
Keesokan harinya...........
Theo dan Ayu pamit pulang.
"Setelah dari makam Mama kita berdua, kita beli cincin dan mendaftarkan pernikahan kita, oke?"
Alba tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Dan di saat Adam akan mengajak Alba ke makam mamanya dan ke makam mamanya Alba, Dokter Felix meneleponnya dan menyuruh Adam ke rumah sakit saat itu juga karena, hasil pemeriksaan lab menyeluruh atas diri Adam Baron dan pemeriksaan MRI telah keluar.
Klik! Adam mematikan sambungan telepon itu lalu menoleh ke Alba. "Kita ke rumah sakit dulu, ya?"
"Kenapa ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Alba.
"Nggak ada yang sakit. Cuma, emm, kemarin aku memeriksa diriku secara menyeluruh dan hasilnya udah keluar pagi ini"
"Kalau gitu, ayo buruan ke rumah sakit! Dan semoga hasilnya bagus semua dan kamu nggak kena penyakit apapun" Alba berucap sambil menarik Adam menuju ke mobil.
Adam lalu menarik Alba masuk ke dalam pelukannya dan mencium pucuk kepalanya Alba sebelum ia membuka pintu mobilnya, kemudian ia berucap, "Aku senang ada kamu di sampingku saat ini"
"Malah ngerayu, buruan masuk ke mobil, Dam!" Alba menarik paksa dirinya dari pelukan Adam lalu berlari mengitari mobilnya Adam untuk masuk ke jok penumpang.
Adam terkekeh geli lalu membuka pintu mobil dan masuk ke jok kemudi.
"Kenapa kamu nggak cerita ke aku semalam?" Tanya Alba sambil menoleh ke Adam.
"Aku nggak mau kamu khawatir" sahut Adam.
"Jangan diulangi lagi, Dam! Apapun yang terjadi, kamu harus cerita ke aku. Baik ataupun buruk. Besar ataupun kecil, oke?!"
Adam menoleh sekilas ke kekasih hatinya untuk memberikan senyum tampannya, lalu ia berucap, "iya Sayangku. Ini yang terakhir kalinya aku nggak cerita ke kamu. Maaf, ya!?"
"Hmm" Sahut Alba sambil mengarahkan pandangannya ke depan dan bersedekap.
"Kamu marah? Kok terus diam kayak gitu?" Adam melirik Alba.
"Aku nggak marah, tapi entah kenapa dari semalam, perasaanku gelisah terus. Semoga aja hasil pemeriksaan kamu baik-baik saja dan kamu nggak kenapa-kenapa"
Adam diam, dia tidak bisa mengatakan kata amin atas ucapannya Alba karena, jauh di relung hatinya, ada bisikan kalau ia akan menerima kabar yang tidak mengenakkan karena, dia bisa merasakan ada sesuatu di dalam kepalanya.
Alba terus berdoa agar hasil pemeriksaannya Adam baik semuanya, namun dia bisa merasakan kalau doanya seperti terhalang oleh sesuatu dan Alba menjadi semakin berdebar-debar karena, gelisah.
Beberapa menit kemudian, sepasang kekasih yang saling mencintai dengan begitu besar itu, duduk di depan meja kerjanya Dokter Felix, di ruang praktek Dokter Felix.
"Ini yang namanya Alba?" tanya Dokter Felix.
Alba tersenyum dan berucap, "Iya Dok. Saya Alba"
"Calon Istriku, Om" Sahut Adam.
Alba langsung menepuk pelan bahunya Adam dan Dokter Felix langsung mengulas senyum lebar, lalu berkata, "Pantas saja kalau Adam tidak bisa berpaling darimu. Kamu manis, ramah, dan Om bisa merasakan kalau kamu anak yang sangat baik"
"Terima kasih, Dok"
"Aku nggak salah pilih kan, Om?"
Dokter Felix tertawa renyah sambil mengacungkan ibu jarinya Ke Adam dan Alba langsung merah wajahnya karena, malu.
"Gimana hasilnya, Om?"
Dokter Felix mengarahkan pandangannya ke Alba, "Alba siap mendengar semuanya?"
"Saya siap Dok. Dan jangan khawatir, saya nggak akan meninggalkan Adam. Apapun hasilnya karena, saya sangat mencintai Adam, Dok"
Adam langsung menghela napas panjang saat ia mendengar dokter Felix menanyakan pertanyaan ambigu ke Alba. Kemudian Adam bertanya dengan wajah dan nada datar, "Ada apa Om?"
Dokter Felix mengalihkan tatapannya ke Adam, ""Dari hasil pemeriksaan menyeluruh dan hasil Mari, menunjukkan kalau kamu terkena tumor otak, sama seperti almarhum Mama kamu"
Adam langsung terhenyak lemas di kursinya dan Alba lanagung menutup mulutnya yang terbuka lebar. Alba langsung menoleh ke Adam dan merangkul bahunya Adam. Alba mengelus bahu kekar itu terus menerus sambil menahan air matanya.
"Itu faktor genetik, Dam"
"Berapa lama lagi umur saya, Om?"
"Dam! Jangan bertanya seperti itu!" Alba lanagung membentak Adam tanpa sadar.
Adam mengabaikan teriakannya Alba dan terus menatap tajam ke dokter Felix dan kembali bertanya, "Berapa lama, Om?"
"Tumor itu tidak ganas. Untungnya ukurannya juga tidak sebesar yang dulu bersarang di kepala Mama kamu. Tempatnya pun juga tidak di titik riskan. Intinya kamu bisa selamat dan tidak akan meninggal asalkan kamu bersedia dirawat di rumah sakit selama seminggu untuk diobservasi, lalu menjalani operasi, kamu selamat. Cuma.........."
"Cuma apa, Dok?" Alba langsung menyemburkan tanya karena ia melihat Adam membeku dan pandangannya mulai kosong.
"Cuma, pasca operasi, pasien biasanya akan mengalami kelumpuhan dan kehilangan ingatannya. Tapi, itu bisa diobati dengan rutin menjalani terapi dan ........."
Adam langsung bangkit dan berlari keluar dari dalam ruang prakteknya Dokter Felix
Alba langsung bangkit dan menatap Dokter Felix.
Dokter Felix tersenyum tipis, lalu berkata, "Kejarlah dia! Dan tolong bujuk dia untuk mau menjalani rawat inap dan menjalani operasi. Kalau tidak, itu akan mengancam nyawanya"
"Baik, Dok. Saya permisi" Alba kemudian berlari keluar dari dalam ruang prakteknya Dokter Felix dan menemukan Adam tengah duduk di taman dengan wajah menengadah ke langit yang mendung. Langit seolah memahami perasaanya Adam saat itu.
Alba duduk di sebelahnya Adam dengan hati-hati dan dia tersentak kaget saat Adam menoleh dan berkata, "Pergilah! Tinggalkan aku!"
"Baiklah. Aku akan pergi ke mobil dan......."
"Maksudku selamanya, Ba! Tinggalkan aku selamanya!"
"Dam! kenapa kau berkata seperti itu? Kau sudah tidak mencintaiku lagi?" Alba memandang Adam dengan wajah sendu.
"Justru karena aku sangat mencintai kamu, aku nggak ingin kamu menderita di sampingku. Merawat pasien lumpuh dan hilang ingatan itu nggak mudah, Ba. Lagian aku takut dioperasi. Aku takut kehilangan ingatanku akan kamu, akan cinta kita, akan memori yang pernah kita miliki bersama"
"Aku nggak peduli. Aku akan tetap di samping kamu, menemani kamu. Aku tahu itu nggak mudah, tapi dengan cinta semuanya akan terasa mudah dan ringan. Kita jalani semua ini bersama-sama, oke?" Alba mengelus bahunya Adam.
"Aku nggak akan menjalani operasi. Aku takut kehilangan ingatan akan kamu. Kamu ngerti nggak sih perasaanku ini, Ba?!" Adam mulai meninggikan suaranya karena, frustasi.
"Kita pulang dulu, oke? kita bicarakan ini di rumah. Karena, aku nggak bisa nyetir, aku akan nelpon Pambudi untuk menjemput kita, oke?"
Adam menganggukkan kepalanya, lalu meletakkan kepalanya di atas bahunya Alba sementara Alba menelepon Pambudi.
Beberapa menit kemudian Pambudi datang dan mengantarkan Adam dan Alba pulang ke rumahnya Adam.
Adam langsung melangkah gontai ke teras belakang rumah ia ingin mendapatkan hiburan dengan mengamati kelucuannya Baba, kelinci kesayangannya, namun selucu apapun tingkah Baba, tidak bisa menghibur Adam.
Alba lalu duduk di sebelahnya Adam dan merangkul bahunya Adam, "Aku akan menemanimu, Dam. Jalani rawat inap dan operasi, ya?"
Adam diam membisu.
"Bagaimana kalau kita ambil cuti dari semua kegiatan kita selama satu bulan, kita pergi ke daerah yang sejuk, menginap di vila. Kita rekam memori kebersamaan kita sebanyak mungkin, setiap hari, selama satu bulan penuh dan setelah itu, kita pulang dan kamu menjalani rawat inap dan operasi. Aku akan terus di samping kamu, sampai kamu dioperasi, aku janji"
"Dan kamu akan ada di sampingku, saat aku bangun pasca operasi nanti?"
Alba menganggukkan kepalanya. "Masuklah ke pelukanku sekarang! Dan menangislah sepuas kamu di dalam pelukanku kalau kamu ingin menangis"
Adam masuk ke dalam. pelukannya Alba dan menangis sesenggukkan di sana. Setelah mampu menguasai emosinya,, ia berkata, "Baiklah. Aku setuju. Aku mau merekam kebersamaan kita selama satu bulan penuh dan setelah itu aku akan menjalani operasi"
Alba tersenyum senang dan dia langsung mencium bibirnya Adam. Adam menarik tengkuknya Alba untuk memperdalam ciuman mereka. Ciuman yang semula lembut, perlahan menjadi panas, sensual, dan liar. Adam berucap, "Kita harus sudahi ciuman kita ini, Ba. Aku nggak tahan lagi kalau diteruskan. Aku bisa khilaf"
"Aku percaya sama kamu, Dam. Kalau mau khilaf, khilaf aja"
Adam menatap Alba dan bertanya, "Kamu yakin?"
Karena terbawa suasana hati yang kacau, pikiran yang kusut, kesedihan berbalut syahdunya suara hujan, kedua insan yang dimabuk cinta itu lupa akan segala norma yang ada. Mereka hanya mengikuti naluri mereka, mengikuti gairah cinta mereka karena, bagi mereka, gairah cinta itulah yang memberi kekuatan bagi mereka, saat itu
Adam langsung membopong Alba dan sambil terus mengajak Alba berciuman, ia melangkah masuk ke kamarnya, merebahkan Alba di atas ranjangnya dan memperdalam ciumannya.......................