
"Kamu?" Alba menautkan alisnya di depan Adam.
Adam tersenyum lalu bangkit dan berjalan memutari meja kerjanya yang sangat besar. Adam terus berjalan mendekati Alba dan mengulurkan tangannya sambi berkata, "Selamat bergabung di hotel ini. Hotel The Baron"
"Ho....hotel a...apa?" Alba bertanya lalu melongo di depannya Adam.
"Hotel The Baron. Ini salah satu bisnis milik Papaku selain mall dan makanan kemasan" Sahut Adam.
"La...lalu....kenapa aku diantarkan ke sini?"
"Kamu menjadi sekretaris pribadiku mulai sekarang" Ad berucap dan masih menggantungkan tangannya di udara, menunggu sambutan uluran tangan dari Hana.
Hana menyambut ukuran tangannya Adam karena ia merasa rikuh melihat tangannya Adam cukup lama menggantung di udara dan dengan singkat ia menarik tangannya kembali.
Adam tersenyum lalu ia menarik tangannya dan memasukkan tangan itu ke dalam saku celananya.
"Ta, tapi, aku tidak terbiasa bekerja di balik meja dan duduk terus selama dua puluh empat jam. Aku juga tidak bisa mengetik dan........"
"Kamu bisa bermain piano, tapi tidak bisa ngetik? Bukankah itu sama? Piano dan mengetik, sama-sama membutuhkan kelincahan jari jemari, kan?"
Alba menghela napas panjang lalu berkata, "Tentu saja beda. Kalau piano tidak perlu takut ada typo, salah ketik. Kalau mengetik, kan......."
"Jangan khawatirkan soal mengetik. Kamu hanya perlu mencatat jadwal kegiatanku tiap hari,mengingatkan aku tentang jadwal itu, dan membuatkan teh untukku" sahut Adam.
"Hanya itu?" Hana menautkan alisnya ke Adam.
Adam tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.
"Tapi, tetap saja aku lebih suka memasak daripada harus......."
"Kau buruh pekerjaan dan uang, kan?" tanya Adam.
"Tentu saja, karena aku ini single parent. Aku harus bekerja dengan giat sampai aku melihat Noah sukses nanti" Sahut Alba.
"Aku akan menggajimu tiga kali lipat dari gaji yang kamu peroleh menjadi asisten chef dan bermain piano. Tapi, mulai hari ini, aku tidak ijinkan kamu keluar malam untuk bermain piano lagi"
"Hah?! Tiga kali lipat? Hanya menulis kegiatan kamu dan membuat minuman untuk kamu?"
Adam tersenyum,.menganggukkan kepalanya dan berkata, "Iya. Kamu bisa.mulai menandatangani kontrak kerja kita. Berkasnya ada di atas meja kerjaku. Silakan duduk di sana!" Adam berbalik badan untuk melangkah dan duduk kembali di kursi kerjanya.
Alba mengikuti langkahnya Adam dan duduk di meja kerjanya Adam, "Aku akan langsung menandatangani berkas ini karena aku memercayaimu dan aku ingin segera mengerjakan tugasku di hari ini" Alba langsung menandatangani berkas yang ada di atas meja lalu menyerahkan berkas itu ke Adam.
"Bukan. Kamu masuklah ke dalam ruangan itu, kunci pintunya dan tidurlah!"
"Hah?! Kamu jangan bercanda. Mana bisa aku tidur di jam kerja?"
"Aku serius. Masuklah ke ruangan itu dan beristirahatlah. Aku akan ketuk pintunya saat aku balik dari rapat nanti" Adam berucap sembari bangkit dan menjinjing tas kerjanya. "Aku tinggal dulu dan selamat beristirahat. Kau buruh tidur yang panjang setelah semalaman memasak. Aku akan balik ke ruangan ini, jam sebelas tepat" Adam lalu berjalan santai meninggalkan Alba yang masih berdiri melongo di depan meja kerjanya Adam.
Alba lalu mencubit pipinya, "Aw! Sakit! Berarti ini bukan mimpi. Lalu, apa benar aku hanya duduk beristirahat di ruangan ini dan tidak melajukan apapun, tapi digaji? Dia gila atau amnesia sih sebenernya?" Gumam Alba sembari melangkah ke ruangan yang ditunjuk oleh Adam. Dia membuka pintu itu dan tercengang. Dia melihat sebuah kamar yang sangat mewah dengan furniture model klasik yang nilanya ratusan juta.
Alba langsung menutup kembali pintu ruangan itu dan bergumam, "Mas Adam benar-benar gila sekarang. Dia tidak ingat siapa aku, kok bisa-bisanya menyuruhku masuk ke dalam kamar pribadinya dan menyuruhku tidur di sana" Hana lalu memilih untuk berbalik badan dan melangkah ke meja kerjanya Adam. Dia merapikan meja kerja itu. Kemudian dia melangkah keluar dari ruangannya Adam untuk membeli merk teh seduh kesukaannya Adam karena Adam menyukai teh yang diseduh daripada teh celup.
Alba menemukan merk teh seduh kesukaannya Adam di minimarket yang terletak di seberang hotel The Baron. Lalu Alba bergegas naik ke ruang kerjanya Adam menggunakan lift biasa.
Di dalam lift itu, Alba mendengarkan karyawan hotel The Baron mulai bergosip, "Aku dengan Pak Adam Baron akan segera menikah"
Alba tersentak kaget dan langsung mencengkeram kencang kedua kuping tas kresek yang ia jinjing mendengar Adam akan segera menikah.
"Iya. Tunangannya sangat sempurna. Dia seorang dokter, sangat cantik, dan seksi. Kabarnya, tunangannya Pak Adam Baron juga anak konglomerat"
"Wah! memang dunia ini tidak adil, ya? Masak orang sempurna dapatnya orang yang sempurna juga"
Lalu lift terbuka di lantai lima dan semua karyawan hotel The Baron yang gemar bergosip keluar di lantai lima tersebut.
Tinggal lah Alba seorang diri di dalam lift Mendengar gosip dari para karyawan hotel The Baron, membuat, Alba langsung membeku dan tidak segera keluar saat pintu lift terbuka di lantai ruangannya Adam. Alba tersentak kaget saat ada seorang wanita yang masuk ke dalam lift dan bertanya, "Ini lantai teratas. Anda mau keluar atau turun kembali?"
Hana langsung mengangukkan kepalanya ke wanita itu dan keluar dari dalam lift.
"Mas Adam akan segera menikah, tapi kenapa Mas Adam menciumku semalam. Apa Mas Adam seorang playboy sekarang ini?" gumam Alba sembari menuangkan dua sendok teh ke dalam teko dan memanaskan air mineral di pemanas air elektrik.
Alba menunggu air matang, lalu ia melirik jam di dinding, "Sepuluh menit lagi, Mas Adam balik ke sini. Aku harus cepat membuatkan teh untuknya" Alba lalu menuangkan air yang telah matang ke dalam teko yang berisi dua sendok teh seduh.
Setelah selesai, ia menutup cangkir teh dengan tutupnya lalu ia duduk di sofa menunggu kedatangannya Adam dan wanita manis itu, ketiduran di sofa.
Adam melangkah masuk ke ruangannya sendirian karena ia menyuruh asisten pribadinya untuk mengurus proyek di lapangan. Adam melihat Alba ketiduran di sofa dan Presdir tampan itu langsung meletakkan tas kerjanya di sofa lalu ia merengkuh tubuhnya Alba dengan pelan ke dalam pelukannya kemudian ia membopong Alba ke kamarnya.
Adam merebahkan Alba dengan pelan di atas ranjang mewahnya laku ia merapikan rambutnya Alba, mencium keningnya Alba dan berbisik, "Kenapa aku bisa begitu mencintaimu padahal kita baru saja bertemu" Adam mengelus pelan pipinya Alba lalu ia menarik selimut, menyelimuti Alba dengan benar dan menyetel AC kamar itu. Adam bangkit dan melangkah keluar dari dalam kamarnya.
Saat ia duduk di kursinya, ia melihat ada sebuah cangkir di atas meja kerjanya. Adam membuka tutup cangkir itu dan menghirup aroma teh yang sangat harum dan entah kenapa, aroma teh itu membangkitkan rasa yang indah di hatinya.
Adam menyesap teh seduh itu dan langsung takjub dengan rasanya, "Ini teh yang selama ini aku cari. Tapi, kenapa Alba bisa memahami selera teh yang aku sukai? Bahkan Bella tunanganku saja tidak pernah bikin teh seperti ini. Bella selalu membuatkan teh celup untukku. Sejujurnya aku tidak pernah menyukai semua masakan dan minuman yang Bella bikinkan untukku, lalu apakah betul kalau Bella itu tunanganku? Dan Alba, dia wanita yang baru saja aku temui, tapi kenapa aku bisa menyukai semua masakan dan minuman yang Alba bikin?" Adam lalu termangu dan dalam diam, dia berusaha untuk mengingat memori di masa lalunya dan ceklek! Pintu kerjanya terbuka dan Bella melangkah masuk dengan senyum lebar.