I Love You, Adam

I Love You, Adam
Suami Istri



Adam mengajak Alba membeli cincin nikah dan sepasang kalung emas model Santa.


Alba menautkan alisnya, "Untuk apa beli dua kalung, Dam?"


"Untuk kita pakai dong. Dan liontinnya cincin perak yang kamu kasih ke aku dulu. Cincin perak couple kita, kita pakai untuk liontin kalung couple kita karena, jari manis kita sebentar lagi akan dilingkari cincin emas murni, cincin pernikahan kita"


Adam memasangkan kalung berliontin cincin perak ke lehernya Alba lalu ia cium keningnya Alba, "Aku sangat mencintaimu"


"Aku juga sangat mencintaimu" Alba menatap Adam dengan penuh cinta.


Adam menunggu cincin pernikahan yang dia dan Alba pilih. Cincin pilihan kedua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu tengah diukir


A❤️A, di lingkaran bagian dalamnya.


Setelah cincinnya jadi, Adam memasukkan cincin yang sudah tersimpan apik di dalam wadahnya, ke dalam saku celana kainnya, lalu ia mengajak Alba ke butik baju pengantin. Pemilik butik itu adalah sepupunya yang berasal dari garis keturunan almarhum Mamanya Adam.


Madam Louis, seorang laki-laki tampan yang gemulai dan lebih senang dipanggil Madam itu, menghampiri Adam dengan tangan terbuka. Dia bahagia melihat Adam Baron, sepupu yang ia sayangi, akhirnya menikah.


"Calon Istri kamu manis dan imut banget, Dam"


"Terima kasih" Sahut Alba.


"Dan ramah"


"Hmm. Nggak usah banyak basa-basi. Aku dan Alba harus segera ke Gereja untuk melakukan pemberkatan pernikahan. Tunjukkan gaun pengantin yang cocok untuk Alba.


Madam Louis langsung bertepuk tangan dan berucap, "Ah! Tentu! Alba, kau ingin gaun yang seperti apa? Mewah, elegan, seksi, atau simple namun anggun?"


"Simple, namun anggun aja"


"Oke! Atom kalian berdua ikut aku ke kamar ganti"


Adam dan Alba langsung bangkit dan mengikuti langkahnya Mada Louis.


Alba memilih gaun dengan model Ball Gown.


Alba lalu mencobanya di ruang ganti dan menyibakkan tirai yang menutupi ruang ganti untuk menunjukkannya ke Adam, "Bagiamana, Dam?"


Adam terkesima. Alih-alih memberikan respon atas pertanyannya Alba, Adam melongo.


Madam Louis terkekeh geli lalu menepuk punggungnya Adam, "Gimana? Cantik nggak? Kok malah melongo?"


"Bagiamana bisa kamu terlihat seperti seorang puteri raja. Kamu sangat cantik, Ba"


Alba merah wajahnya karena malu.


"Oke! Berarti setuju pakai baju itu ya?"


Adam dan Alba menganggukkan kepala mereka ke Madam Louis secara bersamaan.


"Baiklah! Kau lepas dulu bajunya dan kasih ke asistenku biar ditambahi pernak pernik untuk mendapatkan kesan yang lebih dramatis. Aku akan buat bagian bawah gaun tersebut agar mengembang. Sehingga menambah kesan elegan ketika kamu berjalan menuju altar untuk melakukan pemberkatan. Model gaun ini cukup populer, dengan tambahan manik-manik dan mutiara akan membuatnya tidak lekang dimakan oleh zaman. Bisa kau berikan ke anak kalian nanti, pas anak kalian menikah nanti"


Adam dan Madam Louis lalu meninggalkan Alba untuk berganti baju.


Beberapa menit sampai berganti jam dan saat Adam melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan, ia berlari ke kamar ganti.


Adam mencari-cari Alba di kamar ganti, tapi ia tidak menemukan Alba.


Adam langsung panik dan berlari keluar. Ia bertanya ke sepupunya, Madam Louis, laki-laki dengan gaya gemulai, seorang desainer terkemuka dan pemilik butik mahal itu, "Kau lihat calon Istriku?"


"Aduh! Piye to Mas Adam ini! punya calon Istri semanis dan seimut itu kok ya nggak dijaga"


Madam Louis menepuk bahunya Adam dengan gemulai dan Adam langsung mendelik, "Tahu nggak?"


Madam Louis meringis, menggelengkan kepalanya, lalu berkata, "Nggak"


Adam meraup kasar wajahnya, lalu berlari ke mobilnya. Dia membuka mobilnya dan tidak menemukan Alba di sana.


Adam mengelilingi halaman depan hingga belakang butik tersebut dan tidak menemukan Alba di mana pun.


Adam kembali masuk ke dalam butik dan Madam Louis langsung berucap, "Aku rasa, calon Istri Elo masih ada di dalam kamar ganti. Dari tadi aku tidak melihat Alba keluar dari kamar ganti"


"Sudah kau cari di tumpukan baju, di lemari, atau di balik gordyn?"


Adam langsung berlari masuk kembali ke kamar ganti dan saat ia menyibak gordyn, ia melihat Alba tidur seperti seekor udang di sana dengan masih mengenakan baju pengantin simple yang Alba pilih.


Madam Louis terkekeh geli dan berucap, "Habis kau hajar berapa ronde calon Istri kamu, sampai ia ketiduran kayak gitu"


Adam mendelik ke Madam Louis dan Madam Louis meringis, "Aku akan keluar aja kalau gitu, aku akan bungkus gaun yang kalian pilih dan membungkus jas yang kamu pilih" Madam Louis lalu pergi meninggalkan Adam.


Adam terkekeh geli, "Kok bosa-bisanya ia ketiduran di sini?" Pengacara muda nan tampan itu, menggeleng-gelengkan kepalanya lalu ia merengkuh tubuh Alba masuk ke dalam pelukannya. Dia mencium pipinya Alba, merapikan rambutnya Alba sembari bergumam, "Sayang, Ba, bangun!"


Alba masih belum menggerakkan kedua kelopak matanya dan masih tidur dengan sangat nyenyaknya. Adam mengamati wajahnya Alba untuk sejenak dan bergumam, "Kamu manis dan imut banget sih kalau tidur kayak gini? Misalkan kita nggak sedang berada di sini, aku udah melahapmu lagi, Manisku" Adam terkekeh geli


Adam mencium keningnya Alba lalu ia memutuskan untuk membopong Alba dan merebahkan Alba dengan sangat hati-hati di dalam mobilnya. Madam Louis membantu Adam menaruh Gaun pengantin dan jas di dalam bagasi.


"Selamat ya atas pernikahan kami. Aku doakan langgeng. Maaf aku tidak bisa ikut hadir karena, dadakan sih dan aku ada pameran sebentar lagi"


"Nggak papa. Udah dipilihkan gaun dan jas, dikasih harga diskon, dan didoakan, itu sudah lebih dari cukup. Makasih ya"


Beberapa jam kemudian, Alba dan Adam telah berdiri di depan altar Gereja dan melakukan pemberkatan pernikahan mereka dengan penuh rasa bahagia dan bertepatan dengan selesainya acara pemasangan cincin pernikahan, Pambudi datang bersama dengan petugas dari kantor pencatatan sipil dan penandatanganan surat nikahnya Adam dan Alba dilakukan sekalian di gereja. Satya dan Pambudi menjadi saksi pernikahan mereka.


Hati Satya remuk redam kala itu, namun harus ia pegang erat hatinya untuk tetap bahagia demi kebahagiaannya Adam dan Alba.


Beberapa jam berikutnya, Adam dan Alba sampai di kediaman megahnya Alex Baron. Alba pernah melihat rumah itu dari luar, namun dia belum pernah masuk sampai ke dalamnya. Dan di saat Alba memasuki rumah megah itu, Alba serasa lemas kakinya. Kepercayaan dirinya hilang dan ia merasa sangat kecil.


Alba menggenggam erat tangannya Adam saat Alex Baron dan Nindya datang dan duduk di depannya.


Adam menoleh ke Alba saat ia merasakan Laba menggenggam erat tangannya. Adam lalu berbisik di telinganya Alba, "Tenanglah! Kita udah sah menjadi suami istri. Jadi, nggak ada yang perlu ditakutkan lagi"


Alex Baron dan Nindya terus memandangi Alba dengan wajah datar mereka.