I Love You, Adam

I Love You, Adam
I Love You, Adam



"Kita dulu teman satu bangku pas kita masih SMA" Alba memulai kalimatnya untuk membuka kisah yang indah di waktu remaja yang ia jalani bersama dengan Adam Baron.


"Oh! Kita teman SMA. Pantes aja waktu pertama kali aku melihatmu, instingku berkata kalau kita ini ada hubungan walaupun aku tidak ingat siapa kamu" Adam menatap Alba dengan senyuman.


Alba membalas senyumannya Adam, lalu ia kembali berkata, "Kamu pria yang dingin waktu pertama kali kita bertemu. Kamu menabrak aku dan temanku sampai sepeda kami rusak, tapi kamu tidak mau bertanggung jawab. Kamu malah bilang aku dan temenku yang salah karena aku dan temenku melanggar rambu lalu lintas"


Adam menautkan alisnya dan terkekeh geli, lalu berkata, "Oh, aku orang yang seperti itu ternyata. Maafkan, aku, ya?! Apa aku sudah meminta maaf padamu soal tabrakan itu?" Adam menatap Alba dengan senyuman.


"Sudah, tapi minta maafnya setelah kita..........."


Alba ragu untuk melanjutkan kalimatnya karena ia takut Adam kaget saat ia katakan kalau dia dan Adam akhirnya jadian"


"Setelah kita apa?" Adam menatap Alba dengan tidak sabar.


"Janji dulu kamu nggak akan berpikir keras dan menggali dalam-dalam pikiranmu soal ini. Intinya, jangan ajak otak kamu bekerja terlalu keras! Karena, kalau Mas pingsan lagi karena syok, akibatnya akan sangat fatal, Mas"


"Aku janji. Aku nggak akan ajak otakku yang rusak ini untuk berpikir keras. Tolong teruskan cerita kamu" Adam menatap Alba dengan tidak sabar.


"Kita akhirnya jadian dan..........."


"Kita menikah" Sahut Adam dengan cepat tanpa menunggu Alba meyelesaikan kalimatnya.


"Mas, ingat?" Alba menatap Adam dengan wajah bahagia dan genangan air mata di kedua pelupuk matanya.


Adam menggelengkan kepalanya, "Aku belum ingat apapun" lalu ia mengeluarkan secarik kertas dari dalam saku kemejanya. Tapi, ini yang membuatku mengambil kesimpulan kalau kita akhirnya menikah.


Alba menerima secarik kertas yang disodorkan oleh Adam. Ia membuka kertas itu dan tersentak kaget melihat tulisan yang tertera di atas kertas putih itu. Hasil tes DNA dan dinyatakan bahwa Noah Anindya, 99.97 persen adalah anak kandung dari Adam Baron.


Alba tertegun dan tidak berani mengeluarkan reaksi apapun atas kertas yang ada di depannya. Alba hanya bisa mencengkeram erat kedua sisi kertas itu.


"Cincin kamu yang tadi ketinggalan di toilet kantorku tadi, semakin memperkuat kesimpulan. Cuma aku bingung, kenapa cincin di jari manisku ini hilang? Siapa yang telah mengambil dan menyembunyikannya? Apakah Papaku? Shhhhhh!" Adam mulai mendesis dan memegangi kepalanya


Alba langsung melepas kertas hasil tes DNA di genggamannya, lalu ia memeluk kepalanya Adam sambil berkata, "Mas, jangan memikirkan apapun!" Alba mengelus kepalanya Adam dengan isak tangis.


Adam memeluk Alba dan berkata, "Aku akan menuruti kata-kata kamu. Demi kamu Dan Noah, aku akan kuat dan berusaha untuk sembuh. Kalau toh aku tidak bisa mengingat kalian lagi pada akhirnya nanti, aku akan biarkan naluri dan hati nuraniku yang bekerja bukan otakku lagi. Karena cinta dan kasih sayang itu, kan, memang tidak butuh otak, tidak butuh logika"


Alba memeluk Adam lebih erat lagi dan tanpa ia sadari, ia berkata, "I love you, Adam"


Adam tertegun sejenak mendengar kata yang terlontar dari mulutnya Alba. Lalu Presdir muda mantan pengacara itu menangkup kedua pipinya Alba, ia menatap Alba dengan penuh cinta, dan berkata, "I love you too"


Kedua sejoli itu pun kemudian berciuman dengan penuh cinta dan kerinduan yang begitu mendalam.


Bella Fastro yang secara diam-diam membuntuti mobilnya Adam karena ia penasaran dengan tempat yang ditinggali Adam, mencengkram kemudi mobilnya dengan erat sampai buku-buku di kedua tangannya memutih saat ia melihat Adam dan Alba berciuman dengan mesra.


Adam lalu menarik bibirnya dari bibirnya Alba dan dengan napas yang masih menderu, ia merapikan rambutnya Alba sambil berkata,


Alba menatap Adam dengan sorot mata penuh dengan kesedihan lalu wanita berparas manis dan keibuan itu, berkata, "Kita sudah bercerai, Mas"


"Hah?! Tapi, kenapa? Apa aku yang menceraikan kamu?" Adam mengusap pipinya Alba dan menatap Alba dengan penuh rasa bersalah.


"Bukan Mas yang menceraikan aku"


"Lalu siapa?"


Alba tampak ragu untuk mengatakan siapa orang yang telah menceraikan dia dan Adam secara paksa.


"Siapa Ba? Katakanlah! Aku janji aku nggak akan marah dan aku akan baik-baik saja. Aku nggak akan pingsan lagi"


"Papanya Mas"


Alba terhenyak kaget dan Alba langsung menangkup kedua pipinya Adam, "Mas, jangan pingsan!"


Adam memegang kedua tangan Alba yang ada di kedua pipinya lalu tersenyum, "Aku hanya kaget, Ba. Tapi, aku nggak akan pingsan. Demi kamu dan Noah, aku harus kuat dan nggak boleh pingsan lagi. Aku nggak mau kehilangan kalian lagi, aku nggak mau jauh dari kalian lagi, aku nggak mau.........."


Alba langsung membungkam mulutnya Adam dengan mulutnya karena merasa terharu mendengar semua ucapannya Adam. Kedua sejoli itu semakin lupa diri di dalam ciuman panas mereka dan Adam mulai nekat menyusupkan telapak tangannya di balik kaosnya Alba dan tangannya mulai bergerilya di sana.


Alba menarik keluar tangannya Adam lalu ia menarik bibirnya dari bibirnya Adam dengan kata, "Kita belum menikah, Mas. Kita nggak boleh melewati batas"


Adam langsung memeluk Alba dan berkata, "Iya. Kamu benar. Kalau begitu, besok kita daftarkan pernikahan kita lagi, oke? Karena pesona kamu sangat kuat, lama kelamaan, terus terang, aku nggak akan kuat menahan hasratku ini. Aku takut khilaf karena kamu sungguh menawan. Apalagi saat kamu muncul di depanku dengan rambut basah dan dress tipis seperti tadi sore. Dadaku langsung sesak, Ba"


Alba terkekeh geli lalu berkata, "Aku tahu itu. Makanya aku langsung ganti baju"


Adam mencium pucuk kepalanya Alba lalu berkata di sana, "Gimana, kau mau, kan, mendaftarkan pernikahan kita, besok?"


"Mau, Mas. Karena, aku juga takut tidak bisa menahan godaan darimu. Kamu tuh sangat pintar merayu dan menggoda" Alba memukul pelan dada bidangnya Adam.


Adam langsung menggemakan tawanya dan setelah mencium keningnya Alba ia melepaskan pelukannya dan berkata, "Ini sudah malam, masuklah dan tidurlah! Mimpiin aku di dalam tidur kamu malam ini, ya?"


Alba tersenyum dan merona malu.


Adam mengelus pipinya Alba dan berkata, "Aku ingin tidur bersama dengan kamu dan Noah malam ini, boleh?"


"Mas, kita belum menikah"


"Iya kamu benar. Baiklah, aku harus menahan diri sampai besok. Setelah kita menikah besok, aku kan bisa memeluk kalian di malam hari" Adam tersenyum penuh cinta ke Alba lalu ia berkata, "Masuklah! Malam semakin larut dan udara semakin dingin"


Alba menganggukan kepakanya dan ia melangkah masuk ke dalam rumah sambil terus menatap Adam dengan senyuman penuh cinta. Adam pun terus menatap Alba dengan senyuman penuh cinta dan saat Alba akhirnya menutup pintu dan mengunci pintu itu, Adam melangkah ke pondok tamu dan di malam itu, Adam bisa tidur dengan sangat nyenyak.


Bella melajukan mobilnya pergi dari depan rumahnya Alba dengan bergumam, "Aku nggak akan biarkan siapa pun merebut Adam dariku"