
Alba tersentak kaget dan langsung mendorong Satya sambil menyemburkan protes, "Kenapa Anda sangat lancang memeluk saya?"
"Iya! Kenapa Anda melakukan itu?!" Ayu dan Theo memekikkan kata bernada protes itu secara bersamaan ke Satya.
Satya menahan kedua pergelangan tangannya Alba lalu menarik kedua tangannya Alba untuk mendaratkan kecupan di keningnya Alba sambil berucap, "Akhirnya aku menemukanmu"
Alba mendorong tubuh Satya dengan sangat keras lalu menampar pipinya Satya.
Dan di saat Theo hendak menarik Satya untuk keluar dari ruangan itu, Satya berteriak, "Dia adik kecil yang pernah aku tolong belasan tahun yang lalu" Satya berucap dengan pandangan mengarah ke Theo dan Ayu, namun jari telunjuknya mengarah ke Alba.
Theo mengurungkan niatnya untuk menarik Satya keluar dari ruangan itu, saat ia melihat Alba menatap Satya penuh arti dan air mata tampak menumpuk di kedua pelupuk matanya Alba.
"Aku juga selalu membawa kucir rambut itu di hari yang aku rasa penting bagiku. Hari ini aku rasa penting bagiku karena, aku akan membantu Adam di persidangan" Satya merogoh saku celana kainnya dan menunjukkan kucir rambut berhiaskan strawberry yang sama persis dengan kucir rambut berhiaskan strawberry yang melingkar cantik di kucir rambut ekor kudanya Alba.
Alba mengarahkan pandangannya ke kucir rambut berhiaskan strawberry imitasi yang ada di atas telapak tangannya Satya dengan air mata yang mulai menitik di pipinya.
Ayu lalu menarik Theo untuk keluar dari ruangan itu.
Theo melotot ke Ayu, "Kenapa malah kita yang keluar?"
"Dia nggak akan menyakiti Alba. Dan aku lihat mereka butuh privasi" Ayu berucap sambil terus menarik Theo sampai mereka keluar dari dalam ruangan khusus itu. Ayu menutup pintu ruangan tersebut dengan sangat pelan dan mengajak Theo berdiri di depan pintu itu.
"Kenapa kita kayak satpam gini?" Theo menautkan alisnya ke Ayu.
"Kita harus menahan Adam sebentar aja kalau Adam datang dan ingin masuk. Well! Kau dengar kan tadi pagi, kalau Alba belum cerita soal kucir rambut itu ke Adam. Dan kamu tahu kan, Adam tuh cemburuan. Kalau Adam tahu soal Alba, kucir rambut, dan Satya, sebelum Alba cerita ke Adam, maka akan timbul perang dunia ke tiga belas di sini dan akan memengaruhi persidangan nanti" sahut Ayu.
Theo langsung mengecup pipinya Ayu dan berkata, "Pacarku memang dari dulu sangat pintar dan bijak"
"Dan pacarku dari dulu tuh C2" Sahut Ayu dengan tersenyum geli.
Theo menautkan alisnya ke Ayu, "Apa itu C2?"
"Ceriwis dan ceroboh" sahut Ayu.
Theo langsung memeluk bahunya Ayu dan berkata, "Tapi ngangenin, kan?"
Ayu tertawa lirih sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Satya tersenyum ke Alba. Senyuman di wajah tampannya Satya, mengandung rasa bahagia yang membuncah karena ia akhirnya menemukan cinta pertamanya yang selama ini ia cari, namun senyum itu juga mengandung rasa kecewa yang sangat besar saat kenyataan yang ada di depan matanya harus mengikhlaskan cinta pertamanya bersanding dengan Adam Baron.
Alba langsung memeluk Satya. Satya tersentak kaget mendapatkan pelukan spontan dari Alba. Dan secara naluri, Satya membalas pelukannya Alba. Ia mendekap Alba dengan sangat erat seolah ingin membawa Alba terbang entah kemana dan lari dari kenyataan yang ada. Karena sesungguhnya jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat ingin memiliki Alba.
Alba terisak menangis di dalam pelukannya Satya dan berucap di sana, "Maafkan aku tadi menampar Kakak"
Kakak. Oke! Baiklah, aku harus terima ia menganggapku Kakak selama ini. Batin Satya berkata dibalut rasa yang sangat perih.
Alba lalu menarik diri dari pelukannya Satya untuk memandangi wajah laki-laki tampan di depannya, "Kenapa aku tidak mengenali Kakak di perjumpaan pertama kita, kemarin? Kenapa kita baru dipertemukan sekarang? Padahal Alba selalu berharap bisa bertemu lagi dengan Kakak"
"Apa kau mencariku selama ini, sama seperti aku selalu mencarimu selama ini?" tanya Satya tanpa melepaskan tatapan matanya dari wajah manisnya Alba.
"Kenapa kau mencariku?" tanya Satya.
"Karena, Kak Satya adalah Kakak laki-laki satu-satunya yang pernah aku miliki di dunia ini" Sahut Alba.
Satya tersenyum tipis. Ada kecewa di dalam relung hatinya mendengar ucapannya Alba yang sangat berbeda dengan apa yang ada di bayangannya selama ini, tapi ia harus menerima semua kenyataan yang terpampang di depan matanya walaupun kenyataan itu sama sekali jauh berbeda dari harapannya selama ini.
"Sepuluh menit lagi, pengadilan akan dimulai. Aku takut, Kak" Alba menatap Satya dengan sorot mata meminta keberanian ke Satya.
"Aku akan berjuang mati-matian untuk menjebloskan Iblis tengik yang sudah berani melecehkan kamu, hingga membusuk di penjara. Dan jangan takut! Ada aku dan Adam di sisi kamu" Satya mengusap poni tipis yang menutupi keningnya Alba tepat di saat Adam membuka paksa pintu itu dengan diikuti langkah paniknya Ayu dan Theo.
Adam langsung berlari dan memeluk Alba. Saking paniknya, Adam mengabaikan keberadaannya Satya di sana, "Ada apa? Kenapa ayu dan Theo seperti sengaja menghalangiku untuk masuk? Kau tidak apa-apa, kan?"
"Hei! Siapa yang menghalangimu masuk!" Pekik Theo dengan nada kesal.
Alba membalas pelukannya Adam sambil berucap, "Aku tidak apa-apa"
Satya merasakan darahnya berdesir terkena hembusan rasa cemburu melihat cinta pertamanya dipeluk oleh laki-laki lain. Satya hanya bisa menghela napas panjang untuk membuang jauh-jauh rasa kecemburuannya itu, lalu ia berucap, "Aku tinggal dulu, ya. Aku akan bersiap-siap masuk ke ruang sidang. Sampai bertemu di sana"
Adam melepas pelukannya lalu menoleh ke Satya dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Lalu Adam berkata ke Alba, Ayu, dan Theo, "Kita juga harus masuk ke ruang sidang"
Beberapa menit berikutnya, semuanya yang terkait dengan masalah sidang pidana kasus Alba Anindya melawan Johny Setiawan, telah berkumpul di dalam ruang sidang, duduk di kursi mereka masing-masing.
Satya berdiri untuk memperkenalkan dirinya sebagai jaksa penuntut umum dan membuka persidangan itu dengan membacakan tuntutan sembari terus mengarahkan sorot mata tajam penuh kebencian ke terdakwa yang bernama, Johny Setiawan. Setelah membacakan tuntutan pidana, ia memberikan waktu ke terdakwa untuk membaca pledoi karena, terdakwa berhak untuk mengajukan pembelaan.
Pledoi adalah suatu tahap pembelaan yang dilakukan terdakwa untuk dapat melakukan sanggahannya mengenai tuntutan yang dituntutkan oleh penuntut umum.
Johny Setiawan mengatakan di dalam pledoi yang ia baca bahwa Alba adalah wanita murahan yang selalu menggoda semua laki-laki termasuk menggoda dirinya dan menggoda beberapa dosen. Adam dan Satya sama-sama meradang mendengarkan pledoi yang dibaca oleh terdakwa Johny Setiawan.
Satya tertawa mengejek setelah Johny Setiawan selesai membacakan pledoinya dan Satya berucap, "Kau akan mendapatkan bumerang dengan pledoi Anda sebentar lagi, dan Anda akan menelan ludah Anda sendiri dengan sangat malu. Saksi pertama silakan duduk di kursi saksi"
Pengacara terdakwa maju terlebih dahulu untuk memberikan beberapa pertanyaan ke Ayu dan Ayu berhasil memberikan jawaban yang cerdas dan berhasil membuat juri memberikan satu poin plus untuk Alba Anindya.
Lalu Adam maju ke depan setelah pengacara terdakwa duduk kembali ke kursinya.
Adam juga berhasil membuat opini juri menjadi positif ke Alba dan Adam langsung memandang ke arah terdakwa dan pengacara terdakwa dengan sorot mata mematikannya.
Satya tersenyum puas melihat kinerjanya Adam dan berkata di dalam hatinya, Kau memang pantas memiliki Alba. Lanjutkan perjuanganku untuk Alba dan bahagiakan dia.