
Adam lalu membopong tubuh calon ibu tirinya itu lalu menurunkan calo. ibu tirinya yang sangat cantik itu di atas rumput jauh dari bibir sungai.
Setelah berhasil menyeimbangkan tubuh dan segala rasa yang berkecamuk di dalam dirinya, Nindya menyemburkan tanya dengan sorot mata tegas, "Kenapa kau menciumku?"
"Adam menatap ibu gurunya dengan sorot mata ambigu dan berucap dengan nada dan wajah yang sangat datar, "Kenapa Anda membalasnya?"
Nindya memerah wajahnya lalu dengan cepat ia berbalik badan untuk berlari menjauh, sejauh-jauhnya dari Adam.
Adam menatap laju larinya ibu wali kelasnya yang baru saja ia cium sembari terus mengusap bibirnya sendiri dengan ibu jarinya sendiri pula.
Adam kemudian bergumam, "Aku berdegup.kencang setiap kali aku melihat senyumannya Alba dan aku juga berdegup kencang saat mencium bibir Bu Nindya, aku sudah gila, ya?"
Adam lalu berbalik badan dengan cepat dan menabrak Alba. Mereka kemudian terjatuh di atas rumput dengan posisi badan Adam menindih badan Alba. Jantung Adam kembali berdegup kencang dan bahkan dua kali lebih kencang dari degupan jantung yang sebelumnya, di saat ia mencium Bu Nindya.
Jantung Alba pun berdegup kencang saat tubuh hangatnya Adam menindihnya dan wajah mereka berdekatan, sangat dekat sampai mereka bisa merasakan hembusan napas hangat mereka masing-masing di wajah mereka masing-masing.
Aroma mint yang menguar dari seluruh tubuh Adam membekukan nalar Alba dan wangi jasmine yang menguar dari seluruh tubuh Alba membuat Adam hampir gila.
Di saat Adam semakin menundukkan wajahnya dengan pelan karena ia ingin mereguk lebih dalam lagi aroma jasmine yang sudah membuatnya menjadi gila itu, Alba mendorong tubuh Adam dengan sekuat tenaga sampai Adam dengan sangat terpaksa berdiri di depannya Alba yang masih berusaha untuk bangkit.
Adam mengulurkan tangannya untuk membantu Alba bangkit dan berdiri kembali dengan tegak.
"Kenapa kau menabrakku?" Alba berucap.sambil menunduk dan mengibaskan tangannya di atas celana jinsnya untuk membersihkan celana jinsnya dari rumput liar yang menempel di sana.
"Kenapa kau muncul tiba-tiba?" Adam memasukkan kedua tangannya ke dalam celana jinsnya untuk menyembunyikan kegugupannya.
Alba.mengangkat wajahnya dan menghentikan keasyikannya membersihkan celana jinsnya dari rumput liar yang menempel di sana. Alan lalu bersedekap dan menatap Adam,. "Kenapa kamu selalu begitu?"
"Selalu begitu, apa? Apa maksudmu?" Adam mulai mendelik kesal.
"Nggak pernah mau mengakui kesalahan?" Alba pun mendelik kesal ke Adam.
"Karena aku memang nggak pernah salah. Untuk apa kau ke sini?"
"Aku mencari kamu" ucap Alba dengan sorot mata penuh dengan kepolosan.
Adam menyukai ekspresi Alba yang polos seperti itu dan Adam meraup kasar wajah tampannya untuk menyembunyikan kegugupannya lalu ia bertanya dengan nada tegas, "Kenapa mencari seorang cowok malam-malam begini di tempat gelap seperti ini? kau sadar kalau tindakan ceroboh kamu ini bisa membahayakan dirimu?"
Alba menatap Adam dengan wajah kaget. Ia tidak menyangka kalau Adam akan semarah itu. Lalu ia bertanya, "Kau marah? Kau janji tidak akan pernah marah lagi, kan? Aku masih ingat janji kamu beberapa menit yang lalu"
Adam mendengus kesal, "Aku tidak marah. Tapi, kesal"
"Sama aja! tuh" Alba bersedekap.
"Kenapa mencariku?" Adam tidak menggubris protesnya Alba.
"Baliklah ke api unggun. Makanlah bersama dengan teman-teman di sana! Aku kenyang, malas makan" Adam berucap santai lalu berbalik badan, melangkah pelan untuk pergi meninggalkan Alba sekaligus untuk meredakan debaran jantung dan wajahnya yang ia rasa mulai memerah kembali tanpa sebab yang jelas.
Adam mengerem langkahnya dengan dadakan saat Alba tiba-tiba berdiri kembali di depannya. Adam langsung membentak Alba, "Kenapa kau suka banget muncul dadakan Kayak gini, hah?! Ngagetin aja! Kelakuanmu yang aneh, kan? Kau sadar kan, sekarang? Apa kau masih mau menyalahkan aku jika kita bertabrakan lagi dan kita jatuh lagi kayak tadi?"
Alba meringis, "Maafkan aku!"
"Maaf, maaf. Apa hanya itu yang ada dalam kamus bahasamu?" Adam kembali mendengus kesal.
"Hehehehe, Maaf! Aku mengejarmu karena aku takut ditinggal sendirian di tempat sepi dan gelap seperti ini. Kalau aku diculik sama genderuwo gimana, coba?"
"Genderuwo nggak bakalan nyulik kamu"
"Kenapa? Kata orang Genderuwo suka sama cewek manis dan harum wangi tubuhnya. Aku kan manis dan wangi jadi........"
Adam tersedak air liurnya sendiri mendengar Alba mengucapkan kata wangi. Otaknya menjadi kacau teringat dua wangi tubuh dari dua wanita yang berbeda. Yang satu beraroma mawar, tegas menggoda. Yang satu beraroma jasmine, lembut mengundang. Dia hampir gila saat itu juga. Beberapa kali Adam batuk karena tersedak ludahnya sendiri, membuat Alba menghentikan ucapannya dan melompat maju untuk menyentuh keningnya Adam sambil bertanya "Kau sakit?"
Adam mengumpat kesal saat ia menemukan wajah Alba yang manis berdekatan lagi dengan wajahnya. Adam langsung membuang muka dan menepis tangan Alba untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya dan untuk menetralkan degup jantungnya.
"Kenapa buang muka? Kau marah, ya? Tapi, tunggu dulu"Alba dengan polosnya menempelkan telinganya di dada Adam sambil bertanya, "Kenapa dari tadi, aku dengar jantung kamu berdegup sangat kencang dan kamu batuk. Berarti kamu sakit"
Adam menunduk kaget dan seketika itu pula ia ingin mengusir Alba karena tingkah polosnya Alba semakin membuat seluruh jiwa dan raganya menjadi tidak karuan.
Alba lalu menarik tangannya Adam, "Aku akan membawamu ke dokter jaga untuk diperiksa. kamu kelamaan di udara terbuka sih, kena demam dan batuk, kan?"
Adam diam saja saat dirinya terus ditarik oleh Alba dan ia terus memandang ekor kudanya Alba yang bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan manisnya. Dia merasa nyaman berada di dekatnya Alba. Dia bisa merasakan sesuatu yang indah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dan jantungnya selalu berdebar tidak jelas setiap kali ia melihat wajah Alba mengulas senyum. Dia juga sangat menyukai kepolosan dan keceriwisannya Alba.
Sesampainya di sebuah ruangan yang dipakai sebagai ruang pemeriksaan kesehatan, Alba tidak menemukan seseorang yang berjaga di sana. Alba melihat ke jam dinding, "Pantes udah jam sepuluh malam jadi, nggak ada yang jaga. Rebahkan badan kamu! Aku akan obati kamu!"
"Kamu? Apa kamu tahu aku sakit apa?" Adam bertanya sembari merebahkan badannya.
"Kamu demam, kening kamu panas tadi. Terus kami batuk-batuk jadi, kamu pasti sakit flu. Aku akan mengompresmu dulu pakai ini" Alba menempelkan plester kompres di keningnya Adam dengan lembut lalu ia berbalik badan sembari berucap, "Aku akan cari obat flu"
Adam menoleh ke kanan untuk memperhatikan gerak-geriknya Alba lalu ia bertanya, "Kau tahu obat-obatan?"
"Tahu dong. Mamaku seorang perawat di salah satu rumah sakit besar di kota ini"
"Papa kamu?" tanya Adam.
"Papaku sudah meninggal. Makanya kamu beruntung memiliki Papa dan............."
"Kamu yang lebih beruntung karena memiliki Mama"
Alba menoleh ke Adam dan mereka bersitatap dengan mata sendu.