
Adam kembali ke kelasnya dan duduk di bangkunya dengan wajah penuh senyum dan hal itu menggelitik Alba untuk bertanya, "Kau senyum? Bisa senyum juga ya? Apa aku boleh tahu, apa yang sudah membuatmu tersenyum selebar itu?"
Adam langsung menghapus senyumnya dan mendelik ke Alba, "Kenapa kau suka mengurusi urusanku?"
"Karena kita teman sebangku dan teman sekelas" sahut Alba dengan polosnya.
"Cih! Siapa yang bilang kalau kita berteman. Aku tidak punya teman, titik" Adam mulai merebahkan kepalanya di atas meja dan membelakangi Alba.
Alba menusukkan ujung jari telunjuknya ke punggungnya Adam beberapa kali dengan tanya, "Apa kau tadi naik ke panggung saat upacara bendera untuk menerima penghargaan sebagai siswa terbaik? Tapi, aku kok tidak tahu ya?"
Adam mendengus kesal lalu ia mengangkat kepala, memutarnya dan melotot ke Alba, "Iya. Aku naik ke panggung pas upacara bendera untuk menerima penghargaan sebagai siswa terbaik, tepat di saat seorang gadis tidur sambil berdiri pas upacara, kena jewer guru BK dan kemudian gadis itu dibawa ke ruang BK. Kau tahu siapa gadis itu?"
Alba menunjuk dirinya sendiri dan berkata, "Aku"
"Nah itu jawaban atas pertanyaan kamu tadi. Sekarang jangan ganggu aku! Aku mau tidur siang" Adam kembali ke posisi semula.
Alba menatap bagian belakang kepalanya Adam dengan bergumam dalam hati, rambutnya bagus banget, kedua bola matanya pun bagus berwarna biru tua, postur tubuh dan bentuk wajah juga sempurna tapi, sayangnya gila. Cih!"
Guru Bahasa Inggris melangkah memasuki kelas dan semua siswa dan siswi mendapatkan giliran membacakan tugas mereka di depan kelas. Alba yang belum mendapatkan giliran maju, kembali menusukkan ujung jari telunjuknya beberapa kali ke punggungnya Adam.
Adam kembali mengangkat kepalanya dan mendelik ke Alba, "Ada apalagi? Aku tahu aku ini tampan tapi, jangan suka menyentuhku sembarangan!" Bisik Adam.
Alba melotot lalu berbisik, "Siapa yang menyentuhmu? Aku cuma menusuk punggungmu dengan ujung jariku"
"Ada apa?" Adam pun melotot ke Alba.
"Nanti yang baca terjemahan ini ke depan siapa?" tanya Alba dengan suara berbisik karena, salah satu dari teman sekelasnya tengah membacakan tugas Bahasa Inggris di depan kelas dan ia tidak ingin mengganggu.
"Yang ceriwis di perpus tadi soal kerja keras siapa?" tanya Adam dengan wajah polos tanpa ekspresi.
Alba kembali menunjuk dirinya sendiri dan berkata, "Aku"
"Nah! itu jawaban dari pertanyaanmu tadi" Adam duduk bersandar di bangkunya dan bersedekap.
Alba mengikuti langkahnya Adam dan kembali berbisik, "Tapi, aku malu membacakan terjemahan yang bukan pekerjaanku sendiri dan......."
"Tim Adam dan Alba. Siapa yang akan membaca di depan?"
Adam langsung menyemburkan nama Alba. Maka dengan terpaksa Alba maju ke depan dan membacakan tugas Bahasa Inggris.
Alba adalah yang terakhir dan Ibu Guru Bahasa Inggris yang sangat tampan itu, mengumumkan tim dengan nilai tertinggi dan tim tersebut adalah timnya Alba dan Adam.
Theo dan Ayu menoleh ke belakang dan mengucapkan selamat ke Alba dan Adam.
Alba dan Adam mendapatkan gemuruh tepuk tangan dari semua teman sekelas mereka saat mereka maju ke depan dan mendapatkan hadiah dari Guru Bahasa Inggris mereka berupa pulpen berpasangan. Pulpen yang Alba terima berwarna pink dan pulpen yang Adam terima berwarna merah.
Alba senang sekaligus heran, dia sungguh tidak menyangka kalau Adam bisa menerjemahkan novel yang sangat sulit tanpa kamus Bahasa Inggris sama sekali.
Alba lalu bertanya ke Adam saat mereka telah kembali duduk di bangku mereka, "Kau tiap hari sarapannya roti dan susu ya?"
"Kenapa kau tanya seperti itu?"
"Terserah kamu saja" Adam menjawab Alba tanpa menatap Alba.
"Kamu sangat pandai di dalam segala hal tapi, sayangnya egois, kaku dan dingin. Sama sekali bukan tipeku" gumam Alba.
Adam yang memiliki telinga sangat tajam, bisa mendengar semua gumamannya Alba lalu ia berkata sambil berdiri dan mencangklong tas selempangnya karena pelajaran di hari itu telah usai, "Kamu juga bukan tipeku" Lalu Adam pergi begitu saja meninggalkan Alba.
Alba menahan geram di saat ia menatap punggungnya Adam, "Dasar gila!"
Theo menyahut, "Dia memang seperti itu karena ia hidup sendirian di rumah"
"Hah?! Lalu Papa dan Mamanya?" tanya Alba dan Ayu secara bersamaan sambil melangkah keluar dari dalam kelas.
"Mamanya sudah meninggal saat melahirkan Adam dan Papanya yang seorang konglomerat sibuk bekerja dan sering bepergian ke luar negeri meninggalkan Adam sendirian di rumah.
"Oh gitu" sahut Ayu sambil manggut-manggut.
Sedangkan Alba memilih untuk diam.
"Kok kamu bisa tahu banyak soal Adam? Kamu dekat dengan Adam ya?" tanya Ayu kemudian dan Alba masih memilih untuk tetap diam seribu bahasa karena Alba masih merasa rancu soal Adam.
"Ayahku bekerja di salah satu anak perusahaan milik Papanya Adam dan aku adalah teman Adam sejak TK tapi, Adam tidak pernah menganggapku sebagai temannya"
"Dia emang egois, sombong dan menyebalkan Sahut Alba.
"Bukan begitu" Sahut Theo. "Adam tidak suka berteman karena dia terbiasa hidup sendiri sejak kecil. Dia hanya berteman dengan asisten rumah tangga Papanya tapi, sebenarnya Adam adalah anak yang baik"
"Kenapa dia sering tidur di kelas?" tanya Alba.
"Itu karena, ia nggak bisa tidur setiap malam. Terkadang ia belajar sampai subuh dan baru bisa tidur" sahut Theo.
"Pantas kalau dia sepintar itu. Belajar aja sampai subuh" sahut Ayu.
"Kenapa dia tidak bisa tidur?" tanya Alba kemudian.
"Karena ia merindukan sosok seorang Mama. Dia juga merindukan kehangatan seorang Papa namun, semuanya itu tidak pernah ia dapatkan" sahut Theo.
Alba langsung tertegun mendengar kisahnya Adam. Alba sungguh tidak menduga di balik sosok dinginnya Adam, ternyata tersimpan banyak kisah pilu dan memprihatinkan namun, Alba masih bingung bagaimana ia harus mengambil sikap untuk Adam.
"Kasihan ya Adam" sahut Ayu.
"Kamu kasihan sama Adam karena dia tampan, kan?" sahut Alba dengan senyum jahilnya. Lalu ia berlari sebelum kena cubitannya Ayu yang terkenal sangat menyakitkan itu.
Ayu berlari mengejar Alba dan Theo tertawa menatap keceriaan dua orang teman barunya itu.
Adam memutuskan untuk langsung pulang naik sepeda motor kesayangannya karena ia ingin segera menyiapkan rayuan gombal yang dia pelajari dari novel yang dia terjemahkan di perpustakaan bersama dengan Alba. Adam tersenyum kala ia menyiapkan semuanya. Restoran mewah sudah dia pesan, lilin dan bunga juga sudah disiapkan oleh pihak restoran sesuai dengan permintaannya Adam
"Aku akan ajak wanita murahan yang sudah berani merayu dan merebut perhatiannya Papa dariku itu, ke restoran setelah itu aku akan ajak dia ke toko buku untuk memilihkan buku Matematika" Adam menatap langit-langit kamarnya dengan senyum lebar.