I Love You, Adam

I Love You, Adam
Aku Mencintaimu



Adam mendengar isak tangisnya Alba. Dia lalu meraup wajah tampannya, berputar badan masuk ke dalam kamar dan menutup rapat daun pintu kamar tersebut.


Adam melangkah pelan mendekati Alba dengan sorot mata penuh dengan kesedihan. Dia tidak tega melihat kondisinya Alba, dia tidak tega melihat tangisannya Alba. Dia sangat marah melihat penderitaan fisik dan batin yang Alba alami selama ini. Bahkan Adam marah pada alam sekitar, pada udara, pada semua makhluk di bumi ini, pada bumi yang ia pijak karena mereka semua tidak bisa memberikan kekuatan dan penghiburan kepada Alba di saat ia tidak berada di sisinya Alba.


Adam lalu duduk dengan pelan di tepi ranjang dan berkata, "Maafkan Aku! Aku tidak mendiskusikan dulu masalah ini padamu. Itu karena, aku takut si brengsek itu telah sangat jauh melarikan diri dan bebas melenggang di luar sana. Coba kau bayangkan, jika ia tidak ditangkap dan dihukum dengan berat, dia tidak akan pernah jera. Dia akan mencari mangsa lagi. Apa kau tega jika ada gadis lain mengalami nasib yang sama denganmu dan......."


Alba semakin dalam isak tangisnya. Adam menghela napas panjang lalu ia merengkuh tubuhnya Alba untuk ia peluk. "Menangislah! Menangislah sepuas kamu di dalam pelukanku! Kau perlu untuk menangis untuk menjernihkan pikiran kamu. Dan mulai detik ini, jika kau ingin menangis, cari aku, manfaatkan aku dan Menangislah di dalam pelukanku, hmm?"


Alba menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan hangat mantan kekasihnya yang sesungguhnya masih sangat ia cintai dan rindukan itu. Adam terus mengelus dan sesekali menepuk-nepuk pelan punggungnya Alba dengan penuh kasih sayang.


Dua puluh lima menit berlalu dan hanya terdengar isak tangisnya Alba di kamar VVIP Cempaka 8 itu Tok,tok,tok! Pintu kamarnya Alba diketuk oleh seseorang.


Alba langsung menarik diri dari dalam pelukannya Adam. Adam mengusap air mata di kedua pipinya Alba lalu mengecup keningnya Alba dan bangkit untuk membuka pintu.


Dua orang berseragam dipersilakan Adam untuk masuk ke dalam kamar.


Adam dan kedua pria berseragam polisi itu, kemudian berdiri di depan bed-nya Alba.


Alba tampak panik dan ketakutan melihat dua pria berseragam polisi berdiri tegak di depan bed-nya.


Adam lalu berlari kecil untuk berdiri di sebelahnya Alba yang tengah duduk dan bersandar di ranjang. Adam menggenggam tangannya Alba yang tidak terpasang infus lalu melempar tanya ke kedua pria berseragam polisi itu, "Ada yang bisa saya bantu?"


"Apa Anda yang bernama Adam Baron?" tanya salah satu dari pria berseragam polisi itu. "Emm, nama saya Joko dan ini rekan saya Broto. Kami ke sini untuk membawa Anda ke kantor polisi"


"Untuk apa? Saya sudah memberikan keterangan dan bukti terkait dengan laporan dan tuntutan yang saya ajukan semalam" Sahut Adam sembari mengelus tangannya Alba yang menegang di dalam genggamannya.


"Tuan Johny Setiawan, melaporkan Anda pagi tadi dengan dugaan penganiayaan dan pembobolan rumahnya. Kamera CCTV yang terpasang di depan rumah Tuan Johny Setiawan, menangkap aksi Anda mendobrak pintu depan rumahnya"


Alba mengangkat wajahnya dan menolah ke kiri untuk melihat wajah Adam.


Adam menunduk lalu ia mengecup keningnya Alba, "Tenanglah! Aku akan segera kembali. Jangan pergi dari sini sebelum kau balik ke sini. Dan jika dalam satu jam aku belum bisa balik, aku akan suruh sekretarisku untuk ke sini menjaga kamu. Namanya Pambudi. Orangnya ramah dan tidak begitu tinggi, putih dan berkacamata"


Alba menganggukkan kepalanya dan saat ia melihat Adam melangkah hendak meninggalkannya, Alba berteriak, "Tunggu! Aku bersedia bersaksi melawan Om-ku. Karena, dia sudah lancang melaporkan kamu, padahal dia yang sebenarnya bersalah"


Adam menoleh ke Alba dengan wajah semringah lalu ia berkata, "Aku akan menyelesaikan masalah ini dulu. Lalu kita akan bahas soal Om kamu, nanti. Aku mencintaimu" Adam lalu pergi bersama dua pria berseragam polisi meninggalkan Alba.


Alba menatap kepergiannya Adam dengan helaan napas panjang. "Maafkan aku, Dam. Gara-gara aku, kamu jadi terlibat masalah yang sangat runyam"


Bella mencari Adam ke kantornya, lalu ke kampus dan dia tidak menemukan Adam di kedua tempat itu. Ponsel Adam yang Bella hubungi terus sibuk. Bella menggenggam kemudi mobil sedan merahnya dengan bergumam, "Kau ada di mana, Dam? Kemarin malam kau tidak angkat telpon kamu dan sampai pagi aku belum mendengar suara kamu. Kamu menghilang ke mana? Apa kau tahu, Dam? Sedetik aja aku tidak mendengar suara kamu, hidupku terasa hampa"


Adam duduk di depan petugas kepolisian yang bertugas menginterogasi dia, "Apa yang ingin Anda ketahui, Pak?"


"Anda seorang pengacara?" tanya petugas kepolisian itu.


"Iya benar. Saya adalah pengacara" sahut Adam dengan ekspresi wajah yang sangat datar dan nada bicara yang sangat santai.


"Saya tidak lupa. Untuk itu, saya tidak bertindak dengan gegabah kecuali memukuli iblis itu karena, iblis itu hampir saja memperkosa seorang mahasiswi di ruang musik kampus Merah Putih" sahut Adam masih dengan ekspresi dan nada bicara yang sama.


"Tapi, memukuli orang tetap saja salah walaupun alasannya benar"


"Saya tahu. Dan saya tahu, dengan membayar uang jaminan, saya bisa bebas dari tuntutan pemukulan itu" sahut Adam.


"Tapi, tidak dengan pembobolan rumah"


"Saya tahu. Oleh sebab itu, saya mengajak saksi mata saat saya membobol rumah itu. Saya juga ada surat perintah dari jaksa" sahut Adam.


"Sial! Kau cerdas juga Mister Pengacara" Petugas kepolisian itu mengulas senyum lebarnya untuk Adam. "Lalu di mana para saksi yang Anda katakan tadi dan di mana surat perintah dari jaksa?"


Seorang petugas kepolisian yang lain melangkah masuk ke ruang interogasi dan memberikan map ke rekannya.


Petugas kepolisian yang duduk di depannya Adam memeriksa isi map tersebut lalu berkata, "Anda bebas, Mister Pengacara. Jaksa Satya Wicaksana telah memberikan pernyataannya dan ada surat pernyataan yang ditandatangani oleh tiga orang saksi mata yang menyatakan bahwa Anda membobol rumah Tuan Johny Setiawan untuk keperluan penyidikan"


Adam bangkit dengan senyum lega di wajahnya dan petugas kepolisian itu pun bangkit dan menyalami Adam dengan kata, "Maaf kalau kami menyita waktu sibuk Anda, Mister Pengacara"


"Anda hanya menjalankan tugas Anda. Saya tidak pernah menyalahkan Anda" Adam tersenyum lalu melangkah keluar dari dalam ruang interogasi.


Jaksa Satya Wicaksana menyambut Adam dengan merentangkan kedua tangannya di depan Adam.


Adam memeluk Jaksa Satya dengan tawa renyah dan berucap, "Makasih, Bro!"


Kedua sahabat karib itu melangkah keluar dari kantor kepolisian dengan wajah riang.


Di depan pintu mobilnya Adam, Satya menepuk pundaknya Adam, "Untung Pambudi segera mengunjungi aku semalam saat Pambudi merasakan ada yang ganjil di wajah geram kamu semalam. Siapa gadis yang beruntung itu, gadis yang mendapatkan perhatian penuh dari kamu?"


"Dia gadis yang sangat aku cintai. Dan hanya dia yang aku cintai di hidupku ini" sahut Adam.


"Kau gila! Lalu bagaimana dengan Bella?"


"Aku akan putuskan pertunanganku dengan Bella. Aku tidak pernah mencintai Bella dan kau tahu betul alasan aku menerima pertunangan ini" sahut Adam.


"Yeeaahhh! Kau memang gila. Jadi, kita impas sekarang. Aku sudah nggak punya hutang lagi sama kamu" sahut Satya sambil melangkah meninggalkan Adam.


Adam menatap punggung Satya lalu berteriak, "Terima kasih Bro!"


Satya melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang


Adam kembali ke rumah sakit dan sepasang mata menatapnya dengan penuh dendam.