I Love You, Adam

I Love You, Adam
Juara



Noah dan Adam turun dari panggung dan entah apa yang menggerakkan kakinya untuk mengejar laju larinya mamanya Noah, Adam tidak mengetahuinya. Adam hanya ingin mengikuti naluri dan kata hati nuraninya untuk berlari mengejar mamanya Noah.


Noah langsung menggenggam tangannya Satya saat Satya berbalik badan hendak mengejar mamanya. Noah langsung berkata saat Satya kemudian berjongkong di depannya, "Om, penampilan Noah tadi, keren nggak?"


Satya langsung mengacungkan ibu jarinya di depan Noah, "Keren banget. Dan kau tahu, penampilan kamu adalah yang terbaik. Om yakin kamu akan dapat piala dan hadiah, nanti"


"Benarkah?" Noah langsung memeluk Satya dan terus menahan Satya di sana dengan ocehannya karena, Noah tidak ingin om Satyanya mengganggu kebersamaan mama dan laki-laki yang ia yakini adalah papa kandungnya.


Adam duduk di sebelahnya Alba dan entah kenapa, Adam merasa sedih melihat mamanya Noah menangis. Adam secara refleks menarik kedua bahunya Alba hingga wajah Alba menghadap ke dia. Alba tersentak kaget dan di saat Alba mengangkat tangan ingin mengusap air matanya, Adam bergerak lebih cepat mengusap air matanya Alba.


"Kenapa kamu menangis" Adam bertanya dengan nada sedih.


Alba hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tertegun menatap wajahnya Adam yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya.


Adam merapikan rambutnya Alba dan berucap, "Kenapa aku bisa sesedih ini melihatmu menangis. Tolong jangan menangis lagi, oke?"


Alba langsung mendorong dadanya Adam untuk menjauh darinya karena, jarak mereka yang sangat dekat, membuat Alba kesulitan untuk bisa bernapas lega.


Alba lalu memberikan satu plastik berisi obat dan botol mineral kecil yang ia ambil dari dalam tas selempangnya laku berucap, "Minumlah vitamin ini! Dokter Felix yang menyuruh aku eh saya memberikannya ke kamu eh Anda"


"Aku merasa wajah kamu familier dan aku rasa kita tidak perlu memakai bahasa formal. Lagian, Noah dan aku udah berteman dekat sekarang ini" Sahut Adam sembari menerima plastik berisi vitamin dan botol air mineral mini. Adam segera meminum vitamin itu tanpa ragu karena, entah kenapa ia merasa wanita yang baru ia temui kemarin tanpa sengaja itu, membuat hatinya menaruh kepercayaan yang sangat besar.


Alba lalu berdiri, "Aku harus kembali ke kelas. Sebentar lagi pengumuman pemenangnya. Aku ingin melihat Noah naik ke panggung kalau Noah menang"


Adam ikutan berdiri sambil berucap, "Aku juga ingin melihatnya. Aku senang melihat senyumnya Noah"


Adam dan Alba berjalan beriringan menuju ke kelasnya Noah dan entah kenapa, Adam memiliki keinginan yang sangat kuat untuk menggenggam tangannya Alba, namun ia tahan keinginan itu karena, Alba masih tampak asing bagi kedua bola matanya walaupun insting, naluri, dan hati nuraninya mengatakan kalau ia dan Alba ada ikatan yang sangat kuat.


"Terima kasih sudah bersedia menemani Noah bercerita" Alba berucap sembari melangkah dan menatap rumput yang ia lalui.


"Sama-sama" Sahut Adam sembari menoleh dan tetap melangkah ia memandangi pucuk kepalanya Alba lalu ia berkata di dalam hatinya, Aku rasa aku jatuh cinta pada wanita ini pada pandangan pertama kemarin. Aku tidak pernah berdebar seperti ini saat aku berada di sampingnya Bella. Apa benar kalau Bella adalah tunanganku? Bagaimana bisa aku bertunangan dengan Bella kalau aku tidak pernah merasakan apapun pada Bella.


Satya langsung menarik tangannya Alba dan bertanya, "Kau baik-baik saja?"


Dan tindakannya Satya menarik tangannya mamanya Noah, membuat Adam kesal. Dan Adam bertanya kembali di dalam hatinya, Kenapa aku kesal melihat mamanya Noah beridri sedekat itu dengan laki-laki itu dan kenapa hatiku panas melihat tangannya mamanya Noah digenggam laki-laki itu?


Adam langsung tersentak kaget saat namanya dipanggil dan ia diminta naik ke panggung bersama dengan Noah. Noah berhasil menjadi juara pertama dan Adam langsung menggendong Noah saat Noah menerima piala dan Hadiah. Alba kembali merasa terharu, tapi ia berhasil menahan air matanya. Alba tersenyum bahagia menatap kebersamaannya Noah dan Adam dengan mata berkaca-kaca dan di saat itu, Satya mulai sadar untuk kembali menjauhi Alba. Untuk kembali mengubur harapannya akan cintanya Alba.


Noah tertawa senang dan bangga lalu berucap di dalam gendongan mamanya Satya, "Semua berkat Papa Bintang juga, Oma. Papa Bintang hebat tadi"


Adam tersenyum lebar dan sambil mengusap kepalanya Noah ia berucap, "Papa Bintang cuma menemani kamu aja. Kamu yang hebat, Nak. Papa bintang bangga sama kamu"


"Om Satya juga bangga sama kamu" Satya ikutan mengusap kepalanya Noah dan Adam langsung mendelik ke Satya, "Kenapa kau ikutan mengusap kepalanya Noah?"


"Emangnya kenapa, dia kan........."


"Udah! Nggak usah ribut. Ayok buruan masuk ke dalam! Mama udah masak untuk makan siang. Ayok kita makan siang bersama untuk merayakan kehebatannya Noah"


Alba langsung mencium pipinya Heni, "Makasih, Ma"


Satya langsung berucap, "Maaf, aku tidak bisa ikut bergabung makan siang. Ada hal penting yang harus aku kerjakan dan aku harus balik ke kantorku" Satya mencium pipinya Heni lalu mencium Noah, pamit sama Alba, dan menepuk singkat bahunya Adam lalu ia berlari masuk kembali ke dalam mobilnya.


Dan di tengah makan siang, Adam tiba-tiba nyeletuk, "Berapa harga sewa pondok yang saya pakai tidur semalam?" Adam menatap Heni.


Heni tersenyum, "Pondoknya tidak disewakan. Kenapa memangnya?"


"Saya akan lama berada di kota ini karena ada pembangunan hotel baru saya di kota ini. Tapi, saya tidak suka tinggal sendirian di hotel. Saya lebih suka tinggal di dekat kalian. Untuk itulah saya ingin menyewa pondok yang saya pakai tidur semalam"


Heni dan Alba bersitatap dan Noah langsung memekik riang, "Horeeeee!!! Papa Bintang akan tinggal di dekatnya Noah"


Adam tertawa senang melihat wajah gembiranya Noah.


Melihat Noah begitu gembira, Heni akhirnya berkata, "Baiklah. Kau boleh sewa pondok itu. Harganya kau diskusikan dengan Alba, Mamanya Noah"


"Tapi, Ma"


"Uangnya bisa kau simpan untuk biaya masuk SD-nya Noah. Noah sebentar lagi kan enam tahun dan anak secerdas Noah, aku rasa tahun depan di umurnya yang genap enam tahun, Noah udah bisa masuk SD" sahut Heni.


Adam langsung bangkit berdiri, membungkukkan badannya dan mengucapkan, "Terima kasih banyak, Nyonya. Anda orang yang sangat baik. Tuhan pasti akan memberikan Anda panjang umur dan berlimpah rejeki"


"Amin" Heni, Noah dan Alba mengucapkan kata Amin secara bersamaan.


Adam lalu menegakkan kembali badannya dan duduk kembali di kursinya dengan wajah semringah. Dia bertekad ingin memenangkan hati mamanya Noah dan seketika itu juga ia melupakan Bella Fastro, tunangan yang tidak pernah membuat dadanya berdebar kencang.