tiba laki-laki dihadapan nya itu berkata.


Yang dipanggil tuan seketika langsung menatap tajam kearah laki-laki dihadapan nya itu.


"Katakan saja"


Ucap nya kemudian..


"Apakah tuan sudah mendengar nya? tuan besar sedang merencanakan pertemuan perjodohan untuk Anda dengan keluarga Alister"


mendengar ucapan laki-laki yang di panggil nya Adam tersebut, laki-laki itu langsung menaikkan ujung alisnya.


"Apa?"


Tanya nya dengan suara yang begitu dingin dan berat.


Dia jelas langsung mengerat kan rahangnya ketika mendengar kata pertemuan perjodohan.


Ada apa dengan perempuan dari keluarga Alister?!.


Batin nya sembari terus mengerat kan rahangnya.


Bagi nya para perempuan itu tidak lebih dari pada parasit yang menggangu hidup nya, mereka type manusia yang hanya bisa menyusahkan, berfoya-foya dengan menjajal tubuh mereka kepada sembarang laki-laki demi untuk bisa tampil cantik dengan barang-barang yang membalut tubuh mereka agar terlihat indah dan mewah.


bahkan perempuan bisa meninggalkan laki-laki mereka yang jatuh miskin demi untuk bisa mendapatkan laki-laki kaya lainnya.


Yah rata-rata perempuan jelas seperti itu.


Dia benci Type wanita seperti itu dan dia tidak suka terikat, dia bukan type orang yang suka bermain-main dengan perasaan nya dan tidak tertarik untuk jatuh cinta pada siapapun di dunia ini. baginya segala sesuatu itu ada di bawah genggamannya, jadi tidak ada seorang pun yang dapat mengendalikan nya, hanya dia yang dapat mengendalikan dunia.


Dia juga merupakan pria paling dingin di muka bumi ini, berbisnis dengan caranya sendiri, mengatur orang-orang sesuka hatinya,dia bahkan hanya dengan menggerakkan 1 jarinya bisa mengubah apapun yang dia inginkan, bahkan hanya dengan menatap seseorang dalam sekali tatapan tajam dia mampu membunuhnya sesuai dengan perintah nya. Dan siapa yang tidak mengenal sepak terjang kesuksesan nya dalam berbisnis, semua orang tahu dia mampu mencetak pundi-pundi dolar dengan sistem nya sendiri yang luar biasa, semua investor berusaha untuk merapatkan diri dan mendapatkan kerja sama dengan nya dengan cara apapun itu asalkan Tristan berkata oke maka semuanya akan menjadi angin segar bagi mereka semua.


Dan jangan sesekali membuat pria ini marah, Karena jika tidak kematian akan mendekati mu dengan caranya sendiri.


Sky Andaram, Begitu nama lengkap nya, orang-orang memanggil nya Sky karena dia persis seperti langit yang begitu sulit untuk di raih dan didapat kan.


Jika dia tidak salah menebak, ayah nya terus mendesak nya agar menikah dengan gadis muda pilihan ayah nya dari keluarga Alister, meskipun tidak dipungkiri pernikahan tersebut akan mendapatkan sebuah keuntungan besar bagi perusahaan, tapi dia pikir ini jelas tidak menguntungkan untuk dirinya secara pribadi.


Sejenak sky mencoba untuk berpikir bagaimana jika pernikahan itu terjadi?!.


Ayahnya jelas bukan laki-laki yang bisa diajak bernegosiasi, satu-satunya orang yang tidak bisa sky bantah ucapannya hanyalah ayahnya, sejak dulu hingga sekarang satu-satunya laki-laki yang bisa menundukkan kepalanya hanya ayahnya.


Menolak berarti kehilangan semua hak nya di Andaram group.


Seandainya rencana pernikahan ini terus berlanjut maka dia harus menekan perempuan itu untuk menandatangani surat perjanjian, enyah dari hidupnya dalam 1/2 tahun hingga semua nya di Andaram company di beberapa negara beserta seluruh aset-aset serta sahamnya telah berpindah tangan 💯% ke tangannya. Dia hanya ingin memanfaat kan perempuan itu untuk mendapat apapun yang dia inginkan termasuk seluruh aset keluar Andaram.


"pergilah, aku akan menyelesaikan semua nya"


Ucap Sky kemudian.


mendengar ucapan tuannya seketika laki-laki itu menjawab,


"Baik tuan"


kata nya sembari menundukkan kepalanya.


setelah laki-laki tersebut pergi dari hadapannya Sky andaram langsung meraih handphonenya, dia mencoba untuk menghubungi seseorang.


"Kau dimana?"


Dia bertanya dengan cepat.


"Mari bertemu dan bicara soal proyek yang telah disetujui oleh kedua belah pihak"


ucap laki-laki tersebut dengan cepat.


"Dan Mari bicara soal putri dari Alister group"


lanjutnya lagi kemudian.


bisa dia dengar sahutan dari seberang sana tapi sky Andaram lebih memilih untuk mengabaikan nya.


"Mari bicara nanti saat kita tiba di lokasi"


setelah berkata seperti itu laki-laki tersebut langsung mematikan panggilannya, dia bergerak menuju ke arah jendela kaca yang masih terbuka lebar tanpa gorden penutupnya, memilih menatap langit yang dipenuhi oleh jutaan bintang di atas sana.


Alister group.


Dia bergumam sambil memejamkan bola matanya.


laki-laki tersebut pernah bertemu dengan putri Alister beberapa kali, kesan pertama sangat tidak berarti, dia gadis lemah yang bahkan tidak bisa tidak di ikuti oleh ibu tiri nya, begitu lemah dan tidak berdaya, bisa di manfaatkan bahkan bisa di kendalikan seperti boneka.


Pertemuan ke dua sangat menjijikkan, bahkan gadis tersebut tidak memiliki banyak kemampuan untuk melindungi diri sendiri, Begitu lemah saat di permainkan oleh saudara tirinya didalam sebuah pesta.


Belum lagi karakter kolokan dengan suara manja menjijikkan nya membuat Sky semakin tidak suka melihat nya.


Dia benci type manusia lemah tanpa kemampuan apapun.


Kasihan?!.


Tidak.


Dia bukan type laki-laki yang gampang mengasihani orang lain.


"Mari kita memulai permainan nya"


Sky membuka bola matanya sembari laki-laki tersebut membatin sambil menaikkan ujung bibirnya, wajah tampan tersebut terlihat mengeluarkan ekspresi licik dan piciknya.


*****


Ruang inap club malam tuan Aoi.


Setelah usai bekerja.


Sejenak Sheena mengerutkan keningnya saat tiba-tiba seseorang menghubungi dirinya dari handphone nya.


"Maaf, anda siapa?"


Tanya Sheena dengan perasaan bingung , bertanya dari balik handphone nya sambil menggigit bibir bawahnya.


"Saya dari pihak bank, ini benar nona Sheena?"


Saat mendengar sahutan dari ujung sana, membuat Sheena seketika khawatir.


Pihak Bank?!.


Dia tiba-tiba ingat dengan surat-surat rumah nya yang telah di rampas oleh para rentenir.


"Tuan maafkan aku, bisakah memberikan aku waktu? aku akan menebus surat rumah ku secepat nya, aku butuh waktu untuk mengumpulkan uang menebus rumah nya"


Sheena bicara khawatir, dia benar-benar merasa kacau setiap kali mengingat soal surat rumah mereka, takut jika mereka menyita nya.


"Bukan masalah, bisakah kita bertemu secepat nya? mari bicara secara resmi dan langsung tatap muka"


Dan Sheena lagi-lagi mengerut kan keningnya saat dia mendengar sahutan diseberang sana.


Bertemu dan bicara langsung?.


"Tuan tapi...."


"Aku akan memberikan lokasi tempat pertemuan nya"


Kembali terdengar sahutan di seberang sana, membuat Sheena seketika diam untuk beberapa waktu, dia seolah-olah sedang berpikir dengan keras.


"Baiklah"


Ucap Sheena pada akhirnya.


****


Restoran xxxxxxx


Keesokan harinya.


Bola mata Sheena menatap kearah depan, menunggu seseorang sejak tadi dimana orang itu kemarin malam mengubungi nya.


Sebenarnya dia agak bingung, sedikit tidak masuk akal menurut nya, bagaimana bisa pihak bank menghubungi dirinya, terlalu janggal dan aneh tapi dia berusaha untuk mencoba menyakinkan diri mungkin mereka memberikan keringanan dalam hal apapun yang dilakukan para rentenir yang menggadaikan surat rumah mereka.


Hingga akhirnya dia berada disini, duduk di restoran hotel bintang 3 yang sebenarnya tidak cocok untuk dia datangi saat ini, orang sekelas dirinya tidak pantas berada di tempat seperti ini.


Selain ini bukan kelas nya, dia takut pandangan orang-orang tentang dirinya yang datang ketempat seperti ini.


Sheena tiba 5 menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan, sejenak dia mengerutkan keningnya, agak bingung karena restoran tersebut benar-benar terlihat sepi,hanya ada seorang pelayan yang terlalu sibuk dengan alat pembersih nya dan seorang kasir yang juga sibuk menghitung uang di bagian mesin kasir.


Di sana Sheena hanya memesan segelas ice tea,dia pikir terlalu berlebihan memesan sesuatu yang angkanya dapat menguras semua isi kantong nya hari ini demi mengurusi soal hutang rumahnya, dia tahu harga minuman sekelas restoran bintang 3 setara dengan gaji nya 1minggu, itu bisa mencekik lehernya tak bersisa.


Gadis tersebut melirik ke arah jam di ponselnya, minuman yang dia pesan sudah tiba lebih dari 10 menit yang lalu tapi orang yang menghubungi nya semalam belum juga menampakkan batang hidungnya. Sheena pikir jangan-jangan dia sedang dikerjai, raut wajahnya sedikit berubah, pikiran tidak-tidak menghantam dirinya dan gadis tersebut mulai gelisah, buru-buru dia meraih ponselnya sambil terus menatap angka jam yang ada disana.


"Ini sudah hampir lewat 20 menit"


gumamnya pelan dalam hati


"Maaf nona"


Seketika satu suara mengejutkan dirinya, dari arah belakang Sheena terdengar suara berat seorang laki-laki, buru-buru dia menoleh, menatap sosok laki-laki yang kini berdiri di samping nya, membungkuk kan tubuhnya sedikit formal.


Sheena ikut berdiri dari duduknya kemudian membalas membungkukkan tubuhnya, dia merasa sedikit malu karena menurutnya laki-laki itu memperlakukan nya dengan terlalu sopan.


Usia laki-laki itu kisaran antara 40-45 tahunan, tubuhnya jauh lebih tinggi dari Sheena wajahnya terlihat sedikit bersahabat dan hangat tapi kesannya sedikit tegang, bingkai kaca mata yang menghiasi wajah laki-laki tersebut nyaris sama seperti milik nya.


Laki-laki tersebut kini memilih duduk dihadapan Sheena, tanpa menunda lagi dia langsung berkata.


"Saya adalah pengacara Aman"


Tiba-tiba saja laki-laki tersebut menyerahkan sebuah foto tepat dihadapan Sheena.


Mendengar kata pengacara Sheena jelas terkejut setengah mati,dia pikir mereka saat ini akan membahas soal rumah mereka dan semalm laki-laki tersebut berkata dia dari pihak bank tapi saat ini laki-laki tersebut berkata dia pengacara dan bukan sebagai pegawai bank, hal tersebut seketika membuat gadis tersebut mengerut kan keningnya.


Ditambah lagi laki-laki itu menyodorkan selembar foto ukuran 5R, dengan gerakan ragu dan lamban Sheena meraihnya sambil menatap kearah pengacara Aman.


Detik berikutnya dia mencoba memperhatikan baik-baik siapa yang ada didalam foto-foto itu dengan perasaan bingung, setelah beberapa waktu tubuh Ara San tiba-tiba membeku, tangan nya sedikit gemetar, dan seketika dia menjatuhkan foto tersebut dan menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya.


"Hahhh?"


Bayangkan bagaimana ekspresi Sheena saat ini, dihadapan nya saat ini terdapat sebuah foto keluarga besar, ada seorang wanita yang usianya tidak muda,laki-laki yang juga tidak muda,dua orang laki-laki muda yang usianya tidak berjauhan mungkin kepala 3 dan dua orang wanita dengan usia yang sama,ada anak laki-laki kecil yang usianya sekitar 4 tahunan dan bayi kecil yang menggunakan pakaian musim hangat.


Sheena menatap tajam diantara orang-orang itu, di sana ada foto ibunya yang masih begitu muda menggendong bayi perempuan yang usianya mungkin sekitar 5 bulanan tersebut, wajah ibunya terlihat begitu lelah dan penuh kesedihan.


Dalam foto tersebut ibunya sama sekali tidak menatap kearah kamera,ibunya menatap ke sisi kanan ujung yang tidak tahu ada apa, Sheena mengikuti arah pandangan mata ibunya, disudut foto pemandangan sedikit blurr terdapat seorang pelayan wanita yang seperti memeluk sesuatu berdiri disudut pintu.


"bayi ini adalah anda, nona muda"


Laki-laki yang ada dihadapan Sheena bicara dengan cepat sambil jemari telunjuk diletakkan pada satu foto buram di ujung jari Sheena.


"Aku tidak mengerti"


Bayangkan bagaimana detak jantung Sheena saat ini setelah mendengar penuturan laki-laki dihadapan nya tersebut, jantung Sheena bergemuruh hebat, dia menatap laki-laki tersebut dengan tatapan penuh tanda tanya, berharap ada penjelasan lebih lanjut atas ucapan Laki-laki tersebut.


"Anda adalah nona kedua kekuarga Alister yang telah bertahun-tahun kami cari"


Lanjut laki-laki tersebut, dia menatap balik wajah gadis dihadapannya tersebut, menyakinkan diri jika dia menemukan gadis yang tepat dan Sheena menemukan orang yang tepat untuk membuka jati diri nya yang sebenarnya


"Nona muda?"


Sheena kembali bertanya, mencoba menetralisir detak jantungnya.


Sangat berlebihan dia si miskin menjadi nona muda, apakah cerita yang diberikan ibu nya dulu benar-benar terjadi? apakah Ibunya tidak berbohong soal orang yang akan menjemput nya? apakah dia memiliki jati diri tersembunyi?!.


"Anda adalah satu diantara penerus sah Alister, saudara kembar nona Cleopatra Alister"


Dan saat laki-laki tersebut berkata begitu, jantung Sheena semakin berpacu, berusaha untuk merangkai ucapan demi ucapan laki-laki dihadapan nya tersebut.