I Love You, Adam

I Love You, Adam
Rasa Yang Campur Aduk



Dengan sekuat tenaga, Adam mendorong tubuhnya Nindya. Nindya jatuh di atas lantai dan kesempatan itu dipakai oleh Adam untuk melarikan diri.


Nindya mengumpat kesal lalu berdiri dengan pelan sambil mengelus-elus pantatnya, dia berusaha berdiri dengan tegak.


Adam berlari ke kamarnya Pak Samin dan mengetuk pintu kamarnya Pak Samin. Pak Samin membuka pintu dan langsung tersenyum, "Anda mimpi buruk lagi, Tuan?"


Sudah menjadi kebiasaannya Adam, setiap kali ia mimpi buruk, ia pasti mengetuk pintu kamarnya Pak Samin dan tidur mengajak Pak Samin ke kamarnya untuk menunggu dia sampai tidur kembali.


Adam menganggukkan kepalanya.


Pak Samin hendak melangkah keluar dan Adam langsung mendorong pak Samin masuk ke dalam kamar lalu dengan cepat ia tutup pintu dan menguncinya.


Pak Samin mengerutkan alisnya, "Ada apa? Tuan muda kok tampak ketakutan dan mengunci pintu kamarnya Pak Samin?"


"Pak Samin, biarkan aku bobok di sini malam ini ya?"


"Lho! Iya tentu saja boleh. Ini kan rumahnya Tuan muda. Kamar Pak Samin juga kamarnya Tuan muda. Tapi, kamar Pak Samin sempit lho, nggak seluas kamarnya Tuan muda"


"Sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil Tuan muda! Panggil aja Adam"


"Wah! Yo saya nggak berani. Emm, saya panggil Nak Adam aja kalau gitu, boleh?"


"Boleh dong" Sahut Adam sambil naik ke ranjangnya Pak Samin.


"Kalau gitu Pak Samin keluar dulu. Pak Samin akan tidur di kursi yang ada di ruang setrikaan" sahut Pak Samin sambil memegang handle pintu dan hendak membuka kunci pintu.


"Stop! Pak Samin tidur di sini aja nggak papa" Adam langsung memekik kencang menahan langkahnya Pak Samin.


Pak Samin menoleh ke Adam, "Mana berani saya tidur seranjang dengan Nak Adam"


Adam lalu turun dari ranjangnya Pak Samin, "Kalau gitu, aku yang tidur di kursi" Adam lalu duduk di kursi kayu panjang single yang ada di kamarnya Pak Samin.


"Lho! Ya jangan! Aduh piye to ini?"


"Udah santai aja Pak! Pak Samin naik ke ranjang dan tidur sana! Anggap saja saya nggak ada" Sahut Adam sambil memejamkan kedua matanya.


Pak Samin menghela napas panjang dan dengan terpaksa ia kembali naik ke ranjangnya setelah menempatkan bantal di bawah kepalanya Adam dan menyelimuti Adam dengan selimutnya.


Nindya keluar dari dalam kamarnya Adam dengan langkah tertatih karena pantatnya terasa sakit. Nindya dengan penuh rasa kecewa masuk ke dalam kamar tamu yang disiapkan untuknya lalu merebahkan diri di atas ranjang dengan perasaan campur aduk.


Ayu dan Alba alhasil begadang. Mereka asyik mengobrol kalau ada kesempatan tidur bareng. Dan pernyataan Ayu, "Aku sebenarnya menyukai Adam sejak pertama kali berjumpa dengan Adam" Membuat Alba tidak jadi memberitahukan ke Ayu kalau ia sudah jadian dengan Adam. Alba hanya mematung sambil mengulas senyum yang terpaksa ketika Ayu terus memperbincangkan Adam di depannya.


"Adam itu dingin dan cool. Kamu tahu kan, aku suka sama cowok cool" ucap Ayu.


Alba hanya bisa terus tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Aku juga menyukai gaya cueknya tapi, walaupun cuek dia jenius dan aku suka cowok jenius tapi, bandel kayak Adam. Keren nggak sih, saat ia berani membantah ajarannya guru Kimia dan guru Kimia pun tidak berdaya dengan kecerdasannya Adam. Ah! Aku sangat menyukai Adam dan aku rasa, aku mencintainya"


Alba menghela napas panjang dan memperlebar senyumannya untuk menutupi kegundahan hatinya.


"Dan kamu? Apa tipe cowok yang kamu suka? Kamu memiliki banyak teman cowok tapi, kamu nggak pernah ngomong ke aku, tipe cowok yang seperti apa yang kamu suka?" Ayu memandang wajah manisnya Alba dengan senyum lebar.


Alba tersentak kaget mendengar pertanyannya Ayu dan untuk beberapa detik lamanya, ia tidak tahu harus menjawab bagaiman pertanyaannya Ayu itu.


"Alba? Kok malah bengong?" tanya Ayu. "Apa jangan-jangan, kamu naksir Theo? Kamu kan sering makan berdua dengan Theo di kantin"


"Ah! Nggak! Aku dan Theo cuma berteman dekat sama seperti kamu dan Theo" Sahut Alba.


"Emm, yang bisa bikin hatiku berdebar kencang dan membuatku terus terbayang-bayang wajahnya" sahut Alba asal-asalan.


"Apakah sudah ada cowok itu? Siapa?"


Alba terpaksa menggelengkan kepalanya karena ia tidak mau kehilangan Ayu jika ia katakan kebenarannya. Ia takut kalau Ayu membencinya karena kecewa, dia sudah jadian dengan Adam di belakangnya Ayu.


"Baiklah. Kita tidur yuk! Kalau nggak cepet tidur, kita bisa kesiangan besok"


Dan saat Ayu akhirnya jatuh ke alam mimpi mendahuluinya, Alba terus memikirkan pernyataannya Ayu. Dia merasa bersalah telah menerima Adam menjadi pacarnya di belakangnya Ayu.


Keesokan harinya Adam berangkat pagi-pagi buta tanpa sarapan bersama dengan Nindya dan Papanya. Karena, dia memang menghindari Nindya.


Adam melajukan motornya dengan hati riang gembira menuju ke rumahnya Alba. Dan di persimpangan jalan, dia berpapasan dengan Alba yang tengah mengayuh sepeda di area khusus sepeda dan tengah memboncengkan Ayu.


Ayu menepuk pahanya Alba dan memekik kencang memanggil Adam. Alba langsung melajukan sepedanya dengan lebih kencang saat ia menoleh dan melihat Adam membalikkan sepeda motornya.


Adam melajukan sepeda motornya dengan pelan di samping trotoar dan berteriak, "Hentikan sepedanya Ba!"


Ayu kembali menepuk pahanya Alba, "Ba! hentikan sepedanya! Ada Adam! Dan dia sepertinya ada perlu sama kita. Aku juga ingin mengobrol sama dia Ba, please hentikan sepeda kamu?!"


Alba menghela napas panjang dan dengan terpaksa ia menghentikan sepedanya.


Adam mematikan motornya lalu ia tinggalkan motonya dengan standar samping lalu ia berjalan mendekati Alba dengan wajah penuh cinta dan kerinduan, namun Alba melotot ke Adam dan memberikan isyarat ke Adam untuk jangan mendekatinya.


Adam terlanjur berdiri di depannya Alba dan dia mengabaikan keberadaannya Ayu di sana yang terus menatapnya dengan kagum dan sorot mata penuh cinta dan kerinduan


"Kok ngebut aja sih? Ini masih sangat pagi dan kenapa kamu nggak menunggu......."


Alba langsung membungkam mulutnya Adam dan berbisik di telinganya Adam, "Jangan kelihatan ke Ayu kalau kita udah jadian. Ayu menyukaimu"


Adam menarik tangannya Alba dan ia langsung menatap Alba dengan tatapan tidak suka.


"Apa yang kamu bisikkan ke Adam, Ba?" tanya Ayu.


Adam menoleh pelan ke arah suara dan barulah ia sadar kalau ada Ayu di antara dia dan Alba.


Alba menarik tangannya yang digenggam oleh Adam lalu ia berkata ke Ayu, "Ah! Itu, aku........."


Adam yang merasa kesal dengan sikapnya Alba, berputar badan lalu naik kembali ke atas motornya dan pergi meninggalkan Ayu dan Alba begitu saja.


Alba menatap kepergiannya Adam dengan perasaan campur aduk lalu ia menyuruh Ayu untuk kembali naik ke boncengan dan ia kembali mengayuh sepedanya menuju ke rumahnya Ayu.


"Adam kenapa sih? Kenapa dia sepertinya marah sama kamu Ba. Emangnya apa yang kamu bisikkan ke Adam?"


"Aku cuma bilang kalau nanti aku ada latihan nyanyi dan nggak bisa ikut dia belajar Matematika"


"Oh! Tapi kenapa harus berbisik sih?" tanya Ayu.


"Kebiasaan aja, hehehehe" sahut Alba asal-asalan.


Dan Alba menghela napas lega saat Ayu diam dan tidak melayangkan tanya lagi untuknya.


Dan di dalam hatinya, Alba berharap Adam bisa menerima penjelasannya nanti.