
"Ma, makasih Ma waktu Adam meminta pendapat mama, jurusan apa yang sebaiknya Adam ambil, Mama membisikkan ke Adam untuk mengambil jurusan hukum. Mama pasti sudah tahu, kalau Adam mengambil jurusan hukum, suatu saat nanti, Adam bisa menjaga, melindungi dan membela Alba" Adam berucap di depan makam.mamanya yang berkeramik mewah.
"Dan Ma, restui Adam untuk bisa memenangkan kasusnya Alba" Adam menolah ke Alba.
"Tante......."
"Mama! Panggil Mama karena kamu adalah calon Istriku"
"Dam! Jangan bercanda!" Alba melotot ke Adam.
" Apa yang salah? Aku juga memanggil Mama, kan, ke Mama kamu?"
Alba mengabaikan ucapannya Adam dan ia melanjutkan kalimatnya yang selamat terputus, "Tante, Alba datang kembali untuk mengucapkan terima kasih"
Terima kasih karena Tante sudah mengijinkan Alba menjadi pacarnya Adam walaupun hanya untuk sesaat. Alba melanjutkan kalimatnya di dalam hatinya.
"Berterima kasih untuk apa?" Adam menoleh ke Alba.
"Rahasia" Ucap Alba sembari memutar badan lalu meninggalkan makam mamanya Adam dan Adam langsung menyusul langkahnya Alba.
"Ba! Kamu tadi berterima kasih untuk apa? Adam bertanya sambil memasang sabuk pengamannya dan terus menoleh ke Alba.
"Aku laper" Alba mengalihkan perhatiannya Adam.
"Oke! mau makan apa? Baso? Kamu suka Baso,kan?"
"Aku nggak mau lagi makan baso sejak kau pergi ke Amerika. Karena, dulu kita sering makan baso jadi, pas kamu pergi ke Amerika, aku sedih setiap kali menatap baso"
"Mie ayam kalau gitu? Kamu juga suka banget sama mie ayam, kan?"
"Aku sering makan mie instant. Hampir setiap hari jadi, aku agak bosan dengan mie"
Adam menoleh sekilas ke Alba dengan sorot mata penuh keprihatinan mendengar Alba hampir setiap hari makan mie instant. Adam kembali fokus ke depan sambil bertanya, "Steak?"
"Aku nggak suka steak"Sahut Alba tanpa menoleh ke Adam
"Lalu pengen makan apa?"
"Terserah" sahut Alba.
"Terserah itu makanan yang terbuat dari apa ya, Ba?" Adam menoleh sekilas ke Alba dengan kerutan di keningnya.
Tanpa Adam duga, Alba terkekeh geli dan berucap, "Kita ternyata masih sama seperti dulu. Suka berdebat pengen makan apa"
"Eh! Ralat! Kamu yang suka pilih-pilih makanan, tapi nggak mau ngeluarin ide mau makan apa. Aku yang harus pusing berpikir. Dasar Baba!"
Alba kembali terkekeh geli dan menoleh ke Adam, "Wanita memang tercipta di dunia untuk dimengerti dan Pria tercipta di dunia ini untuk mengerti wanita"
Adam meminggirkan mobilnya lalu menoleh ke Alba dengan wajah semringah, "Jadi, kau sudah mau untuk aku mengerti? Aku bersedia untuk mengerti kamu di sepanjang hidupku. Jadi, kita sekarang ini, apa?"
Alba menoleh ke Adam dengan senyum lebar lalu berucap sambil mengacungkan jari telunjuknya ke atas, "Nasi goreng"
"Aku pengen makan nasi goreng yang pedas. Boleh?"
Adam menghela napas panjang. Walupun ia kembali merasa kecewa karena Alba belum membuka diri untuk mencintainya lagi, Adam tetap merasa senang karena Alba akhirnya bisa bersikap santai. "Oke! Aku akan bawa kamu ke tempat yang menyediakan nasi goreng paling enak sejagat raya" Adam berucap sembari kembali melajukan mobilnya menyusuri jalan raya yang mulai ramai dan padat.
Beberapa menit setelah menyelesaikan makan siang mereka, Adam dan Alba duduk di depan seorang petugas kepolisian di dalam ruang interogasi.
"Tolong ceritakan semuanya Nona"
Alba menoleh ke Adam sebelum ia membuka mulutnya untuk bercerita dan Adam menganggukkan kepalanya sambil menggenggam tangannya Alba yang ada di bawah meja.
"Saya sudah ikut Tante saya sekitar satu tahun lebih dan selama itu...........Sa......saya selalu merasa ketakutan"
"Kenapa Anda ketakutan?"
"Ka.....karena......." Alba kembali menoleh ke Adam dan Adam menganggukkan kepalanya sambil meremas tangannya Alba yang ia genggam untuk mentransfer kekuatannya ke Alba.
Alba lalu memutar kepalanya ke arah depan dan ia kembali bersitatap dengan petugas kepolisian yang adalah seorang wanita berwajah mungil dan cantik. Alba lalu menghela napas panjang lalu berkatalah ia, "Ka....karena, Om saya, suaminya Tante saya, sering mengintip saya mandi. Itulah kenapa saya menyiapkan sebuah papan untuk menutup daun pintu yang berlubang agar Om saya tidak bisa mengintip saya lagi pas saya mandi"
Adam mulai merapatkan bibir karena terbakar emosi mendengar ceritanya Alba.
"Teruskan Nona! Pernyataan Anda sangat dibutuhkan saat ini dan jangan takut! Kami di sini untuk melindungi Anda"
"Lalu suatu hari, di hari ke sepuluh setelah saya tinggal di satu atap dengan Tante saya dan suaminya, suami Tante saya, pernah mendobrak pintu kamar saya pas saya masih mengerjakan tugas kuliah saya di jam sebelas malam. Om saya mengira saya sudah tidur dan dia kaget saat mendapati saya masih terjaga. Lalu Om saya nekat mendekati saya dan berkata kalau dia menginginkan saya"
"Cukup!" Adam tanpa sadar berteriak lantang dan menggebrakkan tangan kirinya di atas meja dan tangan kanannya meremas erat tangannya Alba yang ada di bawah meja.
Alba dan petugas kepolisian yang berwajah mungil itu kaget dan mereka menatap Adam dengan penuh tanda tanya.
Adam tampak kikuk. Lalu ia berkata, "Maafkan saya! Emm, teruskan cerita Anda, Nona Alba Andindya" Adam menoleh ke Alba lalu menoleh ke petugas kepolisian yang berwajah mungil itu.
"Sa.....saya berkata, kalau Om nekat saya akan berteriak, Om dan apa yang akan terjadi kalau Tante terbangun? Lalu Om saya berbalik badan dan pergi meninggalkan kamar saya. Pagi harinya, saya lalu membeli lima slot kunci dan saya pasang sendiri di pintu kamar saya karena saya takut, Om saya akan mendobrak lagi pintu kamar saya dan sejak hari itu, saya tidak bisa tidur dengan nyenyak lagi"
"Apakah masih ada lagi peristiwa yang lebih mencekam sebelum Anda hampir diperkosa di ruang seni Kampus Merah Putih?"
"Ada. Om saya hampir berhasil memaksa saya untuk melayani napsu iblisnya di saat Tante saya pergi ke pasar. Tapi untungnya, saya berhasil terbebas dari bahaya di saat itu karena Tante saya pulang tepat waktu"
Adam berulangkali menggertakkan gerahamnya dan terus mengepalkan tangan kirinya yang ia letakkan di atas meja karena emosi yang luar biasa dan emosi itu harus ia tahan dengan sekuat tenaga.
"Apakah masih ada lagi?"
"Yang lainnya hanya beberapa sentuhan yang sepertinya disengaja oleh Om saya pas saya membantu Tante saya di kantin. Seperti menyentuh tangan saya, menyentuh bahu saya dan pernah ia menyentuh pantat saya dan saya menamparnya saat itu. Saya rasa, ia nekat menjebak saya di ruang seni karena tamparan saya itu" Sahut Alba.
"Apa Tante Anda tahu tentang semua itu?"
"Entahlah. Tante saya tidak pernah bertanya ke saya jadi, saya tidak tahu apakah Tante saya mengetahui kelakuan bejat suaminya atau tidak" sahut Alba.
"Baiklah! Anda boleh pergi dan mulai hari ini, kami akan menugaskan dua petugas kami untuk berjaga di depan rumah Anda karena Om Anda belum berhasil kami tangkap" Petugas kepolisian berwajah mungil itu lal bangkit menyalami Alba dengan kata, "Terima kasih atas kerja samanya" kemudian berbalik badan dan pergi meninggalkan Adam dan Alba.
Alba kembali duduk di atas kursi dengan tubuh bergetar hebat dan Adam langsung memeluk Alba untuk menenangkan Alba sambil terus berkata, "Aku akan selalu ada untukmu. Jangan takut!"