I Love You, Adam

I Love You, Adam
Opa



"Lepaskan tangan kamu dari tubuh wanita murahan itu!!!!" Telunjuk tangan kanannya Alex Baron langsung tertuju ke bahu kirinya Alba.


"Aku tidak akan pernah melepaskan tanganku dari Istriku" Adam mendelik ke Papanya.


Alba langsung menepis pelan tangannya Adam dari bahunya dan berkata, "Bicara baik-baik sama orang tua, Mas"


Adam menoleh ke Alba, "Kenapa kau melepaskan rangkulanku?"


"Selesaikan masalah yang ada di antara kalian, Mas" Aku akan menemui Noah. Alba lalu berjalan mendekati Alex Baron dan di saat ia meraih tangannya Alex Barong untuk ia cium punggung tangan itu, Alex Baron langsung mendorong Alba sampai Alba hampir jatuh dan Adam dengan sigap menangkap tubuhnya Alba.


"Pa! Alba menghormati Papa dan tidak pernah jahat sama Papa! kenapa Papa setega ini sama Alba?!!!" Adam mulai berteriak lantang ke Alex Baron sambil terus memeluk Alba.


"Aku tidak sudi dihormati oleh wanita yang tidak pantas untuk dihormati dan ........"


Di saat Adam melangkah maju ke depan dan hendak mencengkeram kerah baju papanya, Alba langsung berkata, "Bawa aku ke kamar, Mas"


"Apa kau sakit? Apa kau pusing?" Adam langsung membopong Alba dan berlari ke kamar.


Heni langsung mendorong Alex Baron dan berkata, "Keluarlah! Pergilah dan jangan datang lagi ke sini, dasar laki-laki Iblis!'


Alex Baron menahan langkahnya saat ia telah menginjak rumput hijau di halaman depan rumahnya Alba lalu ia memutar badan untuk menghadapi Heni, "Kau memang sama seperti dulu, sangat kasar dan tidak punya sopan santun!"


Heni berkacak pinggang di depan Alex Baron, "Aku akan kasar dan lupa akan sopan santun kalau aku berhadapan dengan manusia brengsek seperti kamu!" Heni lalu berbalik badan, berlari masuk ke dalam rumah dan langsung mengunci pintu.


Alex Baron menggeram kesal, lalu ia melangkah ke bangku panjang yang terbuat dari rotan. Alex memutuskan untuk duduk sejenak melepas emosinya dan ia berharap Adam keluar rumah untuk menemuinya.


Adam merebahkan Alba ke kasur dan Noah langsung mengelus kulit di sekitar pelipisnya Alba dan dengan wajah panik ia bertanya, "Mama kenapa?"


Alba langsung menarik Noah masuk ke dalam pelukannya dan berkata, "Mama nggak papa, Sayang. Tadi ada yang ceroboh melempar barang dan kena pelipisnya Mama, tapi Mama nggak papa, kok"


Adam merapikan rambutnya Alba dan Alba langsung menoleh ke Adam lalu menggerakkan bibir tanpa mengeluarkan suara, "Temui, Papa!"


Adam menganggukkan kepalanya lalu mencium keningnya Alba, mencium pipinya Noah, kemudian melangkah keluar dari kamar dan terus melangkah sampai ke teras depan.


Heni yang masih meredakan emosinya, menikmati es sirup di dapur dengan sesekali menghela napas panjang.


Adam menemukan papanya duduk di bangku rotan yang ada di samping pintu depan pondok tamu. Adam berkata sambil mengepalkan kedua tangannya, "Kita masuk ke dalam, Pa. Kita perlu bicara berdua saja"


"Kita ke hotel saja. Papa nggak suka berada di sini" Alex Baron dengan santainya bangkit berdiri dan hendak berjalan ke mobilnya. Adam langsung mencekal lengan papanya dan menarik papanya masuk ke dalam pondok.


Adam mendelik ke papanya, "Duduk, Pa!" Lalu ia melepaskan lengan papanya dan berjalan ke sofa yang ada di depannya Alex.


Alex terpaksa duduk karena, sejak Adam sadar dari operasi otak, dia tidak pernah mendapatkan sorot mata tajam dan dingin dari Adam.


Adam pun duduk dan mulai membuka suara, "Aku tidak akan biarkan Papa memisahkan kami. Aku, Alba dan Noah"


"Aku tidak akan pernah menerima wanita itu jadi menantuku, tapi aku mau menerima Noah jadi cucuku. Aku menyayangi Noah dan akan aku bawa Noah ke luar negeri agar lebih terjamin masa depannya" Alex Baron berkata dengan santainya.


"Kenapa Papa seperti ini?"


"Karena aku membenci wanita itu! Aku sangat membencinya!" Alex berteriak dan melotot ke Adam.


"Apa memang seperti ini watak Papaku? Alba bahkan tidak pernah berkata jelek soal Papa. Alba bahkan menenangkan aku saat aku tahu soal mama kandungku. Di saat aku merasa.marah dan kecewa akan hal itu, Alba bahkan membela Papa dengan berkata, Papa pasti punya alasan dan jangan menyalahkan Papa. Lalu ini balasannya, Pa? Alba tidak pernah menyakiti Papa, Pa. Kenapa Papa membenci Alba?!!!!"


"So.....soal Mama kamu, itu karena, aku nggak ingin kamu syok dan pingsan lalu........"


"Alba terus, Alba terus! Papa muak mendengar namanya! Kenapa kau tidak bisa menerima Bella Fastro yang jauh lebih baik dari wanita busuk itu, Hah!? Kenapa!?" Alex berteriak kencang ke Adam.


"Karena Bella memiliki watak yang sama seperti Papa. Itulah kenapa Papa cocok sekali dengannya"


"Lalu kenapa kalau Papa cocok dengan Bella, bukankah itu bagus? Kamu bisa bahagia menikah dengannya"


"Asal Papa tahu, Bella sudah ditangkap polisi beberapa menit yang lalu karena, ia yang sudah membunuh Istri Papa, Nindya. Dan Bella juga berniat menculik dan membunuh Noah. Alba egois, dan kejam pada orang lain, Papa juga sama, benar begitu?" Adam menyeringai.


"Apa?!" Alex langsung terhenyak syok di sandaran sofa dan menatap Adam dengan nanar.


"Apa yang akan terjadi kalau aku tidak dipertemukan oleh Tuhan dengan Alba? Aku akan menikah dengan Bella, lalu apa yang akan terjadi, kalau aku menikah dengan seorang pembunuh?" Adam menghunus tatatapan tajam ke papanya yang masih syok.


Alex Baron lalu bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Adam. Dengan langkah gontai, Alex Baron berkata, "Aku akan menemui Bella sekarang juga, aku akan minta penjelasan darinya"


Adam membiarkan papanya pergi karena, terus terang ia sudah merasa sangat lelah menghadapi papanya.


Alex Baron masuk ke dalam mobil dan langsung memerintahkan supir pribadinya untuk mengantarkannya pulang ke ibukota karena, ia ingin menemui Bella Fastro.


Adam lalu melangkah keluar dari pondok tamu dan masuk ke rumah utama.


Heni telah pulang ke rumahnya karena lelah setelah meluapkan emosinya ke Alex Baron, ia butuh untuk menenangkan diri di kamarnya.


Adam membuka pintu kamar dan menemukan Alba telah lelap tertidur. Adam melihat Noah duduk bersimpuh di samping Alba dan tengah mengelus keningnya Alba sambil menyanyikan lagu Nina Bobo.


Adam lalu merebahkan diri di sisi ranjang yang satunya dan langsung memeluk Noah, "Papa bangga punya anak sepintar kamu, Sayang"


Noah merebahkan diri dan langsung masuk ke dalam pelukan papanya dan di sana, Noah mulai bertanya, "Pa, Kakek tadi, apakah orang jahat?"


"Bukan. Kenapa emangnya?"


"Kenapa Kakek tadi, berteriak ke Oma Heni dan ke Papa?"


"Kakek tadi, lupa minum obatnya, jadi kalau bicara nadanya jadi tinggi"


"Oh. Tapi, apa Oma Heni dan Papa, kenal sama Kakek tadi dan kenapa Papa memanggilnya, Pa?"


Adam tersenyum bangga melihat kecerdasan putranya, lalu ia mencium pucuk kepalanya Noah dan berkata, "Kakek tadi, temannya Oma Heni. Dan kakek tadi, adalah Papanya Papa"


Noah langsung mengangkat kepalanya dan bertanya dengan wajah semringah, "Berarti, Kakek tadi, O......Opa.....Opanya Noah?"


Adam tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Wah, senangnya! Noah punya Opa!" Noah kembali masuk ke dalam pelukannya Adam dengan wajah semringah.


Adam memeluk erat putranya lalu berkata, "Sekarang bobok gih, udah malam"


Noah langsung memejamkan matanya. Dia tidak meminta papanya mendongeng malam itu, karena ia paham papanya pasti lelah.


Dragon Fastro menerima kabar kalau putri tunggal kesayangan dan kebanggaannya ditangkap polisi, langsung meradang penuh amarah. Dragon Fastro kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki siapa yang berani menangkap putrinya.


Keesokan harinya, Alex Baron tiba di ibukota dan langsung menuju ke penjara. Di sana ia duduk berhadapan dengan Bella Fastro dengan wajah kecewa dan perasaan yang campur aduk. Bella terus menunduk malu di depan Alex Baron.