
Dokter Felix menemui Alex Baron. "Ada sesuatu yang sangat penting yang harus aku sampaikan padamu, Lex"
"Ada apa? Jantungku selalu berdebar-debar setiap kali melihat kau tampak serius seperti itu. Apa kesehatanku bermasalah lagi?"
"Bukan kesehatan kamu, tapi Adam" sahut Dokter Felix masih belum merubah wajah seriusnya.
"Adam? Ada apa dengan Adam?" Alex Baron mulai mengerutkan keningnya.
Nindya datang membawa tiga cangkir teh madu hangat dengan camilan, lalu meletakkannya di atas meja tamu. Nindya duduk di sebelah suaminya dan Alex langsung meriah tangannya Nindya untuk ia genggam. Nindya menoleh ke Alex dengan wajah penuh tanda tanya, Nindya menatap Dokter Felix dan bertanya, "Ada apa, Dok? Suami saya baik-baik saja, kan?"
"Kondisi Alex baik-baik saja. Tapi, Adam terkena tumor otak sama seperti almarhum Mamanya"
Nindya langsung menutup mulutnya yang ternganga dengan telapak tangannya dan beberapa detik kemudian, ia terisak menangis.
Sementara itu, Alex menggenggam erat tangannya Nindya sembari bertanya, "Apa Adam juga akan........"
"Asalkan dia secepatnya menjalani observasi selama seminggu dan bersedia untuk dioperasi setelahnya, dia akan selamat dari maut. Cuma, pasca operasi nanti, ia akan mengalami kelumpuhan dan amnesia"
Alex Baron langsung menangis sesenggukan dan berucap di sela tangisnya, "Ini salahku. Aku tidak menjaga Adam dengan baik selama ini. Aku hanya sibuk bekerja selama ini"
Nindya semakin mendudukkan kepalanya karena derai air mata yang keluar dari kedua matanya, semakin deras.
"Kalian harus kuat dan tabah agar Adam bisa kuat dan tabah juga menghadapi semua ini. Kelumpuhan Dan bisa sembuh dengan menjalani terapi rutin setiap hari walaupun mungkin akan memakan waktu cukup lama, tapi bisa pulih seperti sedia kala. Dan amnesianya akan aman jika ia berada di tengah orang-orang yang ia cintai dan yang mencintainya, amnesianya Adam pun akan pulih"
Ale,x mengusap air mata di kedua pipinya lalu bertanya, "Kapan Adam akan masuk ke rumah sakit untuk diobservasi?"
"Adam belum mau masuk rumah sakit dan dia juga tidak mau dioperasi, tapi calon Istrinya sudah aku mintai tolong membujuk Adam. Dan aku rasa bujukan dari calon Istrinya Adam bisa berhasil mengubah pikirannya Adam dan Adam mau masuk rumah sakit lalu dioperasi. Aku sangat yakin kalau Alba ........."
"Alba?" Alex dan Nindya mengeluarkan kata tanya yang sama secara kompak.
"Lho! Adam belum mengenalkan Alba pada kalian?"
Alex dan Nindya menggelengkan kepala mereka secara bersamaan
Namun, Nindya kemudian bertanya, "Apa Alba adalah teman SMA-nya Adam dulu?"
"Iya benar" Sahut Dokter Felix.
Perasaan Nindya menjadi semakin tidak karuan mendengar nama Alba dan mendengar bahwa Adam telah mengakui Alba sebagai calon Istrinya di depan Dokter Felix.
"Adam dan Alba saling mencintai. Aku bisa melihat cinta yang sangat besar di antara mereka" Sahut Dokter Felix. "Aku rasa, Alba harus terus berada di sampingnya Adam sampai Adam dioperasi dan harus terus berada di samping Adam saat Adam butuh terapi untuk pulih seperti sedia kala"
Alex dan Nindya menatap Dokter Felix dalam diam. Mereka masih syok mendengar kabar Adam terkena tumor otak jadi, hal yang lainnya belum bisa mereka pikirkan lebih lanjut lagi Semua masih harus menunggu waktu.
Adam memeluk Alba. Ditariknya wanita yang sangat ia cintai itu, lalu bertanya, "Jika aku memulainya, maka aku tidak akan mampu untuk berhenti Apa kau yakin, Ba?"
Alba berkata dengan nada tegas, "Aku sangat yakin"
Adam mulai meraba punggungnya Alba sementara kepalanya ditundukkan untuk melancarkan ciumannya. Dengan kasar lidahnya memisahkan bibirnya Alba dan mendorong lebih dalam lagi dan lagi. Lidahnya menari indah, berdansa dengan lidahnya Alba.
Ciumannya Adam membuat bibirnya Alba memerah dan basah. Adam lalu menurunkan bibinya ke dagu, lalu ke rahang dan berakhir ke lehernya Alba. Adam mendaratkan bibirnya di kulit lehernya Alba yang memiliki wangi lembut, lalu mengusapkan bibirnya di sana, menciuminya, menghembuskan napasnya di sana, menggigit, menghisap, di saat tangannya bergerak lincah membelai, mengusap, di bawah blusnya Alba.
Napas Alba menderu panas dan ia menggigit bibir bagian bawahnya dengan kedua kelopak mata menutup rapat.
Adam lalu menurunkan ciumannya ke bawah, dan menggoda di perut Alba cukup lama hingga membuat Alba memekik lirih.
Adam mendongak untuk melihat wajahnya Alba dan berkata, "Teriak aja kalau mau teriak"
Segala rasa yang belum pernah Alba rasakan sebelumnya menyerbu Alba secara bersamaan tanpa bisa Alba kendalikan lagi dan Alba akhirnya memekik nyaring kala Adam bermain-main di titik sensitifnya.
Adam lalu merangkak naik dan merebahkan diri di sebelahnya Aba. Ia memeluk Alba dan berucap, "Aku nggak punya alat pengaman. Karena, aku nggak pernah beli. Ini pengalaman pertama bagiku, Ba"
"Ini juga pengalaman pertama bagiku" sahut Alba dengan suara lirih karena lelah terus menerus menahan gairahnya yang timbul mendesak dan hampir meledak akibat dari dahsyatnya permainan cintanya Adam.
"Aku takut menyakitimu"Adam berucap sembari menciumi lehernya Alba.
"Lanjutkan saja, Dam. Aku sudah tidak kuat"
Adam berucap, "Aku juga setengah mati menahan diri sejak tadi"
"Lakukan saja" Alba menarik tengkuknya Adam dan mengajak Adam berciuman kembali.
Adam akhirnya menyerah pada pengendalian dirinya, ia sudah tidak bisa membendung lagi ledakan gairah yang sangat dahsyat dan Adam melakukan penyatuan raga dengan Alba.
Alba tersentak kaget dan langsung mencengkeram seprei. Dia menggigit bibir bawahnya dengan Kedua kelopak matanya melotot tajam menatap langit-langit kamarnya Adam karena, penyatuan raga itu menimbulkan rasa sakit yang asing dan aneh.
Adam menghentikan gerakannya dan bertanya, "Apakah sakit?"
Alba menganggukkan kepalanya dan ada setitik air mata menetes di sudut matanya
"Apa kau mau aku berhenti?" Adam bertanya sembari mengusap setitik air mata di sudut matanya Alba
Alba menggelengkan kepalanya, laku berucap, "Teruskan Dam! Dan jangan berhenti!"
Adam kembali bergerak pelan di awal, namun sensasi luar biasa indah yang ia rasakan, membuat Adam bergerak semakin cepat. Alba melenguh, memekik, dan beberapa menit berikutnya, ia dan Adam meneriakkan kepuasan mereka di udara bebas secara bersamaan
Alba bertanya saat Adam masih bergerak di atasnya, "Apa masih belum selesai?"
Adam meringis lalu ia mencium keningnya Alba dan berucap, "Bersamamu ternyata sangat luar biasa sensasinya, Ba. Aku tidak bisa berhenti sekarang. Aku ingin lagi" Adam berucap sambil terus bergerak di atasnya Alba.
Alba membenamkan ke sepuluh jari jemarinya di punggungnya Adam dan memilih menyerah menuruti kemauannya Adam.
Beberapa menit kemudian, Adam merebahkan diri di sebelahnya Alba dan langsung memeluk Alba setelah ia dan Alba kembali memekikkan kepuasan mereka di udara bebas untuk yang ketiga kalinya.
"Kau luar biasa Dam" Alba berucap sembari membenamkan wajahnya di pelukan Adam dan langsung tertidur di sana.
Adam tersenyum bahagia. Dia memeluk erat tubuh wanita yang sangat ia cintai, mencium pucuk kepalanya Alba sambil bergumam, "Kau juga sangat luar biasa, Sayang. Aku sangat mencintaimu dan aku akan bertanggung jawab karena aku udah membuka segel kamu" Lalu Adam memejamkan kedua matanya dengan peluh yang masih tersisa dan wajah kelelahan, namun senyum merekah indah di wajah tampannya.