
Alba sampai di sekolahan dan langsung berlari menuju ke kelasnya setelah ia mengunci sepeda onthelmya. Ayu yang ditinggalkan oleh Alba berteriak-teriak memanggil Alba sembari berlari kencang menyusul Alba.
Alba sampai di kelas langsung menaruh tas sekolahnya di kursi dan menyapa Adam, "Hai"
Adam diam saja tidak membalas sapaannya Alba dan tidak menoleh ke Alba.
Ayu memeprhatikan Adam dan Alba lalu bertanya, "Kalian bertengkar, ya?"
Adam merengut dan mengabaikan pertanyannya Ayu..Alba duduk sambil tersenyum ke Ayu lalu berkata, "Kami tidak bertengkar kok, hehehhehe"
Dan Adam mengabaikan Alba di sepanjang pelajaran. Tepat di saat bel tanda istirahat pertama berbunyi nyaring, Adam menulis di secarik kertas lalu mendorong kertas itu ke samping kanan hingga sampai di depan matanya Alba.
Alba menunduk untuk membaca kertas itu, "Aku tunggu kamu di ruang musik, kita perlu bicara banyak hal" Alba menoleh ke kiri dan Adam sudah menghilang
Alba melipat kertas itu, memasukkannya ke dalam saku seragam sekolahnya lalu bangkit dan berjalan menuju ke ruang musik.
"Ba! Kamu mau ke mana?!" teriakannya Ayu menghentikan langkahnya Alba.
"Nggak ikut kami ke kantin?" Sahut Theo.
Alba menoleh ke Ayu dan ke Theo, "Kalian duluan aja ke kantin. Aku mau ke toilet sebentar" Alba tersenyum ke kedua sahabatnya itu lalu ia berbalik badan untuk berlari cepat menuju ke ruang musik. Alba tidak ingin membuat Adam bertambah marah kalau sampai menunggu lama di ruang musik.
Alba membuka pintu ruang musik dan Adam langsung menutup pintu itu lalu menguncinya.
"Kenapa dikunci?" Alba menautkan kedua alis hitamnya yang berbentuk bulan sabit secara alami.
Adam menyerahkan tiga lembar amplop ke Alba. Alba menerimanya dengan tanya, "Apa ini"
"Aku rasa surat cinta. Hebat juga ya kamu, punya banyak pengagum dan kamu malah menyembunyikan hubungan kita?" Adam menatap Alba dengan sorot mata tajam penuh dengan kekesalan.
Alba menyobek ketiga amplop itu di depan Adam sembari berkata, "Surat ini tidak penting" Alba lalu membuang ketiga amplop yang telah ia sobek-sobek ke keranjang sampah yang terbuat dari plastik berwarna merah menyala.
"Doni juga menemuiku tadi di parkiran sekolah Dia menyatakan cinta ke kamu kan kemarin malam? Dan kamu juga tidak cerita ke aku?"
"Doni? Ngapain Doni ke sekolahan ini dan menemui kamu? Dia kan sekolahnya lumayan jauh dari sini?" Alba berkata dengan wajah polos tanpa dosa.
Adam menjadi semakin kesal, "Doni bertanya padaku, apa aku tahu siapa pacar kamu. Aku ingin berteriak ke Doni kalau aku adalah pacar kamu tapi, aku masih bisa bersabar dan berpikir panjang. Kalau Doni tidak tahu bahwa akulah pacar kamu, berarti kamu juga belum mengatakannya ke Doni, kan? Kenapa?"
"Bukan kenapa-kenapa. Doni tidak tanya siapa pacarku. Waktu aku bilang ke dia kalau aku sudah punya pacar, Doni langsung pamit pulang dan pergi" Alba berkata dengan suara bergetar menahan tangis.
"Lalu kenapa kau sembunyikan hubungan kita dari Ayu?"
"Itu karena, kemarin malam, Ayu mengaku kalau dia mencintai kamu. Aku tidak ingin membuat Ayu sedih dan kecewa dengan mengatakan kalau aku sudah jadian sama kamu" Tes......tes.....tes......air mata Alba mulai menetes di kedua pipi chubby-nya.
Alba mengucapkan kata, "Aku yang seharunya meminta maaf" Dan semakin kencang tangisannya.
Adam mengelus punggungnya Alba dan berucap, "Iya, iya. Kamu memang yang salah dan aku tidak pernah salah"
Alba langsung menarik diri dari pelukannya Adam lalu memukul pelan dadanya Adam beberapa kali dengan wajah cemberut. Adam menggenggam tangannya Alba lalu ia tarik dan ia peluk kembali tubuh pujaan hatinya itu dengan tawa menggelegar lalu berkatalah ia, "Tapi sejak detik ini, aku akan rela dan ikhlas berada di pihak yang salah"
Alba melingkarkan lengannya di pinggangnya Adam sembari berkata, "Karena kamu memang salah. Marah-marah nggak jelas dan bikin aku ketakutan setengah mati"
"Kamu takut kenapa? Wajahku mengerikan ya pas aku marah?"
"Bukan karena wajah kamu yang mengerikan yang bikin aku ketakutan tapi, emang iya sih, wajah kaku mengerikan pas kamu marah, tapi aku lebih ke takut kehilangan kamu. Aku takut kamu minta putus sama aku"
Adam tertawa senang mendengar kalimat yang meluncur manis dari mulutnya Alba. Lalu ia mendorong kedua bahunya Alba dengan pelan, ia usap kedua air mata di kedua pipinya Alba lalu ia kecup satu persatu kedua kelopak matanya Alba, kemudian ia bertanya, "Lalu sekarang apa mau kamu? Aku ikuti saja mau kamu. Karena aku juga takut kamu minta putus jika aku bertindak tidak sesuai dengan kemauan kamu"
Alba tersenyum lebar lalu berkata, "Aku akan kasih tahu ke Ayu pelan-pelan. Kasih aku waktu selama seminggu"
"Oke" Adam menatap wajah manisnya Alba dengan senyuman terbaiknya.
"Kenapa kamu tadi nggak bilang aja ke Doni kalau pacarku adalah kamu?"
"Karena kamu nggak bilang ke Doni jadi, aku pikir aku butuh bicara dulu sama kamu" Adam kembali mengulas senyum.
"Kau tahu, kau seribu kali lebih tampan kalau tersenyum jadi, jangan tersenyum sembarangan ke gadis-gadis dan wanita-wanita di luar sana!"
Adam terkekeh geli lalu berucap sambil mengelus pipinya Alba, "Iya. Kau tahu sendiri kan, aku jarang tersenyum dan aku hanya akan berikan senyumanku ini untuk kamu, Manisku"
Alba tersenyum senang lalu ia berjinjit hendak mencium pipinya Adam tapi tanpa Adam sengaja, Adam menoleh dan bibirnya menyentuh bibirnya Alba.
Alba dan Adam saling menarik wajah mereka dengan terkejut lalu keduanya menundukkan wajah mereka. Beberapa detik kemudian keduanya terkikik geli dan Adam berkata sambil mengangkat wajahnya, "Maaf nggak sengaja"
Alba langsung berbalik, membuka kunci pintu lalu berlari cepat saat pintu ia buka lebar dan terus berlari kembali ke kelasnya dengan wajah merah.
Adam terkekeh geli. Kemudian, pemuda tampan itu memasukkan kedua tangannya ke kedua saku celana seragamnya yang berwarna abu-abu, melangkah menyusul Alba setelah ia menutup rapat pintu ruang seni.
Nindya melihatnya. Nindya kemudian bertanya-tanya di dalam benaknya, kenapa Alba berlari kencang dari dalam ruang seni? Lalu beberapa menit kemudian, Adam pun keluar dari dalam ruang seni? Ada apa dengan mereka?
Hari pun berganti Minggu dan hasil dari kejujurannya Alba ke Ayu bahwa ia sudah jadian dengan Adam, membuat Alba benar-benar kehilangan Ayu. Ayu marah besar karena ia merasa malu telah menyatakan cintanya untuk Adam dengan lugunya di depannya Alba padahal di saat itu, Alba sesungguhnya telah berstatus pacarnya Adam, Ayu merasa kalau Alba tega mempermalukan dan mempermainkannya. Ayu juga kecewa dengan Alba karena tega merebut Adam padahal Alba tahu kalau Ayu sangat mencintai Adam.
Alba tertegun saat Ayu menangis dan pergi meninggalkan Alba setelah mengucapkan kata, "Mulai detik ini, kamu bukan sahabatku lagi"