I Love You, Adam

I Love You, Adam
Hati Kecil Berbisik



Alba diam membisu. Dia merasa malas untuk meladeni Adam.


"Kenapa diam, Baba, temanku?" Adam menoleh sekilas ke Alba lalu kembali fokus menyetir mobilnya.


"Berteman yang kau katakan itu bermakna berbahaya bagiku, dasar Paijo!"" sahut Alba dengan masih menempelkan pelipisnya di kaca jendela.


"Dan kata berteman yang kau maksud itu, menyedihkan bagiku, Baba!" Adam menoleh sekilas ke Alba dengan sorot mata kesal.


Alba menegakkan kepalanya dan menoleh ke Adam. Adam melirik Alba dan tersenyum senang melihat Alba sudah mulai menegakkan kembali kepalanya.


"Apa? Kenapa menatapku terus? sudah mulai sadar ya, kalau kau masih mencintai cowok tampan ini" Adam kembali menoleh sekilas ke Alba dengan senyum lebar.


"Aku cuma ingin memastikan kalau kamu tetaplah Paijo yang ngeselin" Alba lalu bersedekap dan mengarahkan pandangannya ke depan.


"Hahahahaha, thank you, Baba!" Adam tertawa renyah dan ia merasa bahagia bisa membuat Alba kembali bersemangat dan tidak loyo lagi dan tidak bersandar terus di kaca jendela.


"Nanti setelah dari makam Mama kamu dan Mamaku, kita pergi ke kantor polisi. Di sana nanti, kita hapus dulu peraturan nggak boleh ada kontak fisik dan hukuman kiss-kiss jika kita melanggar peraturan itu, oke?" Adam melirik Alba sambil terus mengendalikan kemudi mobilnya.


"Kenapa begitu?" Alba menoleh ke Adam dengan wajah kaget.


"Karena, di dalam ruang interogasi, keadaannya akan sangat mencekam. Kau pasti akan butuh dukunganku dan secara spontan, kamu akan mencari genggaman tanganku. Dan jangan ngeyel, Baba!" Sahut Adam.


Alba langsung bergidik ngeri dan menoleh ke Adam dengan sorot mata penuh dengan ketakutan, "Kalau misalnya, aku nggak mau diinterogasi dan nggak mau memberikan kesaksian, gimana?"


"Nggak bisa dong, kamu kan korbannya jadi, kamu harus memberikan kesaksian biar si Iblis itu cepat diproses dan masuk penjara untuk waktu yang sangat lama"


"Apa dia sudah tertangkap?" tanya Alba.


Adam menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Belum"


"Lalu Tanteku?"


"Tante kamu tetap membuka kantinnya tanpa bantuan suaminya" sahut Adam.


"Tante memang tidak pernah mempedulikan aku, tapi Tante juga tidak pernah jahat sama aku. Dia membiayai kuliahku dan......."


"Biaya kuliah kamu diambil dari uang hasil penjualan rumah Mama kamu. Tante kamu tidak sebaik yang kamu kira, dia orang yang egois, Ba. Jangan terlalu polos jadi orang dan jangan terlalu baik sama orang!" Sahut Adam.


Alba hanya bisa menghela napas panjang lalu diam membeku.


Daaannnn......Tiba-tiba......ada bau semerbak di dalam mobilnya Adam. Adam langsung meminggirkan mobilnya dan memencet semua tombol untuk membuka semua kaca jendela mobilnya secara otomatis. Lalu pengacara tampan itu menoleh ke Alba dan melihat Alba tengah menundukkan wajahnya sambil mengulum bibir.


"Kamu kentut ya Baba? Gadis manis seperti kamu kok ya bisa-bisanya punya bau kentut separah ini. Wah! Wah!" Adam mengibas-ngibaskan tangan kanannya di depan kedua lubang hidungnya.


Alba menoleh ke Adam dengan rona merah di wajahnya dan berucaplah ia dengan nada malu, "Semua orang kalau tegang perutnya pasti akan terasa sakit dan kentutnya pasti bau"


Alba terkekeh geli dan berkata, "Aku juga nggak nyangka semua kok nuduhnya Abdul yang kentut. Dan sampai sekarang ini, hanya aku, Abdul,kamu, dan Tuhan yang tahu kalau saat itu aku yang kentut, hehehehehe"


"Wah! Benar-benar parah kamu, Baba!" Adam menggeleng-gelengkan kepalanya ke Alba.


"Maaf. Kan kentut itu nggak bisa ditahan dan juga nggak bisa kita atur baunya" Sahut Alba.


Adam tersenyum lebar dan berkata, "Tapi, aku tetap mencintaimu sampai sekarang walaupun kamu punya gas kentut dengan bau busuk di badan kamu itu. Bahkan parfum mahal yang aku pasang di mobil ini, kalah dengan bau kentut kamu. Tzk!


"Paijo! Kamu kalau pas sakit perut dan tegang, kentut kamu juga pasti bau" Alba mendelik ke Adam.


Adam terbahak-bahak mendengar nada protesnya Alba lalu ia menutup kembali semua jendela pintu mobilnya, memasang kembali sabuk pengamannya setelah bau kentutnya Alba hilang.


Beberapa menit berikutnya, Adam dan Alba berdiri di depan makam mamanya Alba yang masih berwujud tanah dan belum dikeramik.


"Ma, Adam datang. Maaf kalau Adam datang terlambat. Tapi, Adam janji, Adam akan menjaga Alba. Mama jangan khawatir, ya?!"


Alba menoleh sekilas ke Adam lalu ia berucap, "Ma, Adam sudah memiliki tunangan yang sangat cantik dan sempurna jadi........"


"Baba! Kok kamu sebutkan tunanganku di depan Mama kamu?"


Alba mengabaikan Adam dan melanjutkan kalimatnya yang sempat tergantung, "Alba udah gede. Alba bisa menjaga diri Alba sendiri. Mama jangan khawatir, ya?!"


"Tapi, Adam akan putuskan tunangannya Adam, Ma. Karena, pertunangan itu salah sedari awal dan Adam tidak mencintainya. Adam hanya mencintai Alba dari dulu sampai sekarang dan......."


Adam menoleh ke samping dan menghela napas panjang saat ia melihat Alba melangkah menjauhi makam dan menjauhi dirinya. Adam lalu menganggukkan kepalanya di depan makam sambil berkata, "Saya pamit, Ma dan akan datang lagi nanti untuk merapikan makam Mama" Adam kemudian berlari menyusul Alba.


Tempat Pemakaman Umum itu tampak sepi karena mereka berkunjung di hari kerja dan di siang hari.


Dan dalam perjalanan menuju ke makam mamanya Adam. Suasana di dalam mobilnya Adam sunyi dan senyap. Adam lalu menghidupkan radio untuk mengisi kesunyian itu.


Penyiar radio bercuap-cuap riang di salah satu gelombang radio favoritnya Adam. Dan penyiar radio tersebut lalu memutarkan lagu Iwan Fals yang berjudul, 'Yang Terlupakan'


Dan Adam ikut menyenandungkan lagu tersebut di lirik, "Hati kecil berbisik untuk kembali padanya.Sribu kata menggoda.Sribu sesal di depan mata seperti menjelma..........." Adam melirik Alba dan Alba kembali menempelkan pelipisnya di kaca jendela.


"Lagu ini cocok untuk aku. Untuk kita. Benar, kan?" Adam menoleh sekilas ke Alba dan Alba bergeming.


"Aku merindukan kamu yang dulu dinamis, ceria, ceroboh, dan sering tersenyum. Aku menyesali keberangkatanku ke Amerika kala itu karena, keegoisanku itu, takdir merenggut semua tawa dan keceriaanmu. Maafkan aku, Ba?!"


Alba berkata lirih tanpa menoleh ke Adam, "Aku tidak pernah menyalahkan kamu. Jadi, tidak perlu ada kata maaf"


Adam menghela napas panjang dan kembali menyenandungkan lagu 'Yang Terlupakan' dengan penuh penghayatan dan tanpa Adam ketahui, Alba mengusap beberapa rintik air mata yang jatuh di pipinya