
Satya menemui Papanya Bella. Laki-laki keturunan Italy itu duduk berhadapan dengan Satya. "Ada masalah apa Pak Jaksa?"
"Apakah Anda mengenal Pak Aldi Anindya?" Tanya Satya dengan wajah dingin.
Laki-laki yang memiliki nama cukup panjang dan terkenal dengan sebutan Dragon Fastro itu, tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya, "Saya tidak kenal dengan orang rendahan. Dia pasti orang rendahan,kan? Dari kelas bawah, kan?"
"Jangan menghina orang baik seperti Pak Aldi Anindya. Justru Anda yang berhak dihina Saya telah menemukan banyak fakta menjijikan tentang Anda. Anda telah memfitnah, membingkai, Pak Aldi Anindya menjadi seorang koruptor. Anda bahkan membunuhnya dan........"
"Hahahahahaha!" Dragon Fastro menggemakan tawanya di udara. "Anda mengigau, ya, Pak Jaksa yang terhormat? Bagaimana mungkin, orang terhormat seperti saya, melakukan hal yang menjijikan"
Satya mulai menggertakkan gerahamnya laku ia melempar satu foto ke Dragon Fastro, "Anda bilang kalau Anda tidak mengenal Aldi Anindya. Lalu, apa yang ada di foto itu? Bukankah Anda bercengkerama dengan akrab di foto itu dengan Pak Aldi Anindya. Itu bukan foto bukti kejahatan Anda, tapi itu hanya salah satu foto yang membuktikan kalau Anda lah yang suka mengigau dan membual, dasar brengsek!"
"Lalu? Apa yang akan Anda lakukan?" Dragon Fastro menatap Satya dengan senyuman mengejek karena ia yakin Satya tidak punya cukup bukti untuk menjebloskannya ke dalam penjara. Satya hanya bisa mengendus kebusukannya dan untuk itulah Satya meminta bertemu dengannya dan memprovokasinya agar dia salah ucap dan ketakutan lalu mengaku semua dengan sendirinya.
"Saya akan menjebloskan Anda ke penjara" Satya berucap dengan wajah garang dan nada geram.
Dragon Fastro bangkit lalu berdiri menjulang di depannya Satya dengan wajah angkuhnya, "Coba saja. Saya menunggu Anda melakukannya" Lalu ia melangkah meninggalkan Satya begitu saja dengan tawa mengejeknya.
Satya mengepalkan kedua tinjunya dengan wajah merah padam menahan amarah yang begitu besar. Dia tahu kalau Dragon Fastro yang melakukan korupsi di perusahaannya Alex Baron dan Dragon Fastro juga yang telah membunuh Aldi Anindya, namun dia masih belum punya cukup bukti untuk menjebloskan Dragon Fastro ke penjara.
Adam melihat Alba hendak menggendong Noah yang ketiduran di meja belajar dan Adam langsung berucap, "Biar aku yang menggendongnya ke kamar"
Alba mundur dengan wajah bingung. Dia masih bingung bagaiman harus mengambil sikap atas Adam.
Adam merebahkan Noah di atas ranjang, menyelimuti Noah dan secara naluri, ia mencium keningnya Noah dan berbisik, "Selamat tidur jagoanku"
Adam berbalik badan dan langsung bersitatap dengan Alba yang masih berdiri di depan pintu kamarnya Noah. "Kamu nggak tidur?" Tanya Adam dengan canggung.
Alba menggelengkan kepalanya, "Aku masih harus memasak untuk sarapan besok. Besok tinggal memanaskannya saja, hemat waktu" Alba lalu berputar badan dan pergi ke dapur.
Adam menyusul Alba lalu ia berkata, "Aku boleh membantu kamu?"
Alba menoleh ke Adam lalu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Adam langsung tersenyum lebar dan dengan bersemangat ia bertanya, "Apa yang harus aku lakukan?"
"Kamu bisa memotong sayuran yang sudah aku cuci di dalam baskom itu" Alba menunjuk baskom yang ada di atas meja dapur.
"Baiklah" Adam mulai memotong wortel dan kentang lalu ia bertanya, "Kamu akan memasak apa?"
"Semur tahu, wortel, kentang dan nanti dicampur dengan telur rebus kesukaannya Noah" Sahut Alba.
Deg! Alba langsung menghentikan aktivitasnya memotong tahu di saat ia menyadari kalau semur yang akan ia masak adalah makanan kesukaannya Adam.
"Kenapa diam? Nggak boleh, ya?" Adam bertanya sambil terus menatap punggungnya Alba karena Alba memang tengah berdiri membelakanginya pada malam itu.
Beberapa detik berlalu dan Alba masih belum merespons pertanyannya Adam. Adam menautkan alisnya lalu bangkit sembari membawa sayuran yang sudah selesai ia potong berbentuk dadu. Adam menghentikan langkahnya di samping Alba dan bertanya, "Kamu melamun?"
Alba tersentak kaget dan secara refleks mundur belakang dan di saat punggungnya hampir membentur meja dapur,.Adam langsung menarik Alba masuk ke dalam pelukannya.
Alba dan Adam beradu pandang dengan jarak wajah yang begitu dekat. Hati keduanya berdebar-debar tidak karuan dan secara naluri, Adam nekat mencium Alba. Adam nekat mencium wanita yang baru ia temui selama dua hari dan masih asing baginya.
Ciuman itu sederhana, namun Adam memakai teknik menghisap bibir bawah dan itu membuat Alba dimabuk kepayang. Adam pun merasakan hal yang sama. Di saat Adam melepaskan ciumannya, Adam berucap, "Aku mencintaimu secara spontan"
Alba langsung mendorong Adam dan berkata, "Kenapa kamu menciumku? Dan kenapa kamu mengatakan kalau kamu mencintaiku? Kita bahkan baru bertemu kemarin dan kamu belum lama mengenalku, kan?"
"Maafkan aku karena aku nekat mencium kamu. Itu karena dorongan yang kuat dari dalam hatiku. Aku tidak kuat menahan diriku untuk tidak melakukannya. Aku rasa itu karena, aku telah mencintaimu" Sahut Adam dengan wajah dan nada suara yang serius, sangat serius.
"Tapi kenapa? Apa kau mengingat sesuatu?"
"Ingatanku memang belum bisa mengingat secuil pun kepingan puzzle yang ada di masa laluku, tapi hati dan naluriku berkata lain. Hati dan naluriku berkata kalau kamu bisa membuatku bahagia. Kamu dan Noah" sahut Adam dengan wajah serius dan sorot mata sendu.
Alba tertegun, membisu dan mematung di depannya Adam.
Di saat Adam melangkah ke arahnya dengan pelan, Alba langsung berteriak, "Pergilah ke pondok tamu! Ini sudah malam. Tidak baik pria dan wanita berduaan saja di jam selarut ini dan aku butuh waktu untuk sendiri saat ini"
Adam tersenyum dan berkata, "Baiklah. Selamat malam. Tidur dan mimpi indah. Sekali lagi maafkan ciumanku, tadi. Tapi, aku tidak menyesalinya. Aku harap kau juga tidak menyesalinya"
Alba menghela napas panjang dan kembali berkata, "Tinggalkan aku sekarang juga!" Adam berputar badan dan meninggalkan Alba sendirian di dapur.
Alba lalu berjongkok lemas dan menghela napas.berulangkali untuk mengumpulkan kembali energinya karena ia harus menyelesaikan masakannya segera.
Adam memasuki pondok tamu dengan langkah riang dan wajah gembira. Dia belum memahami perasaannya, kenapa ia selalu ingin melihat Noah dan selalu berdebar setiap kali melihat senyumannya Alba, namun yang pasti hatinya merasa sangat bahagia sejak ia bertemu dengan Alba dan Noah.
Presdir muda dari Grup Baron itu terus tersenyum sambil terus mengusap bibirnya dengan ibu jarinya lalu bergumam, "Kenapa rasa bibirnya Alba tidak asing bagiku. Bahkan aku menginginkannya lebih dan lebih lagi" Adam lalu memukul keongnya dan terkekeh geli dengan sendirinya dengan bergumam, "Aku gila kali ya? Gila karena udah jatuh cinta pada wanita yang baru kutemui dua hari ini"
Adam lalu mengambil tas kerjanya dan sambil menghela napas panjang, ia membuka laptopnya dan bergumam, "Aku harus bekerja. Besok ada meeting dengan para penanam saham"
Kluthik! Adam terkejut dan secara refleks menunduk ke lantai. Dia melihat ada sebuah flashdisk terjatuh dari tas kerjanya. Adam memungut flashdisk itu dan bergumam, "Apa isi flashdisk ini?.Oh! Ini flashdisk dari ruangan CCTV rumahku. Kenapa aku bisa membawanya?" Adam terus mengamati flashdisk itu.