I Love You, Adam

I Love You, Adam
Kucir Rambut



Adam menoleh ke Alba sekilas lalu kembali menatap ke depan untuk kembali fokus menyetir. Alba tampak murung dan gelisah.


Lalu Adam mencoba untuk mencairkan suasana hatinya Alba dengan bertanya, "Kau tahu nggak hari apa yang paling aku sukai?"


Alba tersentak kaget dari lamunannya lalu menoleh ke Adam, "Hari apa?"


"Hari Senin"


"Kenapa hari Senin?" Theo memajukan wajahnya ke depan dan Adam menoleh sekilas ke Theo, lalu mendorong wajahnya Theo untuk kembali ke tempatnya semula sambil menyemburkan protes, "Kok kamu yang nanya? Harusnya Alba"


"Alba kelamaan nanyanya, sih" Theo tidak mau kalah.


"Jangan hiraukan Theo. Ayo Ba, nanya dong" Ucap Adam sembai menoleh sekilas ke Alba


Alba dan Ayu terkekeh geli lalu Alba bertanya, "Kenapa hari Senin?"


"Karena di hari Senin, aku senintiasa memikirkanmu" Sahut Adam dan memamerkan deretan gigi putihnya ke Alba.


Alba memberikan senyum meronanya ke Adam.


Untuk sesaat mereka bersitatap penuh cinta.


Theo langsung menepuk bahunya Adam, "Lihat depan! Kalau nyetir tuh harus fokus! Lihat ke depan terus, jangan tolah toleh!"


"Dasar gila kau Yo! Justru kelakuan kamu yang ngagetin yang bisa bikin kita celaka"


Theo langsung menggemakan tawanya, lalu berkata, "Aku juga bisa kalau ngegombal model begituan. Itu mah kecil. Kalian mau tahu nggak?"


"Nggak mau tahu tuh" Sahut Adam.


Alba dan Ayu kembali terkekeh geli.


"Say, kamu nggak mau tahu?" Theo menoleh ke pacarnya dan Ayu terkikik geli sambil menganggukkan kepalanya.


"Wah! tabung hijau dong, Gaaaasss! dengerin ya, sayur sayur apa yang paling aku suka?"


"Sayur asem" jawab Ayu.


"Salah"


"Lho, kamu kan suka sayur asem" Ayu menautkan alisnya.


Theo langsung mengerucutkan bibirnya, lalu berucap, "Bukan gitu cara mainnya, Sayang. Kamu Harusnya nanya lagi, apa? Gitu"


Alba menoleh ke belakang. Ia bersitatap dengan Ayu dan terkikik geli secara bersamaan.


Ayu lalu menoleh ke pacarnya dan bertanya, "Oke Sayang, apa sayur kesukaanmu?"


"Gudeg" Sahut Theo.


"Kok Gudeg?"


"Karena sayur Gudeg itu, bertambah hari justru semakin terasa manis dan mantap. Seperti cintaku ke kamu, dengan bertambahnya hari semakin terasa manis dan mantap"


Ayu dan Alba langsung menggemakan tawa mereka dan Adam langsung berkata, "Heleh! gombalan biasa kayak gitu aja bangga"


"Hei! Apa kabar Adam yang dulu? Yang kaku, nggak kenal ngegombal, dan nggak asyik" Theo berucap dengan nada nyinyir.


Adam langsung berucap, "Kau mau aku bongkar kebiasaan buruk kamu pas tidur ke Ayu?"


"Cih! Anteng kalau dilihat dari Hongkong. Aku semalam tidur seranjang sama kamu, sama sekali nggak bisa tidur. Kamu ngigau parah dan setelah itu mendengkur keras kayak bunyi gerbong kereta api dan......."


Theo langsung menutup mulutnya Adam dari belakang sambil menoleh ke Ayu dan meringis. Adam langsung menarik tangannya Theo, lalu berucap, "Makanya jangan coba-coba melawan Adam Baron"


"Iyes! Theo nggak akan melawan Pak pengacara hebat, Pak Adam Baron"


Adam langsung menggemakan tawa kemenangannya. Sementara itu, Alba dan Ayu terkekeh geli melihat tingkah konyolnya Adam dan Theo.


Adam lalu melirik Alba dan laki-laki tampan kekasihnya Alba itu, tersenyum lega, melihat Alba sudah bisa mencair dan tidak terlihat muram dan gelisah lagi.


Adam, Alba, Ayu dan Theo, sampai ke persidangan tepat jam sembilan dan mereka langsung masuk ke dalam ruangan yang sudah disediakan bagi mereka dan mereka duduk di ruangan khusus itu dengan hati berdebar-debar karena, baru pertama kalinya bagi mereka memasuki kantor persidangan, "Untuk perkara Pidana sidang dimulai tepat jam 10:00 WIB. Para pihak diharapkan hadir 15 menit sebelumnya" Ucapan Adam ditujukan untuk Alba, Ayu, dan Theo.


Alba, Ayu, dan Theo menganggukkan kepala mereka secara bersamaan.


Adam kemudian membuka suaranya lagi, "Pada saat Majelis Hakim Memasuki dan Meninggalkan Ruang Sidang, semua yang hadir harus berdiri untuk menghormati. Dan selama sidang berlangsung, pengunjung sidang harus duduk dengan sopan dan tertib di tempatnya masing-masing dan memelihara ketertiban dalam ruang sidang" Sambung Adam dan disambut anggukkan kepalanya Alba, Ayu, dan Theo secara bersamaan.


Tiba-tiba ada bunyi, tok, tok, tok. Seseorang mengetuk pintu ruangan yang berisikan Adam, Alba, Ayu, dan Theo.


"Masuk" Sahut Theo.


Pintu terbuka dan munculah wajah tampannya Satya Wicaksana.


"Kok kamu ke sini?" tanya Adam.


"Aku ingin memberi semangat pada kalian semua sebelum persidangan dimulai dan Dam, aku butuh bicara berdua sama kamu, sebentar saja"


Adam lalu mengajak Satya keluar.


Satya berucap, "Bukti rekaman CCTV hilang. Ada yang mencurinya dan Tantenya Alba menolak untuk memberikan kesaksian"


Adam langsung menggertakkan gerahamnya, laku berucap, "Kamu tolong jaga Alba dan teman-temanku sebentar,ya!? Aku akan menelepon Pambudi untuk menemui detektif andalanku"


Satya menganggukkan kepalanya. Lalu Satya segera masuk kembali ke dalam ruangan saat Adam melesat pergi dari hadapannya.


Satya tersenyum ke Alba, Ayu, dan Theo, lalu berkata, "Adam ada perlu sebentar"


"Anda tampan sekali" Theo tersenyum ke Satya dan Satya yang lebih ramah daripada Adam langsung memberikan senyum hangatnya ke Theo, lalu berkata, "Terima kasih. Anda juga tampan, Emm......."


"Theo. Nama saya Theo. Saya teman SMA-nya Adam dan Alba dan ini Ayu, pacar saya sejak lulus SMA"


"Saya, Satya Wicaksana. Saya seniornya Adam Baron waktu saya dan Adam Baron masih menempuh studi di Amerika" Satya menyalami semuanya, termasuk Alba. Alba menundukkan kepalanya saat ia menyambut uluran tangannya Satya dan di saat itulah ia melihat kucir rambutnya Alba. Satya langsung mencengkeram erat tangannya Alba seolah tidak ingin melepaskan tangan itu dan tatapannya membeku menatap kucir rambut berhiaskan strawberry yang persis sama dengan yang ia simpan dengan sangat baik sejak ia masih berumur sepuluh tahun.


Theo dan Ayu langsung bersitatap dengan sorot mata penuh tanda tanya melihat sikap aneh yang ditunjukkan oleh Satya Wicaksana.


Adam menelepon Pambudi, "Hubungi detektif Sentot dan segera cari keberadaan rekaman CCTV di ruang seni Kampus Merah Putih. Paling lambat besok harus sudah ditemukan rekaman itu. Aku akan coba meminta perpanjangan waktu sidang sampai besok, ke Bapak Majelis Hakim"


"Baik Bos" Sahut Pambudi dan klik! Pambudi langsung menutup sambungan di telepon genggamnya itu untuk segera melaksanakan perintahnya Adam Baron.


Alba menatap Satya dengan heran dan berusaha terus menarik tangannya dari dalam genggaman tangannya Satya yang makin lama makin terasa erat dan Alba memekik, "Aduh, sakit!"


Satya tersentak kaget mendengar Alba mengaduh kesakitan dan secara spontan ia melepaskan tangannya Alba.


Satya mengamati Alba cukup lama dan membuat Alba merasa kikuk berdiri di depannya Satya.


Satya lalu bertanya, "Apa kau lahir di kota U? Dan apakah kau pernah ditolong oleh anak laki-laki, digendong di punggung hingga akhirnya sampai di kantor polisi?"


Alba menganggukkan kepalanya dan Satya langsung memeluk Alba dengan erat dan penuh dengan kerinduan................