I Love You, Adam

I Love You, Adam
Pengacara dan Klien



Pambudi melangkah masuk ke kantor firma hukumnya Adam sambil bergumam, "Pak Adam Baron bahkan membooking empat kamar VVIP itu dan menyewa dua orang petugas kepolisian untuk berjaga di depan pintu masuk ruang Cempaka itu. Wow! hebat"


"Membooking apa? kamar VVIP apa?" Bella tiba-tiba muncul dan berjalan di sampingnya Pambudi.


Pambudi tersentak kaget dan mengerem langkahnya. Ia menoleh, membetulkan letak kacamatanya dan tersenyum ke Bella.


"Ditanya kok malah senyum? Mana Adam? Aku tidak bisa menghubunginya dari kemarin dan sampai siang ini, aku belum bertemu dengannya"


"Emm, Tuan Adam ada perjalanan bisnis ke luar kota selama tiga hari, Non" Pambudi terpaksa berbohong demi kebaikan bersama.


"Tapi, barusan aku dengar ada yang membooking empat kamar VVIP, siapa? Adam yang membooking keempat kamar VVIP itu? tapi, untuk apa?" Bella berdiri di depannya Pambudi lalu menatap tajam Pambudi dengan bersedekap.


"Oh! Itu klien saya. Dia membooking empat.kamsr VVIP untuk istrinya" Pambudi terus mengulas senyum lebar di wajah bulat putihnya yang berkacamata demi untuk menyempurnakan kebohongannya.


Bella akhirnya menghela napas lalu melangkah pergi meninggalkan Pambudi.


Pambudi menatap kepergiannya Bella dengan gumaman, "Maafkan saya Non, saya terpaksa berbohong demi keamanan bersama"


Adam tersenyum lebar lalu berkata, "Nah! Pinter kalau kayak gini, makanannya ludes, jus apelnya juga ludes"


"Emangnya aku anak balita? Habis makan dikatain pinter, Huuffttt! Sabar, Ba!" Setelah mengatakan kalimat itu, Alba melancipkan bibirnya ke Adam.


"Kau ingin aku kecup di bibir, ya?" Adam tersenyum jahil ke Alba dan Alba langsung menutup bibirnya dengan tangan kanannya yang masih terpasang jarum infus.


Adam terkekeh geli dan Adam terkejut saat ia mendengar bunyi ponsel. Adam meraba saku kemejanya, lalu mengambil ponselnya dari sana, dan "Halo? ini siapa?"


"Saya petugas kepolisian yang Anda suruh berjaga di depan pintu masuk ruang VVIP Cempaka. Ada seorang wanita berumur lima puluh tahunan ingin bertemu dengan Anda"


"Oke. Saya ke sana. Terima kasih" Adam langsung mematikan ponselnya lalu menatap Alba, "Ada seseorang mencariku. Aku keluar sebentar nggak papa?"


Alba menganggukkan kepalanya dan mengulas senyum manisnya untuk Adam.


Adam keluar dari kamar rawat inapnya Alba lalu meneruskan langkahnya untuk keluar dari selasar panjang ruang VVIP Cempaka. Adam terkejut dan secara spontan, ia menautkan alisnya dengan tanya, "Kenapa Anda bisa sampai di sini?"


"Saya mengikuti Anda dari kantor polisi tadi pagi dan baru berani masuk ke sini saat ini" Sahut tantenya Alba.


"Mau apa Anda ke sini?" Adam mempersilakan tantenya Alba untuk duduk di sofa mungil yang melingkar cantik di depan lift.


Tantenya Alba duduk dan Adam pun duduk tidak jauh dari tantenya Alba.


"Bolehkah saya menemui Alba. Saya ingin Alba mencabut tuntutannya atas Omnya. Atas suami saya"


"Ta...... tapi kata suami saya, Alba yang selalu menggodanya selama ini!" Karena frustasi, tantenya Alba mulai meninggikan nada suaranya di depan Adam.


"Dan Anda memercayai ucapan suami Anda itu? Anda sendiri yang tahu seperti apa suami Anda, seorang pengangguran dan mata keranjang. Anda pasti pernah memergoki suami Anda melirik atau bahkan melecehkan wanita lain. Anda pasti juga pernah memergoki hal ganjil yang pernah suami Anda lakukan pada Alba"


Tantenya Alba langsung membeku, namun sekujur tubuhnya bergetar hebat saat ia mengingat kelakuan suaminya pada Alba dan beberapa gadis di sekitar rumahnya. Akan tetapi, wanita yang sangat mencintai suaminya itu menggelengkan kepalanya dan bergumam, "Nggak! Suami saya orang baik. Dia suami yang setia"


Adam mulai merengut dan menyipitkan kedua kelopak matanya karena amarah yang mulai menggelegak di dalam hatinya. Lalu Adam berkata dengan nada dingin, "Anda silakan pulang dan lihat daun pintu di kamarnya Alba! Lihat daun pintu di kamar mandi! Anda akan menemukan jejak kebejatan suami Anda di sana. Anda akan melihat jejak ketakutannya Alba pada suami Anda dan dari sana, Anda akan bisa berpikir seperti apa suami Anda itu." Adam kemudian bangkit memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kainnya dan melangkah pergi meninggalkan tantenya Alba menuju ke taman yang mengitari ruang Cempaka untuk menenangkan diri ya terlebih dahulu sebelum masuk ke kamarnya Alba.


Suara dering ponsel dengan nada dering lagu yang pernah ia nyanyikan dengan Adam sewaktu mereka berduet di acara Social Gathering SMA-dulu, mengagetkan Alba. Alba menoleh ke nakas, "Adam punya dua ponsel? Apa itu ponsel khusus untuk keperluan pribadinya?"


Alba mengabaikan dering ponsel yang terus menggema di kamar rawat inapnya karena ia takut salah jika mengangkat panggilan dari ponsel tersebut.


Akhirnya deringan panjang dari ponselnya Adam berhenti dan beberapa detik berikutnya, berganti dengan suara, ping, ping, ping, ping, nada pesan text masuk. Alba menjadi penasaran, ia lalu meraih ponsel itu dan dia menyentuh layar ponselnya, "Oh! Dipassword. Apa ya passwordnya?"


Alba iseng mengetikkan namanya dan terbukalah pesan text itu. "Dia memakai namaku untuk passwordnya? Dia udah gila, ya?Bagaimana kalau Bella tahu dan......."


Alba menghentikan ucapannya saat ia melihat pesan text dari Bella. Alba membaca pelan semua pesan text dari Bella yang ada dari semalam, "Udah bobok, Sayang? Dam, kok nggak bisa aku telpon? Selamat pagi, Sayang, kok kamu nggak angkat telpon lagi? Kamu ke mana aja, Dam? Kamu kan tahu, aku tidak bisa bernapas lega dan tidak bisa tidur nyenyak kalau belum mendengar suara kamu. Apalagi ini, kamu malah menghilang tanpa kabar. Tidak mengangkat telponku. Kalau kamu baca pesan ini, tolong telpon aku. Aku yang selalu mencintai dan merindukanmu" Alba tertegun setelah ia membaca semua pesan text dari Bella. Kemudian, ia meletakkan kembali ponsel itu di atas nakas.


Adam kembali ke dalam kamarnya Alba dan tersenyum sambil duduk di tepi ranjang. Dia bersitatap dengan Alba dan ia terus memandangi wajah manisnya Alba. Adam lalu berkata, "Aku ingin mencium kamu. Kenapa? Karena aku sangat mencintaimu, dari dulu sampai sekarang, rasa itu tidak pernah hilang dari hatiku. Kau juga begitu, kan? Aku lihat cincin couple kita masih kau pakai menjadi kalung di leher kamu"


"Dam, berhentilah berkata kalau kau mencintaiku! Aku tidak pantas untuk kau cintai. Aku memutuskan kamu waktu itu karena, aku merasa tidak pantas untukmu" Alba berkata sambil menundukkan wajahnya. Alba tidak memiliki daya lagi untuk menatap wajah pria yang sesungguhnya sangat ia cintai, tapi tidak boleh ia cintai lagi.


"Kenapa tidak boleh?" Tangan Adam hendak menyentuh dagu pujaan hatinya untuk mengangkat wajah Alba supaya menatapnya dan Alba langsung berkata, "Jangan ada kontak fisik!"


Adam menghela napas lalu menarik kembali tangannya dan bertanya, "Kenapa kau merasa seperti itu? Kenapa nggak pantas? Aku nggak mau lagi menutupi perasaan tulusku ke kamu. Aku sangat mencintaimu, Ba!" Adam mulai meninggikan suaranya karena kesal.


Alba memukuli dirinya sendiri, mengusap lehernya dengan kasar dan berkata, "Kau lihat sendiri kan kondisiku sekarang ini. Aku nggak pantas untukmu. Aku sudah kotor karena laki-laki bejat itu telah mengotori tubuhku ini. Dan aku ini anak yatim piatu, tidak punya tempat tinggal, apa Papa kamu akan mengijinkan kamu mencintai wanita hina seperti aku ini. Apalagi kalau nanti persidangan mulai digelar dan publik tahu tentang aku, korban pelecehan, apa pendapat Papa kamu?"


Adam nekat menyentuh kedua bahunya Alba dan Alba menepis kasar kedua tangannya Adam itu dan kembali berkata dengan masih menundukkan wajahnya, "Berhentilah mencintaiku! Setelah kasus ini selesai, aku akan pergi ke tempat kelahirannya Mamaku. Aku akan..........."


Adam nekat memeluk Alba dan semakin mempererat pelukannya kala Alba meronta-ronta di dalam pelukannya. Adam berkata, "Aku nggak akan pernah melepaskanmu lagi. Aku sudah berjanji pada almarhum Mama kamu, kalau aku akan selalu menjagamu, Ba"


Alba mendorong keras tubuhnya Adam dan ia berhasil melepaskan diri dari pelukannya Adam lalu berkatalah ia, "Hubungan kita sekarang ini adalah pengacara dan kliennya. Jangan ada kontak fisik! Kamu sudah memiliki pendamping yang sangat sempurna, suci, tulus mencintaimu, sangat cantik, pintar dan sukses di dalam karirnya. Maka lupakanlah masa lalu kita!"


Adam meraup kasar wajahnya dan bertanya, "Kenapa tiba-tiba kau bersikap seperti ini? Tadi, kita baik-baik saja. Ada apa?" Adam lalu menangkap ponsel pribadinya di atas nakas dan kembali menatap Alba, "Siapa yang meneleponku tadi? Bella atau Papaku?"


Alba hanya bisa diam membeku dan tetap menundukkan kepalanya.


Adam lalu berbalik badan dan pergi meninggalkan kamarnya Alba begitu saja.