
Adam menancapkan flashdisk yang ia pungut dari lantai lalu menggerakkan kursor untuk mulai meng-klik tombol play dan melihat apa isi flashdisk tersebut. Adam tercengang kaget melihat rekaman di dalam flashdisk yang terpampang nyata di layar laptopnya.
Presdir muda dari Baron grup itu, kemudian bergumam, "Ternyata dia orang yang menakutkan. Dia sudah mendorong Istri Papaku, tapi masih bisa berakting menangis di depan pemakaman. Dasar munafik. Lalu apalagi yang ia sembunyikan dariku selama ini? Apa benar dia adalah tunanganku?"
Adam langsung meng-klik tombol keluar dari rekaman tersebut dan mencopot flashdisknya lalu ia masukan kembali flashdisk itu ke dalam kantong terdalam yang ada.di tas kerjanya.
Adam bergumam sembari membuka file-file yang berkaitan dengan pembukaan hotel Baron yang terbaru, "Dia sudah berada di sampingku selama bertahun-tahun. Dia bahkan sudah merawat aku dan membantu aku di saat aku mengalami kelumpuhan sampai aku akhirnya bisa berjalan kembali dan bahkan bisa berlari kembali. Lalu, apa yang harus aku lakukan untuknya? Aku akan mulai mewaspadainya dan aku akan mulai mencari tahu apa yang ia sembunyikan lagi dariku selama ini"
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Adam menelepon asisten pribadinya, "Kau sudah dapatkan informasi mengenai Ibu Alba Anindya? Beliau bekerja di mana?"
"Ibu Alba Andindya bekerja di hotel Permata yang sudah diakuisisi di saat hotel tersebut hampir gulung tikar.
"Lalu, Ibu Alba Anindya bekerja sebagai apa di sana?"
"Di pagi hari sampai jam lima sore, beliau bekerja sebagai asisten chef lalu setelah itu beliau pulang sebentar dan kembali lagi jam tujuh malam sampai jam sebelas malam untuk bermain piano di kafe" sahut asisten pribadinya Adam yang direkrut sendiri oleh Alex Baron.
"Urus kepindahan kerja Bu Alba Anindya! Pokoknya aku nggak mau tahu, besok pagi, Ibu Alba Andindya harus sudah bekerja di kantorku menjadi sekretaris pribadiku" sahut Adam.
"Lalu saya bagaimana, Tuan?" tanya Broto asisten pribadinya Adam yang baru karena, Pambudi sudah dipecat oleh Alex Baron setelah Alex Baron menutup firma hukum miliknya Adam dan tentu saja tanpa sepengetahuannya Adam dan tanpa seijin Adam.
"Kamu tetap menjadi asisten pribadiku dan Ibu Alba Anindya hanya akan mengurus surat menyurat dan jadwalku saja, nanti Sahut Adam.
"Baik, Tuan" sahut Broto.
"Dan satu lagi. Aku akan mengambil rambut seorang anak. Kamu harus melakukan tes DNA atas rambut yang akan aku kasihkan ke kamu, besok. Dan ini rahasia. Jangan kasih tahu ke Papaku!" Adam berucap dengan nada serius.
"Baik, Tuan" sahut Broto.
Dan klik! Adam memutuskan sambungan ponselnya dengan ponselnya Broto lalu ia melangkah menuju ke ranjang untuk beristirahat.
Pagi nan.cerah dan senyum di wajah tampannya Adam mengundang alam semesta berseri-seri di tengah hujan deras yang mengguyur desa Elok Permai.
Adam memayungi dirinya dan melangkah dengan langkah bahagia menuju ke rumahnya Alba. Adam meletakan payungnya di depan pintu masuk lalu ia mengetuk pintu sambil berteriak, "Selamat pagi! Boleh saya masuk?!"
Ceklek! Pintu terbuka lebar dan senyum tampannya Noah menyambut kedatangannya Adam di pagi hari itu. Adam langsung berjongkok, mencium kedua pipinya Noah dan berkata dengan senyum cerah, "Selamat pagi, jagoan"
"Selamat pagi, Papa Bintang" Noah tersenyum cerah lalu mencium kedua pipinya Adam.
Adam tertawa senang lalu ia menggendong Noah dan berdiri sambil berkata, "Jangan panggil Papa Bintang. Terlalu panjang. Panggil Papa aja, nggak apa-apa"
Noah mencium pipi kirinya Adam dan berkata, "Baik, Pa"
Adam tertawa renyah dan hatinya merasa sangat bahagia mendapat ciuman bertubi-tubi dari Noah dan mendengar Noah memanggilnya Papa.
Adam menurunkan Noah di lantai dan Noah langsung duduk di sebelahnya Adam.
Adam mengusap kepalanya Noah dan berkata, "Anak pintar. Sepagi ini udah mandi dan udah rapi. Kamu emangnya masuk sekolah jam berapa?"
"Jam setengah delapan. Tapi, saya selalu bangun jam lima pagi untuk memanaskan sayur dan membangunkan Mama. Mama kalau tidak dibangunkan, bangunnya pasti kesiangan" Noah tersenyum lebar ke Adam.
Adam terkekeh geli dan berkata, "Benarkah begitu?"
"Iya Pa. Itu karena, Mama selalu pulang malam dan tidur larut malam. Mama selalu memasak untuk sarapan pulang dari kerja"
Adam mengusap kepalanya Noah, "Kamu bukan hanya cerdas, tapi juga mandiri dan menyayangi Mama kamu. Papa bangga menjadi Papa kamu"
"Benarkah?" Kedua bola mata birunya Noah melompat-lompat kegirangan mendapatkan pujian dari Papa Bintangnya.
Adam tertawa senang melihat keceriaan di kedua bola mata birunya Noah lalu ia mencium pucuk kepalanya Noah dan bertanya, "Mama kamu mana?"
Adam menatap Noah dengan sorot mata sendu. Dan dengan senyum penuh kasih sayang ia bergumam di dalam hatinya, Kasihan Noah, sekecil ini sudah mengerjakan banyak pekerjaan rumah untuk membantu Mamanya di saat ia seharusnya bermain seperti anak-anak yang lainnya.
"Noah, Papa boleh mencabut beberapa helai rambutmu?"
Noah bertanya, "Untuk tes DNA ya, Pa?"
"Wah! Kamu memang cerdas, ya. Iya, Papa akan lakukan res DNA atas kamu agar kamu bisa Papa bisa.menyematkqn nama Baron di belakang nama kamu"
Noah tersenyum lebar dan ia mencabut sendiri beberapa helai rambutnya dan ia serahkan ke Adam, "Ini, pa"
Adam mengambil sapu tangannya dan menaruh tiga helai rambutnya Noah di atas sapu tangannya lalu ia lipat sapu tangan itu dan ia masukan kembali ke dalam saku jasnya dengan cepat sebelum Alba datang.
Adam.menoleh ke Noah dan berbisik, "Jangan kasih tahu ke Mama kamu dulu soal ini, ya"
"Oke" Noah mengacungkan jempolnya ke Adam dan Adam langsung mencium pucuk kepalanya Noah.
Alba riba-tiba muncul dan menoleh kaget saat ia melintasi meja makan dan menemukan Adam sudah duduk di sana, bersebelahan dengan Noah.
"Pagi" Adam menyapa Alba dengan senyum tampannya dan Alba hanya tersenyum.
Adam langsung bangkit berdiri untuk membantu Alba menyiapkan. sarapan.
Dan di saat ia menatap piringnya, ia merasa heran dan bertanya, "Apa kemarin malam, kamu menyuruhku memotong sayurnya berbentuk dadu?"
Alba menggelengkan kepalanya dan bertanya, "Kenapa memangnya?"
"Apa benar dipotong dadu seperti ini?" Adam menatap Alba dengan wajah kebingungan.
"Iya benar"
"Tapi, kok aku bisa tahu kalau sayurannya harus dipotong berbentuk dadu tanpa kamu suruh kemarin malam. Padahal, kan, aku belum pernah bertemu dengan sayur model beginian?" Adam menunduk untuk menatap piringnya lalu ia mengangkat wajahnya kembali untuk menatap Alba.
Alba berdeham karena ia tidak tahu harus menjawab apa dan ia memilih untuk berkata, "Cepat dimakan! Keburu dingin nanti nggak enak"
Adam mencicipi semur masakannya Alba dan langsung memekik senang, "Emm! Enak banget ini! Aku langsung menyukainya. Aku masukan makanan ini ke dalam menu makanan favoritku"
"Noah juga sangat menyukai semur masakannya Mama" Noah menoleh ke Adam dan Adam langsung mengajak Noah tos tangan dengan tawa semringah.
Alba menatap kedua laki-laki di depannya dengan perasaan campur aduk dan hanya bisa menghela napas panjang berulangkali secara diam-diam.
"Aku akan mengantarkan Adam sekolah dan setelah itu mengantarmu bekerja" Sahut Adam sambil makan.
"Nggak usah. Kami udah biasa baik bus dan......"
"Ijinkan aku membayar makanan seenak ini. Sarapan seistimewa ini dengan caraku. Aku akan antarkan Noah ke sekolah dan mengantarmu bekerja"
Melihat wajah memelasnya Adam, Alba akhirnya dengan sangat terpaksa menganggukkan kepalanya.
Selesai makan, Adam bangkit berdiri dan menyodorkan sebuah dasi berwarna biru tua bermotif kotak-kotak di depannya Laba sembari berkata, "Tolong pasangkan dasinya! Aku tidak bisa memasang dasi"
Noah sudah masuk ke dalam mobilnya Adam dan menunggu di sana.
Alba memasangkan dasi di lehernya Adam dan setelah selesai memasangkan dasi itu, Adam mencium pipinya Alba dan berucap, Terima kasih" dan berputar badan melangkah riang menuju ke mobilnya.
Alba mengusap pipinya sambil melangkah pelan menyusul Adam dengan perasaan campur aduk.