
Dragon Fastro berteriak kencang, "Jangan masuk rumahku!"
Namun, Satya terus melangkah masuk dan menyuruh kelima rekannya yang adalah petugas kepolisian dari unit khusus, untuk membantunya menggeledah setiap sudut rumahnya Dragon Fastro tanpa terkecuali kamar mandi dan atap rumah.
Istri sahnya Dragon Fastro jatuh pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit
Dragon mendelik ke Satya, "Kau akan menyesal karena telah melakukan ini semua pada keluargaku"
Satya menyipitkan kedua matanya dan berkata, "Seharusnya itu yang dikatakan oleh Mamaku, juga almarhum Papa dan Mamanya Alba Anindya sejak dulu. Aku juga akan mencari bukti bahwa kau telah menculik aku dan Alba waktu aku dan Alba masih kanak-kanak"
Dragon menggeram kesal dan terus mendelik ke Satya lalu berkata, "Kau pikir aku sebodoh itu masih menyimpan semua bukti kalau memang aku yang melakukannya. Cih! Dasar bodoh dan naif. Kau masih anak ingusan, kau bukanlah tandinganku"
"Dan kau sudah mulai menua. Orang yang sudah menua mulai melakukan banyak kecerobohan" Satya meringis lalu menaik-naikkan kedua aksinya di depan Dragon.
"Kau!!!!!!" Dragon memekik kesal
Satya mengabaikan ucapannya Dragon dan meneruskan aktivitasnya membuka laci meja dan menyisir area di sekitar meja kerjanya Dragon Fastro.
Bella terus menangis di dalam sel penjara. Karena papanya adalah seorang konglomerat dan memiliki banyak koneksi, Bella bisa mendapatkan sel penjara VIP (Bella tinggal sendiri di sebuah ruangan kecil. Tidak bercampur dengan narapidana yang lainnya). Bella teringat pengakuan dari papanya ke Alex Baron kalau papanya yang telah membunuh kedua orangtuanya Alba Anindya.
Bella merasa sangat bersalah kepada Alba dan terus menangis seorang diri di pojokan dengan rasa penyesalan yang sangat dalam. Bella beberapa kali menjambak rambutnya dan sesekali berteriak histeris untuk melepaskan sesak di dadanya.
Christal membantu Heni memasak dan Heni menatap Christal dari samping kanannya dengan bergumam di dalam hati, anak ini tangguh dan cantik. Dia dengan cepat bisa merubah suasana hatinya dengan baik. Sepertinya anak ini memang jodoh yang dikirim oleh Tuhan untuk Satya. Heni lalu tersenyum.
Christal menoleh ke Heni dan bertanya, "Ada apa, Bu? Kenapa Ibu menatap saya dengan senyum seperti itu?"
Heni langsung merangkul bahunya Christal dan berkata, "Ibu senang bisa bertemu dengan anak setangguh kamu"
Christal langsung merangkul pinggangnya Heni dengan kedua lengannya dan berkata, "Christal yang justru bersyukur bisa bertemu dengan Ibu"
Heni menepuk punggung tangannya Christal dengan senyum lebar.
Satya menemukan barang yang ia cari dan Dragon langsung panik, "Berikan itu!"
"Aku sangat memahami karakter psikopat macam kamu. Seorang psikopat macam kamu, selalu menyimpan hasil kejahatannya sebagai souvenir yang bisa ia banggakan, untuk itulah psikopat macam kamu, selalu menyimpan dengan sangat baik semua bukti kejahatan kamu di suatu tempat tersembunyi" Satya lalu melangkah keluar dari balik tak buku. Satya tanpa sengaja menemukan tombol yang membuat rak buku di ruang kerjanya Dragon Fastro terbuka dan menampakkan sebuah ruangan yang berisi semua kenangan indah bagi Dragon Fastro, kenangan indah yang tercipta dari hasil karya otak spesialnya.
Satya lalu memborgol kedua tangannya Dragon Fastro dan menarik Dragon Fastro keluar untuk ia gelandang ke kantor polisi.
Noah diajak Adam pulang ke rumahnya bersama dengan mobil Van dari pet shop yang mereka singgahi di beberapa jam yang lalu.
Noah bertanya ke Adam saat kedua kaki mungilnya menapak di atas rumput hijau nan indah yang ada di teras depan rumah megahnya Adam Baron.
Adam menoleh ke Noah dan bertanya, "Ada apa?"
"Ini hotel, ya Pa?" Noah mendongakkan kepalanya ke lantai dua rumah megah di depannya.
"Ini rumah kamu"
"Hah?! Rumah? Kok besar banget dan berlantai dua?" Noah menatap Adam yang telah berjongkok di depannya.
Adam tertawa lepas lalu berkata dengan menyisakan senyum lebar di wajah tampannya, "Memangnya Noah belum pernah melihat rumah sebesar ini?"
"Pernah. Tapi, itu hotel" Noah berkata dengan wajah polosnya.
Adam lalu menggendong Noah sambil meminta dua orang pria dari pet shop membawa masuk kelinci, anak anjing dan burung beo mengikuti langkahnya untuk masuk ke dalam rumah.
Adam berkata ke Noah yang masih berada di dalam gendongan hangatnya sambil membuka pintu rumahnya, "Noah akan lihat rumah Noah sebentar lagi"
Begitu pintu rumah terbuka lebar, Adam menurunkan Noah di atas lantai rumah mewah itu yang terbuat dari bahan batuan alam, yakni marmer. Lantai jenis ini memiliki tingkat ketahanan tinggi yang tak kalah dibandingkan granit. Selain itu, lantai marmer juga mampu menghadirkan suasana ruangan yang dingin dan nyaman.
Noah terpana mematung menatap ruangan dengan interior indah dan terkesan mahal.
Adam meminta kedua pria.dari pet shop mengikuti asisten pribadinya ke teras belakang rumah dan meletakkan kelinci, anak anjing, dan burung beo di teras belakang.
Adam lalu menggandeng tangan mungil putra tampannya dan mengajak Noah berkeliling. Adam mengajak Noah menjelajahi lantai satu kamarnya lalu naik ke lantai dua kamarnya. Noah berlari menaiki anak tangga dan Adam tertawa bahagia melihat putra tampannya menyukai rumahnya.
Adam membuka semua pintu ruangan yang tertutup dan berkata, " Ini kamarnya Papa selama ini. Papa tidur sendirian selama ini dan nanti, kamar ini akan dipakai tidur sama Papa dengan ditemani Mama"
Lalu Adam melangkah ke ruang berikutnya, "Nah, ini kamar Noah. Nanti, Noah tidur sendirian di kamar ini, berani?"
Noah mematung di depan ruangan itu. Cukup besar. Dua kali lebih besar dari kamar yang ada di rumahnya dan dia terbiasa tidur berdua dengan mamanya. Noah tiba-tiba merasa takut jika harus tidur sendirian di ruangan sebesar itu tanpa mamanya.
Adam langsung berjongkok dan bertanya, "Ada apa? Noah takut tidur sendirian?"
Noah menoleh ke Adam dan setelah mengerjap-ngerjapkan kedua kelopak matanya beberapa kali, ia menganggukkan kepalanya.
Adam tersenyum lebar lalu ia mengusap kepalanya Noah dan berkata, "Papa akan temani kamu nanti. Sampai kamu tertidur pulas baru Papa keluar. Tapi, Noah harus dibiasakan tidur sendiri karena, Noah sudah besar sekarang. Kalau tidur bertiga terus, lama-lama kasurnya nggak muat"
Noah tertawa mendengar kata lama-lama kasurnya nggak muat.
Adam terkekeh geli lalu berkata, "Papa benar, kan?"
Noah menganggukkan kepalanya dengan mengulas senyum lebar di wajah tampannya.
"Dan, Noah harus berani tidur sendiri. Karena, Noah anak cowok. Papa dulu umur dua tahun udah tidur sendiri di kamar karena, Papa sudah nggak punya Mama dan Papanya Papa sibuk bekerja. Noah masih beruntung punya Mama dan Papa"
"Oke. Noah akan belajar tidur sendiri, Pa. Noah, kan, anak Papa, jadi Noah harus berani seperti Papa" Noah langsung memeluk papanya.
Adam mendekap Noah dengan gemas tawa cerianya.
Alba terkejut melihat papa mertuanya tiba-tiba membuka kedua kelopak matanya dan menoleh ke dia. Alba lalu bangkit berdiri setelah keterkejutannya hilang dan bertanya, "Papa ingin apa? Minum atau makan buah?"
Alex Baron bertanya, "Kamu sendirian? Di mana Adam dan Noah?"
"Mas Adam dan Noah ke pet shop, Pa. Noah ingin beli kelinci"
"Ah, Noah bener-bener mirip dengan Adam. Adam juga penyayang binatang" Sahut Alex Baron.
Alba tersenyum dan kembali bertanya, "Papa ingin apa?"
Alex Baron diam membisu dan terus menatap Alba. Dia masih belum terbiasa dengan Alba dan merasa sungkan kalau harus meminta tolong Alba mengambilkannya minum. Alex lalu berkata, "Aku bisa mengambilnya sendiri" Tangannya terangkat lalu menjulur ke nakas, mencoba meraih gelas yang berisi air putih murni.
Alba tersenyum dan dengan sigap dia mengambil gelas tersebut, membuka tutup gelas, menaruh sedotan ke dalam gelas, lalu membantu Alex Baron untuk minum.
"Terima kasih" Alex Baron tersenyum ke Alba.
Alba tersenyum sambil meletakan kembali gelas yang telah kosong di atas nakas, lalu bertanya ke papa mertuanya, "Papa mau makan buah? Ada apel dan jeruk"
"Nggak usah" Tapi pandangannya Alex tertuju ke buah yang ada di nakas.
Alba tersenyum lebar lalu berkata, "Kata Mas Adam, Papa suka sama apel. Alba akan kupas dan potong apelnya. Sebentar ya, Pa"
Alex Baron merona malu karena keinginannya makan buah apel ketahuan oleh Alba.
"Papa nggak usah sungkan sama saya. Saya ada di sini untuk Papa. Papa ingin apa, bilang aja ke Alba"
Alex Baron tersenyum canggung dan menganggukkan kepalanya.
Setelah selesai mencuci, mengupas, dan memotong buah apel, Alba lalu memencet salah satu tombol yang ada di fitur hospital bed yang dirancang khusus untuk kenyamanan pasien. Bahkan ranjang di kamar president suite itu memiliki fitur untuk keperluan MCK pasiennya
Alba memencet tombol agar bed itu sedikit tegak dengan bertanya ke papa mertuanya, "Segini cukup, Pa"
Alex Baron berkata, "Iya, cukup"
Lalu Alba kembali duduk di samping bed dan menyuapi papa mertuanya buah apel hasil potongannya.
Alex tanpa sadar bergumam, "Bella aja nggak pernah menyuapi aku seperti ini"
Alba tersenyum dan pura-pura tidak mendengar gumaman papa mertuanya.