
Bella merenung di atas ranjangnya. Dokter Cantik yang masih berumur dua puluh tiga tahun itu, tidak bisa memejamkan kedua matanya dan ia memilih untuk bangun dan bersandar di ranjang mewahnya.
"Kak Satya kok bisa tahu kalau aku udah putus dengan Adam? Apa karena ia melihat aku menangis dan tanya-tanya soal cintanya Adam untukku? Atau karena, Adam menelepon Kak Satya untuk menjaga dan mengantarkan aku pulang? Ah! Dam! Perhatian di balik sikap dingin kamu itu yang selalu membuat hatiku berdebar-debar tidak karuan. Aku masih sangat mencintaimu, tapi aku harus melupakanmu mulai detik ini" Bella lalu memerosotkan tubuhnya sampai kepalanya menyentuh bantal lalu ia menghela napas panjang dan kembali menangis.
"Persidangan akan dibuka besok Senin. Theo dan Ayu akan datang untuk mendukung kamu" Adam berucap sembari meletakkan gelas yang semula berisi air putih dan telah menjadi kosong.
Alba memainkan ujung syal yang terlilit di lehernya sambil berucap, "Aku masih belum pede untuk bertemu dengan Ayu. Masalahku dan Ayu di masa lalu kan, belum kelar. Apa Ayu sudah memaafkan aku?"
"Aku rasa Sudah. Ayu kan udah bersedia mendukung kamu jadi, aku rasa ia sudah memaafkan kamu"
"Pak Adam Baron dan Nona Alba Anindya, teman lama, ya?" Tanya Paijo.
"Iya Pak. Kami teman SMA" sahut Adam.
"Oh. Pantas aja kalau terlihat santai dan akrab ngobrolnya" Sahut Broto.
"Kami teman Satu SMA dan teman satu bangku" Sahut Alba sambil membetulkan letak syal yang menutupi leher cantiknya.
Adam menyadari sesuatu yang membuat hatinya merasa sedih. Alba melilitkan syal di leher dan hal tersebut juga mengundang petugas kepolisian yang bernama Broto bertanya ke Alba, "Maaf Nona, apa Anda sakit? Anda memakai syal di cuaca sepanas ini?"
Paijo menepuk bahunya Broto, "Kamu ini kok ya masih aja kamu pelihara jiwa kepo kamu, sih? Dasar!"
"Maaf Nona" Broto tersenyum canggung ke Alba.
Adam terus memandangi Alba yang duduk di sampingnya.
Alba tersenyum dan berkata, "Saya selalu memakai syal kalau mau tidur, Pak"
"Oh, begitu" sahut Broto.
Adam lalu mengangkat piring dan gelasnya untuk ia bawa ke tempat cuci piring. Broto dan Paijo pun langsung mengikuti langkahnya Adam.
Selesai makan, kedua petugas kepolisian dan Adam mencuci sendiri piring dan gelas yang mereka pakai. Lalu salah satu dari kedua petugas kepolisan yang bernama Paijo, membuka suara, "Kita akan berjaga kembali di depan, Nona. Terima kasih untuk makan malamnya yang sangat lezat"
Adam berdiri di depannya Alba dan terus menatap syal yang terlilit manis di lehernya Alba. Adam ingin sekali memukuli si Iblis yang telah membuat leher cantiknya Alba ternodai saat itu juga.
Broto membuka suara, "Anda tidak keluar bersama kami, Pak pengacara?"
Adam tersentak dari lamunannya lalu menoleh, "Ah! Iya, Pak!" Adam lalu menoleh dan tersenyum ke Alba, "Kita akan keluar. Kunci pintu rapat-rapat! Dan terima kasih banyak untuk makan malamnya"
Alba tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Adam terpaksa keluar mengikuti langkah kedua petugas kepolisian karena, jika ia tetap tinggal, maka akan menimbulkan banyak persepsi negatif di benak kedua petugas kepolisian tersebut.
Kedua petugas kepolisian masuk kembali ke dalam mobil dinas mereka. Adam juga masuk kembali ke dalam mobilnya. Namun, pengacara muda nan tampan yang sudah mulai laris manis itu, tidak berniat mengemudikan mobilnya. Adam tidak berniat untuk pulang.
"Bagaimana bisa aku meninggalkan Adam sendirian di rumah dengan dua orang cowok asing berjaga di depan rumah. Yeeaahhh! Mereka memang petugas kepolisan, tapi mereka tetap aja laki-laki normal. Aku akan berjaga aja di sini. Aku nggak akan pulang malam ini" Adam lalu memencet salah satu tombol yang ada di pintu mobilnya dan jok mobilnya langsung bergerak turun hingga sampai di mode yang nyaman untuk dia pakai merebahkan tubuhnya yang lelah.
Adam memakai lengannya sebagai bantal dan membuka ponselnya. Dia menelepon Alba, "Ba, kedua lutut kamu udah baikan? Masih sakit nggak? Tadi kan, kamu pakai untuk berlari dan sebelumnya kamu pakai untuk ngedrum"
"Kamu masih pakai syal kamu saat ini?"
"Hmm" sahut Alba.
"Kenapa? Bukankah sudah tidak ada orang? Kamu sudah sendirian kan saat ini? Kenapa masih kamu pakai syalnya?"
"Aku nggak suka lihat noda yang ada di leher dan dadaku setiap kali aku melewati cermin makanya di rumah pun, walaupun aku sendirian, aku tetap tutupi leherku ini"
Adam diam membisu. Dadanya terhantam rasa penyesalan yang sangat dalam. Dia menyesal tidak sempat mencegah noda jahanam itu menempel kuat di leher dan dadanya Alba.
"Dam? kok diam?"
"Oh! Emm, nggak papa. Ba?"
"Iya?"
"Besok ada yang ingin aku sampaikan ke kamu" ucap Adam dengan nada serius.
"Aku juga ada yang ingin aku sampaikan ke kamu, besok" sahut Alba.
"Apa? Sekarang aja kamu sampaikan! Aku belum bisa tidur nih"
"Besok. Kamu juga besok kan, menyampaikannya" sahut Alba.
"Lho punyaku kan beda, Ba"
"Punyaku juga beda" sahut Alba dengan nada bicara tidak mau mengalah.
"Yeeaahhh! Kau tetaplah si Baba yang keras kepala"
"Dan kau Paijo yang suka ngeyel" sahut Alba dengan nada kesal.
Kemudian dua mantan kekasih itu terkekeh geli secara bersamaan.
"Ba, ini on period kamu, kan?" tanya Adam. "Kok kamu nggak sensi? Biasanya kalau on period, kamu sensi banget"
"Dam! Dasar gila! Kenapa kau tanya soal on period segala? Dan kenapa kamu hapalkan tanggal dapetku?" Alba bertanya dengan nada heran bercampur dengan rasa kesal dan malu.
"Inget dong.Karena, setiap kali kamu on period, kamu selalu uring-uringan nggak jelas dan segala apa yang aku lakukan ke kamu, selalu dapet omelan dari kamu. Makanya kemarin, Pambudi aku suruh beli pembalut segala untuk kamu. Aku pikir udah dekat sama tanggal on period kamu jadi sekalian aja nyediain pembalut untuk kamu"
Deg! Hati Alba berdesir haru. Alba sungguh tidak menyangka kalau Adam sangat menyayangi dan memperhatikannya sebegitu besarnya. Bahkan soal kecil seperti masalah pembalut, tidak luput dari perhatiannya Adam.
"Ba, kok diam?"
Klik! Alih-alih menjawab pertanyannya Adam, Alba mematikan sambungan telepon itu. Karena, hatinya mulai berdesir aneh, tubuhnya mulai tergelitik rasa hangat yang manis dan jantungnya mulai berdegup kencang. Dia matikan sambungan telepon itu karena, wanita manis itu nggak ingin Adam bisa menangkap ada keanehan di nada bicaranya. Alba lalu menutup wajahnya dengan bantal dan tersenyum senang. Dia senang mendapatkan perhatian dari Adam di hal yang ia anggap sepele dan remeh. Alba lalu bergumam, "Kamu masih aja manis dan perhatian banget sih, Dam?" Lalu Alba tersenyum kembali di balik bantalnya dengan hati yang merekah manis.
Adam mengernyit menatap layar ponselnya yang telah menjadi gelap. Lalu Adam menutup wajah tampannya dengan telapak tangannya dan bergumam, "Dia pasti tersentuh dengan perhatianku. Ah! Kau manis sekali sih, Ba, kalau malu-malu meong kayak gini? semoga besok, saat aku bilang aku udah putus dengan Bella, kau mau menjalin cinta lagi denganku untuk mengulang masa-masa indah kita dulu. Ah! Aku nggak sabar menanti esok hari" Adam masih menutupi wajah tampannya dengan telapak tangannya dan tertawa riang nggak jelas dengan sendirinya.