
Bella Fastro tersentak kaget saat ia menarik jubah hitam yang menutupi sosok yang duduk di kursi kayu. Bella mundur ke belakang dan bertanya dengan gugup, "Ke.....kenapa kau?"
Alba bangkit dari kursi kayu, lalu melangkah pelan mendekati Bella, "Kenapa kau tega ingin menculik putraku dan bahkan kau ingin membunuhnya!"
Bella berteriak dengan sangat kencang, "Itu tidak benar!"
"Kau bahkan tidak memberikan vitamin otak ke Adam selama ini? Apa itu berarti kau ingin membuat Adam amnesia selamanya?"
Bella memekik kencang, "Diam!!!" Lalu ia melemparkan ponselnya dengan sembarangan ke arah depan karena panik dan ponsel itu mengenai pelipisnya Alba. Alba mengaduh dan mengusap pelipisnya lalu ia menatap tajam ke Bella, "Kau ternyata berhati Iblis, Bella!"
Bella bersikap acuh tak acuh dan memilih mengabaikan ucapannya Alba. Wanita cantik dan modis itu bahkan menghindari tatapan matanya Alba karena, ia sudah mulai merasa panik dan tersudut.
Adam tiba-tiba muncul di ruangan itu. Adam berlari masuk ke dalam ruangan itu saat ia mendengar Alba mengaduh. Adam langsung mengecek kondisinya Alba dan saat Adam melihat pelipisnya Alba tampak merah memar. Adam mengelus pelan pelipisnya Alba sambil bertanya, "Apa yang kau rasakan saat ini? Pusing atau apa?"
"Aku tidak apa-apa" Sahut Alba.
Adam lalu menoleh ke Bella dan ia menggeram ke Bella dan berkata, "Kalau kau bukan wanita, aku sudah membuatmu masuk IGD saat ini juga"
Bella benar-benar panik saat ia melihat Adam muncul di depannya. Bella memutar badan berniat untuk kabur, tapi Satya dan anak buahnya dan beberapa petugas kepolisan. langsung mengepung Bella.
Bella langsung berjongkok dan berteriak, "Kenapa kalian semua jahat padaku dan selalu baik pada wanita itu!!!???"
"Siapa yang seharusnya berteriak frustasi saat ini, Bella!? Kau bahkan tega menyembunyikan cincin nikahku ini" Adam menunjukkan cincin kawinnya di depan Bella lalu ia memakai cincin kawinnya itu di depan Bella.
Balla bangkit berdiri dengan wajah kaget, "Ba.....bagaimana bisa kau menemukan cincin kawin kamu itu?"
"Aku adalah Adam Baron. Kau lupakan itu sepertinya. Aku sudah memberimu kesempatan untuk pergi dan bertobat di saat aku memberikan flashdisk yang berisi rekaman kau mendorong Istri Papaku, itu berarti kau yang telah membunuh Istri Papaku. Tapi, kau justru menambah dosa kamu dengan niat busuk kamu, menculik Noah dan ingin membunuh Noah. Kau itu manusia atau bukan sebenarnya?"
"Itu karena aku sangat mencintaimu, Adam!"
"Itu bukan cinta tapi obsesi yang sangat menjijikkan" Adam memeluk Alba dan berputar badan meninggalkan Bella.
Satya langsung menyuruh petugas kepolisian untuk meringkus Bella saat itu juga.
Alex Baron ternganga dan menatap Noah yang berdiri di depannya dengan wajah kebingungan.
Alex kemudian berjongkok dan bertanya ke Noah, "Apa yang kau lakukan di sini, Nak?"
"Ini rumahnya Noah, Kek. Ayok masuk dulu, Kek! Noah akan buatkan minuman untuk Kakek" Noah lalu menggandeng tangannya Alex Baron dengan kepolosannya. Alex Baron tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumahnya Alba karena Noah terus menarik tangannya.
Alex Baron tersenyum kikuk karena ia tidak tahu bagaimana ia harus bersikap kepada Noah setelah ia tahu ada gambar fotonya Noah bersama dengan Alba di dinding ruang tamu.
Noah tersenyum lebar dan duduk di sebelahnya Alex Baron.
Alex Baron menoleh ke Noah dan bertanya, "Itu foto kamu dengan siapa?"
"Oh, itu foto Noah dengan Mamanya Noah, Kek"
Alex Baron bagai tersambar petir mendengar ucapannya Noah. Otaknya yang cerdas segera mengetahui kalau Noah adalah putranya Adam Baron dan itu berarti, Noah adalah cucunya. Alex Baron kemudian mematung di depan Noah. Papanya Adam Baron yang masih terlihat sangat tampan di usia senjanya itu, terus mengamati Noah di dalam kebekuannya.
"Kenapa Kakek terus menatap Noah seperti itu?" Noah menautkan alisnya dan secara refleks Alex Baron menarik tubuh mungilnya Noah ke dalam pelukannya. Noah terkejut di saat ia tiba-tiba dipeluk oleh seorang Kakek yang belum begitu ia kenal dan membeku di dalam pelukan nyamannya Alex Baron.
Noah merasa nyaman dipeluk oleh Alex Baron dan kehangatan pelukan itu membuat kebekuannya Noah mencair dan tangan mungilnya memeluk tubuhnya Alex Baron.
Alex Baron terisak menangis saat ia merasakan tubuhnya dipeluk oleh Noah.
Heni keluar dari dalam kamar mandi dan tersentak kaget saat ia menemukan Alex Baron memeluk Noah. Heni langsung bergegas ke ruang tamu dan duduk di depannya Alex Baron, lalu berkata, "Apa niat kamu datang kemari?"
Alex tersentak kaget mendengar suara seorang wanita yang tidak asing baginya. Alex melepaskan Noah dan menoleh ke arah suara. Alex tersentak kaget dan langsung bertanya, "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Ini rumah Putriku, kenapa aku tidak boleh berada di sini? Noah, masuk ke kamar dulu, ya!? Oma ingin bicara penting dengan Kakek ini"
Noah menuruti perintah Oma Heni tersayangnya dan setelah mencium punggung tangannya Alex Baron dan pamit, foto kopinya Adam Baron kecil itu, melangkah lebar ke kamarnya.
Kedua bola mata birunya Alex Baron bergerak mengikuti arah perginya Noah dan Heni langsung mengeluarkan suara, "Jangan bertindak ngawur di sini! Aku nggak akan tinggal diam kalau kamu ke sini ingin membuat Alba menangis. Aku tidak biarkan siapa pun membuat Putriku menangis. Dan jangan memiliki niat merebut Noah dari Alba"
Alex menoleh ke Heni dan menatap Heni dengan sorot mata tajam, lalu ia mengeluarkan kata, "Kau masih sama seperti dulu. Sangat menjengkelkan dan suka ikut campur, cih!"
"Kau juga masih sama seperti dulu. Tidak punya hari dan suka bertindak ngawur" Heni menatap Alex Baron tidak kalah tajamnya.
"Noah, anaknya Adam. Aku rasa aku berhak atas Noah dan sepertinya aku akan membawa Noah bersamaku. Noah akan lebih terjamin hidupnya jika hidup bersamaku daripada di rumah kecil ini" Sahut Alex dengan santainya.
"Kau sekarang mengakuinya setelah dulu kau menolaknya? Dasar Iblis! Aku tidak akan tinggal diam jika kau bertindak nekat ingin mengambil Noah!" Heni langsung bangkit berdiri dengan suara melengking dan berkacak pinggang.
"Aku juga tidak akan ijinkan hal itu terjadi, Pa"
Alex Baron langsung bangkit berdiri dan berputar badan. Dia kaget melihat Adam berdiri di depannya sambil merangkul bahunya Alba.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" Alex bertanya dengan wajah dingin.
"Karena di sini ada anak dan istriku" sahut Adam dengan santainya.
Adam dan Alex kemudian bersitatap dengan kilatan petir di kedua bola mata biru mereka