I Love You, Adam

I Love You, Adam
Putus



Bella memilih blus putih bermotif bunga Peony yang tengah mekar sempurna sesempurna mekarnya hatinya oleh rasa bahagia karena akhirnya, Adam Baron, tunangannya, yang tidak pernah sekalipun mengajaknya berkencan, mengajak dia keluar di hari itu.


Bella memadukan blus putih bermotif bunga Peony dengan rok jins berwarna biru Dongker. Dengan rambut dikeriting sedikit di bagian ujung, lalu memulaskan bedak mahal dan lipstick import berwarna senada dengan motif Peony di blusnya, membuat Bella membutuhkan waktu empat puluh lima menit lebih untuk bersiap. Bella akhirnya berhasil menyulap dirinya menjadi sangat cantik dan sangat pantas untuk ditatap berlama-lama.


Bella melihat bayangan dirinya di cermin lalu tersenyum lebar dan bergumam, "Ah! Kenapa aku terus merona"


Adam langsung menelepon Alba begitu ia masuk ke dalam mobilnya karena, ia sangat mengkhawatirkan Alba. Alba sendirian di rumah sepupunya Pambudi, "Halo? Kamu di mana?"


"Di rumah. Gimana Papa kamu?"


"Papa sangat baik kondisinya saat ini. Papa juga sangat baik padaku hari ini" ada keceriaan di nada suaranya Adam.


"Syukurlah" Alba menghela napas lega"


"Pintu dan jendela sudah kamu kunci rapat, kan?" tanya Adam.


"Sudah" sahut Alba.


"Syukurlah!" Adam menghela napas lega lalu kembali berucap, "Kamu baru ngapain?"


"Masak" Alba berucap dengan nada santai dan terdengar aman.


"Masak apa?" Adam bertanya dengan senyuman di wajahnya. Entah kenapa, saat ia mendengar suara Alba yang sudah terdengar santai dan aman, membuatnya merasa sangat bersyukur dan senyuman pun terlukis di wajah tampannya.


"Masak semur tahu dan aku cemplungin telur biar bisa sekalian untuk sarapan besok. Jadi, besok nggak usah masak lagi"


"Ah! itu kan masakan kesukaanku. Semur tahu dicemplungin telur rebus sampai telur berubah menjadi coklat, membuatku ngiler nih ngebayanginnya. Aku ingin ke sana dan makan masakan kamu. Aku kangen banget sama masakan kamu"


"Tapi, ini sudah jam tujuh malam. Nggak baik seorang cowok main ke rumah cewek korban pelecehan seksual di jam segini"


"Ba! Jangan ngomong seperti itu!"


.


"Kenapa, itu benar, kan?"


Tok, tok, tok, jendela jok penumpang di sampingnya Adam diketuk oleh Bella. Adam langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Alba dan membuka pintu mobil dari dalam untuk Bella.


"Maaf lama menunggu" Bella berucap sembari memakai sabuk pengamannya.


Adam memakai sabuk pengamannya, menjalankan mobilnya, dan berucap, "Nggak papa"


Jawaban Adam semakin membuat hati Bella membuncah senang. Adam yang tidak suka menunggu dan selalu menghargai waktu itu, berkata tidak apa-apa di saat Adam harus menunggu Bella bersiap dan itu memakan waktu yang sangat lama.


Ada apa dengan Adam? Kenapa dia manis banget hari ini?Apa Adam akan mengutarakan rasa cintanya ke Aku? Batin Bella penuh harap.


Tubuh Adam ada bersama dengan Bella di dalam mobil dan tengah melajukan mobilnya di jalan raya yang mulai tampak lengang, namun pikiran dan hatinya terus terarah ke Alba. Adam ingin segera menyelesaikan urusannya dengan Bella dan bergegas menemui Alba karena, dia mengkhawatirkan Alba yang sendirian berada di rumah sepupunya Pambudi


"Kita akan ke mana, Sayang?" Bella menoleh ke Adam.


Adam tersentak dari lamunannya yang terus memikirkan Alba Anindya dan keterkejutannya itu secara spontan membuat ia mengarahkan wajahnya ke Bella dengan tanya, "Hmm, apa?" Lalu kembali mengarahkan pandangannya ke depan.


Bella tersenyum, "Kita mau ke mana, Sayang?"


"Ke restoran milik temanku. Aku udah pesan private room di sana" sahut Adam tanpa menoleh ke Bella.


Semakin merekahlah rasa bahagia di hatinya Bella saat ia mendengar kata private room. Dan seketika itu juga, Bella membayangkan kencan romantis bersama Adam, saling menyuapi makanan, saling menatap dengan penuh cinta, saling memegang tangan, Adam mengutarakan cintanya lalu mereka berciuman. Bayangan indah yang menari-nari lincah di dalam benaknya Bella, membuat wajah Bella merona malu lalu ia secara spontan terkikik geli dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Adam melirik Bella dan bertanya, "Ada apa? Kenapa kau terkikik geli dan menutup wajah kamu?"


Bella menarik tangannya dari wajah cantiknya lalu menoleh ke Adam, "Nggak papa"


Tiga puluh lima menit berikutnya, mereka telah duduk di dalam private room yang ada di dalam restoran bergaya western.


Adam menunggu minuman dan makanan yang mereka pesan datang sebelum ia mengatakan hal yang sudah sangat ingin dia katakan ke Bella sedari dulu.


Bella menjadi kikuk melihat tatapannya Adam, "Ada apa menatapku terus? Aku cantik ya, malam ini?" Bella tersenyum ke Adam.


"Kamu selalu cantik. Karena, kamu memang sempurna" Sahut Adam.


"Benarkah? Tapi, kenapa kamu nggak pernah ucapkan kata sayang atau cinta ke aku?"


"Karena, rasa sayang dan cinta tidak bisa diutarakan berdasarkan dari keelokan dan kesempurnaan fisik semata. Rasa sayang dan cinta timbul dan secara spontan diutarakan berdasarkan refleksi dari kesempurnaan hati"


Bella langsung menautkan alisnya, "Maksud kamu apa? Aku, hatiku nggak sempurna?"


"Bukan hati kamu yang nggak sempurna, tapi hatiku"


Dam, jangan bermain kata-kata. Aku tahu kamu seorang pengacara yang pandai berkata-kata seperti seorang penyair, tapi, saat ini aku ingin kamu langsung ke intinya saja!"Insting alaminya Bella mulai berdering kacau. Dokter muda nan cantik itu, mulai merasakan hal yang tidak mengenakkan bakal ia terima.


Adam menatap lekat kedua manik hitamnya Bella dan setelah menghela napas panjang sebanyak dua kali, dia akhirnya berkata, "Maafkan aku. Aku ingin memutuskan pertunangan kita"


Bella bagaikan tersambar petir dan dia menatap Adam dengan nanar.


"Maafkan aku. Seharusnya sedari dulu aku tidak menyetujui pertunangan ini. Seharusnya aku tidak berkata iya saat Papa kamu meminta aku, untuk bertunangan dengan kamu" Adam menatap Bella dengan sorot mata penuh dengan penyesalan.


"Aku yang salah. Aku memaksa hati kamu menerimaku di saat otak kamu tidak berdaya untuk memerintahkan hatimu berkata tidak ke aku. Aku salah mendorong Papa meminta kamu untuk bertunangan denganku, di saat kamu masih mengalami amnesia.Tapi, aku melakukannya karena aku mencintaimu. Di hari pertama aku menemukanmu terbaring tak sadarkan diri di kamar tamu rumah Papaku. Tidak! aku rasa, aku sudah mencintaimu saat melihatmu bersimbah darah tergeletak di atas aspal kala itu. Hatiku terus berdebar-debar setiap kali aku berada di sisi kamu dan merawat kamu sampai kamu siuman. Apa itu salah, Dam?"


Adam menghela napas panjang, "Itu tidak salah. Cinta tidak pernah salah yang salah adalah waktu yang tidak tepat. Aku pikir kalau kita lanjutkan pertunangan kita, kita hanya akan hidup di dalam kebohongan dan kita akan kelelahan. Hubungan di dalam kebohongan tidak akan pernah berakhir indah, Bell"


"Aku tidak pernah berbohong. Aku benar-benar mencintaimu, Dam"


"Aku yang hidup dalam kebohongan. Karena, maafkan aku Bell! Aku tidak pernah mencintaimu"


"Kenapa baru sekarang kau katakan hal ini. Kenapa pas kamu dapatkan lagi ingatan kamu, kamu tidak langsung memutuskan pertunangan kita?"


"Karena saat ingatanku kembali, aku justru menjadi kacau dan saat itu, Papaku kondisinya semakin memburuk. Aku takut jika aku memutuskan pertunangan kita saat itu juga, Papa akan........."


"Jadi, Papa kamu saat ini, sudah menyetujui kita putus?" Bella menatap Adam dengan air mata yang mulai menggenang di kedua pelupuk matanya.


Adam mengangguk lemah dan sorot matanya masih memancarkan penyesalan.


Bella langsung menunduk dan menangis. Dia berharap Adam bangkit, memeluk dirinya dan memenangkannya, namun hal itu hanya harapan semata. Adam diam mematung di tempat duduknya.


"Pulanglah! Tinggalkan aku sendiri!"


"Nggak Bell. Aku harus mengantarkanmu pulang. Ini sudah malam dan ......"


Bella masih menundukkan wajahnya dan terisak, "Pulanglah! Dan jangan ke rumahku lagi! Soal Papa dan Mamaku, aku yang akan menyampaikan soal putusnya pertunangan kita ini"


Adam bergeming.


Bella mengangkat wajahnya dan berteriak, "Pulanglah, Dam!"


Adam dengan terpaksa bangkit dan melangkah gontai meninggalkan Bella. Namun, Adam tidak diam saja membiarkan Bella pulang sendirian. Adam menelepon Satya karena, Pambudi tengah ia utus mengurus legalitas tanah milik kliennya, di luar kota.


"Tolong ke Bambu Resto. Dekat, kan, dengan apartemen kamu. Tolong jaga Bella dan antarkan Bella untuk pulang!"


"Oke! Lima menit lagi aku sampai sana. Tapi, kenapa bukan kamu yang antarkan Bella untuk pulang?"


"Aku sudah memutuskan pertunanganku dengan Bella. Baru saja" sahut Adam.


"Sial! Oke, aku meluncur ke sana" Satya berucap sembari menyambar jaketnya.


"Aku tunggu" sahut Adam.


Satya muncul di depannya Adam lima menit berikutnya dan Adam berkata, "Aku akan bayar semua hutang budiku ke kamu setelah kasusnya Alba kelar"


Satya menepuk pundaknya Adam lalu melangkah masuk ke dalam private room untuk menemui Bella Fastro