
Adam lalu menarik bibirnya dari bibir Alba dan mendesis dan pingsanlah Adam di dalam dekapannya Alba.
Dan Alba langsung berteriak dengan sangat kencang, "Tolong!!!!!'
Tiga orang perawat laki-laki berlari mendekat dan langsung membawa Adam kembali ke kamar.
Alba sudah tidak bisa lagi mengendalikan kesedihannya. Alba menangis deras sambil terus memeluk Adam di atas ranjang rumah sakit.
Dokter Felix sang pemilik rumah sakit khusus untuk penderita kanker itu, berlari masuk ke dalam kamarnya Adam bersama dengan tim medisnya. Bella Fastro ada di antara tim medisnya Dokter Felix.
Dokter Felix memerintahkan Alba untuk melepaskan pelukannya dan menjauh dari bed-nya Adam karena, Adam akan diperiksa
Alba melangkah mundur dengan derai air mata yang tidak kunjung surut. Alba terus memandangi Adam dan beberapa.menit berikutnya, Alba sudah tidak bisa melihat Adam lagi karena, Adam sudah dikerubungi oleh para tim medis.
Alba terus menangis dan ia bergumam lirih di sela isak tangisnya, "Andai aku bisa berganti posisi denganmu Dam, aku rela menanggung sakit itu, tapi kenapa justru kamu yang harus menanggung sakit itu, Dam?"
"Bawa Adam ke kamar operasi segera dan hubungi Papanya!" Perintah Dokter Felix ke tim medisnya.
Tim medis langsung menelepon perawat untuk membawa Adam ke kamar operasi. Dan Bella langsung menghubungi Alex Baron.
Dokter Felix memutar badan untuk melihat Alba dan Dokter itu melihat Alba langsung berlari menyusul bed-nya Adam yang telah didorong oleh dua orang perawat laki-laki menuju ke kamar operasi. Dokter Felix menatap punggungnya Alba yang berlari menjauhinya dengan wajah sendu dan bergumam, "Kasihan sekali Alba" Kemudian Dokter Felix melangkah keluar dari dalam kamar rawat inapnya Adam untuk bersiap melakukan operasi pengangkatan tumor yang bersarang di dalam kepalanya Adam Baron.
Alba ditahan di depan pintu kamar operasi oleh perawat yang mendorong bed-nya Adam dengan kata, "Maaf Nyonya Adam Baron, Anda hanya bisa mengantar suami Anda sampai di sini saja. Nanti kalau sudah selesai operasinya, akan ada pemberitahuan. Silakan Anda menunggu di ruang tunggu sebelah sana!"
Alba menatap pintu kamar operasi yang tertutup untuk ya dengan derai air mata. Alba langsung menggumamkan doa pribadi, "Tuhan, lancarkanlah operasi suami hamba dan berikanlah pemulihan pada suami hamba secepatnya pasca operasi nanti, Tuhan. Amin"
Di dalam kamar.operasi, dokter anestesi, dokter spesialis yang memiliki tanggung jawab memberikan anestesi (pembiusan) sebelum pasien menjalani operasi atau prosedur medis lainnya, menoleh ke Dokter Felix, "Dok, cincin pernikahan dan Kalung pasien, diserahkan ke siapa?"
"Emangnya tadi belum dilepas?"
"Belum" sahut dokter anestesi.
Bella yang berada di dalam kamar operasi langsung menyahut, "Serahkan ke saya saja. Saya akan kasih ke Istrinya Adam sekarang" Bella menerima cincin pernikahannya Adam dan kalungnya Adam lalu melangkah keluar dari dalam kamar operasi. Namun, alih-alih mencari Alba untuk memberikan cincin pernikahannya Adam dan kalungnya Adam ke Bella, ia melangkah menuju ke ruang kerjanya dan memasukkan cincin pernikahannya Adam dan kalungnya Adam ke dalam tas kerjanya, lalu ia melangkah kembali ke ruang operasi.
Saat Alba berputar badan hendak melangkah menuju ke ruang tunggu, Satya berlari mendekatinya, "Gimana Adam?"
"Mas Adam sudah masuk ke dalam kamar operasi. Kita diminta menunggu di ruang tunggu" Sahut Alba sambil meneruskan langkahnya menuju ke ruang tunggu dan Satya mengikuti langkahnya Alba.
Alba duduk di kursi terdepan dan Satya duduk di sebelahnya Alba.
Satya lalu memberikan sebuah amplop berwarna putih ke Alba.
"Apa ini?" tanya Alba.
"Bukalah! Aku menemui dokter yang memeriksa.kamu tadi siang. Dan aku berhaseminta.hasil pemeriksaan lab atas kamu dipercepat dan itu hasilnya" Sahut Satya.
Alba mengusap air mata di pipinya yang sudah mulai mengering dengan punggung tangan kirinya lalu ia membuka amplop berwarna putih itu dengan kedua tangannya. Alba mengambil secarik kertas dari dalam amplop itu dan membuka lipatannya.
Alba tertegun melihat tulisan positif di atas kertas yang ia pegang. Kemudian istri Adam Baron yang berwajah manis dan lembut itu, menoleh ke Satya, "Ini artinya........."
"Kamu hamil Ba. Kata dokter, kehamilan kamu baru berumur satu Minggu. Selamat, ya" Satya menyalami Alba dengan senyum tulusnya.
Alba mematung dan wajahnya tampak kebingungan. Alba tidak tahu bagaimana harus merespons kehamilannya.
"Kata dokter tadi, kamu harus menjaga kehamilan kamu Ba. Karena kehamilan kamu masih sangat muda. Dan vitamin kamu juga udah aku tebus, ada di dalam tas kerjaku ,tapi karena tergesa-gesa kemari, tas kerjanya tertinggal di mobil. Nanti, aku ambilkan"
"Terima kasih, Kak. Habisnya berapa? Aku akan ganti" Alba mengambil uang dari dompetnya Adam yang ia bawa di dalam tas selempanganya.
Alba kembali berucap, "Terima kasih banyak, Kak"
"Dompetnya Mas Adam ada padaku, apa aku harus memberikannya ke Papanya Mas Adam, nanti?" tanya Alba.
"Masukan dompet itu ke dalam tas kamu lagi! Itu dompet suami kamu, kamu berhak menyimpannya dan nggak usah kamu kasihkan ke Papanya Adam" Sahut Satya.
"Kakak yakin?" tanya Alba.
"Tentu saja yakin. Adam pasti memiliki pemikiran yang sama denganku. Udahlah masukan lagi dompetnya Adam ke dalam tas kamu!" sahut Satya dengan wajah serius.
Alba memasukkan kembali dompetnya Adam ke dalam tasnya.
"Ada kartu hitamnya Mas Adam di dalam dompet tadi dan beberapa kartu ATM. Apa aku boleh menyimpannya, Kak?"
"Boleh. Itu hak kamu sebagai Istrinya Adam" Sahut Satya dengan nada dan wajah serius.
Dua jam berlalu dan Satya bangkit, dan Alba langsung menoleh untuk bertanya, "Mas mau ke mana?"
"Aku akan belikan makanan dan minuman untuk kamu. Kamu pengen apa?" Sahut Satya.
Alba menggelengkan kepalanya, "Aku malas.makan, Kak. Kenapa operasinya Mas Adam lama banget?"
"Kata Dokter Felix, operasinya Adam akan memakan waktu kurang lebih enam jam" Sahut Satya. "Kamu harus makan, Ba. Ingat ada bayi di dalam.kandunganmu dan......."
"Gugurkan bayi itu!" Suara Alex Baron menggelegar di ruang tunggu operasi.
Satya dan Alba tersentak kaget dan langsung menoleh ke asal suara. Mereka berdua bersitatap dengan sorot tajam kedua bola mata birunya Alex Baron.
Alba menggelengkan kepalanya sambil memegangi perutnya, dan Satya langsung berteriak geram, "Om sadar Om! Janin yang ada di dalam perutnya Alba adalah anaknya Adam Baron, cucunya Om"
"Aku tidak yakin itu anaknya Adam mengingat dia itu anaknya Banuwati yang......."
"Hentikan!" Tanpa sadar Alba berteriak kencang. Lalu Alba berkata dengan suara lirih, "Jangan hina lagi Mama saya! Dan jangan hina anak saya! Ini anaknya Mas Adam, Pa"
"Jangan panggil aku Papa. Aku sudah membatalkan pernikahanmu dengan Adam. Kau bukan menantuku lagi. Pergilah! Tinggalkan Adam!"
Alba langsung membalikkan badan dan pergi meninggalkan Alex Baron tanpa kata. Alba meninggalkan Adam karena harga dirinya terluka sangat dalam dan dia tidak ingin membahayakan kandungannya jika ia terus berada di dekatnya Adam dan Alex Baron
Satya langsung berlari menyusul Alba.
Alba menoleh ke Satya, "Kak, bisa antarkan aku kembali ke kampung halamannya Papa dan Mamaku?"
"Bisa. Aku akan antarkan kamu..........."
"Sekarang juga, Kak" Sahut Alba.
"Baiklah. Aku akan antarkan kamu sekarang juga. Tapi, kita harus makan dulu karena, perjalanan ke kampung halaman Papa kamu, sangat panjang. Anak kamu butuh makan dan minum vitaminnya"
"Baiklah" Sahut Alba.
Dan di hari itu juga, Alba menuju ke kampung halaman Papanya dan Mamanya Satya yang menjadi kepala desa di sana, bersedia menampung Alba karena, Mamanya Satya memiliki hutang budi pada Papanya Alba. Namun, hutang budi apa itu, Mamanya Satya belum bersedia untuk menceritakannya.
Alba tinggal di sana sejak hari itu.