
Adam terus menggenggam tangan Alba. Kedua insan yang masih dimabuk cinta yang sama dengan yang mereka rasakan di masa lalu itu, mengulas senyum semringah mereka yang malu-malu.
"Kamu yakin mau naik bus umum lagi. Dulu, untuk pertama kali dan terakhir kalinya kamu naik bus umum, kamu langsung turun dan memilih berlari mengambil motor sport kamu untuk segera mengejar bus umum yang aku tumpangi dan kamu mengiringi laju bus umum itu di sisi bus umum yang menampakkan wajahku. Kamu ingat?"
Adam tersenyum geli dengan sendirinya lalu menoleh ke samping kirinya untuk melihat Apa sembari berucap, "Tentu saja aku turun lagi karena, adik-adik kelas kita histeris melihatku kala itu dan ada satu yang nekat berdiri dari tempat duduknya dan menagih jawaban atas surat cinta yang katanya pernah ia kasih ke aku, Hiiiihhh!" Adam menggedikkan kedua pundaknya.
Alba terkekeh geli lalu kembali bertanya,"Lalu kenapa, kamu melajukan motor sport kamu di sisi bus umum yang menampakkan wajahku waktu itu dan tolah toleh ke aku terus?"
"Iya biar kerasa aja kalau aku duduk di samping kamu, walaupun aku naik motorku. Dan aku tolah toleh ke kamu cukup sering waktu itu karena, aku nggak ingin kamu digoda cowok" Adam berucap sembari menggoyangkan tangannya yang masih menggenggam erat tangannya Alba dan terus mengulas senyum semringah.
Alba melirik tangannya yang masih berada di dalam genggaman tangannya Adam yang terasa nyaman dan hangat sambil berucap, "Kamu memang aneh dan lebay. Kenapa kamu memilih aku, Dam?"
"Apa?" Adam menoleh ke samping kirinya kembali untuk melihat Alba.
"Kenapa aku? Aku ini nggak pinter, nggak tinggi, nggak modis, nggak pernah pakai make-up, dan nggak kaya. Padahal banyak sekali cewek-cewek dari keluarga berada yang cantik, tinggi bak model dan cantik yang ngejar-ngejar kamu, kenapa kamu nggak milih salah satu dari mereka?"
Adam mencium tangan Alba yang masih ia genggam lalu berucap, "Karena aku sudah punya semuanya. Aku sudah kaya, aku pinter, aku tinggi, dan modis. Tapi, nggak pernah pakai make-up"
Alba langsung menggemakan tawa renyahnya di udara dan berucap, "Iya tentu saja kamu nggak pernah pakai make-up, kamu kan, cowok"
Adam ikut tertawa dan kembali mencium tangannya Alba lalu berkata, "Dan kenapa kamu milih aku? Padahal banyak sekali cowok-cowok keren yang ngejar-ngejar kamu kala itu. Sekarang pun masih, kan? Aku dengar ada banyak dosen yang nyatain cinta ke kamu"
Alba menoleh ke samping kananya lalu mendongakkan wajahnya untuk melihat wajahnya Adam dan berkata, "Karena kamu adalah Adam Baron"
Adam mengerem langkahnya dan bersitatap dengan Alba, "Kamu capek nggak?"
"Kenapa? Kamu capek?"
"Kalau menggenggam tangan kamu seperti ini terus aku nggak berasa capek, Ba. Tapi, kamu pasti capek"
Alba tersenyum dan berkata, "Sedikit sih. Karena tadi pagi, kedua jariku terkena sayatan pisau dapur dan mengeluarkan banyak darah terus cuma sarapan bubur. Jadi, aku sedikit merasa capek saat ini"
Adam langsung melepas tangannya Alba, melangkah ke depan lalu berjongkok di depannya Alba.
"Dam! Kenapa kamu jongkok di depanku? Diliatin orang tuh" Pekik Alba.
"Naiklah ke punggungku! Aku akan menggendong kamu"
"Nggak mau! Malu, Dam"
"Kenapa harus malu? Kamu kan calon Istriku. Kalau ada yang nekat nanya, aku akan bilang kalau calon Istriku capek"
"Dam! Jangan bercanda!"
"Cepat naik! Atau mau aku bopong ala pengantin baru?"
Alba langsung melompat naik ke punggungnya Adam dan Adam bangkit dengan perlahan sembari menggamit kedua lutut bagian belakangnya Alba dengan kedua lengannya. Setelah dirasanya aman, Adam mulai melangkahkan kakinya menuju ke halte bus umum yang sudah mulai terlihat di depannya, namun masih cukup jauh jika dijangkau dengan cara berjalan kaki.
"Dam, banyak yang liatin kita" Alba berkata dengan pipi yang menempel di daun telinganya Adam yang sebelah kanan.
"Kamu nggak capek? Kamu udah mulai berkeringat nih" Alba mengelap keringat di dahinya Adam dengan telapak tangan kanannya.
"Aku nggak papa. Keluar keringat itu justru sehat, kan?" Sahut Adam.
Dan akhirnya, setelah berjalan kaki selama lima belas menit, Adam dan Alba sampai di halte bus. Mereka duduk di bangku halte dengan saling berpegangan tangan dan terus tersenyum semringah.
Adam berkata, "Kita nanti masuk lewat pintu belakang dan duduk di bangku paling belakang aja, ya?"
"Iya"
"Perjalanan dari sini naik bus ke studio musik kira-kira berapa menit"
"Setengah jam" sahut Alba.
Jawaban Alba membuat Adam senyum-senyum nggak jelas dan menggelitik Alba untuk bertanya, "Hayo! Apa yang kau pikirkan? Kenapa mulai senyum-senyum nggak jelas kayak gitu?"
Adam berbisik di telinganya Alba, "Kalau duduk di bangku paling belakang dan paling pojok, aku kan bisa merebahkan kepala aku di bahu kamu" Lalu Adam menegakkan kepalanya sambil mengulum bibir menahan kegirangannya dan memasang raut wajah bak anak kecil yang menunggu mainannya datang. Alba hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar.
Alba menatap jari jemari dia yang bertaut erat dengan jari jemari tangannya Adam dengan rasa penuh syukur. Dia merasa lega, selega-leganya bisa berbagi cerita dengan Adam mengenai kematian Mamanya yang masih menyimpan banyak misteri dan merasa bersyukur di saat ia sangat membutuhkan uluran tangan dari seseorang untuk menolongnya lepas dari jerat maut suami tantenya, uluran tangan itu adalah uluran tangannya Adam Baron. Laki-laki yang selalu dan selamanya akan ia cintai.
Bus umum yang mereka tunggu akhirnya berhenti di depan mereka. Kedua kekasih lama yang berada baru itu, naik di pintu belakang, duduk di bangku belakang paling pojok dan benar saja, Adam langsung merebahkan kepalanya di bahunya Alba sambil berucap, "Bahu kamu walaupun kurus tapi bahu kamu adalah bantal ternyaman bagiku"
Alba menepuk punggung tangan Adam yang ada di atas pangkuannya dengan tangan kirinya karena, tangan kanannya digenggam erat oleh Adam.
Saat mereka akhirnya tiba di halte bus yang berada di seberang jalan studio musik, Alba yang hapal dengan mobilnya Bella, langsung menoleh ke Adam dan menarik tangannya dari dalam genggaman tangannya Adam.
Adam terkejut dan langsung bertanya, "Kenapa?"
Alba menunjukkan jari telunjuknya ke seberang jalan sembari berkata, "Itu mobilnya Bella, kan?"
"Hmm" Sahut Adam dengan santainya.
"Kamu di sini dulu ya"
"Lho kenapa? Bukankah bagus kalau kita bilang ke Bella kalau kita udah jadian?"
Alba menggelengkan kepalanya, "Nggak! Jangan sekarang! Ini masih terpaku cepat bagi Bella. Aku kasihan sama Bella. Bagaimanapun juga aku ini cewek, aku paham perasaan cewek yang baru aja putus dengan tunangannya lalu hanya dalam hitungan hari, ia melihat mantannya menggandeng cewek lain"
"Ba, tapi ......."
"Kamu tunggu di sini! Jangan ngeyel! Aku akan segera menemuimu setelah Bella pergi. Jangan nyusul dan tunggu di sini sampai aku datang!" Alba menunjukkan jari telunjuknya ke Adam seperti seorang Ibu memberi perintah kepada anaknya.
Adam merapatkan bibir, menaikkan kedua alisnya ke atas lalu duduk di atas bangku halte dan kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.
Alba lalu berputar badan dan setelah menengok ke kanan dan ke kiri dan mendapati jalan lengang, ia menyeberang dan langsung berlari masuk ke dalam studio musik dan langsung berpapasan dengan Bella Fastro yang hendak keluar dari sana.
Kedua wanita yang mencintai Adam Baron itu bersitatap................