
"Aku sangat mencintai tunanganku. Apa aku sudah bilang kalau namanya Adam Baron?"
Bella berkata di dalam mobil yang sedang ia kemudikan.
"Ah! Iya" Alba menegakkan tubuhnya dan menoleh ke Bella.
"Aku akan mati kalau kehilangan Adam. Adam adalah napas hidupku. Aku bahkan bisa sesak napas kalau seharian belum mendengarkan suaranya. Jadi, kalau aku dan Adam sibuk dan tidak bisa bertemu, aku akan meneleponnya tiga kali sehari, heeeeee. Lebay, ya?" Bella melirik sekilas ke Alba.
Hari Alba berdesir perih karena cemburu. Tapi, ia harus merespons ucapannya Bella. Maka berkatalah ia, "Nggak lebay kok. Emm, itu wajar"
"Kamu boleh memanggilku Bella. Aku senang punya teman ngobrol yang asyik seperti kamu dan kita sepertinya berjodoh. Di saat kemarin, aku butuh orang yang bisa bermain piano aku secara feeling menunjuk nama kamu di daftar nama yang disodorkan padaku. Terus kita bisa bertemu lagi hari ini tanpa sengaja dan kita bisa berteman" Bella berkata dengan tulus dan polos karena dia belum tahu siapa Alba Anindya yang sebenarnya.
"Ah! Iya" Alba tersenyum ke Bella dengan kikuk.
"Aku bertemu dengan Adam pun secara kebetulan. Aku dan Adam juga berjodoh. Adam dirampok dalam perjalanannya menuju ke bandara. Dia bergegas ingin segera pulang ke Indonesia waktu itu dan kebetulan, aku dan Papaku juga menuju ke bandara hendak balik ke Indonesia juga waktu itu. Tapi, rencana kami untuk pulang akhirnya kita tunda demi untuk menolong Adam"
"Hah?! Benarkah itu? Tapi, Adam....emmm, maksudku.....tunangan kamu, emm.....maksudku......"
"Kamu kok dari tadi bicaranya kikuk terus sih? Santai aja sama aku. Emm, Adam mengalami koma selama satu Minggu dan aku yang menjaganya setiap hari. Di saat Adam membuka mata, kata yang pertama keluar dari mulutnya adalah, apa kamu pacarku?"
Deg! Alba merasakan kesedihan yang luar biasa dana merasa ingin menangis mendengarkan ceritanya Bella dan secara spontan, ia memalingkan muka untuk melihat jalanan demi untuk meredam kesedihannya. Dia telah berlaku tidak adil pada Adam dan hatinya terasa sangat sakit mengingat semua hal yang telah terjadi di masa lalunya.
"Karena aku tersihir akan ketampanannya, maka aku berkata iya waktu itu"
Alba kembali menoleh ke Bella dan bertanya, "Kenapa tunangan kamu, bertanya seperti itu?"
"Adam mengalami amnesia sesaat. Setelah dua Minggu pengobatan, ingatannya kembali normal" Sahut Bella.
"Dan, dia tetap menganggap kamu sebagai pacarnya setelah ingatannya kembali?" tanya Alba.
"Karena di saat ia telah mendapatkan kembali semua ingatannya, kami telah bertunangan"
"Oh!" Alba berucap dengan nada datar karena, hatinya terasa perih seperti diiris sembilu.
"Adam tidak pernah cerita kalau dia punya pacar. Aku sebenarnya merasakan adanya kejanggalan. Kenapa dia bertanya apa aku pacarnya saat ia tersadar dari koma, tapi dia tidak pernah cerita kalau dia punya pacar. Aneh, kan?" Bella berucap sembari memarkirkan mobilnya di halaman parkir kantin terbesar di kampus Merah Putih.
Alba tersenyum lalu melepas sabuk pengamannya dan turun dari dalam mobilnya Bella.
Bella berkata ke Alba, "Aku langsung ke kantornya Adam, ya. Kata sekretarisnya Adam, Adam masih di kampus ini, tapi nggak ada jam ngajar. Aku akan ajak Adam ke sini untuk aku kenalkan ke kamu. Tunggu sebentar, ya?"
Alba berkata, "Terima kasih atas semuanya. Emm, aku rasa, aku tidak usah dikenalkan dengan tunanganmu"
"Lho kenapa?"
"Aku merasa nggak pantas untuk berkenalan dengan tunangan kamu" Alba mengulas senyum dengan rasa lelah di hatinya.
"Ngomong apa sih?! Pokoknya tunggu! Aku akan ajak Adam ke sini" Bella langsung berputar badan dan berlari kecil meninggalkan Alba.
Alba hanya bisa menghela napas menatap sejenak punggungnya Bella Kemudian gadis manis bertubuh kurus itu, melangkah tertatih ke kantin, karena kedua lututnya terluka dan dia tersenyum lega saat ia melihat sepeda kesayangannya sudah tersandar manis di tembok kantin.
Alba melihat, Kantin sudah mulai tampak sepi karena, jam sarapan pagi sudah selesai. Alba masuk ke kantin dengan langkah tertatih dan langsung terkejut saat ia melihat Adam ada di sana, tengah membantu tantenya melayani satu orang pembeli yang masih tersisa dan Adam bahkan bersedia memakai celemek berwarna pink.
Alba mematung di tempatnya dan tidak berani untuk melangkah mendekati Adam. Perasaan sedih, penyesalan, dan rasa yang melarangnya untuk tidak boleh memilki Adam Baron membuatnya membeku di tempatnya.
Adam menoleh dan tersenyum senang melihat Alba berdiri di depan pintu masuk. Adam melepas celemek pink yang ia pakai, melipatnya dan menaruhnya kembali ke tempatnya semula, lalu ia berlari mendekati Alba. Begitu pula dengan tantenya Alba.
"Siku kamu kenapa?"Adam langsung menyentuh sikunya Alba.
"Lho kamu terluka?" Tantenya Alba ikutan kaget melihat kedua sikunya Alba diperban.
"Aku jatuh tadi. Makanya datang terlambat" sahut Alba.
Tantenya Alba yang tidak tahu kalau lututnya Alba juga terluka langsung menarik Alba untuk duduk dan Alba langsung mengaduh dan mengerem langkahnya.
Alba yang memakai rok panjang kaget saat Adam langsung berjongkok dan menyibak roknya naik sebatas lutut.
Alba kaget dan langsung menepis tangannya Adam dengan kata, "Apa yang kau lakukan?"
"Kamu mengaduh pas melangkah makanya aku periksa ada apa dengan kaki kamu" Adam berdiri lalu membopong Alba dan mendudukkan Alba secara hati-hati di atas kursi. "Kok bisa sampai luka di kedua siku dan lutut kamu sih, Ba? Kamu melamun ya naik sepedanya?"
Alba berkata, "Iya"
Tantenya Alba menggeleng-gelengkan kepalanya, "Dia ini memang hobi banget melamun, Nak Adam. Kasih tahu, omeli aja! Tante mau lanjutkan memasak untuk menu nanti siang" Tantenya Alba meninggalkan Alba dan Adam.
"Kenapa melamun?"
"Lupakan aku!" Alba menatap Adam dengan sorot mata penuh keseriusan.
"Lho! Ditanya kenapa melamun kok jawabnya gitu? Aku nggak bisa melupakan kamu dan aku nggak mau melupakan kamu. Aku nggak pernah bisa melupakanmu, Ba. Aku yakin kamu pun juga belum bisa melupakan aku, kan?"
"Bella yang menolongku. Bella yang mengobati semua lukaku ini. Bella yang mengantarkan sepedaku ke sini dan mengantarku ke sini. Bella orang baik dan dia tidak tahu apa-apa soal masa lalu kita"
"Lalu?" Adam menautkan alisnya.
"Lalu? Kau bertanya lalu dengan santainya? Tentu saja lalu, menjauh lah kau dariku! Lupakan aku! Kita tidak pantas untuk bertemu lagi. Pergilah ke kantormu! Bella menunggumu di sana"
"Aku akan putuskan pertunanganku dengan Bella setelah Papaku membaik. Papaku kesehatan jantungnya terganggu dan sedang terbaring lemah sekarang ini dan tidak boleh mendengarkan berita yang mengejutkan dulu"
Alba menggelengkan kepalanya, "Jangan lakukan itu! Kamu ingin tahu alasanku kenapa minta putus, kan?" Alba menatap Adam yang masih berjongkok dan memeriksa lututnya.
Adam mendongakkan wajahnya dan tersenyum, "Iya. Kamu mau katakan sekarang?" Adam menunggu jawabannya Alba penuh harap.
Alba mengalihkan pandangannya dari kedua sorot matanya Adam saat ia mengucapkan kata, "Aku tidak mencintaimu. Aku minta putus dari kamu karena, aku tidak mencintaimu"
Adam langsung berdiri di depan kursinya Alba dan menyemburkan protes, "Bohong! Aku bisa merasakan kalau kau masih mencintaiku saat kita.........."
"Sssstt! Bella masuk ke sini" Alba memandang pintu masuk dengan wajah panik.
Bella melangkah mendekati Adam dan Alba lalu bertanyalah ia, "Lho! Kalian udah bertemu? Kamu kok ada di sini, Dam? Aku cari kamu tadi di ruanganmu dan kata sekretaris Progdi, kamu ada di sini"
"Aku membantu tantenya..........."
Alba secara spontan berdiri dan langsung menutup mulutnya Adam.
Adam mendelik ke Alba dan Bella menatap keduanya dengan sorot mata penuh dengan tanda tanya.
Dan ada dua pasang mata lagi dengan sorot mata ambigu dan senyum licik, tengah menatap Alba.