
Keesokan harinya Alba dan Adam sengaja belum menceritakan ke Noah perihal hasil tes DNA. Keduanya berencana menceritakan ke Noah setelah mereka berdua mendaftarkan pernikahan mereka.
Noah akhirnya sampai di depan pintu kelasnya dan Adam langsung berjongkok, memeluk Noah dengan penuh cinta dan berucap, "Ah, Noah! Papa malas berpisah denganmu" Adam lalu melepaskan pelukannya dan menatap Noah dengan wajah mewek.
Noah terkekeh geli lalu berucap, "Papa nggak boleh cengeng. Papa kan cowok"
Adam tersenyum lebar lalu berucap, "Iya kamu benar. Papa harus tegar dan tangguh seperti Noah, ya"
"Bukan seperti Noah karena Noah kadang masih sering menangis. Papa harus tegar dan tangguh seperti Mama"
"Iya, kamu benar" Adam lalu mencium kedua pipinya Noah lalu berdiri dan setelah melambaikan tangannya ke Noah ia berbalik badan untuk melangkah kembali ke mobilnya.
Setelah memasang sabuk pengamannya, Adam menoleh ke Alba, "Sudah siap menjadi Istri seorang pria yang amnesia?"
"Siap" Sahut Alba.
"Kenapa siap?" tanya Adam.
"Karena aku mencintai pria yang amnesia itu"
Adam lalu meraih tangan kanannya Alba dan terus ia genggam selama perjalanan menuju pe kantor pencatatan sipil. Tiga puluh menit kemudian kedua sejoli itu sampai di pelataran parkir kantor pencatatan sipil dan mereka melangkah masuk ke dalam dengan bergandengan tangan dan senyum cerah ceria.
Sementara itu, Satya yang pulang dan terlambat mengantarkan Noah ke sekolah, terkejut saat . ia menemukan kertas hasil tes DNA. "Sial! Kenapa Adam secepat ini mengambil tindakan. Aku lupa kalau Adam orang yang sangat cerdas dan jeli, sial!" Gumam Satya. Jaksa muda itu lalu menoleh ke Heni.
"Kertas apa itu?" Tanya Heni.
"Bukan apa-apa" Satya langsung memasukkan kertas hasil tes DNA itu ke saku celananya dan ia lalu bertanya, Ma, Noah berangkat ke sekolah bareng sama Adam?"
"Iya" Sahut Oma Heni.
Satya langsung berlari masuk kembali ke mobilnya untuk menyusul Adam dan Heni langsung berteriak, "Dasar anak nggak tahu sopan santun. Kamu belum pamit sama Mama!"
Satya membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya ke Mama tercintanya dengan senyum lebar dan Heni hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah konyol putra tunggalnya.
Sesampainya di sekolah tempat Noah menimba ilmu, Satya tidak menemukan mobilnya Adam. Namun, mata jelinya menangkap sebuah mobil Van asing yang belum pernah ia jumpai di sekitar area sekolahannya Noah karena, kebanyakan murid di sekolahan itu, berasal dari kalangan menengah ke bawah dan yang mengantar jemput anak-anak adalah para ibu rumah tangga memakai sepeda ontel mereka atau sepeda motor mereka dan nggak ada yang menjemput anak-anak mereka menggunakan mobil kecuali Noah kalau pas Satya pulang kampung, Satya mengantar jemput Noah memakai mobilnya.
"Mobil apa itu? Kalau mobil yang mengantarkan buku dari percetakan, bukan seperti itu mobilnya. Feeling aku nggak enak nih. Aku harus tetap di sini sampai Noah pulang" Dan akhirnya, Satya memutuskan menunggu selama dua jam di dalam mobilnya sampai bunyi bel tanda kegiatan belajar mengajar telah usai.
Dan Satya menautkan alisnya saat ia melihat seorang laki-laki bertopi, turun dari mobil Van yang tampak mencurigakan di mata Satya.
Satya semakin mengerutkan keningnya saat ia mendengar pria bertopi dan tampak asing di mata Satya itu menanyakan ke satpam penjaga sekolahan seorang anak yang bernama, Noah Anindya.
Satya langsung bergumam, "Kenapa ia menanyakan Noah?" Satya kemudian melangkah mendekati pria asing itu dan langsung memepet tubuh laki-laki asing itu dari belakang dan bertanya, "Siapa kamu? Kenapa kamu bertanya soal Noah Anindya"
Laki-laki asing itu terkejut dan di saat ia hendak melarikan diri, Satya langsung mencekal lengan laki-laki itu dan dengan sigap ia memborgol kedua tangan laki-laki itu sambil berkata, "Aku harus membawa kamu ke rumahku. Kita butuh bicara"
"Sa.....saya......tidak mengerti maksud Anda, Tuan. Dan kenapa Anda bisa punya borgol seperti ini?"
"Aku seorang jaksa dan hobiku mengoleksi borgol seperti ini. Emangnya kenapa?"
"Le......lepaskan saya!" Laki-laki itu menatap Satya dengan wajah ketakutan ketika ia mendengar kata jaksa keluar dari mulutnya Satya.
"Kita tunggu Noah keluar lalu kita akan berbincang di rumahku"
Pak Satpam yang sudah mengena Satya memanggil Noah Anindya untuk keluar ke pos satpam lewat alat pengeras suara.
Beberapa menit kemudian, Noah keluar dan berlari mendekati Satya dengan wajah ceria dan memekik girang, "Om Satya pulang! Yyeeayyy! Hooraaay!" Noah menghentikan langkahnya di depan Satya dan menatap pria asing yang diborgol dan lengannya dicengkeram oleh Satya, "Dia siapa, Om?"
Noah tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Noah duduk di jok belakang karena jok di samping kemudi dipakai pria asing yang mencurigakan.
"Om, tolong telpon Mama. Bilang ke Mama kalau Om udah jemput Noah"
"Oke" Satya lalu menelepon Alba sambil melajukan mobilnya dan Alba langsung berkata, "Oke. Terima kasih, Kak"
Adam yang duduk di sebelahnya Alba menoleh ke Alba dan bertanya, "Siapa yang menelepon?"
"Kak Satya. Dia udah jemput Noah"
"Oh, kalau gitu aku akan kasih tahu ke asisten pribadiku kalau Noah udah dijemput"
Sesampainya di rumah mamanya, Satya langsung menitipkan Noah ke Heni dan ia menarik lengan pria asing yang masih terborgol tangannya ke ruang kerja mamanya.
"Siapa dia, Noah?" tanya Heni
Noah menoleh ke Oma tersayangnya dan berkata, "Kata Om Satya, dia orang jahat, Oma"
"Kalau gitu, kita ke rumah Mama kamu aja, ayok! Di sini berbahaya" Heni langsung menggendong Noah dan berlari kecil pergi ke rumahnya Alba.
"Duduk!" Satya memerintahkan pria asing itu untuk duduk di sofa dan Satya langsung bersedekap dan mendelik, "Siapa kamu dan siapa yang memerintah kamu untuk menculik Noah"
"A....apa? Siapa yang akan menculik........"
"Nggak usah berkelit. Kamu penjahat kambuhan, tukang judi, pencuri kecil-kecilan, yang sering keluar masuk penjara dan nama kamu Sentot Praja"
Pria itu langsung panik dan langsung berkata, "Ba....bagaiman Anda tahu soal saya dan tahu nama saya?"
"Aku seorang jaksa tentu saja aku tahu. Aku punya banyak kenalan di kepolisian. Tinggal kirim wajah kamu ke kepolisan maka semuanya akan nampak"
"Le .....lepaskan saya! Saya akan katakan semuanya"
"Oke. Kalau kamu katakan semuanya dan mau bekerja sama denganku, aku akan melepaskan kamu dan melindungi kamu dari segala bahaya" Satya berucap sembari duduk di depan pria asing itu.
"Sa.....saya disuruh oleh seorang wanita yang sangat cantik untuk menculik Noah Anindya. Dan belakangan ini baru saja saya ketahui nama dan profesinya"
"Siapa dia?"
"Dia seorang dokter dan namanya Bella Fastro"
Satya langsung terhenyak kaget dan melongo di depan pria asing itu. Dan setelah sadar dari keterkejutannya, Satya langsung berucap, "Sekarang telpon Bella dan katakan kalau kamu telah berhasil menculik Noah" Satya memberikan ponselnya yang lain dari yang biasa ia pakai untuk bekerja dan ponsel khususnya Satya itu dilengkapi dengan nomer baru yang Bella belum pernah ketahui.
Pria itu menelepon Bella dengan mengaktifkan loudspeakernya dan ia langsung berkata, "Saya sudah berhasil menculik anak itu" ketika ponsel yang ia genggam telah tersambung dengan ponselnya Bella Fastro.
"Bagus. Aku akan ke sana"
"Emm, tempatnya ganti karena saya takut ada yang mengikuti saya" Pria asing itu berucap sambil menatap Satya dan Satya langsung mengacungkan jempolnya karena pria asing di depannya itu bisa menangkap kodenya.
"Di mana?"
"Saya akan krim alamatnya lewat pesan text" Dan klik! ia kemudian mematikan sambungan telepon itu dan menyerahkan ponsel itu ke Satya.
Satya lalu mengetikkan sebuah alamat dan mengirimkan pesan text berisi amat itu ke nomer ponselnya Bella. Lalu ia menatap pria asing itu dan berkata, "Kalau kau sedikit saja melenceng dari rencanaku ini, aku tidak segan membunuhmu karena aku bukan jaksa pada umumnya"
Pria asing itu bergidik negri menatap kedua bola matanya Satya yang menyeramkan lalu ia segera berkata, "Saya akan mengikuti semua rencana Anda, Tuan"