I Love You, Adam

I Love You, Adam
Enam Tahun Kemudian



Sepuluh jam setelah selesai dioperasi, Adam membuka kedua kelopak matanya dan tanpa Adam sadari, ia menggumamkan nama, "Alba, Alba, Alba"



Bella Fastro yang terus berada di dalam kamar rawat inapnya Adam dan tidak pernah beranjak sedikit pun dari sisinya Adam langsung bangkit berdiri untuk menatap wajahnya Adam.


"Alba?" Tanya Adam saat ia bersitatap dengan wanita yang tampak asing baginya. Dan sebelum Bella merespons kata pertama yang keluar dari mulutnya Adam itu, Adam kembali tertidur.


Bella langsung memencet bel dan Dokter Felix langsung masuk ke dalam ruang rawat inapnya Adam, "Ada apa?"


Bella menoleh ke pintu masuk dan saat Dokter Felix berdiri di sebelahnya, Bella mundur selangkah untuk memberikan ruang bagi Dokter Felix untuk memeriksa Adam sambil berucap, "Adam bangun tadi. Tapi, kenapa cuma sebentar dan ia tidur lagi, Dok?"


"Ah! Syukurlah masa kritisnya telah berlalu. Adam hanya tidur lelap saat ini. Aku rasa besok Adam sudah bisa membuka kedua bola matanya secara lebar dan menyapa kita semua"


"Tapi, dia tidak mengenali saya tadi" Sahut Bella.


"Hmm. Dia tidak akan mengenali kita semua nanti saat ia bangun. Tapi, kita akan selalu ada demi Adam" Dokter Felix lalu menepuk pundaknya Bella kemudian ia melangkah keluar dari dalam kamar rawat inapnya Adam.


Alba tinggal di rumah pribadinya Mamanya Satya dan Mamanya Satya tinggal di rumah dinas.


"Kamu bisa santai tinggal di sini. Rumah dinasku tidak jauh dari sini, kalau ada apa-apa, kamu bisa ke rumahku. Jangan sungkan!" Mamanya Satya mengusap rambutnya Alba dengan penuh kasih sayang. "Kamu mirip sekali dengan Aldi Anindya, Papa kamu"


"Tante kenal dengan ......."


"Panggil Mama. Aku dari dulu pengen punya seorang putri tapi sama Tuhan hanya dikasih satu putra. Aldi kalau main ke sini ngajak kamu, kamu sering aku gendong dan kamu selalu tidur di dalam pelukanku saat Mama kamu memasak. Mama kamu sangat pandai memasak dan masakannya lezat banget"


"Iya. Mama saya memang sangat pandai memasak. Tapi, apa benar-benar tidak apa-apa,.saya memanggil Anda, Mama?"


"Waktu kamu masih berumur tiga tahun, kamu manggil aku Mama masak sekarang nggak boleh?" sahut Mamanya Satya.


Alba tersenyum senang dan berkata, "Terima kasih sudah bersedia menampung dan menyayangi saya seperti anak Anda sendiri, Mama"


Mamanya Satya langsung memeluk Alba dengan penuh kasih sayang. Lalu ia melepaskan pelukannya sambil berkata, "Tidurlah! Satya menungguku di rumah. Katanya ada yang ingin ia katakan. Mama pulang dulu ya? Kalau ada apa-apa datang aja ke rumah dinasnya Mama, jangan sungkan!"


"Baik Ma" Sahut Alba dengan senyum hangatnya.


"Ada apa Sat?" tanya Mamanya Satya sambil duduk di depannya putra tunggalnya.


"Alba hamil, Ma. Anak yang ia kandung adalah anaknya Adam Baron putranya Alex Baron. Alex Baron mengusir Alba dan memisahkan Alba secara paksa dengan Adam"


"Alex Baron masih saja belum berubah. Mama dan Aldi adalah pengacara yang pernah bekerja di perusahaannya Alex Baron. Mama dan Aldi menjadi tim penasehat hukumnya Alex Baron. Tapi karena kesalahpahaman, aku dan Aldi dipecat. Aldi bahkan dituduh mencuri uangnya Alex Baron. Saat Alex Baron mengejar Aldi, aku ada di dalam mobilnya Aldi. Aldi menarikku keluar dari dalam mobil dan mendorongku menjauh dari mobilnya yang terguling tepat saat mobil itu meledak dan membakar Aldi. Aldi menyelamatkan aku saat itu jadi, aku senang saat ini aku bisa menolong Alba. Aldi diberitakan bunuh diri padahal sebenarnya tidak dan aku terlalu pengecut untuk mengatakan kebenarannya karena, aku diancam kamu dan Ayah kamu akan dibunuh"


"Siapa yang mengancam Mama waktu itu? Apa Mama juga menceritakan hal ini ke Alba, tadi?"


"Mama belum sanggup menceritakan semuanya ke Alba. Dan aku rasa, Alex Baron yang mengancamku saat itu. Dan ancaman itu sungguh dilaksanakan. Saat aku Ingin mengusik kembali kasusnya Aldi, Alba diculik dan kamu juga diculik. Kamu ingat? Kamu dan Alba ditemukan di kantor polisi. Lalu, satu Minggu setelah penculikan itu, Papa kamu ditusuk orang tak dikenal. Aku rasa semua itu perbuatannya Alex Baron"


"Mama cuma nggak mau kamu mengusik Alex Baron. Tapi, mama lihat kamu semakin hebat sekarang ini dan kamu pun sudah memiliki jabatan yang cukup kuat di kejaksaan umum, jadi Mama pikir, sudah waktunya bagi Mama untuk menceritakan semuanya dan Mama akhirnya memutuskan menceritakan semua ini ke kamu karena dipicu cerita dari kamu tentang sikap Alex Baron yang masih suka sewenang-wenang terhadap orang kecil"


"Apa Mama pikir, Papanya Alba sanggup mencuri uang sebanyak itu?" tanya Satya.


"Aldi orang paling polos dan jujur yang pernah aku kenal. Aku rasa Alba juga memiliki karakter yang sama seperti Papanya. Jadi, nggak mungkin kalau Aldi membawa kabur uangnya Alex Baron sebanyak trilyunan rupiah"


"Apa Mama akan merestui kalau aku menyelidiki kasus ini?"


"Tentu saja Mama akan merestui kamu. Tapi, tidak mudah mengungkap boroknya Alex Baron . Dia itu seperti belut"


Enam tahun kemudian............


Adam berdiri di depannya Bella Fastro yang tengah memasangkan dasi di lehernya kokohnya. Bella lalu berjinjit dan mengajak Adam berciuman. Setelah tiga menit berciuman, Bella menarik wajahnya dan bertanya, "Kapan kau akan menikahiku, Dam?"


"Maaf masih banyak yang harus aku pikirkan..Aku belum bisa berjanji kapan kita akan menikah" sahut Adam dengan nada dan wajah datar.


Bella kembali menghela napas panjang dan mengusap dada bidangnya Adam sambil berucap, "Aku akan menunggumu dan tidak akan mendesak kamu menikahiku, tapi aku mohon jangan membuatku menunggu terlalu lama"


Adam tersenyum tipis ke Bella, "Hmm" Dan hanya suara itu yang ia keluarkan lalu Adam melangkah Keluar dai dalam kamar meninggalkan Bella.


Bella berlari menyusul Adam berharap bisa sarapan bersama.dengan Adam karena itu memang alasan utamanya ia datang pagi ke rumahnya Adam sebelum Adam berangkat ke kantor.


Namun, Bella harus menelan rasa kecewanya saat ia melihat Adam langsung masuk ke dalam mobil dan tidak sarapan, dari ujung tangga lantai dua rumahnya Adam.


Bella menghentakkan kakinya dengan kesal di atas lantai dan bergumam, "Aku memiliki kamu di sampingku lagi. Tapi, hanya secara fisik. Hati dan pikiranmu masih sama seperti dulu. Tidak ada diriku sama sekali di dalam hati dan pikiranmu sampai detik ini, Dam. Dasar sial!"


Nindya datang sambil menenteng rantang dan dia segera naik ke lantai dua saat ia melihat Bella berdiri termangu di ujung tangga lantai dua. Nindya lalu berkata, "Dasar wanita tidak tahu malu datang ke rumah laki-laki sepagi ini. Dan apa yang kau dapatkan? Hahahahahaha! Kau diabaikan oleh Adam. Kasihan, kasihan, tzk!"


Karena kesal, Bella langsung mendorong keras tubuhnya Nindya ke belakang, Nindya langsung jatuh dan berguling-guling dari atas tangga lantai dua rumahnya Adam dan terhempas di lantai satu tak sadarkan diri dengan darah di sudut bibir dan pelipis.


Bella langsung berlari turun dan memeriksa kondisinya Nindya. Bella panik saat ia tidak menemukan denyut nadi di leher dan pergelangan tangannya Nindya. Bella langsung membawa Nindya ke rumah sakit dengan mobilnya. Dan tertegun dengan wajah pucat saat dokter menghampirinya dan mengatakan kalau Nindya sudah tiada.



"Ma! Math in englishnya Noah dapat nilai seratus lagi. Noah boleh minta hadiahnya? Kan Mama janji kalau math in englishnya Noah dapat seratus sebanyak lima kali berturut-turut, Mama akan kasih hadiah ke Noah.


Alba tersenyum bahagia menatap putra tampannya yang sangat cerdas itu. Ia lalu berjongkok di depannya Noah dan bertanya, "Oke! Mama akan kasih hadiah. Noah maunya apa?"


"Noah pengen teleskop karena, Noah ingin melihat Papa. Kata Mama, Papa Noah adalah salah satu bintang yang ada di langif dan suatu saat nanti, Papa akan pulang kata Om Satya. Untuk itulah Noah pengen teleskop"


Deg! Hati Alba berdegup karena rasa haru. Dia lalu mendekap erat putranya yang sangat cerdas dan mirip sekali dengan Adam Baron itu untuk menutupi keharuannya. Lalu Alba bercap, "Mama akan ajak kamu beli teleskop sekarang. Ayok!"


Noah memekik senang dan langsung melompat ke dalam gendongan mamanya dan menciumi pipi Mamanya tanpa henti sambil terus berucap, "Noah sayang sama Mama"