
Adam dan Alba berduaan saja di rumahnya Alba setelah ditinggal mamanya Alba berangkat bekerja di kafe.
Adam menulis soal latihan Matematika untuk Alba dan Alba memperhatikan Adam dengan bertopang dagu lalu ia bertanya, "Kenapa aku?"
Adam balik bertanya, "Apa?" tanpa mengalihkan pandangannya dari buku latihan soal di depannya.
"Kenapa kau nembak aku?"
Adam mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Alba lalu ia tersenyum dan balik bertanya, "Kenapa kau mau menjadi pacarku?"
Wajah Alba langsung memerah lalu ia memalingkan wajahnya sambil berkata, "Itu karena aku nggak enak sama Mama kamu. Kalau aku menolak kamu, nanti Mama kamu sedih"
Adam tertawa lalu ia mengelus rambutnya Alba, "Benarkah seperti itu?"
Alba menganggukkan kepalanya sambil memutar kepalanya untuk menatap Adam.
Adam melihat Alba dengan gemas. "Kamu manis, lucu, apa adanya, polos dan bodoh" Adam mengucapkan deretan kata itu dengan sangat cepat dan yang terdengar di telinganya Alba hanyalah kaya terakhir yaitu, bodoh.
"Itu pujian atau apa? Kok ada bodohnya?" Alba mengerucutkan bibirnya.
Adam tersenyum lebar lalu berkata, "Itu alasanku memilih kamu untuk aku tembak tadi"
"Hah?! Apa aja tadi? Ulangi! Kamu mengatakannya cepet banget tadi. Dan hanya kata bodoh yang berhasil mampir ke telingaku" Alba kembali mengerucutkan bibirnya.
"Nggak ada siaran ulang. Aku capek habis ngajari kamu Matematika dan bikin soal latihan untuk kamu. Kerjakan soalnya!"
"Ya, ya, ya! Aku kerjakan" Alba mengambil pensil dan mulai mengerjakan soal yang dibuat oleh Adam sambil bergumam, "Aku bodoh kok kamu pilih?"
Adam terkekeh geli mendengar gumamannya Alba dan karena gemas, ia menarik Alba untuk dia peluk dan ia nekat mencium pipinya Alba. Alba terlonjak kaget dan langsung mendorong tubuhnya Adam. "Kok main cium sih? Belum boleh, Dam"
"Cuma cium pipi kan nggak papa" Adam meringis ke Alba dengan polosnya. "Aku janji nggak akan mencium bibir kamu kalau belum dapat ini. dari kamu"
Alba memerah wajahnya dan langsung menundukkan wajahnya untuk menatap kembali buku latihan Matematikanya.
Ponsel Adam berbunyi, ada pesan text masuk dan itu dari papanya. Papanya Adam menyuruh Adam untuk cepat pulang karena papanya ingin memperingati hari kematian mama kandungnya Adam bersama dengan Adam.
Adam menatap pesan text itu cukup lama. Ia seolah tidak percaya dengan pesan text yang ia baca dan itu berasal dari papanya. Papa yang tidak pernah memperingati hari kematian mamanya.
Adam lalu mengusap rambutnya Alba, "Aku pulang dulu, ya?"
"Ada apa? Apa ada yang penting?" tanya Alba.
Adam tersenyum dan sambil menggelengkan kepalanya ia berkata, "Papa ingin memperingati hari kematiannya Mama denganku"
"Oh! Baiklah. Cepatlah pulang kalau gitu kasihan kan kalau Papa kamu menunggu terlalu lama" Sahut Alba sambil berdiri.
Alba mengantarkan Adam sampai di depan. Adam langsung berucap, "Masuklah dan kunci pintunya! Aku tunggu sampai kau masuk ke dalan mengunci pintunya"
"Hmm" Alba menganggukkan kepalanya, "Hati-hati ya, jangan ngebut!"
"Iya, cepat masuk ke dalam dan kunci pintunya!" Sahut Adam.
Alba lalu mencium pipinya Adam, dan berlari masuk ke dalam rumahnya lalu mengunci pintunya. Alba bersandar di pintu dengan senyum malu bercampur bahagia.
Sesampainya di rumah, Adam dikejutkan dengan hadirnya Nindya. Dia dan Nindya bersitatap.
Adam mengarahkan kedua bola matanya ke papanya yang tengah merangkul bahunya Nindya untuk bertanya, "Kenapa ada Bu Nindya di sini?" Adam mempertegas kata ibu dan itu membuat Nindya menjadi sedikit kesal. Adam dulu biasa memanggilnya Kak Nindya dan ia merindukan panggilan itu.
Papanya Adam mengelus-elus bahunya Nindya sambil berkata, "Papa serius dengan Nindya jadi, Papa pikir sudah saatnya bagi Nindya untuk ikut memperingati hari kematian Mama kamu mulai dari sekarang"
Adam mendengus kesal lalu ia berkata, "Terserah Papa aja kalau gitu. Aku mandi dulu"
Lima belas menit kemudian, Adam bergabung di ruang keluarga. Dia bersimpuh di depan meja tinggi yang diatasnya tertata foto cantik mendiang mamanya, camilan kesukaan mendiang mamanya dan buah-buahan.
Dia, Papanya dan Nindya berdoa sejenak di depan meja tinggi itu lalu papanya Adam bangkit untuk meletakkan buket bunga mawar putih yang sangat besar di samping foto cantik mendiang istrinya. Dia lalu menoleh ke belakang, mengayunkan tangannya ke Nindya. Nindya bangkit dan mendekati Alex Baron lalu Alex memanggil Adam.
Adam bangkit dan berdiri di sisi kanan papanya karena sisi kiri papanya telah dikuasai oleh Nindya.
Alex Baron merangkul bahu Nindya dan Adam lalu berkata, "Aku akan segera menikah dengan perempuan di depan kamu ini dan anak kamu, anak kita juga sudah mulai bisa menerima Nindya. Doakan kita bertiga bahagia ya, Sayang?"
Tanpa Adam sadari, ia menitikkan air matanya. Lalu ia menoleh ke papanya dan berucap, "Makasih Pa. Papa sudah banyak meluangkan waktu Papa untum Adam akhir-akhir ini dan membuat Adam tidak merasa kesepian lagi"
Alex menitikkan air mata lalu ia melepas rangkulannya di bahu Nindya untuk memakai kedua tangannya memeluk putra tunggal kebanggannya.
Mereka lalu menuju ke ruang makan untuk makan bersama.
Saat papanya Adam pergi ke toilet, Nindya nekat meraih tangannya Adam dengan kata, "Aku sangat merindukan waktu kita berduaan dulu, Dam"
Adam mendelik ke Nindya dan menarik kasar tangannya dari genggaman tangannya Nindya.
Nindya mencondongkan wajahnya di atas meja makan ke arah Adam yang duduk di depannya, "Dam, beri aku kesempatan lagi! Ajak aku pergi berdua denganmu lagi, kumohon! Aku hampir gila merindukanmu" Nindya memohon dengan lirih dan langsung menegakkan wajahnya kembali saat ia mendengar langkah kakinya Alex Baron.
Saat papanya kembali duduk di sampingnya Nindya, Adam berkata, "Pa, apa aku boleh punya pacar?"
Nindya menatap Adam dengan tajam dengan tanya di dalam benaknya, apa Adam akan nembak aku? dan merebut aku dari sisi Papanya? Ah! so sweet.
Alex Baron tersenyum menatap putra tampannya. Lalu ia berkata, "Asa kau tetap berprestasi, Papa ijinkan kamu untuk memiliki pacar.
Adam tersenyum senang mendengar jawaban dari papanya. Lalu dengan semringah ia berkata, "Aku sudah punya pacar Pa"
Nindya langsung tersedak makanan yang tengah ia punya mendengar Adam telah memiliki seorang pacar. Alex langsung menepuk pelan punggungnya Nindya dengan kata, "Hati-hati kalau makan, Sayang"
Lalu Alex menoleh ke Adam, "Benarkah? Kalau sudah punya, kenapa.masih minta ijin sama Papa barusan?" Alex terkekeh geli.
"Itu karena, Adam pengen dengar dulu pendapat Papa"
"Kalau Papa nggak ijinkan tadi, gimana coba?"
"Ya backstreet dulu sampai Papa ijinkan" Adam meringis ke Papanya.
"Dasar anak bandel, hahahahaha. Kenapa kau bisa sangat mirip dengan Mama kamu" Alex Baron tertawa bahagia bersama dengan putra kesayangannya.
Nindya mengulas senyum palsunya sambil mencengkeram ujung roknya yang berada di bawah meja dengan sangat geram