
"Kenapa kamu menjemput Ibu dengan sepeda motor?"
Cih! emang dasar cewek matre. Batin Adam kesal.
Lalu Adam bertanya sambil bersandar ke motor sport kesayangannya, "Emangnya kenapa kalau saya menjemput Ibu pakai sepeda motor?"
"Ibu kan bisa pakai celana panjang tadi dan nggak pakai rok kayak begini. Sebentar ya, Ibu naik lagi ke atas untuk mengganti rok ini dengan celana panjang"
Ibu Nindya hendak berbalik badan dan masuk kembali ke dalam apartemen yang baru saja dibelikan oleh Papanya Adam sebagai hadiah lamaran dan pertunangan mereka yang baru dilakukan berdua dan belum dihadiri oleh keluarga dari kedua belah pihak.
"Kita belum bilang ke putraku soal kamu jadi, kamu bersabar dulu ya!? kita bertunangan secara private dulu seperti ini barulah nanti kalau Adam sudah tahu dan setuju, kita langsung mengadakan pernikahan secara besar-besaran dan aku hadiahi kunci apartemen ini ke kamu karena kamu udah menerima lamaranku" ucap Papanya Adam kala itu.
"Nggak usah, Bu! Keburu sore nanti" Adam berucap sembari melepas jaketnya lalu menyerahkannya ke calon Ibu tirinya, "Ibu tutupi rok Ibu dengan jaket ini saja"
Ibu Nindya tersenyum senang melihat Adam, calon anak tirinya begitu baik dan penuh perhatian.
Beberapa detik kemudian, Nindya sudah nangkring di atas motor sportnya Adam dan Adam berucap, "Pegangan, Bu! Ini motor bukan mobil yang ada sabuk pengamannya. Kalau nggak pegangan, Ibu bisa jatuh nanti"
Dengan canggung, Nindya memegang ujung kaosnya Adam dan Adam dengan santainya menarik tangan calon ibu tirinya dan ia lingkarkan di perutnya, "Pegangan yang kencang kayak gini! Kalau nggak, nanti jatuh"
Setengah jam berikutnya, mereka telah sampai di sebuah toko buku dan di sana tanpa sengaja, Adam dan Nindya bertemu dengan Alba.
"Bu Nindya? Adam?" Alba menatap bergiliran guru dan teman sebangkunya itu dengan heran.
"Alba kan? Ibu ingat kamu karena nama kita sama, hehehehe" Ibu Nindya menyapa Alba dengan senyum ramah dan menyalami Alba namun, Adam bergeming.
"Anda dan Adam, datang bersamaan?" Alba masih tampak heran menatap keduanya.
Bu Nindya tersenyum dan hendak mengatakan yang sebenarnya bahwa ia adalah calon Ibu tirinya Adam namun, Adam langsung mencegah Bu Nindya membuka mulut dengan cara, menarik pergelangan tangan Bu Nindya untuk berlalu meninggalkan Alba yang masih tampak kebingungan.
Bu Nindya melangkah terseok-seok karena Adam masih menarik pergelangan tangannya dan ia berjalan sembari menoleh ke belakang untuk tersenyum ke Alba.
Alba keluar dari dalam toko buku sembari menyendengkan kepalanya dan bergumam, "Apa Bu Nindya Tantenya Adam, Kakaknya atau saudaranya Adam? Ah! bukan urusanku juga ada hubungan apa di antara Adam dan Bu Nindya" Alba lalu menaiki sepedanya yang baru saja dia pakai kembali setelah rusak karena ditabrak oleh Adam dan menggowesnya di atas trotoar.
Adam lalu melepaskan pergelangan tangan ibu tirinya ketika dilihatnya, Alba telah meninggalkan toko buku itu. Kemudian ia berkata, "Maaf!"
Bu Nindya tersenyum, "Nggak papa. Santai aja. Kenapa kesannya tadi, kamu nggak ingin kasih tahu ke Alba kalau Ibu adalah calon istri Papa kamu?" Bu Nindya menatap Adam yang masih berdiri tegak di depannya.
"Dia itu ceriwis. Nanti akan jadi kehebohan di sekolahan kalau dia tahu soal hubungan Anda dengan Papa saya" Sahut Adam.
"Oh! Benar juga sih. Ibu dan Papa kamu kan belum menikah jadi, belum saatnya semua tahu soal hubungan Papa kamu dengan Ibu" Bu Nindya tersenyum dan mulai berjalan di antara rak buku untuk memilih beberapa buku untuk ya sendiri sembari bertanya ke Adam yang berjalan di belakangnya, "Kamu pengen beli buku apa? Kamu suka novel? di sini rak novel. Kalau rak buku pelajaran, ada di sebelah sana" Bu Nindya menunjuk ke sebelah timur paling pojok dari toko buku itu.
"Saya suka novel. Pilihkan saja yang bagus untuk saya" ucap Adam dengan asal-asalan karena sesungguhnya dia tidak begitu menyukai novel. Dia berucap begitu karena dia malas berjalan cukup jauh untuk berpindah rak.
Bu Nindya memilih buku novel sembari bertanya, "Wah! Kita sehati rupanya. Kita memiliki hobi yang sama yaitu membaca dan kita juga memiliki kesukaan yang sama yaitu Matematika. Tidak seperti Papa kamu yang hanya hobi bekerja, hehehehe" Nindya kemudian tertawa lirih.
Adam tersenyum tipis dan berkata di dalam hatinya, Itu hanya suatu kebetulan yang sangat aku benci.
Setelah memilih beberapa buku novel untuknya dan untuk calon anak tirinya yang tiba-tiba baik dan perhatian padanya. Nindya berjalan ke kasir untuk membayar.
Adam mencegah Bu Nindya untuk membayar semua buku novel itu namun, Bu Nindya berkata, "Biar Ibu yang membayarnya karena kamu sudah baik banget mau mencoba untuk mengenal Ibu lebih dekat. Ibu sangat menghargainya"
Adam memandangi calon ibu tirinya dengan penilaian di dalam benaknya, ia memang memiliki wajah sangat cantik dan memiliki kesan lemah lembut tapi, dia hanyalah cewek matre dan aku akan terus membencinya karena ia telah berani masuk ke dalam kehidupan Papaku dan membuat Papaku semakin menjauhiku, cih!
Adam lalu mengajak calon ibu tirinya ke sebuah restoran. Adam langsung melangkah menuju ke private room yang udah ia pesan dan sudah ditata dengan ornamen-ornamen romantis.
Bu Nindya memasuki ruangan tersebut dengan menautkan alisnya lalu ia menoleh ke Adam, "Kau ulang tahun hari ini?"
Adam duduk sembari menggelengkan kepalanya.
"Kok ada bunga dan balon? Kamu yang pesan kan tempat ini?" tanya Nindya.
"Hanya iseng aja biar rame. Hidup saya kan selalu sepi" sahut Adam sekenanya.
Bu Nindya menatap Adam dengan sorot mata sendu, "Papa kamu memang selalu sibuk dan tidak pernah ada waktu untuk kamu Adam. Tapi, itu demi masa depan kamu. Dia sangat menyayangimu. Ibu tahu karena di setiap pertemuan kami, Papa kamu selalu menceritakan masa kecil kamu. Dia juga bangga, kamu selalu mendapatkan banyak sekali penghargaan di bidang Matematika dan science kamu juga selalu menjadi juara satu pararel dari TK sampai SMP. Papa kamu sayang banget sama kamu"
Makan malam itu berlangsung dalam kesunyian karena Adam dan Bu Nindya memang tidak begitu suka berbicara dan berbasa-basi.
Adam yang ingin melancarkan rayuan untuk menjerat calon ibu tirinya, menjadi kelu lidahnya setelah ia mendengar dari Bu Nindya bahwa sesungguhnya Papanya sangat menyayanginya.
Adam lalu mengantarkan pulang calon ibu tirinya itu lalu ia pamit dan segera meninggalkan pelataran depan apartemen mewah yang dihuni oleh calon ibu tirinya.
Tibalah hari Sabtu. Hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh siswa baru di SMA Pelita Kasih untuk pergi ke acara Social Gathering yang diselenggarakan di salah sebuah Vila mewah yang berada di luar kota.
Para guru dengan didampingi kakak-kakak senior, mengawal para siswa baru di SMA Pelita Kasih dengan riang gembira.
Sesampainya di Vila, para siswa pergi ke kamar yang sudah dibagikan ke mereka. Satu kamar dihuni empat orang siswa. Setelah masuk kamar, mereka diberi kelonggaran waktu selama dua jam untuk bersantai sejenak.
Waktu itu dipakai Alba untuk berjalan-jalan sendiri di sekitar Vila karena Ayu masih sibuk membantu guru-guru merawat siswa yang mengalami mabuk perjalanan.
Alba sampai di sebuah warung kecil yang terbuat dari bambu dengan penerangan dari lampu teplok sehingga membuat warung kecil itu menjadi remang-remang.
Alba mampir ke warung kecil itu karena tergoda bau gorengan yang menggoda selera. Alba lalu duduk di bangku yang juga terbuat dari bambu lalu memesan sepiring mendoan dan es teh.
Tiba-tiba ada suara pemuda yang memesan es teh manis dan suara itu mengagetkan Alba. Gadis manis itu secara spontan menoleh, "Adam? Kok ke sini?"
"Haus. Ini warung punya Nenek kamu ya jadi, aku nggak boleh ke sini?" Adam duduk dan menjawab pertanyaannya Alba dengan acuh tak acuh.
Alba terkekeh geli lalu ia mencoba untuk mengobrol dengan Adam karena di kelas, walaupun mereka sebangku, mereka tidak pernah mengobrol.
"Kamu kenapa selalu ketus sama orang? Dan kenapa kamu suka menyendiri?"
"Karena aku nggak suka ngomong kalau nggak penting itulah kenapa aku nggak suka berteman dan nggak punya teman" sahut Adam dengan wajah datar.
"Hei! berteman itu penting jadi, jangan ngomong seperti itu! Jika kita memiliki banyak teman, itu akan menguntungkan bagi kita. Jika kita sedang ada masalah atau kesulitan, akan ada teman yang akan menolong kita"
"Aku bisa menolong diriku sendiri. Aku punya kecerdasan dan aku punya uang jadi, kupikir aku tidak butuh teman" sahut Adam sambil meminum es teh manisnya yang sudah tersaji di depannya.
Alba lalu menyodorkan piring yang berisi penuh mendoan, "Jangan sombong juga! Di atas langit masih ada langit. Mau?"
"Aku nggak sombong tapi, itu kenyataan" Adam lalu menggelengkan kepalanya, "Itu terlalu berminyak nggak baik untuk......."
"Hap! enak kan?" Alba memasukan sepotong mendoan ke dalam mulutnya Adam.
Secara refleks Adam mengunyah potongan mendoan yang telah masuk ke dalam mulutnya dan berkata, "Iya enak"
"Ngomong iya enak aja kayak mau berangkat perang tegang amat. Cobalah senyum dan bicara dengan bernada jadi, orang yang ada di dekatmu akan senang menemanimu"
"Apa karena aku jarang senyum dan datar kayak gini maka, Papaku malas untuk menemaniku?" gumam Adam.
"Apa kau bilang barusan? Aku nggak bisa mendengarnya karena wajan penggorengan itu cukup berisik" Sahut Alba dengan volume suara cukup tinggi
Adam menggelengkan kepalanya dan berteriak, "Nggak papa!"
Alba melotot, "Jangan teriak juga ngomongnya! bisa pecah gendang telingaku"
Tanpa Alba duga, Adam tertawa terbahak-bahak dengan ringannya di depan dia. Alba terpana melihat tawa Adam. Itulah pertama kalinya Alba melihat tawa lepasnya Adam dan itu sungguh mempesona.
"Apa? Kenapa memandangiku seperti itu? aku tahu aku sangat tampan jadi jangan lama-lama memandangiku! Kau bisa jatuh cinta nanti" Adam kembali meminum es teh manisnya setelah mengucapkan kata-kata tersebut.
Alba mendengus kesal lalu berkata, "Jangan lama-lama ngobrol denganku!"
Adam menoleh heran, "Kenapa emangnya?"
"Nanti kamu bisa jatuh cinta padaku" sahut Alba dengan bibir mengerucut dan Adam langsung menyemprotkan protes, "Cih! yang ada puyeng nih kepala kalau kelamaan ngobrol denganmu"
"Cih! Yang ada tuh aku yang puyeng melihat tingkah aneh kamu" Alba semakin mengerucutkan bibirnya dan berhasil membuat Adam kembali tertawa lepas dan untuk sejenak Adam bisa melupakan kepedihan hatinya yang selalu sendirian di dunia ini dan untuk sejenak Adam pun lupa akan niatnya menjerat calon ibu tirinya dengan cinta palsu yang ia tawarkan.