King Khan's Shackles

King Khan's Shackles
Crawford musuh utama Khan



Zoya terhenyak saat tiba-tiba laki-laki dihadapan nya tersebut menduduki pantat nya tepat dikursi dihadapan Zoya. Hal itu sontak membuat gadis tersebut mencoba untuk menahan nafasya beberapa waktu karena dia tidak menyangka kehadirannya yang cukup mencolok membuat tertarik orang-orang yang ada di dalam Crawford mafia.


Gadis tersebut pikir apakah dia harus menarik pelatuk pistolnya saat ini?, apa dia harus saling menyerang antara satu dengan yang lainnya saat dia akan dilecehkan atau diperlakukan dengan sangat tidak adil?, tapi pada akhirnya meski bagaimanapun juga pada dia tidak mungkin akan memenangkan pertandingan, empat lawan satu (4 : 1) jelas tidak seimbang.


Zoya bisa memastikan jika dia terus memaksakan diri untuk bergerak dan melawan pada akhirnya dia akan mati juga, masih cukup baik jika dia mati tanpa banyak hambatan, bagaimana jika seandainya dia dilecehkan dan dinodai kemudian baru dibunuh dan dibuang entah ke mana.


jutaan pemikiran menghantam dirinya saat ini.


"Apa anak kuliahan sepertimu terbiasa keluar di malam hari?." Tiba-tiba saja hal mengejutkan terjadi, Ford bicara dengannya sembari menarik teko kopi coklat dihadapan mereka secara perlahan, laki-laki tersebut menuangkan kopi coklat nya secara perlahan.


Jemari-jemari kokoh, tidak halus dan kasar tersebut terlihat jelas di depan mata Zoya, ini kali pertama dia mendengar laki-laki tersebut bicara dengan nya secara langsung.



Gadis tersebut biasanya mendengar laki-laki tersebut bicara melalui headset bluetooth pengintai nya atau saat dia pernah beberapa kali menyusul Laura ke club malam untuk meminta sejumlah uang guna pengobatan orang tuanya. Meksipun hasilnya cukup buruk, tidak jarang Laura mendorong Jemari nya ke kepala Zoya dan memaki dirinya dikala perempuan tersebut mabuk, dia selalu mendengar Crawford bicara begitu mengerikan dengan orang-orang disekitarnya.


Suara dengan intonasi tinggi dan penuh kemarahan.


Malam ini Ford menampilkan satu sisi lainnya, seperti seorang paman ah mungkin seperti kakak laki-laki dewasa yang bicara pada adik kecilnya.


"Ya?" Zoya jelas terkejut, dia mengernyitkan dahinya, menatap wajah Ford untuk beberapa waktu.


"Kalian bisa mengambil meja lainnya" Dan Ford bicara pada anak buahnya, dimana pandangan mereka bertemu untuk beberapa waktu.


Zoya cukup merinding dibuatnya.


"Bos?."


"Bos tapi-,"


"Ambil meja lain dan pesan kopi juga roti kalian sendiri." Kali ini suara Ford menjadi tidak bersahabat, dia menatap tajam ketiga anak buahnya tersebut secara bergantian dalam tatapan yang sangat tidak bersahabat, membuat ketiga orang itu pada akhirnya langsung memundurkan langkah mereka dan mengambil inisiatif untuk pergi jauh dari sang tuannya dan memilih untuk mencari meja juga kursi sendiri dan tidak lagi terlibat atau menghiraukan gadis yang membuat mereka merasa tertarik itu.


Begitu ketiga orang tersebut pergi kembali menatap ke arah Zoya sembari dia meletakkan cangkir kopi yang telah diisi dengan kopi coklat panas tadi. Kini tangan laki-laki tersebut kembali menuangkan kopi coklat ke dalam cangkir yang berbeda untuk laki-laki tersebut sendiri sembari dia kembali berkata.


"Semester berapa?." Dia kembali bertanya, lagi suara laki-laki tersebut berubah tidak lagi mendominasi, tidak terdengar mengerikan atau begitu dingin seperti saat dia berkata kepada ketiga orang anak buahnya. Laki-laki tersebut kembali bicara normal seperti sebelumnya.


Zoya pikir ada apa dengan laki-laki dihadapan nya tersebut?. Dia jelas masih memasang mode awas, pistol di punggung nya siap dia tarik kapanpun dia mau, mati bukan perkara sulit untuk nya. karena Zoya pikir dengan mati beban berat tidak perlu lagi harus dia pikul sendiri.


"Apa paman bisa menebaknya usia ku? semester berapa kira-kira aku saat ini." Zoya memberanikan diri nya untuk menjawab ucapan laki-laki di hadapan tersebut.


Dia sengaja memanggil laki-laki tersebut Paman karena dia tidak pernah tahu berapa usia laki-laki itu yang sebenarnya.


Ford memiliki fitur wajah yang sebenarnya tampan, hanya saja goresan luka memanjang di pipi kirinya terlihat mengerikan, membuat dia terlihat persis seperti mafia kelas kakap dengan luka yang begitu mengerikan. Usia nya jelas tidak muda lagi, dia menebak usia Ford jauh lebih tua dari Khan, jika Khan 32 tahun bisa dia pastikan Ford lebih tua beberapa tahun di atas nya. Postur tubuhnya besar dan tinggi membuat gadis seukuran Zoya pasti Sulit mensejajarkan diri untuk berdiri dengan laki-laki tersebut. bola mata Ford menukik tajam persis seperti elang di padupadan kan dengan hidung mancung yang seimbang bahkan garis rahang laki-laki tersebut bahkan terlihat terlihat dengan jelas menampilkan gambar wajah nya yang membuat mereka terlihat baik untuk di gambar di atas kanvas polos.


Tapi meskipun begitu, dia tetaplah Ford, sang penguasa malam yang tidak pernah ramah pada siapapun di sekitarnya.


"Kau tidak lebih dari 22 tahun, masih terlalu muda saat menerima job memetik gitar dan membuat tugas untuk mahasiswi lainnya di kampus mu." Dan Ford bicara dengan cepat menebak soal dirinya membuat Zoya seketika langsung membulatkan bola matanya.


"Ya?, bagaimana kau-?," Apakah tidak wajar dia bertanya dengan perasaan khawatir atas apa yang diucapkan oleh laki-laki tersebut di mana dia berpikir apakah laki-laki itu mengenalnya sebelumnya sehingga mengetahui apa pekerjaannya


Jangan-jangan Ford tahu dia adalah adik Laura dan juga dia bekerja sama dengan Ashley istri Khan.


"Jemari-jemari tanganmu terlihat begitu kasar untuk ukuran perempuan seusia, mereka sering digunakan untuk memetik gitar atau bahkan mengerjakan tugas dari orang-orang di sekitarnya dalam banyak orang yang jelas tidak banyak." Dia persis seperti detektif, menebak pekerjaan Zoya dengan lancar.


Mendengar ucapan laki-laki tersebut, Zoya memperhatikan jemari-jemari tangan kasar nya. Dia kemudian mendengus dan berusaha menahan tawa nya.


"Hanya karena jemari-jemari kasar ini membuat paman tahu dengan apa yang aku kerjakan?." dia bicara samalah mengejek atas apa yang diucapkan oleh laki-laki di hadapannya itu.


"Paman seperti detektif yang bisa menebak soal urusan seseorang, apa paman bekerja sebagai seorang detektif atau polisi di regional setempat?." Dia mencibir dan mengejek, jadi ingat dengan beberapa orang lawas yang menggunakan trik yang sama untuk mendekati perempuan yang diinginkan.


"Aku seorang preman yang cukup ditakutkan oleh orang-orang disekitar." dan Ford bicara dengan cepat sembari dia menatap tajam bola mata Ford.


Mendengar ucapan Ford membuat Zoya menaikkan ujung alisnya, dia baru saja ingin menyesap minuman nya namun pada akhirnya di urungkan oleh nya.


"Dan paman seorang penjual anak gadis orang juga?." Dia bertanya sambil menatap tajam kearah Ford.


Dia ingin tahu apa jawaban dilontarkan oleh laki-laki tersebut saat dia menanyakan hal itu.


Mendengar apa yang diucapkan oleh gadis dihadapannya membuat Ford balik memperhatikannya gadis dihadapannya itu dengan tatapan yang cukup tajam.


********


Makkkk kemari yok Mak, slow banget naik baca nya. Kemari biar semangat makk yah.


Eps nya sudah banyak, ini pas di ss eps masih segitu, sekarang udah lebih banyak dari itu.



*******


...Cuma salah satu bagian cerita...


"Nikmat bukan?"


Satu hentakan lolos memporak-porandakan bagian terdalam tubuh gadis di bawah nya saat Badai berkata nikmat bukan, gadis di bawah nya tersebut mencoba menahan tangisannya atas rasa sakit tubuhnya yang terbelah dua, sungguh luar biasa, hal paling berharga, darah pertama nya di ambil secara paksa dan brutal.


bisa dia rasakan milik laki-laki tersebut meluluh lantakkan bagian inti nya, menyeruak masuk menerjang selaput darah keperawanan nya tanpa belas kasih sama sekali.


ini adalah malam pertama nya, kali pertama dia melakukan nya, tanpa penetrasi, tanpa pemanasan lebih dulu, Laki-laki itu melakukan nya benar-benar tanpa hati.


Yeah Badai menggoyangkan pinggulnya naik turun setelah menghantam mahkota suci yang belum terjamah oleh siapapun sama sekali, Seolah-olah tiada ampunan sedikit pun yang diberikan laki-laki tersebut pada gadis yang sempurna menjadi perempuan tersebut.


Tidak ada kelembutan yang dipersembahkan oleh laki-laki yang ada di atas sosok tidak berdaya itu, dimana laki-laki tersebut telah sah menjadi suami nya dalam beberapa jam yang lalu.


Kau tidak akan pernah membayangkan malam pertama yang indah.


Badai bersumpah tidak akan pernah memberikan malam pertama indah yang di bayangkan oleh gadis dibawah nya tersebut, dia tidak akan mempersembahkan keindahan seperti di drama-drama televisi yang di tonton anak-anak zaman kini sama sekali, laki-laki tersebut sengaja menyakiti gadis yang bernama pelangi tersebut dari sejak sebelum akad nikah terlaksana hingga saat ini.


Badai, laki-laki keras dan tidak ber hati tersebut sengaja melakukan nya, memompa tubuh gadis yang kini sempurna menjadi seorang perempuan ditangan nya penuh dengan kepuasan yang mendalam, dia semakin mempercepat pompahan nya tanpa peduli air mata perempuan cantik dibawah kungkungan nya tersebut, meskipun pelangi menangis dan berkali-kali berkata ampun dan meminta nya untuk berhenti sejak tadi.


"Aku mohon berhenti, ini sakit, please aku mohon akhhhh"


Bisa dia dengar perempuan tersebut terus memohon, meringis dan berusaha menggigit kuat-kuat bibir nya, linangan air mata perempuan itu sudah memenuhi seluruh permukaan pipi nya, sisa riasan pengantin terlihat kacau balau dimana-mana, bahkan meskipun perempuan itu berkali-kali berusaha mendorong tubuh Badai agar melepaskan diri nya nyatanya Badai tidak tertarik sama sekali untuk melepaskan nya.


Pelangi nama perempuan tersebut, begitu indah dan cantik seperti nama nya, tapi pesona pelangi tidak akan mampu meluluh lantakkan hati Badai, pelangi tidak akan mampu membuat Badai mengiba dan memberikan ampun pada nya, bahkan sampai mati pun Badai tidak akan pernah jatuh cinta pada nya atau memberikan sedikit pun hati nya.


"sakit? Jeritan mu terdengar semakin membuat ku bersemangat untuk melakukan nya lagi dan lagi"


suara laki-laki tersebut terdengar begitu mengerikan, terus memompa pelangi tanpa jeda sejak tadi, peluh membasahi diri diiringi suara saling adu milik mereka memenuhi kamar mendominasi berwarna gelap tersebut.


"akhhhhhh please, sakit..."


Dan demi apapun tidak ada kenikmatan yang dirasakan perempuan itu, Badai yakin yang dirasakan gadis tersebut hanya rasa sakit dan perih, berkali-kali perempuan itu berusaha mencari pegangan, ingin sekali melarikan diri namun pada akhirnya sosok itu tidak memiliki daya untuk melakukan nya.


"Aku mohon, berhenti...sakit..."


Lagi pelangi meringis, dia menangis sambil membiarkan bibir nya mengeluarkan darah atas rasa sakit di malam pertama, laki-laki di atas nya begitu brutal, persis seperti hewan predator buas yang tidak memiliki perasaan dan siap membunuh mangsanya.


Alih-alih mendengarkan rengekan dan permohonan pelangi, badai semakin mengencangkan gerakan pinggulnya, dia sengaja menyiksa perempuan tersebut dimalam pertama mereka, menikmati teriakan penuh kepiluan dari bibir perempuan tersebut seolah-olah terdengar seperti satu kenikmatan tersendiri dan kesenangan atas sesuatu yang diingat nya dimasa lalu.


semakin pelangi berusaha untuk menyingkirkan tubuhnya, semakin Badai menarik pinggul tersebut agar tidak lari dari nya, dua menghentakkan milik nya secara kasar tanpa berpikir jika ini adalah yang pertama kali nya untuk pelangi.


sisa darah perawan yang baru dia hancurkan di atas sprai tidak membuat dia kagum sama sekali, dia puas karena pada akhirnya dia benar-benar menggenggam erat perempuan tersebut ditangan nya tanpa ampun.


pelangi terus mengerang dan menangis, membuat Badai sesekali memejamkan bola matanya dengan puas, persis seperti psikopat gila yang menikmati penyiksaan atas korbannya.


Suara tangis pelangi menggema dibalik telinga nya, hal tersebut mengingatkan nya pada tangisan yang sama, dan mengingatkan nya pada penderitaan yang sama dari seseorang yang begitu berharga di masa lalu.


dia puas, sangat puas karena sampai pada apa yang dia harapkan selama ini.


"please..."


pelangi masih berusaha untuk meminta berhenti, di antara tangis dan kesadaran nya yang mulai menipis, mencoba mengiba dan meminta belas kasih dari laki-laki yang terus menunggangi nya tanpa henti.


"Diam dan nikmati, atau aku akan memukul mu kali ini"


Laki-laki tersebut siap melayangkan pukulan nya jika perempuan tersebut tetap merengek untuk minta berhenti.


Pelangi diam, mengeluarkan air matanya, menutup mulutnya dan membiarkan Badai berlaku sesuka hati nya kali ini.


Yah percuma dia memohon dan berkata berhenti, iblis di atas nya itu tetap lah seorang iblis, yang tidak memiliki belas kasihan untuk melepaskan dirinya.


Dia pada akhirnya kehilangan tenaga, yakin mungkin malam ini akan menjadi malam kematian nya, rasa hancur didalam hati nya dan sakit luar biasa di bagian inti dan seluruh tubuh nya bercampur aduk menjadi satu, hal paling berharga nya di rusak dengan cara tidak normal oleh laki-laki gila yang tidak memiliki hati bahkan dia diperlakukan dengan tidak manusiawi sama sekali.


Badai terus mengencangkan pompahan nya, menikmati penyatuan sempurna mereka dengan jutaan kesenangan, dia hampir tiba pada puncak kepuasan nya saat perempuan dibawah nya mulai kehilangan kesadaran nya.


Tidak peduli apakah pelangi akan mati setelah malam ini, yang jelas dia puas telah mendapatkan apa yang dia inginkan dan dia puas atas pencapaian nya hingga hari ini.


Menjatuhkan Angkasa group, menghancurkan Brahma dan dewa juga merampas kebahagiaan putri Brahma juga menghancurkan kehidupan adik kesayangan Dewa.


Ini pembalasan paling setimpal yang dia berikan untuk keluarga Angkasa atas sakit yang di terima keluarga Dirgantara dimasa lalu.


Tapi yakinlah bagi badai semua Ini belum seberapa.


"Ohhhh **** kau sempit sekali ****** kecil sialan"


Laki-laki tersebut mengeram, mendapatkan pelepasan kenikmatan nya seiring kesadaran pelangi yang menghilang secara perlahan.


Dia menumpahkan pelepasan nya dan menembakkan nya pada dinding rahim pelangi, mengabaikan semua hal atas pelepasan penuh kenikmatan nya saat ini.


Setelah puas laki-laki tersebut secepat kilat mencabut senjata kebanggaan nya, menatap pelangi yang tidak sadarkan diri.


"cihhhhh"


dia berdecih, mengejek kearah Perempuan muda yang usia nya belum 20 tahun tersebut, berbeda terlalu jauh dari nya yang jelas telah melewati kepala tiga.


"Ja..lang kecil sialan"


dia menghirup sisa aroma percintaan, merasa Cukup puas atas pencapaian malam ini, bergerak cepat turun dari kasur, mengabaikan pelangi yang tidak menggerakkan tubuhnya sama sekali.


Seolah-olah berpikir, biarkan saja bocah itu mati, toh sejak awal dia tidak pernah ingin membiarkan satu pun Anggota kekuarga Angkasa selamat dari api kemarahan atas dendam membara nya di masa lalu.


******


Bisa di lihat kilatan bola mata laki-laki tersebut memancarkan satu kepuasan yang mendalam, Badai berjalan menjauh dari kasur tersebut, bergerak mendekati kursi sofa dan dia meraih sebuah handuk mendominasi berwarna putih yang ada di atas sana, laki-laki tersebut menarik nya dengan cepat kemudian menggunakan untuk melingkarkan ke pinggang nya.


Otot-otot indah dengan bentuk roti sobek kotak-kotak tersebut terlihat begitu sempurna menghiasi tubuh Badai, katakan pada nya mata perempuan mana yang tidak akan tergoda melihat keindahan tersebut saat ini? terlalu indah dan mampu membuat perempuan mana saja rela tenggelam didalam nya, tidak ingin menjauh atau lepas dari dekapan dada bidang, perut sobek dan tubuh indah tersebut.


Bagian tubuh tersebut terlihat begitu indah menawan, membuat siapapun melihat nya menjadi candu dan mengemis untuk memiliki nya, sekali jatuh kedalam dekapan Badai, tidak akan ada yang Sudi melepas kan diri mereka dari nya.


Kharismatik dan ke rupawan'an Badai jelas tidak diragukan, apalagi disertai tatapan dingin dan tidak tersentuh oleh siapapun di sekitar nya membuat perempuan mana pun pasti semakin menggila di buat nya.


Seharus nya memiliki Badai menjadi sebuah anugerah untuk para perempuan yang memimpikan nya, tapi bagi Pelangi memiliki Badai bagaikan sebuah bencana untuk kehidupan nya, realita nya dalam seumur hidup nya tidak akan mengecam kebahagiaan selama berada didalam genggaman Badai, laki-laki tersebut telah bersumpah akan menyakiti Pelangi bahkan hingga ke alam kuburnya, bukan hanya raga bahkan dia mengutuk pelangi akan menyakiti nya sampai kedalam jiwa dan Sukma nya.


Bahkan Badai tidak akan menciptakan satu kebahagiaan pun untuk pelangi, senyum yang terbit pun tidak dia izinkan mengembang dibalik wajah cantik nan polos tersebut


Kini laki-laki itu perlahan bergerak menuju ke arah kamar mandi, membiarkan diri


nya masuk kedalam sana, mulai menyalakan air dan membersihkan diri dari sisa keringat percintaan mereka tadi, Badai tidak begitu suka bercinta dengan perempuan itu.


Sungguh sial.


Itu umpatan yang dia sematkan.


Tapi dia menikmati ke histeris'an dan tangisan penuh permohonan ampun di balik bibir pelangi.


Terdengar begitu indah dan memukau, bahkan dia ingin terus mendengarkan nya nanti, lagi, lagi dan lagi.


Dia suka, dia bahagia dan dia puas pada pencapaian nya saat ini, seulas senyuman picik dan licik terbit di balik bibir indah Badai, laki-laki tersebut langsung mengguyur tubuhnya dalam kucuran air di balik balutan besi berwarna hitam elegant di atas kepalanya, menetralisir rasa dikepala nya dan juga rasa di lubuk hati nya yang masih panas membara tanpa ada obat dingin nya.


Nuansa kamar mandi mendominasi berwarna hitam tersebut terlihat begitu gelap dan suram, semakin menambah tingkat kelam kehidupan yang Badai jalani selama puluhan tahun ini, dia merupakan laki-laki penuh rahasia yang di liputi jutaan dendam yang membara tanpa obat sedikit pun di hati nya dan percaya lah tidak ada yang mampu lagi membuat Badai kembali ke sosok dirinya yang dulu sejak hari itu hingga saat ini.


Begitu air mengucur deras membasahi kepala hingga wajah tampan mendominasi tersebut, Badai memejamkan sejenak bola mata nya dan sekelabat memori mengembalikan diri nya pada kenangan indah masa lalu.


"Kak..."


Satu suara halus dan indah terdengar mengalun dibalik telinga nya, guncangan terasa di seluruh bahu kanan nya.


"Kak Badai bangun kakak...."


Suara itu begitu lembut dan halus, tidak manja tapi terdengar begitu candu untuk orang-orang yang baru mengenal nya.


Badai muda masih lelah, sisa pegal di tubuh nya akibat dari kegiatan memanjat gunung Kemarin membuat dia masih enggan membuka mata nya, tapi kerinduan mengalahkan semua rasa pada pemilik suara yang mengganggu tidur nya.


"kakak sudah pulang? kapan? kenapa tidak membangunkan aku semalam?, mama dan papa menunggu kita untuk mendapatkan makan pagi bersama"


Lagi suara lembut tersebut menyeruak masuk dibalik telinga nya, terdapat kerinduan dibalik suara indah tersebut, satu tusukan lembut dari jemari indah itu mengenai pipi kanan Badai, dia yakin gadis itu mencoba membuat lesung pipi yang nyaris tidak terlihat di wajah nya agar tenggelam dan terlihat seperti milik gadis tersebut.


"Kak?"


"Hmmmm?"


Pada akhirnya Badai muda menyahut perlahan, mencoba membuka bola mata nya yang masih mengantuk dan enggan, dia membuang sisa lelah ditubuhnya demi gadis yang terus berusaha keras untuk membangunkan nya tersebut.


"Bangun, tidak kah kakak rindu pada ku?"


Lagi suara tersebut terdengar dibalik telinga nya.


Badai mencoba melebarkan senyuman, menahan tangan nya pada silau cahaya matahari yang menyeruak masuk dari sisi kanan nya.


Ketika bola mata nya perlahan terbuka, satu wajah cantik memenuhi penglihatan nya, senyuman merekah dari gadis yang duduk disebelah nya seperti biasa memenuhi hari-hari nya.


"Anggun akan siapkan air mandi untuk kakak"


Sebaris gigi putih menawan tersebut mengembang sempurna dibalik wajah gadis yang menggunakan seragam SMP nya, terlihat bahagia melihat kakak tercinta nya bangun setelah perjuangan diri nya membangunkan Badai.


Dia hendak beranjak, tapi secara perlahan Badai Meraih tangan nya, laki-laki remaja tersebut langsung menenggelamkan adik kesayangannya tersebut kedalam pelukan nya.


"Berapa hari tidak bertemu?"


Badai bertanya membiarkan Anggun tengelam kedalam pelukan nya.


"Belum sebulan"


Gadis tersebut melebarkan senyumannya, dia memejamkan bola matanya, membiarkan diri tenggelam kedalam pelukan kakak kesayangan nya.


Ingatan tersebut seolah-olah tergulung pada satu kenangan yang berbeda, dimana dia melihat dan mendengar tangisan dari bibir cantik adik nya.


"Kak..."


Wajah cantik tersebut terlihat kacau balau, darah terlihat memenuhi pakaian mendominasi berwarna putih yang digunakan. Anggun tidak berdaya dalam kesekaratan nya,dia berbaring di atas branker dorong dengan sisa kesadaran yang menghilang secara perlahan, terdapat banyak sekali luka di sekujur tubuh nya, beberapa sobekan di bibir dan biru memenuhi tubuh indah tersebut.


Setelah Dirgantara hancur berkeping-keping di tangan Angkasa group, adik nya....


"Seseorang memperkosa nya, dia diserang secara brutal dan...."


Dokter dihadapan Badai menundukkan kepalanya.


"Maafkan kami, kami sudah mencoba semaksimal mungkin"


Brakkkkkkk.


Satu hantaman keras memecah keheningan malam, Badai membuka bola matanya dimana kepalan tangan kanan nya menghantam dinding kamar mandi yang ditempati nya bergema memecah ingatan nya.


Darah mengucur deras dari pinggir tangan nya, bagian barisan punggung jemari mengeluarkan darah nya secara perlahan, kilatan amarah dan kebencian terlihat memenuhi seluruh bola mata yang menggelap tersebut, Badai mengeratkan rahangnya dengan penuh dendam yang membara.


Semua baru permulaan.


Dia membatin dalam kobaran dendam yang tertancap di dadanya selama puluhan tahun silam.


******


Mansion Utama Badai


Kamar tidur utama.


"Kenapa kau melakukan semua ini pada ku?"


Badai menatap tajam kearah pelangi yang bertanya pada nya dalam posisi berdiri setelah laki-laki tersebut menyeret istri nya agar kembali ke kamar.


Dia meminta Hera untuk menikmati sesi membersihkan diri dibantu oleh para pelayan di kamar ke dua, membiarkan Perempuan tersebut mendapatkan kenyamanan dalam mandi rempah panjang atas rasa lelap yang menerjang dan tidak menemui nya lebih dulu, dia enggan membuat perempuan tersebut bertanya soal Pelangi.


Hera menganggap pelangi pembantu baru nya, dia pikir cukup sampai disana pemikir Hera, jangan sampai dia melihat pelangi kembali dan membuat satu pertanyaan lain yang memusingkan kepala nya.


Hera cukup sulit untuk di ajak bicara jika menyangkut soal para perempuan yang ada di sekitar Badai, satu-satunya orang yang ada di sisi badai selama ini hanya Hera, ketika dia jatuh satu-satunya orang yang terus menggenggam nya hanya Hera bahkan yang memeluk dan mencarikan berbagai macam solusi untuk membuat Badai naik hingga setinggi ini dan berhasil seperti ini juga berkat Hera.


Perempuan itu yang membantu nya mencari relasi bisnis untuk membuat perusahaan nya berdiri hingga seperti hari ini, pengorbanan Hera terlalu banyak dan dia tidak akan menyakiti Hera karena melihat pelangi di sekitar nya.


Dia menikahi pelangi tanpa sepengetahuan Hera.


Laki-laki tersebut kini menatap sang istri nya dimana tubuh nya masih terbalut handuk mendominasi berwarna putih, pelangi bertanya dengan nada suara yang ditahan, bisa dia lihat jika pelangi tidak baik-baik saja saat melihat sesi percintaan mereka yang tertunda di kamar mandi pada kamar ke dua.


"Kau menyakiti ku baik secara fisik maupun mental bahkan kau menyakiti ku baik secara lahir maupun batin"


Perempuan tersebut terus bicara, ada getaran hebat pada nada bicaranya, menatap Badai dalam keadaan penuh rasa sakit. Nyata nya ekspresi pelangi yang terlihat sangat menyedihkan membuat dia senang melihat nya, dia tidak menampilkan rasa ibanya sama sekali, tapi dia marah karena perempuan itu menampilkan tatapan penuh perlawanan dan kata protes pada dirinya.


Selama lebih dari satu bulan menikah dia baru tahu pelangi mampu mengeluarkan suara protes nya dalam banyak penyiksaan yang dia ciptakan, dia pikir perempuan itu tidak akan mampu membuka suaranya, menjadi perempuan patuh sesuai dengan keinginan nya.


Badai yang baru bergerak menuju ke arah lemari walk in closet langsung berbalik dan menatap tajam ke arah pelangi, dia mengeratkan leher nya dan dan menatap pelangi penuh dengan kebencian.


"Kau bertanya?"


Nada suara Badai jelas terdengar mengeram, dia kesal saat tahu Pelangi tidak sepatuh yang dia bayangkan.


"Kau bersama Perempuan lain saat status ku adalah istri mu, aku mungkin masih diam saat kamu menyiksaku secara fisik, aku diam saat kamu memperkosa ku dalam tiap waktu, tapi... bagaimana bisa aku diam saat kamu berhubungan dengan seorang perempuan lain dan berbuat menjijikkan seperti itu saat kamu berstatus suami orang lain?"


Pelangi jelas saja marah, dia benar-benar tidak bisa meluapkan kesedihan dan kekecewaannya atas apa yang dilihat nya tadi, Badai yang tidak menggunakan apapun dengan perempuan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya yang juga tidak menggunakan apapun, mengeluarkan suara-suara menjijikkan di dalam kamar mandi dan berbuat hal di luar akal sehat nya, itu benar-benar menyakitkan perasaan nya.


Mendengar ucapan pelangi Badai seketika langsung mencengkeram leher pelangi, sangat benci saat mendengar pelangi sudah mampu mengeluarkan keluhan dan protesan nya.


"Bukankah sejak awal aku sudah bilang? kau hanya sekedar memiliki status istri di rumah ini tidak lebih, bahkan ketika di luar jangan coba-coba untuk berkata pada siapapun jika kamu adalah istri ku"


Ucap laki-laki itu cepat, dia tidak membiarkan sedikit pun leher pelangi melonggar atas kemarahan nya, mencengkeram erat leher Perempuan itu tanpa ampun, membuat pelangi cukup kesakitan, meringis dan sedikit tersengal-sengal.


"Dan aku peringatkan kamu jangan pernah bicara pada Hera, kau tahu kau hanya bagian keset kaki dirumah ini dan dia ratu yang sebenarnya, jika kau berani bicara pada nya dan membuat dia terluka, aku bisa saja menyakiti kamu lebih dari ini"


Dan Badai memperingati pelangi, tatapan nya penuh dengan kebencian, dia jijik melihat perempuan dihadapan nya tersebut.


"Kenapa...kenapa kamu memperlakukan aku seburuk itu? jika sejak awal tidak mencintai ku, seharusnya kamu tidak menikahi ku"


Dan perempuan tersebut bertanya dalam nafas yang cukup kepayahan, bola matanya jelas terlihat berkaca-kaca, dimana wajah perempuan tersebut mulai memerah.


"Apa salah ku pada mu?"


Tanya pelangi lagi kemudian.


mendengar apa yang di ucapkan dan pertanyaan dari pelangi membuat Badai mendengus dan mengejek, dia menaikkan ujung bibirnya kemudian berkata.


"Kau ingin tahu?"


Laki-laki tersebut bertanya sambil terus mencekik leher pelangi.


"Aku tidak perlu menjelaskan nya, seharusnya ayah dan kakak mu tahu apa yang telah mereka lakukan pada keluarga Dirgantara di masa lalu termasuk pada putri bungsu mereka"


Ucap badai dengan intonasi nada yang begitu dingin dan mengerikan, dia mendorong tubuh pelangi hingga tersungkur ke lantai kemudian Badai langsung membalikkan tubuhnya dengan cepat, dan ucapan Badai Seketika membuat pelangi membulatkan bola matanya karena terkejut.


"Ya?"


Nama Dirgantara jelas membuat dia terkejut setengah mati, Perempuan tersebut pada akhirnya terbatuk-batuk karena rasa sakit atas cekikan yang diberikan oleh Badai.