I Love You, Adam

I Love You, Adam
Sabar Menunggu



Petugas kepolisian yang bernama Broto mengetuk jendela kaca mobilnya Adam dan Adam langsung mengangkat tangan kanan dari wajah tampannya lalu menegakkan kembali jok mobilnya. Adam menoleh ke samping kirinya sembari memencet tombol untuk menurunkan kaca mobilnya. "Ada apa, Pak?"


"Anda kok belum pulang? Mobil Anda rusak? atau Anda sakit, atau tidak enak badan? Kalau benar Anda tidak enak badan, biar saya yang antarkan Anda untuk pulang" tanya Broto sambil sedikit membungkukkan badannya untuk bisa menatap.kedua manik birunya Adam.


Adam tersenyum lebar karena merasa canggung. Kemudian pria tampan itu berucap, "Emm, iya benar, Pak. Saya sedikit pusing tadi. Tapi, sekarang udah baikan. Emm, saya akan pulang sekarang"


"Ah! Syukurlah. Ati-ati di jalan, Pak Adam!"


Adam tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Kemudian ia melajukan mobilnya lurus ke depan dan meninggalkan petugas kepolisian yang bernama Broto tersebut.


Namun, pengacara muda yang sudah memiliki karir yang sangat gemilang itu, hanya melajukan mobilnya mengitari blok lalu putar balik dan masuk ke halaman belakang rumah sepupunya Pambudi yang belum dipasangi pagar.


Adam memutuskan untuk memarkirkan mobilnya dan tidur di dalam mobilnya malam itu dengan memasang jok mobilnya menjadi nyaman untuk dipakai merebahkan tubuhnya yang sudah terasa luar biasa lelahnya.


Adam terbangun dan tampak linglung saat ia mendapati dirinya tidak berada di dalam kamar.kesayangannya. Adam menautkan alis lalu menepuk jidatnya, "Ah! Dasar pikun! Aku kan semalam tidur di dalam mobil" Adam lalu menegakkan kembali jok mobilnya, melakukan peregangan badan sejenak untuk melepaskan pegal karena tidur di tempat yang sempit semalaman, dan saat ia melihat jam di dasboard mobilnya, dia bergumam, "Baru jam empat. Alba sudah bangun belum ya jam segini? Tapi, sepertinya sudah"


Pengacara yang mulai menanjak karirnya itu, kemudian membuka laci dashboard mobilnya untuk mengambil botol kecil bertuliskan pengharum mulut. Adam memakai pengharum mulut karena, ia akan menemui kekasih hatinya dan belum menyikat gigi dan berkumur.


"Hah!" Adam menaruh telapak tangan di depan mulutnya yang menyemburkan napas dan ia tersenyum, "Sip! Udah berbau segar mulutku" bau mint bercampur cokelat di napasnya yang ia hirup, membuat Adam lebih memiliki rasa percaya diri untuk mulai membuka pintu mobil dan melangkah turun kemudian berlari kecil menaiki anak tangga yang tidak begitu tinggi untuk bisa segera mengetuk pintu belakang rumah milik sepupunya Pambudi.


Alba yang tengah memasang plester luka di jari telunjuk dan jari tengahnya karena, ia melamun saat memotong sayuran maka kedua jarinya terluka oleh tajamnya pisau dapur. Alba menautkan alisnya dan melangkah ke pintu belakang dengan perasaan was-was sambil bergumam, "Siapa yang datang sepagi ini lewat pintu belakang?"


Alba berdiri di depan pintu belakang rumah yang ia tempati untuk sementara waktu dan bertanya lantang, "Siapa di luar?"


"Ini aku Ba. Adam Baron" pekik Adam dari arah luar.


Alba semakin menautkan alisnya saat ia.menggerakkan tangannya untuk membuka pintu belakang. "Kenapa kamu ada di sini sepagi ini? Kamu nggak bisa tidur ya? Jarak rumah kamu ke sini, kan, cukup jauh?"


Adam mendorong daun pintu dan berjalan melewati Alba. Alba menutup dan mengunci pintu belakang kembali, lalu berputar badan mengikuti langkahnya Adam.


Alba tersentak kaget dan hampir jatuh saat Adam tiba-tiba mengerem langkah dan berputar badan. Adam dengan sigap menahan punggungnya Alba dan berhasil menahan Alba agar tidak jatuh di atas lantai. Adam lalu menarik punggungnya Alba hingga membuat tubuh mereka menempel.


Jantung keduanya berdebar kencang saat mereka saling menatap dengan tubuh menempel erat.


Adam meraih tangan kirinya Alba dan terkejut saat melihat jari tengah dan jari telunjuknya Alba terbalut plester untuk luka ringan. "Kamu terluka?" Suara Adam terdengar sangat dalam karena masih berusaha untuk menahan debaran jantungnya yang semakin tidak karuan berdetak sangat kencang.


Alba berucap dengan lirih karena ia tidak berdaya melawan arus debaran jantungnya yang menggila, "A...aku melamun tadi pas masak jadi, terkena sayatan pisau. Cuma luka kecil" Alba lalu menarik tangannya dari genggamannya Adam, namun Adam menahannya dan mencium dua jari Alba yang terbalut plester bermotif bunga-bunga kecil.


Adam lalu menaruh tangan kirinya Alba di atas dadanya dan menahan tangan itu di sana dengan telapak tangannya, "Kenapa melamun?" Suara Adam masih terdengar sangat dalam karena, dadanya mulai terasa sesak terkena desakan detak jantung yang semakin membabi buta.


Alba mematung melihat daya magis dari kedua manik birunya Adam. Dia melupakan, jangan ada sentuhan fisik, aturan yang ia buat sendiri. Lalu dengan suara lirih di saat dirinya mulai kelelahan menahan siksaan debaran jantungnya, ia berucap dengan nada bergetar, "A....aku, ta......takut menghadapi persidangan besok. A.....aku benar-benar merasa takut, Dam"


Adam menatap lekat kedua manik hitamnya Alba yang sudah menghadapi banyak sekali ujian hidup, manik hitam yang sudah menangkap banyak masalah hidup yang sangat berat. Adam lalu menangkup pipinya Alba dan berucap masih dengan nada suara yang berat, "Ada Aku. Jangan takut! Aku mengiringi langkah kamu untuk menghadapi apapun di dunia ini, sampai akhir karena, kamu wanita yang sangat berharga bagiku. Aku sangat mencintaimu"


Sial! Aku tidak tahan lagi untuk tidak mencium Alba. Adam berkata di dalam hatinya dan mulai menggerakkan ibu jarinya untuk mengusap bibirnya Alba.


Alba menghela napas dan berucap lirih, "Dam, jangan!"


"Kenapa?" Nada suara Adam semakin berat karena dirinya tidak hanya menahan debaran jantung, tapi juga harus menahan gairahnya. "Aku sudah putus dengan Bella" Adam berucap sembari terus mengusapkan ibu jarinya di bibirnya Alba dan keningnya bergerak pelan lalu menempel di keningnya Alba.


Alba tersentak kaget mendengar kata, Adam telah memutuskan Bella dan secara refleks, ia mendorong tubuhnya Adam.


"Berhentilah membohongi dirimu sendiri dan berhentilah bersikap seolah-olah kamu adalah pendosa yang harus menjauhiku, Ba! Kamu suci di mataku dan cinta yang ada di hati kita berdua ini, juga suci, tidak memiliki dosa sama sekali. Berhenti menghakimi cinta yang ada di hati kita dengan seenaknya, Ba!" Adam berucap sambil memandangi wajah manisnya Alba dengan mata sendu.


Alba memandangi wajah tampannya Adam dengan sorot mata penuh dengan keraguan.


Adam menghela napas panjang lalu ia melangkah maju dan menarik tangannya Alba.


"Dam! Kau mau bawa aku ke mana?" Alba bertanya tepat di depan pintu mobilnya Adam.


"Aku akan ajak kamu sarapan di luar"


"Tapi, aku udah potong-potong sayur dan ......"


"Dan jarimu akan terluka lagi? Nggak! Lebih baik kita sarapan aja di luar. Masuk ke mob atau aku akan mencium kamu. Asal kau tahu, Ba, menahan diri untuk tidak mencium kamu itu berat banget dan ......"


Alba langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Adam menutup pintu mobil dan sambil tersenyum senang ia mengitari mobilnya menuju ke jok kemudi.


Lima belas menit kemudian, kedua sejoli itu telah sampai di sebuah warung sederhana yang menawarkan bubur ayam. "Ini adalah bubur ayam kesukaan kamu, kan? Masih buka juga ya ternyata"


Alba terus menatap Adam tanpa bersuara.


Adam bertanya, "Kenapa kau masih belum mau jujur, Ba? Kamu masih mencintaiku, kan? Sekarang apalagi alasan kamu? Aku udah putus dengan Bella"


"Aku butuh self healing dulu, Dam. Kasih aku waktu"


"Aku akan bersabar menunggu kamu. Tapi, jangan lama-lama, ya?! Karena, pesona kamu sangat kuat untuk bisa aku abaikan"


"Paijo mulai lebay, nih" Alba melancipkan bibirnya ke Adam.


Adam terkekeh geli dan berucap, "Paijo akan terus lebay jika berurusan dengan cintanya pada Baba"


Alba tersenyum lebar dan berkata, "Aku akan kasih jawabannya, setelah persidangan selesai. Setelah kasusku kelar"


"Aku akan sabar menunggu" Adam tersenyum dengan sorot mata penuh cinta ke Alba