
Bagian Ashley
Kembali ke beberapa bulan yang lalu,
Kediaman utama Ashley De Angelo
Pernah merasakan bagaimana rasanya ketika kamu dikhianati oleh orang-orang di sekitarmu, bahkan bagaimana ketika kamu mempercayai seseorang rupanya seseorang itu memanfaatkanmu dan membuatmu jatuh terpuruk hingga ke dasar jurang yang paling dalam?.
Pernah merasakan bagaimana rasanya dicintai mati-matian?, di mana seorang laki-laki rela berkorban untukmu dengan begitu banyak tapi kamu dengan bodohnya menghianati dia dan lebih memilih laki-laki yang begitu kamu cintai namun nyatanya laki-laki itu menghianati dirimu dengan seorang perempuan secara diam-diam di belakangmu.
Seseorang yang kamu anggap pelindung rupanya adalah musuh paling terbesar dan orang yang kamu pikir adalah teman rupanya adalah seseorang yang menginginkan apapun yang kau inginkan.
Dan setelah melewati rasa sakit yang panjang dari dikhianati, mencintai orang yang salah, tidak ingin mencintai orang yang begitu mencintai kita dengan tulus hati dan juga dengan cara yang begitu besar bahkan orang itu rela mati untuk diri kita, di jebak, di hasut, menjadi tersangka atas apa yang tidak pernah kau lakukan, belum lagi mendapatkan siksaan yang begitu menyakitkan bahkan pada akhirnya kau meregang nyawa dalam kematian bagaimana jika seandainya tiba-tiba kau terbangun dan terjaga dari tidurmu begitu saja di tempat dia tidak pernah kau duga di mana waktu seolah-olah mengulang dan memberikanmu kesempatan untuk memperbaiki semuanya?.
"Ashley....bangun....apa yang terjadi?." Samar-samar dia mendengar suara teriakan yang memanggil diri nya diiringi tangisan yang memilukan, pipi nya terasa ditampar oleh seseorang untuk beberapa waktu.
Dia merasa terombang-ambing dalam keadaan yang tidak dia pahami, seakan-akan saat ini berada di lautan lepas di mana tubuh terbawa ombak ke sana kemari dengan seenak perutnya dan hal itu membuat seorang Ashley De Angelo merasa hari kematiannya memang benar-benar telah terjadi.
Tapi semakin dia memasrahkan diri atas kematiannya semakin suara-suara terdengar dan pukulan-pukulan seolah-olah menghantam wajahnya dan memaksanya untuk bangun saat ini juga, Ashley merasa jika saat ini tubuhnya terasa begitu sakit, hancur lebur menjadi satu dan di dalam rasa sakitnya yang sangat luar biasa dia pikir masih saja ada orang-orang yang ingin mengajarnya dan ingin semakin membuat dia mati dalam keadaan.
Dia sudah menerima semuanya namun semakin dia berusaha untuk menerima takdirnya semakin dia merasa tangan seseorang dengan erat dan kuat mencoba untuk menarik tubuhnya agar dia keluar dari hempasan ombak laut yang menghantam dirinya dan membawanya terombang-ambing entah ke mana.
"Ashley De Angelo." Satu teriakan melengking terdengar memecah keheningan di mana dia pada akhirnya yang kesulitan untuk membuka bola matanya dan menggapai bagian daripada daratan di lautan seketika langsung membuka bola matanya dengan cepat.
"Hahhhhh?." Dia berusaha untuk menarik nafasnya dengan panjang, dan di titik berikutnya gadis tersebut terbatuk batuk dan tanpa sadar air keluar dari dalam mulutnya untuk beberapa waktu.
"Uhuk-uhuk."
"Uhuk-uhuk."
Rasanya dia nyaris ingin mati menelan air, bayangan bagaimana rasanya saat air masuk kedalam hidung mu begitu saja, rasanya begitu aneh dan ah entahlah.
"Uhuk-uhuk." Ashley merasakan sensasi rasa panas di balik hidung dan tenggorokan nya tersebut, mata nya ikut memanas dan dia merasa tubuhnya tiba-tiba cukup kedinginan.
"Oh ya tuhan, oh ya tuhan nona."
"Apa kamu baik-baik saja Ashley?."
"Bawa dia ke kamar, ganti pakaian nya dengan cepat.
Suara demi suara terdengar memecah keadaan di mana semua orang terlihat panik menatap ke arah Ashley.
Sedangkan Ashley sendiri terlihat mengernyitkan keningnya untuk beberapa waktu saat dia menatap orang-orang yang ada di sekitarnya, bahkan dia mencoba untuk mengingat apa yang terjadi dan di mana dia saat ini. Dia berada di dalam kolam renang kediaman dirinya dan Alex, dia tenggelam dan...?!.
"Sayang kamu tidak apa-apa?." Alex menyentuh lembut wajah nya, menatap kearah Ashley dalam balutan kekhawatiran, beberapa pelayan terlihat begitu panik dan gelagapan.
Alex mencoba mengangkat tubuh Ashley dengan cepat.
"Apa yang terjadi?." Ashley bertanya sambil terus mengerutkan keningnya.
"Kamu tenggelam, sayang."
Tenggelam?, kenapa Alex memanggil nya sayang?, bukankah mereka seharusnya sudah bercerai?, bukankah seharusnya dia adalah istri Khan?, bukankah seharusnya saat ini dia sudah mati, bersama Khan atas pengkhianatan yang dilakukan Alex?.
Lalu kenapa dia ada disini?, apakah semua yang telah dia lewati dalam beberapa waktu belakangan adalah mimpi?, atau sebenarnya saat inilah yang seharusnya adalah mimpi?.
Ashley berusaha mencubit lengan nya sendiri di tengah rasa bingung yang menghantam nya saat Alex baru saja meletakkan dirinya ke atas kursi.
Sakit?!. Itu yang dirasakan Ashley saat ini.
"Ada apa ini?." Dia bergumam didalam hati nya persis seperti orang linglung, mencari Khan yang mencoba melindungi nya dan menjadikan laki-laki tersebut perisai untuk melindungi Ashley.
Masih dia ingat bagaimana dia menangis menghadapi Khan, menatap laki-laki yang mencintainya tersebut dalam tubuh berlumuran darah dimana laki-laki itu mencoba untuk terus melindungi nya.
"Aku mencintaimu baby, sangat. Jika kita dipertemukan kembali di kehidupan kedua, aku akan tetap akan mencintai mu dan tidak ada seorang pun yang bisa menggeser posisi mu dihati ku, Ashley."
"No." Ashley berusaha memegang kedua kepalanya dengan kedua belah tangannya dengan erat, dia menggelengkan kepalanya dengan cepat sembari Ashley mencoba menahan teriakan dan tangisan histeris nya.
"Ashley, sayang, ada apa dengan mu?." Alex terlihat panik melihat ekspresi istrinya tersebut.