
Saat asisten pribadinya Alex Baron dan kepala rumah tangga The Baron datang, Adam berkata ke papanya, "Pa, Aku ajak Noah dan Alba pulang dulu, ya? Besok kita ke sini lagi"
Alex Baron sebenarnya merasa keberatan, Adam mengajak Noah dan Alba, pulang. Namun, saat kedua mata senjanya melihat Noah tidur lelap di dalam dekapannya Adam, akhirnya pria paruh baya yang maaih terlihat sangat tampan itu, menganggukkan kepalanya dan berkata, "Hmm. Alba dan Noah pasti lelah seharian menjaga diriku yang manja ini"
Alba mencium punggung tangan papa mertuanya lalu berucap, "Besok kami ke sini lagi, Pa"
"Pagi-pagi buta, ya, ke sininya?!" Alex Baron tersenyum penuh harap.
"Iya, nggak pagi-pagi buta, to, Pa. Paling jam delapan lebih, Adam akan antarkan Alba dan Noah ke sini. Setelah itu, Noah akan aku daftarkan untuk sekolah di sini"
"Oke- oke, terserah kamu" Alex Baron mengibaskan tangannya.
Adam tersenyum lalu pamit sekali lagi kepada papanya dan mengajak Alba keluar dari kamar rawat inap papanya.
Adam mendekap Noah dan berkata ke Alba, "Maaf, tanganku saat ini nggak bisa menggandeng tangan kamu, karena kedua tanganku, aku pakai untuk mendekap Noah biar nggak jatuh. Tapi, nanti malam tanganku bebas, jadi aku akan bayar hutang yang dibuat oleh kedua tanganku saat ini, nanti malam, oke?"
Alba menepuk bahunya Adam dengan senyum lebar, lalu berkata sambil berjalan mengiringi langkahnya Adam, "Kamu masih aja pinter merangkai kata yang bisa melelehkan hati wanita"
"Dan aku hanya merangkai kata seperti itu untuk kamu. Hanya kamu" Adam menoleh ke Alba dan memberikan sorot mata penuh cinta.
Alba menatap Adam dengan penuh cinta dan rona merah di wajahnya.
"Ma, kalau Mama dan christal ada di sini, lalu siapa yang menjaga Alba dan Noah? Ah, sial! Ada Adam sekarang ini, kenapa juga aku harus panik"
Heni tersenyum lebar dan berkata sambil mengelus pipi putra tunggalnya yang memiliki ketampanan lokal di atas rata-rata, "Noah, Alba, dan Adam ada di kota ini. Mereka pulang ke sini karena, Papanya Adam, Alex Baron masuk rumah sakit"
"Oh" Satya cuma ber-Oh.
"Dan Mama harap, kamu mulai menatap masa depan kamu. Menata hati kamu kembali mulai dari nol. Lupakan perasaan cinta kamu pada Alba. Mama paham cinta kamu kepada Alba itu sangat besar dan dalam, tapi Alba bukan jodoh kamu, jadi kamu harus mulai melupakan rasa cinta kamu itu, Sat!"
Satya diam membeku dan beberapa kali menghela napas panjang, lalu menyesap kaleng minuman yang berisi bir dingin dengan kadar alkohol yang cukup rendah, untuk menyejukkan hatinya yang masih saja sering panas kalau mengingat Alba bukanlah jodohnya.
"Mama tahu, Alba itu gadis yang sangat manis dan baik hatinya, lembut dan penyayang, Mama pun juga berharap bisa memiliki Alba menjadi menantunya Mama. Mama sangat mencintai Alba dan Noah, tapi Alba dan Noah bukan milik kita sepenuhnya" Heni masih mengelus rambutnya Satya dengan penuh kasih sayang.
"Kenapa Tuhan tidak tergerak hatinya di saat aku melakukan banyak pengorbanan untuk Alba. Kenapa pengorbananku untuk Alba yang tulus tidak dibayar oleh Tuhan dengan cara menyatukan aku dengan Alba? Kenapa, Ma?" Satya membuang napas untuk melepaskan rasa sesak di hatinya, lalu kembali menyesap kaleng bir yang masih ia genggam erat.
"Karena, Tuhan sudah menyiapkan tukang rusuk yang lebih cocok untuk kamu. Belum tentu juga, kamu akan berakhir bahagia dengan Alba" Heni tersenyum penuh cinta ke putra tunggalnya yang sangat tampan itu.
Satya menghela napas panjang dan berkata, "Tulang rusuk? Aku hitung tulang rusukku nggak ada yang hilang ataupun patah, jadi aku rasa aku tidak butuh tulang rusuk dan........." Heni langsung memukul keras kepala belakangnya Satya
"Aduh! Sakit Ma!" Satya memekik kencang lalu menempelkan kaleng bir yang masih terasa dingin ke belakang kepalanya.
"Aku ingin punya cucu dari kamu, jadi jangan bilang begitu! Dan tulang rusuk kamu itu sudah ada di sini, jadi jangan mengabaikannya! Dasar anak bandel" Heni mulai menggeram kesal.
"Tulang rusuk apa, sih? Mama tulang rusuknya? di kulkas atau di pasar daging?" Satya mendelik kesal ke mamanya.
Heni memukul bahunya Satya dan berucap, "Tulang rusuk kamu itu Christal. Kalian dipertemukan tidak sengaja dan selalu bertemu lagi dan lagi. Mama rasa, Christal adalah tulang rusuk kamu, pilihannya Tuhan. Jadi, jangan mengabaikannya!"
Satya refleks menarik rahang bawahnya lebar-lebar, lalu segera berkata, "Nggak. Aku nggak suka sama cewek seperti Christal dan........"
Heni langsung pura-pura pusing, lalu pingsan di depannya Satya.
Setelah membuka tutup minyak kayu putih dan mengibaskan di depan hidung mamanya, Satya tersenyum lega, karena mamanya akhirnya membuka mata.
"Ma, Mama nggak papa?"
Heni memijit pelipisnya dan bertanya, "Kamu sayang sama Mama, nggak?"
"Sayang dong. Sayang banget dan cinta mati" Sahut Satya dengan wajah serius.
Heni kemudian berucap, "Kamu pengen Mama bahagia, kan?"
"Iya. Tentu saja, Ma" Sahut Satya sambi menggenggam tangan mamanya dengan wajah sayu.
"Kalau gitu, kamu mau, kan, menuruti semua permintaannya Mama?"
"Mau" Satya mencium tangan mamanya.
"Janji?"
"Janji" Satya lalu mencium kening mamanya.
"Cobalah berkencan dengan Christal mulai besok"
"Tapi, Ma, aku........"
"Katanya janji mau nurutin semua permintaan Mama?"
Satya menghela napas panjang dan berkata, "Baiklah. Tapi, hanya selama sebulan. Kalau sebulan, Satya belum merasakan apapun pada Christal, Satya akan berhenti berkencan dengan Christal dan berhenti menemui Christal untuk selamanya"
Heni langsung bangun dan duduk di atas ranjang dengan wajah semringah lalu berkata, "Deal!"
Satya menautkan alisnya dan langsung berkata, "Ma? Mama nggak sakit?"
"Mama sakit hati tadi, karena kamu ngeyel. Tapi, sekarang Mama udah baik-baik saja" Heni lalu turun dari ranjangnya Satya dan melangkah keluar dari kamarnya Satya dengan langkah santai.
Satya hanya bisa meraup wajah tampannya dengan kasar dan terkekeh geli sambil bergumam, "Oalah, Mama, Mama"
Adam masuk ke dalam kamarnya setelah ia memastikan, Noah benar-benar nyenyak tidurnya.
Dia menatap wajah manis istrinya cukup lama dengan debaran jantung yang tidak biasa dan berucap, "Kenapa rasanya sepeti malam pengantin? Aku berdebar tidak karuan, nih, Istriku"
"Aku juga sama suamiku. Jantungku juga berdebar tidak karuan" Alba tersenyum malu dengan rona merah di wajahnya.
Adam berjalan pelan mendekati ranjangnya, lalu duduk di tepi ranjang, menarik tubuh Alba untuk duduk di atas pangkuannya, pria tampan itu mengelus mesra pipi mulus istrinya dengan kata, "Terima kasih sudah merawat diri kamu dengan baik selama aku tidak ada di sisi kamu. Dan aku berhutang banyak terima kasih padamu. Untuk itu, malam ini, aku akan membayar rasa terima kasihku dengan baik"
Alba mengusap pipi suaminya dengan rona malu di wajah dan tersenyum penuh cinta
"Kamu sangat menggemaskan kalau tersipu malu, Sayang" dan tanpa menunggu lama, Adam mencium bibirnya Alba dengan penuh damba.