I Love You, Adam

I Love You, Adam
Bintang Jatuh



Alba berhenti di halte.bus dengan napas terengah-engah dan dia kaget setengah mati saat lengannya di tarik oleh seseorang dan orang itu adalah Adam Baron. Alba bersitatap dengan Adam Baron dengan wajah bingung bercampur panik.


"Ah! maafkan aku, karena sudah menyentuhmu tanpa ijin" Adam melepaskan lengannya Alba dan kembali berkata dengan napas terengah-engah, "Tapi, kenapa Anda lari, Nona. Emm, karena aku sudah menolongmu, aku rasa kita tidak usah pakai bahasa formal. Lagipula kok aneh ya, aku rasa aku pernah bertemu denganmu, tapi di mana? Kau bisa kasih tahu aku, Nona, di mana kita pernah ketemu? Dan.......ssshhhh!" Adam mendesis dan hanya dalam hitungan tidak kurang dari satu detik badan Adam limbung ke depan dan Alba langsung memeluk Adam dengan memekik panik, "Mas! Mas, kenapa? Mas, jangan pingsan di sini! Di sini nggak ada orang, Mas dan kamu terlalu berat untukku!" Teriakannya Alba tidak ada gunanya karena, Adam terlanjur pingsan dan Alba telah bersimpuh di atas trotoar sambil memeluk tubuhnya Adam.


Alba lalu merogoh tas selempangnya dengan tangan kanan untuk mengambil ponselnya dan tangan kirinya memeluk tubuhnya Adam. Alba terpaksa menelepon taksi online dengan bergumam, "Huufftt! Niatnya mau berhemat setelah membelikan Noah teleskop, eh, sekarang aku harus naik taksi gara-gara Mas Adam pingsan" Alba memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas selempangnya sambil menunggu taksi online pesanannya datang.


Noah memandangi bintang di halaman belakang rumah dengan teleskop barunya dan ditemani mamanya Satya. "Oma! Kata Mama, Papaku adalah salah satu bintang di langit. Dan kata Om Satya, Papaku suatu saat akan pulang menemuiku. Aku sangat senang, Oma"


Heni, mamanya Satya hanya bisa mengelus sayang kepalanya Noah sambil menghela napas panjang. Heni tidak tahu harus berkata apa untuk merespons celotehan polosnya Noah.


"Oma!" Noah menoleh ke Heni dan Heni terlonjak kaget, "Apa? Ada apa?"


"Oma mengantuk apa melamun? Kok kaget?".


"Oh! Oma menikmati indahnya bintang di atas, jadi Oma.kaget waktu kamu memanggil Oma. Ada apa?"


"Aku lihat ada bintang jatuh barusan. Di pondok untuk tamu. Apa Papaku yang jatuh, Oma. Apa Papaku datang untuk menemuiku?"


Heni lalu mencium gemas pipinya Noah dan berkata, "Kenapa kamu tumbuh menjadi anak yang sangat cerdas dan tampan seperi ini hah?! Bikin Oma gemas dan ingin melahapmu" Heni lalu menggendong Noah dan demi membahagiakan Noah, Heni berucap, "Oke! Ayo kita lihat di pondok tamu, apa ada bintang jatuh di sana, eh! Maksud Oma, apa beneran ada orang yang jatuh di sana?"


"Dan Noah harap itu Papaku, Oma" Sahut Noah dengan bermuka gembira.


Alba merebahkan Adam yang tinggi besar dengan susah payah di atas kasur yang ada.di dalam pondok tamu. Pondok tamu ada di halaman rumah utama yang ditempati Alba, cuma terpisah dengan jarak sepuluh langkah saja. Tidak berada di satu atap, tapi tidak jauh. Bangunan terpisah itu disediakan bagi tamunya mamanya Satya atau kerabat dekatnya mamanya Satya yang datang berkunjung ke sana dan harus menginap satu atau dua malam di sana.


Oma Heni terkejut saat ia melihat Alba keluar dari pondok tamu dengan wajah panik dan berkata, "Ma! Saya butuh dokter secepatnya"


Heni menurunkan Noah dari gendongannya dan langsung menelepon dokter keluarganya. "Ada apa?" tanya Heni.


Alba tampak kebingungan menjelaskan apa yang terjadi karena, ada Noah, berdiri tegak dengan wajah penuh tanda tanya, di antara Heni dan Alba.


Noah lalu berlari masuk ke dalam pondok tamu dan Alba langsung menyusul Noah dengan wajah panik. Heni menghela napas panjang dan ikutan berlari masuk ke dalam pondoknya.


"Oma! Lihat!" Noah menoleh ke Heni dengan jari telunjuk mengarah ke kasur, "Ada bintang jatuh tadi dan benar kan, ada orang di sini. Itu pasti Papaku yang turun dari atas langit"


"Noah! Jangan bicara sembarangan. Itu orang asing yang Mama tolong di jalan karena, pingsan"


Noah langsung menurunkan jari telunjuknya dan dengan wajah kecewa, ia menunduk.


Heni langsung menggendong Noah kembali, lalu berbisik di telinganya Noah "Kita akan lihat nanti kalau orang itu sadar. Apakah dia mirip denganmu"


"Kalau mirip berarti dia Papaku, kan, Oma?" Noah berbisik di telinganya Heni.


Heni menganggukkan kepalanya dengan senyum penuh cinta lalu ia mendekap erat Noah dan mencium pipinya Noah sambil melihat kepanikan di wajah Alba saat Alba duduk di tepi ranjang dan mengusap keringat di kening pria yang terbaring tak sadarkan diri di atas kasur.


Heni melihatnya dengan heran dan bertanya di dalam hatinya, Apa pria itu, Adam Baron. Astaga! Jadi benar feelingnya Noah, itu beneran Papanya Noah?


Beberapa jam kemudian, Dokter mengajak Alba dan Heni bicara di depan pondok dan Alba terpaksa membiarkan Noah duduk bersila di atas kasur dan terus menatap wajah pria yang ia tolong. Dokter berkata, "Anda mengenalnya?"


Alba menganggukkan kepalanya dan berkata, "Tapi, dia tidak mengenali saya. Saya rasa, dia masih mengalami amnesia"


"Apa maksud Dokter?" tanya Alba.


"Kalau pasien tidak diberikan vitamin-vitamin tersebut, itu berarti, keluarganya ingin dia amnesia selamanya. Saya akan menelepon Dokter Felix. Di obat-obatan pasien tadi, tertulis nama Dokternya, setelah saya menelepon Dokter Felix saya akan kirimkan vitamin-vitamin tersebut untuk pasien tadi"


"Lalu, apa yang harus saya lakukan setelah ini?"


"Besok saya akan kirim vitamin-vitamin tersebut dan jangan buat pasien kaget dengan berita mengejutkan. Biar pasien ingat semua kejadian di masa lalunya secara bertahap karena, jika dikejutkan, saya takut otaknya akan rusak secara permanen dan tidak bisa pulih lagi"


"Baik, Dok.Terima kasih banyak, Dok" Ucap Heni dan Alba secara bersamaan.


Sepeninggalnya dokter tersebut, Heni menoleh ke Alba, "Apa dia Adam Baron?"


"Iya. Mama benar"


"Astaga! Feeling Noah kuat sekali. Tadi, Noah melihat ada bintang jatuh di pondok lalu bergegas mengajak Mama ke sini dan berkata, kalau Papanya yang jatuh"


Alba meraup wajah manisnya dengan panik dan bertanya, "Apa yang harus aku lakukan, Ma?"


"Kita kasih tahu Noah secara bertahap. Noah anak yang sangat cerdas. Noah pasti akan paham" Heni menepuk bahunya Alba lalu berucap, "Ayo kita masuk ke dalam!"


Dokter Felix langsung memanggil Bella untuk datang ke ruangannya setelah ia mendapatkan telepon dari dokter keluarganya Heni, "Apa kamu tidak pernah memberikan vitamin-vitamin untuk otaknya Adam?"


Bella tercekat dan wajahnya langsung panik. Ia secara spontan bertanya, "Darimana Dokter tahu?"


Dokter Felix langsung menggebrak mejanya, "Amnesianya Adam ini beda dengan amnesia Adam yang pertama dulu. Amnesianya Adam yang dulu terjadi karena trauma tusukan dan trauma karena ia telah mengeluarkan banyak darah. Amnesia itu bisa sembuh dalam seminggu tanpa vitamin-vitamin untuk otaknya. Tapi, kali ini beda! Kenapa kau tidak tahu soal ini, hah?! Pantas saja ingatannya Adam pulihnya lama sekali. Apa maksud kamu sebenarnya? Kamu ingin Adam amnesia selamanya?" Dokter Felix kembali menggebrak mejanya.


Bella menggelengkan kepalanya dengan derai air mata.


"Aku terpaksa menskors kamu selama tiga bulan dan tidak akan menggaji kamu selama itu karena kelalaian kamu. Sekarang keluarlah dari dalam ruanganku!" Dokter Felix berteriak keras dan mendelik ke Bella.


Bella segera berputar badan dan berlari keluar dari dalam ruang kerjanya Dokter Felix dengan derai air mata.


Heni memeluk erat bahunya Alba saat tubuhnya Alba bergetar menahan tangis karena, Noah terus duduk bersila di atas kasur dan tiada henti menatap wajah pria yang tidak sadarkan diri di atas kasur. Heni berbisik, "Kamu harus tahan air mata kamu demi Noah"


Noah menyentuh rambut pria itu dan menoleh ke belakang dengan tanya, "Kenapa rambutnya sama dengan rambutku?"


Heni dan Alba hanya bisa tersenyum untuk merespons rasa ingin tahunya Noah.


Lalu Noah kembali menatap wajah laki-laki yang ada di depannya dengan berkata, "Aku akan tunggu sampai dia membuka matanya. Aku akan lihat apakah kedua bola matanya juga sama dengan kedua bola mataku?"


Alba menghela napas panjang dan Heni tersenyum lebar kemudian berbisik di telinganya Alba, "Kau harus bangga memiliki anak genius seperti Noah"


Alba bergumam lirih, "Bangga sih bangga, Ma.Tapi, seringkali bikin pusing juga saat ia memiliki banyak tanya untukku"


Heni terkekeh geli sambil mengelus bahunya Alba.