
"Alba? Kenapa malah bengong? Apa kita ada hubungan di masa lalu?" Adam melihat Alba yang tengah menundukkan kepala.
Adam mencubit dagunya Alba dan menaikkan pelan wajahnya Alba sampai mereka bersitatap kembali. Adam langsung menyesali perbuatannya itu, dia menjadi sesak napas karena degup jantung yang semakin kencang karena wajah manisnya Hana berada dekat dengan wajahnya dengan bibir sedikit merekah karena dia mencubit dagunya Alba.
Alba membeku tak berdaya. Wanita manis itu memang selalu tersihir tidak berdaya setiap kali dia menatap kedua bola mata birunya Adam dari jarak dekat.
Adam menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk menetralkan pikiran liarnya atas Alba, namun pesona Alba sangatlah kuat. Adam mengumpat di dalam hati untuk dirinya sendiri saat ia nekat mencium bibirnya Alba.
Alba tanpa sadar menarik kerah kemejanya Adam karena ia ingin lebih dalam menghirup wangi tubuhnya Adam yang sangat ia rindukan dan ia ingin merasakan kembali hangat tubuhnya Adam yang sangat ia dambakan.
Adam mengangkat kedua tangan untuk menangkup lehernya Alba dan ia memperdalam ciumannya. Ciuman yang lembut, penuh kehati-hatian dan lebih ke ciuman yang saling menjaga perasaan satu dengan yang lainnya, justru membuat keduanya semakin terikat oleh gairah.
Saat Adam akhirnya nekat mendesak bibirnya Alba dengan lidahnya, pintu ruang kerjanya diketuk oleh seseorang
Adam dengan terpaksa melepaskan ciumannya dan mengerang kesal karena ia harus meredam hasrat yang sudah begitu panas membara dalam waktu yang sangat singkat.
Alba tersentak kaget, ia mundur ke belakang satu langkah sembari merapikan rambutnya dan mengusap kasar wajah manisnya dengan helaan napas panjang untuk meredakan hasrat dan melupakan kebodohannya yang kembali kalah menghadapi pesonanya Adam Baron
Adam membuka pintu dan terkejut saat Noah berteriak, "Papa Bintang dan melompat masuk ke dalam gendongannya Adam.
Adam tertawa senang. Dia langsung memeluk dan mencium kedua pipinya Noah lalu mengucapkan. terima kasih ke asisten pribadinya.
Adam menutup kembali pintu ruang kerjanya dan saat ia berbalik badan, dia bersitatap kembali dengan Alba.
Keduanya tiba-tiba merasa kikuk dan bingung bagaimana harus berkata dan bagaimana harus bersikap setelah ciuman penuh hasrat yang telah mereka lakukan berdua, beberapa menit yang lalu.
Alba lalu meraih Noah dan menurunkan Noah ke lantai dengan pelan sembari berucap, "Om Adam capek nanti kalau harus menggendong kamu cukup lama"
"Ehem" Adam berdeham lalu berbalik badan untuk menyembunyikan kecanggungannya. Adam lalu melangkah ke sofa dan memesan beberapa makanan untuk Noah, dirinya dan Alba. Lalu Adam menoleh ke Noah yang berjalan mendekatinya lalu melompat ke sofa dan duduk di sebelahnya Adam. Adam tersenyum, ia mengusap pucuk kepalanya Noah dan berkata, "Kita makan siang dulu. Papa sudah pesankan makanan"
"Terima kasih, Pa" Noah menatap Adam tanpa jenuh dan terus mengulas senyum ceria di wajah tampannya.
Alba duduk di depan Adam dan Noah lalu berkata, "Jangan biasakan Noah memanggilmu, Papa!"
Adam langsung menutup kedua telinganya Noah dengan. kedua telapak. tangannya dan berkata, "Kenapa? Apa karena aku bukan Papanya Noah?"
Noah menoleh ke Adam lalu menoleh ke Alba dengan wajah bingung.
"Kenapa diam? Apa karena aku Papanya Noah?"
"Bu....bukan begitu" Alba berkata dengan wajah bingung dan ia mulai memainkan jari jemarinya di atas pangkuannya.
Adam melihatnya dan berkata, "Aku tidak asing dengan permainan jari jemari itu. Aku sering melihat wanita di dalam mimpiku memainkannya. Apa itu kamu?" Adam masih menutup kedua lubang telinganya Noah dengan kedua telapak tangannya.
Alba membeku di depannya Adam.
Adam menghela napas panjang lalu berkata, "Kau selalu mematung seperti itu setiap kali aku bertanya. Karena kamu nggak tahu jawabannya, maka aku akan mencari tahunya sendiri dan selama jawaban itu belum ketemu, biarkan Noah memanggilku Papa. Aku nggak keberatan kok" Adam lalu membuka kedua telinganya Noah dengan cara menarik kedua telapak tangannya dari sana.
Saat menunggu makanan tiba, Adam mengajak Noah bermain catur dan Adam mengagumi kecerdasannya Noah. Anak berumur lima tahun, bisa mengimbangi permainan caturnya.
Alba yang meras bosan diabaikan oleh keduanya, mencoba mendekat untuk melihat permainan caturnya Adam dan Noah. Alba mencoba berkomentar, "Kok nggak dimakan aja menterinya?"
Noah langsung menoleh ke Alba, "Ssstt! Mama diam aja, ya?! Mama nggak paham permainan ini" Sahut Noah dengan kepolosannya.
Adam terkekeh geli lalu ia melihat Alba dan berkata, "Ssssttt! Benar kata Noah. Mama nggak paham permainan ini"
Alba bersedekap dan menghembuskan napas kesalnya ia lalu bangkit dan melangkah ke taman.
Kedua bola matanya Adam bergerak mengikuti arah pergi ya Alba dan saat itu juga, ia merasakan kalau ia menikmati kebersamaannya dengan Noah dan Alba. Adam juga merasakan, setiap kali ia bersama dengan Alba dan Noah, Adam tidak peduli lagi dengan hal yang lainnya. Dia hanya peduli pada Noah dan Alba.
Kenapa aku bisa merasa aneh seperti ini? Kenapa aku merasa kalau Alba dan Noah sangat penting bagiku. Bahkan aku rela mempertaruhkan nyawaku untuk mereka berdua . Batin Adam sambil terus memandangi wajah Noah yang persis sama dengan wajahnya. Adam berasa bercermin setiap kali ia memandang Noah. Ia berasa melihat miniatur dirinya.
"Skakmat! Yes! Hooray! Aku menang!" Noah memekik girang sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.
Adam tersentak dari lamunannya lalu ia tersenyum bangga menatap Noah, "Kamu hebat, Nak. Papa bangga punya anak cerdas dan baik hati seperti kamu"
"Noah juga bangga punya Papa bIntang setampan dan sekeren Papa" sahut Noah.
Adam tertawa senang lalu ia mencium pipinya Noah dengan penuh rasa cinta dan sayang.
Makanan pun tiba dan Noah langsung turun dari atas sofa untuk memanggil Mamanya tanpa disuruh, "Ma" Noah menggandeng tangannya Alba.
Alba tersentak dari lamunannya dan langsung menundukkan wajahnya, "Ada apa?"
"Makanannya udah datang. Kita makan, yuk!"
Alba tersenyum dan mengangukkan kepalanya
Noah menggandeng tangan Mamanya dan berjalan menuju ke sofa.
Noah memilih duduk kembali di sebelahnya Adam dan Alba memilih duduk di depannya Noah dan Adam.
"Tolong marahin Mama, Pa?! Mama selalu lupa makan kalau nggak diingatkan. Mama itu udah gede,tapi seringkali merepotkan Noah soal makan. Noah harus telpon Mama di setiap jam makan siang untuk mengingatkan Mama, makan" Noah mulai nyerocos seperti mercon banting dan Alba langsung berkata dengan rona merah di wajahnya, "I....itu tidak benar. Mama makan kok. Pas kamu telpon Mama, Mama pas makan"
"Tzk! Orang dewasa memang suka cari alasan agar tidak kena sanksi" Sahut Noah dengan wajah polosnya.
Adam langsung menggemakan tawanya tiada henti melihat tingkah polosnya Noah dan melihat wajah kesal bercampur malunya Alba.
Adam lalu berkata setelah ia berhasil meredakan tawanya, "Oke. Mulai besok, Papa akan jamin, kamu dan Mama nggak akan pernah lagi lupa makan siang. Kita akan makan siang bareng kayak gini terus mulai hari ini dan hari-hari selanjutnya"
"Horaaaay!" Noah langsung melonjak bahagia.