
"Ayok kita balik!" Adam bangkit sambil terus menatap Alba. "Kenapa kau memandangi piring kosong itu terus?"
Alba lalu menoleh ke Adam, "Katanya berminyak dan nggak baik untuk kesehatan tapi, kau makan separuh lebih mendoan lho. Ish, ish, ish!"
"Hehehehe, nggak sadar aku. Habisnya kalau anget enak banget mendoannya. Di sini kan adem banget jadi, cocok makan gorengan"
Alba mencebikkan bibirnya, "Alasan. Bilang aja kalau doyan jadi, nggak usah banyak alasan"
Adam menjatuhkan satu lembar uang kertas seratus ribuan di atas meja lalu memegang pergelangan tangannya Alba dan melangkah meninggalkan warung itu dengan senyum lebar melihat Alba masih cemberut Mbak yang empunya warung sederhana itu berteriak, "Mas, kembaliannya belum!"
Adam menoleh dan berkata, "Ambil aja kembaliannya"
"Wah! Makasih Mas ganteng! Moga banyak rejeki ya Mas!" teriak mbak yang empunya warung dengan wajah semringah.
"Amin" Alba menoleh untuk meneriakkan kata amin.
Adam menatap Alba, "Kenapa kau bilang amin?"
"Kan didoakan banyak rejeki sama Mbaknya tadi. Jadi, harus dijawab amin. Kamu nggak tahu soal ini?" Alba mengangkat wajah manisnya untuk memandang Adam karena Adam jauh lebih tinggi darinya.
Adam menggelengkan kepalanya dan berucap, "Aku nggak pernah ucapkan kata amin Karena, nggak pernah ada yang mendoakanku. Bahkan pas aku ulang tahun pun, nggak ada yang mendoakanku. Baru kali ini ada orang yang mendoakan aku dan nggak ada yang menemaniku" Adam melepas pergelangan tangannya Alba lalu ia menatap jalanan di perbukitan itu dengan wajah sendu.
Alba merasa prihatin akan kehidupan yang Adam miliki. Lalu Alba mengangkat tangan, menepuk pelan pundaknya Adam dan berucap, "Tanggal berapa ulang tahunmu?"
Adam menghentikan langkahnya lalu menghadap ke Alba dengan sorot mata penuh keterkejutan sekaligus ia merasakan ada rasa asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, menyusup masuk ke dalam hatinya dan memeluknya hangat.
Alba tersenyum lebar lalu bertanya, "Kenapa malah memandangiku seperti itu?"
"Dan kenapa kamu tanyakan kapan hari ulang tahunku?" Adam balik melempar tanya.
Alba menghela napas panjang lalu mengeluarkan kata, "Kebiasaan deh, kalau ditanya pasti malah nanya balik. Kalau aku tahu ulang tahun kamu kapan, aku akan kasih surprise, akan menemani kamu dan mendoakan kamu"
Adam terharu mendengar kalimat yang dikeluarkan oleh Alba dan itu membuatnya memandangi wajah Alba terus menerus.
"Kenapa malah bengong?" Alba menautkan kedua alisnya dan terus mengangkat wajahnya untuk memandangi wajahnya Adam.
Adam lalu menautkan kedua tangannya di balik badannya dan melangkah pelan menjauhi Alba.
Alba menoleh dan menatap punggungnya Adam dengan wajah heran, ia bergumam, "Kok malah ngeloyor pergi sih? Dasar aneh"
Alba bergegas berlari kecil untuk mensejajari langkahnya Adam lalu ia menoleh ke kanan dan sambil terus melangkah ke depan, ia bertanya, "Kenapa malah pergi? Kau belum kasih tahu ke aku kapan ulang tahun kamu"
Adam terus melangkah ke depan dan tanpa menoleh ke Alba ia berucap, "Aku tidak ingin ditemani oleh kamu ataupun siapa pun di hari ulang tahunku. Aku sudah terbiasa hidup sendiri dan aku pikir akan aneh kalau tiba-tiba ada seseorang yang menemaniku di hari ulang tahunku"
"Dasar aneh! Orang lain akan senang kalau ditemani apalagi pas hari ulang tahunnya tapi, kenapa kamu........"
Mereka berdua sampai di vila dengan selamat dan kembali ke kamar mereka masing-masing untuk mandi, berganti baju dan bersiap mengikuti acara pembukaan Social Gathering SMA Pelita Kasih Tahun 2022.
Beberapa menit kemudian, semua siswa dan guru SMA Pelita Kasih duduk bersila di atas tikar, mengelilingi Balairung Utama dari vila tersebut untuk mengikuti acara demi acara yang sudah disiapkan oleh panitia penyelenggara.
Dan sampailah di acara pertunjukkan bakat. Alba maju ke depan untuk bernyanyi karena Alba memang sangat pandai bernyanyi dan sering mendapatkan piala berikut tabungan setiap kali ia mengikuti ajang pencarian bakat.
Adam terkesima melihat Alba ternyata memiliki bakat yang luar biasa di bidang tarik suara dan Adam merasa bahagia mendengar suara yang sangat merdu miliknya Alba. Dan lagu "Buka Semangat Baru" yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi Elo, mampu membuat Adam terhanyut dan tanpa ia sadari, ia terus mengulas senyum indah di wajah tampannya.
Banyak murid perempuan yang menoleh, melirik, memperhatikan Adam dan mereka semua terpesona akan senyum tampannya Adam kala itu, yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Begitu pula dengan Bu Nindya, Bu Nindya ikutan tersenyum bahagia kala ia menatap calon anak tirinya tersenyum dengan sangat indahnya.
Bu Nindya bergumam di dalam hatinya, Baru kali ini aku lihat Adam tersenyum dan entah kenapa senyumannya Adam membuat aku merasa bahagia.
Alba berhasil menyelesaikan lagu tersebut dengan sangat baik dan mendapatkan tepuk tangan yang sangat meriah.
Ketika Alba hendak turun dari atas panggung, suara bass-nya Adam, "Tunggu dulu!" membuat Alba mematung di atas panggung.
Semua siswa dan para guru pun menatap Adam dengan heran saat Adam melangkah maju kemudian melompat naik ke atas panggung. Adam mengambil gitar lalu ia berkata di depan mikrofon, "Saya juga ingin menyumbangkan kemampuan saya, boleh?"
Semua langsung berdiri dan bertepuk tangan dengan riuhnya dan berteriak, "Boleh!!!" dengan penuh antusias.
Banyak yang tidak menyangka kalau Adam bisa bermain gitar dan bersedia naik ke atas panggung untuk mempertontonkan kemampuannya itu
Alba bersitatap dengan Adam. Adam lalu berkata kembali di depan mikrofon, "Aku akan mainkan lagu "Ayah" kau hapal liriknya?"
Alba tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Adam tersenyum ke Alba lalu ia mulai memainkan intro dari lagu "Ayah" dan di saat Alba mulai masuk ke dalam lantunan nada gitar nan apik yang Adam mainkan, semua yang hadir kembali bertepuk tangan dengan sangat meriah dan berteriak, "Keren!!!!!"
Adam dan Alba turun dari panggung setelah mereka menyelesaikan pertunjukkan apik mereka dengan diiringi gemuruh teriakan keren dan tepuk tangan dari semua siswa dan guru SMA Pelita Kasih.
Adam yang belum pernah mengucapkan kata pujian kepada siapa pun bahkan kepada pak Samin sekali pun, menoleh ke Alba, "Suara kamu sangat indah, aku sangat menyukainya"
Alba menoleh dan tersenyum ke Adam, "Terima kasih" kemudian ia kembali duduk di tempatnya semula dan tanpa Alba duga, Adam duduk di sebelahnya Alba.
Alba terkejut, "Kenapa duduk di sini? Bukankah tadi, kau duduk di sana"
"Di sini lebih adem ternyata" Adam menjawab pertanyaannya Alba tanpa menoleh ke Alba.
Keputusan Adam untuk duduk di sebelahnya Alba mengundang banyak tatapan iri dari banyak murid perempuan. Dan banyak di antara mereka yang saat itu juga, merasa benci pada Alba karena Alba memiliki keberuntungan bisa berduet di atas panggung dengan Adam dan bisa duduk bersebelahan dengan Adam.
Bu Nindya pun menatap kebersamannya Adam dan Alba dengan sorot mata ambigu.