
Satya duduk di depannya Bella yang masih menundukkan wajah dan menangis sesenggukan.
Bella mengangkat wajahnya dan terkejut melihat Satya "Kak Satya. Kok bisa ada di sini?"
Bella merona malu dan langsung mengusap air matanya dengan asal.
"Aku mendengar ada suara cewek menangis lalu aku ketuk pintu nggak ada sahutan makanya aku masuk aja ke sini. Nggak tahunya kamu yang lagi menangis" Satya memamerkan deretan gigi putih di depan Bella.
"Apa Adam pernah curhat ke Kakak soal aku?"
Satya menggelengkan kepalanya.
"Apa Adam pernah bilang ke Kakak kalau dia pernah sesaat aja, menyukai aku?"
"Dia menyukaimu karena, kamu wanita yang baik" sahut Satya.
"Bukan itu. Maksudku menyukai aku sebagai tunangannya, mencintaiku sebagai wanita. Pernah, nggak?"
"Kamu pernah diajak ke makam Mamanya?" tanya Satya.
Bella menggelengkan kepalanya.
"Itu jawabannya. Adam pernah bilang ke aku kalau dia mencintai seorang wanita, dia akan mengajak wanita yang ia cintai ke makam Mamanya" Sahut Satya.
Bella kembali terduduk lemas. Hilang sudah harapannya untuk bisa memenangkan hatinya Adam. Adam benar-benar tidak pernah mencintainya.
"Aku rasa putusnya pertunangan kalian justru baik. Daripada kamu terus hidup di dalam mimpi yang indah lebih baik bangun dan melangkah maju"
Bella mengangkat wajahnya dan menatap Satya cukup lama. Kemudian dokter muda dan cantik itu berkata, "Apa aku boleh nebeng pulang?"
"Tentu saja boleh. Satya selalu siaga untuk wanita cantik" Satya terkekeh geli sembari bangkit dan tanpa Satya duga, Bella ikutan terkekeh geli.
Satya mengantarkan Bella sampai ke kediamannya Fastro, dengan selamat.
Satya kembali ke apartemennya. Di dalam kamar mewahnya, Satya membuka sebuah kotak dan mengambil kucir rambut dengan hiasan strawberry. Angan Satya kemudian melayang ke gadis kecil yang pernah ia tolong waktu ia masih berumur sepuluh tahun. Dia tersesat di hutan dan bertemu dengan gadis cilik berkucir dua. Lalu ia menggendong gadis itu di punggungnya dan berkat kecerdasannya, ia berhasil menemukan pos jaga dan mereka berdua diantarkan ke kantor polisi. Setelah beberapa jam menunggu di kantor polisi, Satya dijemput oleh Papanya dan gadis kecil itu dijemput oleh Mamanya. Gadis itu sempat memberikan satu kucir rambutnya ke Satya sambil berkata, "Ini sebagai tanda terima kasihku ke Kakak karena Kakak sudah menolongku. Semoga kita bisa bertemu lagi, da, da, Kak!"
Gadis cilik nan manis dengan rambut dikucir dua dan berpipi tembem itu adalah cinta pertamanya Satya. Satya seorang Casanova, sering berganti-ganti cewek dan sangat jago menggaet wanita. Namun, dia hanya akan menahan wanita yang berhasil ia gaet, selama satu Minggu saja. Setelah satu Minggu, dia akan putuskan wanitanya karena, dia belum menemukan gadis cilik cinta pertamanya itu.
"Kisah Adam membuatku teringat lagi sama kamu" Satya menatap kucir rambut dengan hiasan strawberry imitasi. "Di mana kamu sekarang? Bodohnya aku, kenapa waktu itu aku tidak tanyakan siapa nama kamu dan di mana rumah kamu" Satya menghela napas panjang lalu memasukkan kucir rambut itu kembali ke dalam kotaknya.
Adam ke rumah sepupunya Pambudi dan dia.melihat ada mobil polisi berjaga di depan rumah itu. Pengacara muda itu langsung meraup wajahnya dan bergumam, "Sial! Aku nggak bisa bertemu dengan Alba dong kalau ada mereka. Padahal aku laper banget pengen makan masakannya Alba. Aku kan nggak makan apapun tadi waktu di resto dan sialnya, aku pesan minuman kopi. Huffftttt! tambah melilit nih perutku karena laper"
Dan, terbersit lah ide bagus di otak cemerlangnya Adam. Ia kemudian turun dari dalam mobilnya dan menghampiri mobil polisi itu. Adam sedikit membungkukkan badannya untuk mengetuk jendela mobil polisi itu lalu melangkah mundur, memberikan ruang bagi petugas kepolisian yang duduk di jok kemudi untuk membuka pintu dan turun dari dalam mobil itu.
"Ada apa Pengacara Adam Baron? Kenapa Anda ada di sini di jam sembilan malam?"
Adam berdiri tegak di depan salah satu petugas kepolisan yang berjaga di depan rumah sepupunya Pambudi. "Emm, saya ingin mendiskusikan sesuatu dengan klien saya, Alba Andindya. Kebetulan klien saya masak cukup banyak, dia mengundang kita makan malam"
"Oh gitu. Baiklah!" Petugas kepolisian itu langsung cerah ceria wajahnya mendengar kata makan dan dia langsung mengajak partnernya.
Adam berdiri di depan kedua petugas kepolisian itu dan mengetuk pintu.
Alba berteriak dari dalam, "Siapa?!"
"Ini aku. Adam Baron" sahut Adam tidak kalah lantangnya.
Alba membuka pintu dan menautkan alisnya saat ia melihat tiga orang laki-laki di depannya. Alba menatap Adam penuh dengan tanda tanya
Adam segera mengeluarkan tawa renyahnya dan berkata, "Kamu mengundang kami makan malam, kan? Kebetulan kami semua sangat lapar jadi, lebih baik kami masuk sekarang juga. Dingin banget di luar" Adam mengedipkan matanya ke Alba sembari mendorong pelan daun pintu lalu melangkah masuk melewati Alba yang masih tampak kebingungan.
"Kapan aku mengundang mereka makan malam?" Alba bergumam dengan wajah kebingungan.
Adam dengan santainya langsung memimpin langkah kedua petugas kepolisian ke ruang makan sambil berkata, "Ini rumah teman dekat saya jadi, saya hapal tata ruang di rumah ini. Dan saya paling hapal letak ruang makannya, hahahaha"
Kedua petugas kepolisian itu ikutan melepas tawa mereka sembari duduk di kursi makan yang bergaya minimalis.
Alba menutup pintu, menguncinya lalu berputar badan untuk berjalan menuju ke dapur. Dia menyiapkan piring dan gelas dan Adam membantunya. Adam berlari ke dapur saat Alba tampak kewalahan mengangkat panci berukuran sedang yang berisi semur tahu dan telur rebus yang sudah berubah menjadi cokelat penuh.
"Biar aku yang bawakan"
Alba menolah kesal ke Adam, "Kenapa kau kemari dan kenapa kau bawa dua petugas kepolisian itu untuk makan malam di sini? Aku nggak pernah mengundang kalian, kan?"
Adam meringis di depan Alba dengan masih memegang kedua kuping panci dengan kedua tangannya lalu ia berucap, "Aku kangen masakan kamu dan aku belum makan sama sekali. Tapi, kalau aku masuk ke sini sendirian tanpa mengajak mereka yang tengah berjaga di depan rumah, akan timbul pertanyaan, kan? Dan itu nggak baik untuk kamu"
"Dasar gila! Kau gila, Paijo!" Alba berucap kesal sembari berjalan ke ruang makan.
"Maafkan saya. Saya cuma masak semur tahu dan telur dan menggoreng tahu tempe" Alba duduk di meja makan dan tersenyum ramah ke kedua petugas kepolisan.
"Ah! Itu sudah sangat cukup bagi kami. Nama saya Broto"
"Dan saya, Paijo"
"Eh! Beneran ada lho nama Paijo" Adam tersentak kaget setelah ia meletakkan panci berisi semur tahu dan telur di atas meja makan dan ia terkekeh geli melihat Alba yang semenit sebelumnya memanggilnya dengan sebutan Paijo.
Alba ikutan terkekeh geli dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Adam makan dengan lahapnya karena dia memang sangat menyukai masakannya Alba apalagi kalau itu sayur semut tahu dan telur. Alba memandangi Adam yang tengah makan dengan lahap dan gadis manis itu tersenyum senang.
"Anda sangat pandai memasak. Semur tahu ini lain dari semur tahu yang pernah saya makan" ucap petugas kepolisian yang bernama Broto.
"Bener banget. Anda bisa buka warung makan nih. Top" Petugas kepolisian yang bernama Paijo mengacungkan ibu jarinya ke Alba.
"Saya tidak salah kan mengajak Anda berdua kemari. Masakan klien saya ini memang juara. Mengalahkan semua chef hebat di resto-resto mahal yang ada di luar sana"
Alba berucap, "Terima kasih" dan hanya menghela napas panjang saat ia melihat pancinya telah kosong.
Yeeaahhh! Besok aku harus masak lagi untuk sarapan dong. Batin Alba