
"Dam, terima kasih sudah mencintaiku seindah ini"
"Rasa cintaku ini ada karena, keindahan hati dan keelokan paras kamu. Terima kasih kau selalu menjaga kesempurnaan ciptaan Yang Maha Kuasa yang ada di dirimu, Ba" Adam masih mendaratkan bibirnya di pucuk hidungnya Alba dengan ibu jari tangan kirinya mulai menyentuh pelan bibir Alba lalu mengusapnya lembut dengan tanya, "Bolehkah aku mencium kamu?"
Alih-alih menjawab pertanyaannya Adam, Alba memejamkan kedua matanya dan menghembuskan napas dengan merekahkan bibir tipis dan mungilnya sembari mengelus bahu Adam lalu turun ke dadanya Adam.
Alih-alih menuju ke bibirnya Alba, Adam memutar kepalanya dan menyentuhkan hidungnya pada leher Alba. Kemudian dengan ciuman yang manis Adam mengunci kedua bibir mereka, lalu membenamkan lidahnya dalam-dalam. Lidah itu bergerak dengan gesit sementara jari-jarinya terus mengelus, ibu jarinya menggoda, dan telapak tangannya membelai.
Sambil mengerang, Adam memutar tubuh Alba menghadap ke dirinya. Adam memeluk Alba erat-erat sambil membenamkan wajahnya pada leher Alba, "Kau wanitaku, Ba. Kau kekasihku sekarang. Kau dengar?" Cukup lama Adam memeluk Alba seperti itu, seolah ia tidak akan pernah melepaskannya.
Ketika Adam akhirnya melepaskan pelukannya, mereka berdua bersitatap dan merasa malu karena emosi yang begitu mendalam. Dengan bingung, Alba kembali menundukkan kepalanya dan Adam dengan sigap mencubit dagu Alba dan mendongakkan wajah Alba lalu ia cium kembali bibir Alba dengan penuh kelembutan.
Ciuman itu sensual dan Adam bertekad tidak akan melakukan lebih dari ciuman di bibir karena, ia masih menjaga perasaannya Alba. Ciumannya Adam membuat Alba mabuk kepayang dan naluri alaminya meminta lebih dari sekadar ciuman. Di saat Alba bergerak mengikuti insting alaminya untuk merangkul lehernya Adam, tiba-tiba bel rumahnya Adam berbunyi. Bunyi bel itu membuat Adam melepaskan ciumannya dan Alba secara refleks mendorong Adam untuk menjauh darinya.
Adam tanpa sadar mengumpat, "Sial!" dan sambil bangkit berdiri, dia menyugar kasar rambutnya dan bergumam, "Siapa yang datang di hujan deras seperti ini? Ganggu aja!"
Alba tersenyum geli melihat Adam. Alba ikutan bangkit berdiri sambil merapikan rambutnya.
Adam berjalan menuju ke pintu depan dengan malas. Saat ia akhirnya membuka pintu, wajah cerianya Theo dan Ayu terpampang jelas di depannya.
"Haiiii!" Theo menepuk pundak Adam dengan wajah cerah ceria dan Ayu tersenyum ke Adam.
"Untuk apa kalian kemari sepagi ini dan di hujan yang sederas ini?"
"Kami datang dari luar kota dan ini sambutan kamu? Kami akan bersaksi mendukung Alba kan besok, nah! Aku akan menginap di sini dan Ayu akan menginap di tempatnya Alba. Ayo, antarkan kami ke tempatnya Alba!"
"Masuklah dulu!"Adam membuka lebar-lebar daun pintu rumahnya dan berkata, "Alba ada di sini"
Ayu dan Theo melangkah masuk ke dalam rumahnya Adam. Ayu segera berlari saat ia melihat Alba, Ayu langsung memeluk Alba dan berkata, "Maafkan aku, Ba. Aku datang terlambat. Maafkan aku, aku dulu sempat marah sama kamu padahal kamu sebenarnya nggak ada salah"
Alba membalas pelukannya Ayu dan berkata, "Aku nggak pernah marah sama kamu. Aku berterima kasih kamu mau memeluk aku seperti ini, lagi"
Kedua sahabat lama itu kemudian bertangis-tangisan untuk mengurai kesalahpahaman yang pernah terjadi di antara mereka dan untuk melepas kerinduan mereka.
Theo menyenggol perutnya Adam sambil berbisik, "Kau jadian lagi dengan Alba?"
Adam melirik Theo, "Perasaan, kita nggak pernah dekat untuk saling curhat soal jadian, ya?"
Theo tertawa lepas lalu berkata, "Aish! Kamu yang selalu jaim. Udah nggak usah jaim lagi kalau ingin berteman dekat denganku"
"Cih! Siapa yang mau berteman dekat dengan cowok seberisik kamu. Mencet bel pintu aja nggak ada jedanya. Kalau bel pintuku sampai rusak, kau harus ganti"
"Heleh! Ini bukan masalah bel pintu, kan? Tapi masalah kedatanganku yang nggak tepat. Kalian tadi pasti sedang......" Theo menguncupkan kedua tangannya dan dia adukan kedua kuncup tangannya itu di depan Adam dan Adam langsung menepis kedua kuncup tangannya Theo itu dengan rona merah di wajahnya.
"Ah! Aku benar, kan!" Theo melepas tawa renahnya dan Adam melirik Theo dengan wajah kesalnya dan berucap, "Kau tetap aja berisik dan gila! Nggak berubah sama sekali, cih!"
Adam mendengus kesal lalu tanpa Theo duga, Adam merangkul bahunya sambil berkata, "Aku mau belajar jadi cowok yang asyik. Aku ingin memiliki hubungan yang langgeng kayak kamu dan Ayu. Demi Alba. Kau mau mengajari aku, kan?"
"Wani Piro?" Theo menggesek-gesekkan ibu jari dan jari telunjuknya di depan Adam.
Adam berbisik, "Kalau aku berhasil membuat Alba terkesan, aku akan kasih apapun yang kamu minta"
"Wah! Deal dong" Theo langsung menjabat tangannya Adam.
"Dan apa yang harus aku lakukan pertama kali untuk menjadi asyik?"
"Cari kesempatan untuk bisa terus menggenggam tangannya Alba. Cari kesempatan untuk bisa berjalan kaki bersama sambil berpegangan tangan kalau bisa cari jalan yang panjang jadi, bisa berjalan kaki berdua sambil berpegangan tangan lamaaaaaa, hehehehe. Itu asyik bagi cewek walaupun melelahkan bagi kita, kaum cowok, hehehehe"
"Ide bagus tuh! Kamu boleh menginap di sini kalau gitu. Bahan makanan penuh tersedia di kulkas"
"Wah! deal dong" Theo kembali menjabat tangannya Adam dengan senyum lebar.
"Deal apa?" Tanya Ayu dan Alba secara bersamaan. Ayu dan Alba saling melepaskan pelukan mereka tanpa sadar bahwa mereka telah berpelukkan selama setengah jam.
Theo dan Adam berkata, "Rahasia" secara bersamaan.
"Aku harus ke studio musik untuk mengajar piano di sana. Kalian aku tinggal sebentar, nggak papa, kan?" Tanya Alba ke Ayu dan Theo.
"Nggak papa" sahut Ayu dan Theo secara bersamaan.
"Dam, kamu temani mereka aja. Aku bisa naik bus. Mumpung hujan sudah mulai reda, nih"
"Oh tidak, tidak! Adam harus mengantarkanmu ke studio musik. Aku dan Ayu bisa di sini menunggu kamu. Yang lama juga nggak papa. Aku ingin berduaan dengan kekasihku ini" Theo merangkul bahunya Ayu.
Adam menatap Theo dengan gelengan kepalanya dan Ayu menepuk pelan dadanya Theo dengan rona merah di wajahnya dan Alba terkekeh geli.
Tanpa Alba sadari, ia menggenggam tangannya Adam dan mengajak Adam pergi, sambil berucap, "Okelah! Kita tinggalkan mereka berdua, Dam"
Sesampainya di depan pintu mobil, Adam menunduk melihat tangannya yang masih digenggam oleh Alba dengan senyum semringah.
Alba merona malu dan secara spontan, ia menarik tangannya, tapi Adam menahannya dengan berucap, "Jarak halte bus dari sini jauh, kan?"
Alba menganggukkan kepalanya dan dengan raut wajah penuh dengan tanda tanya, ia menatap Adam.
Adam teringat akan ilmu yang baru saja Theo bagikan. Lalu ia menarik tangan Alba, "Kita akan berjalan kaki ke sana mumpung hujan udah reda karena, aku ingin terus bergandengan tangan seperti ini denganmu dan aku ingin kembali merasakan naik bus umum"
Alba terkekeh geli dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah konyolnya Adam. Adam banyak berubah. Adam terasa lebih hangat, mau berteman dengan siapapun saat ini, dan lebih asyik. Jauh beda dengan Adam di jaman dulu yang tengil, dingin, suka menyendiri dan tidak asyik.