
"Dam, Ibu buatkan susu hangat buat kamu" setelah meletakkan segelas susu cokelat hangat di meja belajarnya Adam, Nindya memegang kedua pundaknya Adam dan memijitnya.
Adam menepis kedua tangannya Nindya dengan kata, "Jangan menyentuhku!"
"Dam, Papa kamu punya penyakit jantung dan itu membuat Ibu tidak puas. Apalagi sesungguhnya Ibu tidak mencintai papa kamu, Ibu mencintai kamu, dan......."
Adam berdiri, berbalik badan untuk menatap ibu tirinya dan berkata, "Keluar dari kamarku atau aku akan teriak biar Papa bangun dan menemukanmu di sini!"
Nindya langsung melangkah keluar dari kamarnya Adam dengan langkah terpaksa dan Adam langsung mengunci pintu kamarnya dengan wajah kesal.
Sejak beberapa bulan yang lalu diputuskan oleh Alba, Adam menjadi lebih bersemangat dalam belajar karena, ia ingin cepat kembali ke Indonesia untuk menemui Alba dan meminta penjelasan pada Alba kenapa Alba meminta putus di saat ia merasa hubungan dia dan Alba dalam masa yang sangat manis.
Adam memutuskan untuk pindah ke asrama karena, ibu tirinya yang masih menyimpan rasa cinta yang begitu besar padanya, selalu menggoda Adam dan semua godaan dari ibu tirinya itu, membuat Adam merasa sangat risih.
Kenangan indah kebersamaannya dengan Alba memacu semangat belajarnya untuk meraih gelar master di bidang hukum dan bisa menjadi pengacara yang handal nantinya.
Adam termenung saat ia menemukan sebuah bingkisan di dalam tas ranselnya. "Apa isinya? Dan siapa yang memasukkan bingkisan ini ke dalam tas ranselku?" Gumam Adams sembari membuka bingkisan berbentuk Kotak kecil berwarna putih dengan pita biru di atasnya.
Adam mengernyit saat ia menemukan sebuah cincin yang terbuat dari perak, dia mengambil cincin itu lalu melihat ke dalam cincin itu untuk membaca tulisan yang terukir di sana, "AA?" Adam membaca dua huruf yang terukir di lingkaran bagian dalam cincin perak tersebut.
Dan Adam membuka kertas kecil yang ada di sana. Adam membaca isi kertas itu, "Ini adalah cincin couple. AA itu singkatan Adam dan Alba. Aku diam-diam mengukur jari kamu pas kamu ketiduran dinas pangkuanku di taman kampus. Pakai ya cincinnya! Biar hubungan kita tidak pernah putus seperti lingkaran cincin ini yang tidak ada putusnya. Aku akan selalu mencintaimu, pacarmu, Alba"
Adam memakai cincin itu dan cincin perak polos tanpa hiasan apapun itu benar-benar pas di jari manis tangan kirinya. Adam lalu bergumam, "Kalau dia berikan cincin ini? Kenapa dia minta putus? Apa sebenarnya yang telah terjadi pada Alba? Ponselnya juga tidak bisa aku hubungi lagi dan Emailku tidak pernah ia balas" Adam meraup wajah tampannya karena frustasi.
Adam lalu mencium cincin yang telah melingkar cantik di jari manisnya dengan menitikkan air mata dan bergumam, "Aku sangat merindukan kamu, Alba"
Sementara itu, satu tahun telah berlalu sejak Alba meminta putus dengan Adam dan waktu terasa berjalan sangat lama bagi Alba sejak Alba tinggal atap dengan tantenya.
Alba menjadi paranoid pada suami tantenya. Dia memasang tiga slot kunci di pintu kamarnya dan menutupi lubang yang ada di pintu kamar mandi karena, dia pernah mandi di sore hari dan di lubang yang ada di pintu kamar mandi ada bola mata tengah menatapnya. Untung saja waktu itu dia belum melepas bajunya. Dia kemudian berteriak dan bola mata di lubang itu menghilang. Alba lalu mandi dengan tangan satu Karena tangan yang satunya lagi dia pakai untuk menutup lubang itu.
Dan sejak suami tantenya menerobos masuk ke kamarnya dengan alasan ingin meminjam kipas angin tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Alba langsung memasang tiga slot kunci di pintu kamarnya. Dan setiap malam, dia menjadi kesulitan untuk bisa tidur dengan nyenyak karena paranoidnya itu.
Dan paranoidnya benar-benar menjadi kenyataan yang mengerikan di saat tantenya pamit ikut piknik yang diadakan oleh para pegawai dan karyawan kampus selama tiga hari. Di hari pertama tantenya tidak ada di rumah, suami tantenya nekat memijit pundak Alba di saat Alba tengah menyeterika baju. Alba menyetrika baju dengan menggelar sarung di atas lantai dan duduk bersila di atas lantai.
Alba tersentak kaget saat ia merasakan kedua pundaknya disentuh dan suara dari suami tantenya menggema di telinganya Alba, "Aku pijitin pundak kamu, ya? Sepertinya kamu kelelahan"
Alba langsung bangkit dan berbalik badan, "Om, jangan sentuh saya!"
"Heleh! Jangan sok suci kamu. Layani Om mumpung Tante kamu nggak ada dan Om akan kasih kamu uang yang sangat banyak"
Alba merinding dan langsung berlari keluar menuju ke kampus. Untung dia membawa dompet dan ponselnya di saku dressnya. Alba lalu meminta ijin ke penjaga perpustakaan kampus, "Mbak, saya boleh ikut jadi di sini? Selama tiga hari ini karena...........," Alba tidak sanggup melanjutkan kalimatnya karena air matanya terus menetes dengan derasnya.
Mbak Santi penjaga perpustakaan yang kenal baik dengan Alba lalu memeluk Alba, memberikan teh hangat yang baru saja ia buat untuk Alba minum dan setelah Alba tenang, mbak Santi meminta Alba untuk menceritakan apa yang telah terjadi.
Alba lalu menceritakan semuanya dan mbak Santi akhirnya mengijinkan Alba untuk menemaninya berjaga di perpustakaan mulai hari itu dan tidur di kostnya mbak Santi selama tantenya piknik.
Alba menggantikan tugas tantenya memasak, membuka dan menutup kantin. Dan dia berdoa, selama dia berduaan dengan omnya di kantin, omnya tidak melecehkan dirinya. Alba masih menjadi primadona di kampus itu. Sejak duduk di Taman Kanak-kanak, Alba memang sudah menjadi primadona karena memiliki wajah yang manis dan imut dengan rambut hitam lurus yang sangat indah.
Di kampus tempat ia menimba ilmu pun, dia menjadi primadona. Apalagi sejak para pemuda kampus mengetahui, pacar Adam pergi ke.luar negri dan Alba ditinggal sendirian, banyak yang nekat menyatakan perasannya ke Alba atau hanya sekadar mengajak Alba keluar untuk makan tapi, semuanya Alba tolak. Alba tidak ingin berpacaran lagi setelah meminta putus dengan Adam karena, Adam adalah satu-satunya pria yang ia cintai sampai akhir hayatnya.
Begitulah perubahan hidup Alba yang membuat Alba hampir gila. Dia harus bekerja keras di siang hari, harus mencari cara menghindari pelecehan dari Omnya di sore hari hingga malam tiba dan harus belajar giat agar cepat lulus dan memperoleh pekerjaan yang layak sehingga ia bisa lepas dari tante dan omnya.
Detik berganti menit hingga hari berganti bulan, sampai bulan berganti tahun, Alba hanya bisa selalu bersyukur karena ia masih bisa menghindari pelecehan yang dilakukan oleh omnya. Sampai adanya berita baru bahwa di kampus tempat ia menimba ilmu, kedatangan seorang dosen baru dari Amerika yang membuat heboh seluruh mahasiswi di kampus tersebut karena ketampanan dari dosen baru itu. Dosen itu mengajar di fakultas hukum.
Dosen itu tersenyum lebar saat ia berpapasan dengan Alba di kantin tempat Alba bekerja membantu tantenya....................