I Love You, Adam

I Love You, Adam
Paijo dan Baba



Adam meringis kesakitan dan setelah ia meletakkan omelet ala Adam di atas piring, ia meletakkan sikunya di atas meja makan lalu membuka kedua telapak tangannya menengadah ke atas untuk ia pakai meletakkan keningnya.


Adam beberapa kali mendesis dan hampir menyerah di saat pening berbalut nyeri terus menghantam kepalanya.


Alba berlari dan mematikan kompor lalu menoleh ke Adam, "Paijo! Kamu ceroboh sekali sih?! Membiarkan kompor tetap menyala?


Adam terkekeh geli mendengar kata Paijo keluar dari mulutnya Alba. Dulu, Alba sering mengganti namanya dengan Paijo kalau ia berulah dan menimbulkan kekesalan di hatinya Alba. Adam kembali mendesis kesakitan saat nyeri kembali menghantam kepalanya.


Alba mengernyit dan melangkah mendekati Adam, "Makanya Paijo, jangan mabuk-mabukkan!" Tanpa Alba sadari ia menepuk bahunya Adam.


Adam yang belum merubah posisi duduknya dan masih menopang keningnya dengan kedua telapak tangannya, berkata dengan daya yang sangat lemah, "Kau melakukan kontak fisik barusan"


"Ah! Maaf! Tapi, barusan aku hanya menepuk bahu kamu" Protes Alba.


"Ssshhhh! itu tetap kontak fisik, Baba!" Sahut Adam dengan nada kesal.


"Aku akan terus menepuk bahu kamu, Paijo! Karena kamu bikin aku kesal" Alba berkata sembari memberikan tiga tepukan cukup keras di bahunya Adam karena kesal. "Sebentar, aku sepertinya menyimpan obat anti nyeri dari Bella di saku celanaku" Alba berlari ke kamar dan bergegas kembali ke Maja makan setelah menemukan obat pereda nyeri.


Alba memberikan obat pereda nyeri ke Adam lalu menuangkan segelas air putih dan menyerahkannya ke Adam sambil berkata, "Jangan mabuk-mabukan lagi kayak kemarin ha Paijo! Aku akan mendiamkan kamu selama-lamanya kalau kamu mabuk lagi"


Adam meminum obat itu, meletakkan gelas di atas meja makan lalu menatap Alba dengan senyum lebar.


"Aku marah beneran nih! Kok malah senyum-senyum nggak jelas kayak gitu"


Adam melebarkan senyumannya lalu berucap, "Aku senang mendengarkan omelan kamu. Aku senang bisa mendengar kembali nama Paijo muncul di muka bumi ini dan aku senang kamu menepuk bahuku beberapa kali. Tapi, tepukan di bahuku tadi adalah sebuah pelanggaran dari peraturan yang kamu buat sendiri. Kamu yang buat peraturannya dan aku yang akan menentukan hukumannya jika peraturan itu dilanggar, gimana?"


Alba yang merasa malu dan merasa bersalah karena telah melanggar peraturan yang telah ia buat sendiri akhirnya berkata, "Oke! Setuju! Kamu yang tetapkan hukumannya jika salah satu di antara kita melanggar peraturan itu"


Adam menarik tengkuknya Alba dengan cepat dan menempelkan bibirnya ke bibirnya Alba, menekannya lembut dan menciumnya dengan penuh perasaan .Alba terkejut dan membeliakkan matanya.


Adam melepaskan bibirnya Alba, menarik wajahnya dan berkata, "Itu hukumannya. Kalau aku melanggar peraturan yang kau buat dengan seenak jidat kamu itu, kamu harus menciumku sama seperti yang aku lakukan barusan"


"Nggak mau! Kau bisa jahil dan sengaja melakukan kontak fisik nanti, itu nggak adil!" Alba melotot ke Adam. "Dasar mesum!"


"Lho! Kamu udah setuju tadi. Apa sekarang, kamu berubah jadi orang yang suka melanggar hukum?" Adam bersedekap di depannya Alba sambil tersenyum geli dan secara ajaib, sakit kepalanya seketika itu hilang


"Terserah kamu Paijo! Tapi, kalau kamu sengaja melakukan kontak fisik hanya agar supaya aku mencium kamu, maka aku akan patahkan leher kamu"


"Oke Baba! Setuju, hahahahahaha!" Adam langsung menggemakan tawa riangnya ke udara.


Alba lalu bertanya dengan lirih dan tidak berani menatap Adam, "Emm, bagaimana caranya menghilangkan bekas merah keunguan di leher dan dadaku? Aku baru menyadarinya pas aku mandi tadi. Ter.....ternyata bekas merah keunguannya lumayan banyak. A.....aku gosok beberapa kali pakai sabun, nggak bisa hilang"


Adam tertegun dan membeku menatap Alba dari samping. Adam mengepalkan kedua tangannya di atas meja dan bangkit meninggalkan Alba. Adam kembali diserang kecemburuan dan emosi yang luar biasa besar. Adam melangkah lebar ke teras belakang rumah milik sepupunya Pambudi itu.


Alba yang masih menunduk di atas meja makan, terisak menangis. Dia menyangka, kalau Adam merasa jijik padanya karena dia adalah seorang wanita dengan noda napsu liar dari seorang laki-laki bejat yang tidak bermoral. Alba kembali merasa hina dan kembali didera rasa rendah diri yang begitu besar.


Setelah berhasil meredakan emosinya, Adam kembali ke meja makan dan tertegun melihat Alba terisak menangis. Adam lalu berkata, "Aku ingin memelukmu. Apakah boleh?"


Alba menggelengkan kepalanya tanpa menoleh ke Adam. Alba semakin terisak dan semakin dalam menundukkan kepalanya.


Adam duduk kembali di sampingnya Alba dan berucap, "Tan....tanda itu akan hilang dengan sendirinya tapi butuh waktu beberapa hari. Kau bisa pakai syal untuk menutupinya atau pakai baju berkerah tinggi. Aku udah suruh Pambudi membelikan beberapa blus dan kaos yang berkerah tinggi dan syal juga. Pakailah nanti!. Sekarang sarapan dulu, setelah sarapan, aku ingin ke makam Mama kamu dan ke makam Mamaku. Kita minta restu ke kedua Mama kita agar kita bisa menang di pengadilan nanti dan berhasil menjebloskan iblis itu ke penjara"


Alba mengangkat wajahnya dan mengusap kedua pipinya lalu mengambil sedikit nasi dan satu cuilan kecil omelet ala Adam kemudian memakannya dalam kebisuan.


Adam melakukan hal yang sama. Setelah mereka akhirnya berada di dalam perjalanan menuju ke makam kedua Mama mereka, berkatalah Adam, "Setelah dari makam, kita ke kantor polisi, Pihak berwajib membutuhkan keterangan dari kamu sebagai korban"


Alba menoleh ke Adam, "Tapi, aku takut dan malu untuk memberikan keterangan, Dam"


"Aku akan menemanimu. Kedua Mama kita juga pasti akan menjaga kamu. Jangan takut, ya?! Kamu harus berani menegakkan keadilan atas diri kamu" Adam menoleh sekilas ke Alba.


Alba hanya bisa menghela napas panjang.


Mereka kemudian dikejutkan dengan bunyi ponsel pribadinya Adam yang terpasang di dashboard mobil. Adam menerima panggilan telepon itu dan mengaktifkan pengeras suaranya, "Halo? Ada apa Bel?"


"Kamu ke mana aja semalam? Kenapa telepon kamu nggak aktif?" Suara Bella terdengar panik.


"Ah! Maaf. Batere ponselku habis dan karena lembur, aku lupa mengisinya"


Alba menempelkan pelipisnya di kaca jendela mobilnya Adam dan Adam melirik Alba.


"Kamu di mana sekarang? Kita sarapan bareng ya?"


"Aku ke luar kota. Maaf" sahut Adam sambil melirik Alba yang masih menempelkan pelipisnya di kaca jendela.


"Oh, pantes. Aku di depan rumah kamu. Memencet bel beberapa kali dan tidak ada sahutan"


"Emm, aku lagi nyetir nih. Aku matikan dulu telponnya, ya?"


"Oke! Hati-hati di jalan. Aku mencintaimu, Dam"


"Hmm" sahut Adam singkat lalu klik! Adam mematikan sambungan telepon itu.


Adam melirik Alba dan bertanya, "Kenapa kau menempelkan pelipis kamu di kaca jendela? Dan kenapa kau beberapa kali menghela napas? Kau cemburu ya?"


Alba menggelengkan kepalanya tanpa merubah posisinya.


"Yeeeahhh! Mana mungkin kau cemburu. Kamu kan cuma menganggapku teman. Iya kan, Baba!" Sahut Adam kesal dan Alba masih tetap belum merubah posisinya.