I Love You, Adam

I Love You, Adam
Kenyataan Pahit



Adam kembali tertidur karena efek obat saat Alex Baron melepas pelukannya. Alex lalu menarik pelan lengan istrinya untuk keluar dari kamar rawat inapnya Adam untuk menemui Alba.


Alba dan Satya tengah duduk di sofa yang berada di sudut ruangan di depan pintu kamar rawat inapnya Adam, langsung bangkit saat mereka melihat Papa dan Mamanya Adam berjalan ke arah mereka. Alex berkata, Duduklah!" Dan Alex mengajak Nindya duduk di depannya Alba dan Satya.


"Apakah nama Papa kamu, Aldi Anindya dan Mama kamu, Banuwati? Nama kamu adalah Alba, kan? Dan itu singkatan nama dari Aldi dan Banu"


Alba menganggukkan kepalanya dengan sopan dan berkata, "Benar, Pa"


"Jangan memanggilku Papa!"


Satya dan Alba tersentak kaget dan langsung menautkan alis mereka.


"Aku menyetujui pernikahan kalian pas Adam membawa kamu ke rumah waktu itu karena, waktu itu aku belum menyelidiki status kamu. Setelah tahu status kamu dan menemukan fakta bahwa kamu itu anaknya siapa, aku tidak bisa menerima kamu sebagai menantuku lagi. Dan aku tidak akan pernah menyetujui pernikahan kamu dan Adam. Sampai aku mati pun, aku tidak akan pernah menyetujui pernikahan kalian" Alex Baron berucap dengan raut wajah penuh dengan keseriusan dan nada suara yang tegas.


Jantung Alba berdebar hebat kala kedua bola mata lugunya bersitatap dengan bola mata tajamnya Alex Baron.


"Om, apa maksud Om? Jangan memperburuk keadaan, Om! Alba dan Adam sudah terlanjur menikah. Adam sangat mencintai Alba. Jika Om menjauhkan Alba dari Adam, maka Adam akan melarikan diri dari rumah sakit ini, tidak mau dioperasi dan memilih untuk mati" sahut Satya dengan wajah geram.


Alba langsung menggenggam tangannya Satya untuk menenangkan Satya dan Nindya melihatnya. Nindya langsung berkomentar, "Kau bahkan berselingkuh di belakangnya Adam?"


Alba langsung mengangkat tangannya dari tangannya Satya sambil terus menggelengkan kepalanya. Dan Alba hanya bisa terus menggelengkan kepalanya karena, ia sudah tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.


Satya langsung memekik, "Jaga bicara Tante! Alba wanita baik-baik. Aku dan Alba sudah seperti kakak dan adik, seperti aku dan Adam"


"Cih! Aku tidak percaya" Sahut Nindya.


Satya menggeram kesal dan meraup wajahnya dengan bergumam, "Kalau Tante bukan seorang wanita, aku sudah memukul Tante"


"Jaga sopan santun kamu, Sat! Jangan kurang ajar sama Istri Om!"


Satya menatap Alex Baron dengan kedua tangan mengepal, napas menderu, dan sorot mata tajam karena, ia harus menahan emosi yang sangat hebat.


"Kak! Jangan emosi! Hormatilah mereka karena, mereka lebih tua dari kita dan mereka orang tuanya Adam" Alba menoleh ke Satya.


"Jaga Adam selama di rumah sakit dan sampai Adam masuk ke ruang operasi. Setelah itu pergilah dari kehidupannya Adam! Aku akan membatalkan pernikahan kalian. Toh setelah dioperasi, Adam juga tidak akan mengingat kamu karena, Adam akan mengalami amnesia, kan?"


Satya langsung bangkit dan memukul wajahnya Alex Baron sampai mulutnya Alex Baron berdarah.


Nindya langsung memeluk suaminya dan melotot ke Satya, "Kamu bergaul dengan anak seorang penipu dan pelakor makanya jadi berubah kasar dan kurang ajar kayak gini, Sat"


"Jangan hina Alba!" teriak Satya penuh dengan amarah.


Dua orang suster laki-laki langsung mendekati Satya, Alba, Alex, dan Nindya dengan kata, "Tolong jangan ribut di sini dan jangan bertengkar di sini! Ini rumah sakit"


Satya menoleh ke kedua perawat itu dan berkata, "Maaf"


Alex lalu menatap Satya dan berucap sambil menunjukan jari telunjuknya ke Alba, "Aldi Anindya, Papa dari anak itu, telah menipuku dan menyebabkan aku mengalami kerugian yang sangat besar. Aldi Anindya membawa kabur uangku lalu bunuh diri saat polisi mengejarnya. Dan sampai sekarang, uang puluhan trilyun rupiah yang Aldi bawa lari, belum ketemu. Lalu, Mamanya dia, dibunuh karena merebut suami orang, kan? Kau pikir, aku akan dengan bangga dan berbesar hati menerima dia menjadi menantuku?"


Satya menatap Alex Baron dengan tangan yang masih mengepal untuk menahan semua aliran darahnya yang penuh dengan amarah. Lalu Satya berhasil berkata dengan nada sopan, "Itu semua belum terbukti. Aku sedang menyelidiki semua kasus itu, Om. Aku berhasil meminta pihak yang berwajib membuka kembali kasus itu"


Alba hanya bisa terus mengusap air mata yang mengucur deras di wajah manisnya dengan punggung tangannya.


"Percuma kau selidiki lagi kasus itu. Semua udah jelas. Pokoknya aku tidak bisa menerima menantu seperti dia. Aku kasih kamu cek sebesar satu miliar rupiah sebagai bayaran kamu merawat Adam selama masa observasi sampai Adam dioperasi. Setelah itu tinggalkan Adam! Aku akan membatalkan pernikahan kalian sebelum aku ke sini lagi. Kamu dan Adam sudah bukan suami istri lagi saat Adam masuk kamar operasi" Alex berucap dengan wajah penuh kebencian.


Alba berusaha untuk tetap kuat dan berusaha untuk tidak jatuh pingsan menerima semua kenyataan pahit yang telah begitu dalam menyayat hatinya. Lalu Alba merobek cek bertuliskan satu miliar rupiah di depan Alex Baron dan Nindya dengan kata, "Saya akan merawat Adam sampai Adam masuk ke kamar operasi dan tidak perlu dibayar. Saya bersedia melakukannya karena saya sangat mencintai Adam"


"Baguslah! Dan kalau kau tahu diri dan tahu apa itu kata malu, pergilah dari kehidupannya Adam setelah Adam masuk ke dalam kamar operasi! Dan Jangan pernah muncul kembali di depan keluarga kami!" Alex Baron lalu mengajak Nindya bangkit. "Selama kamu ada di sisinya Adam, aku tidak akan ke sini karena, aku tidak mau melihat wajah kamu yang sangat mirip dengan Aldi" Alex lalu mengajak Nindya pergi meninggalkan Alba dan Satya.


Satya menatap punggungnya Ale Baron dengan gamang. Lalu ia menoleh ke Alba dan langsung bangkit untuk menangkap tubuhnya Alba yang limbung.


Satya membopong Alba dan merebahkan Alba di sofa panjang yang ada di sebelah bed-nya Adam. Lalu Satya berhehas berlari keluar untuk memanggil dokter untuk memeriksa Alba.


Dokter berkata ke Alba saat Alba telah sadar dari pingsannya, "Besok, kita akan cek urine Anda dan tes darah. Dan sekarang, lebih baik Anda banyak beristirahat"


"Apakah Alba baik-baim saja, Dok?" Satya bertanya sembari menoleh ke bed-nya Adam dan kembali menatap dokter yang masih memeriksa Alba saat ia melihat Adam masih tertidur pulas.


"Apa hubungan Anda dengan pasien?" Tanya dokter wanita yang masih sangat muda ke Satya dengan senyum ramahnya.


"Dia adik saya" Sahut Satya.


Alba tersenyum lemas ke Satya dan berucap lirih, "Iya Dok. Kak Satya adalah Kakak saya"


"Adik Anda manis ini, baik-baik saja. Saya rasa ia hanya kelelahan, tapi saya perlu mengecek kesehatannya lebih lanjut lagi, besok"


"Baiklah Dok, terima kasih" sahut Satya sembari melangkah mengantarkan dokter tersebut keluar dari dalam kamar.rawar inapnya Adam.