
Satya pulang dengan perasaan campur aduk. Dia cemburu dengan Adam karena Adam pasti akan merebut perhatiannya Noah, namun dia juga tidak berhak dan tidak tega menjauhkan Noah dari Adam, karena Adam adalah papa kandungnya Noah. Dan Alba, Satya menghela napas panjang saat hatinya menggumamkan nama wanita yang sangat ia cintai. Alba.
Satya menghisap dalam-dalam rokoknya lalu menghembuskannya pelan dari lubang hidungnya, di pinggir pantai yang berada tidak jauh dari restoran seafood langganannya. Dia pamit pergi ke pantai untuk menenangkan diri.
Dan tiba-tiba, ada seorang wanita dengan dress terusan berwarna pink, dengan menjinjing sepatu high heels di tangan kanannya, dan berlari bertelanjang kaki ke arah Satya.
Wanita muda itu tampak sedikit mabuk dan berkata dengan napas tersengal-sengal, "Tolong selamatkan aku! Aku hendak dijual ke laki-laki tua oleh pacarku"
Satya langsung menautkan alisnya dan secara spontan menangkap tubuh wanita itu di saat wanita itu limbung ke depan dan jatuh pingsan di dalam pelukannya. Satya mengumpat kesal, lalu ia segera membopong wanita itu untuk ia masukkan ke dalam mobilnya dan ia bawa pulang ke rumah mamanya.
Adam mendorong pelan tubuhnya Alba dengan. pelan tanpa melepas belitan lidahnya di dalam mulutnya. Dan langsung mengungkung Hana saat punggung Hana membentur tembok kamar dengan pelan dan tangan kirinya Adam menjaga bagian belakang kepalanya Alba agar tidak terbentur tembok.
Dag,dig,dug........dag, dig, dug, bunyi jantungnya Alba dan Adam berpacu kencang.
Alba terus melenguh sambil terus mengelus kepalanya Adam dengan kedua tangannya.
Suara Hana yang sensual dan rasa bibirnya Hana yang manis, membuat Adam semakin frustasi dan di saat Adam mengalihkan cumbuan mautnya ke lehernya Alba dan menggigit pelan di sana, untuk membuat Alba semakin melemas,............
"Pa, Ma, kalian sedang ngapain?"
Adam langsung menarik wajahnya dari lehernya Alba dengan wajah linglung dan Alba langsung mendorong tubuhnya Adam.
Adam menoleh ke samping kanannya dengan gerakan lambat dan ia langsung bersitatap dengan kedua bola mata birunya Noah yang memandangnya dengan penuh tanda tanya.
Alba melangkah lebar lalu duduk di tepi ranjang dan langsung memeluk Noah sambil berkata, "Papa menepuk nyamuk yang mendarat di lehernya Mama"
"Model baru ya, Ma? Menepuk nyamuk pakai bibir?"
Tangan Alba meraih kaosnya Adam dan menariknya maju. Alba kemudian menoleh ke Adam meminta bantuan.
Adam langsung duduk di tepi ranjang dan sambil mengelus punggungnya Adam, ia berkata, "Nyamuknya tadi udah Papa tepuk pakai tangan dan terlalu keras nepuknya. Mama kesakitan terus Nah, terus Papa tiup deh lehernya Mama biar sakitnya berkurang"
Noah menarik diri dari dalam pelukan mamanya dan melihat leher mamanya. "Oh, iya benar. Leher Mama merah. Nyamuknya nakal banget ya, Ma, udah bikin leher Mama semerah ini"
Alba dan Adam bersitatap dengan bibir terkulum, lalu Alba berkata, "Iya, bener banget. Nyamuknya tingkat kenakalannya udah setingkat dewa"
Adam langsung mendelik ke Alba dengan senyum geli.
Alba kembali mengulum bibir dan mendorong tubuh Noah untuk rebah kembali di kasur lalu ia peluk Noah, "Tidur lagi gih! Mama akan bernyanyi untukmu"
Adam ikut merebahkan diri di sisi kirinya Noah dengan posisi miring dan memeluk Noah.
Tangan Adam berada di atas punggung tangannya Alba dan mereka bersitatap penuh cinta.
Noah menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Mama nggak usah nyanyi malam ini" lalu Noah memunggungi Alba dan wajahnya berhadapan dengan Adam. Noah berkata dengan senyum lebar dan mata berbinar-binar, "Pa, lanjutkan dongeng Papa tadi"
Noah memutar badannya ke mamanya dan berkata sambil mengelus pipi mamanya, "Noah ingin Mama istirahat malam ini" Lalu anak laki-laki tampan itu kembali memutar badan ke papanya dan berkata, "Ayok Pa, lanjutkan ceritanya!"
Adam terkekeh geli sebentar, lalu mulai melanjutkan ceritanya. Dan di saat Noah terlelap di dalam pelukannya, Adam mengangkat kepalanya untuk melihat Alba. Adam tersenyum bahagia, melihat Alba pun sudah terlelap karena dongeng yang ia ceritakan. Adam lalu menarik selimut untuk menyelimuti Alba dan Noah di dinginnya malam yang syahdu dengan bunyi rintik hujan.
Adam lalu merebahkan kepalanya dan dia akhirnya bisa tidur nyenyak dengan wajah bahagia dan hati yang terasa sangat nyaman.
Alex Baron menarik kopernya di sebuah bandara. Alex Baron menuju ke kota di mana hotel barunya tengah dibangun di bawah pimpinannya Adam Baron. Alex sudah cukup berduka dan dia rindu untuk kembali berkiprah di dunia bisnis.
Alba bangun lebih pagi dari biasanya karena dia tidur lebih awal semalam berkat dongeng pengantar tidur yang didongengkan dengan sangat apik oleh Adam.
Alba melihat Noah masih pulas di dalam dekapannya Adam dan tanpa terasa Alba menitikkan air mata haru. Alba kemudian mencium pipinya Noah dengan hati-hati agar tidak membangunkan Noah di jam tiga dini hari. Lalu ia memajukan wajahnya untuk mencium pipinya Adam, lalu ia membetulkan letak selimut dan bangun.
Alba membuka pintu lemari es untuk mengambil empat wadah makanan yang masing-masing berisi gulai kepala ikan, gurame asam manis, dan udang saus tiram. Adam yang membelikannya dan berkata ke Alba, "Jangan masak malam ini! Kau hanya untukku dan Noah malam ini. Aku beli makanan ini untuk kau panaskan lagi besok pagi" Alba tersenyum dengan rona merah di wajahnya di saat ia mengingat kembali ucapan Adam itu, yang Adam katakan di restoran seafood semalam.
Grab! Alba tersentak kaget saat ia merasakan pinggangnya ditarik oleh seseorang dan ia langsung tersenyum lega saat ia menoleh, wajah Adam ada di atas pundaknya dan wajah itu mengulas senyum penuh cinta untuknya.
"Kenapa senyum-senyum sendiri? Apa yang kau pikirkan?" Adam berkata dengan menempelkan bibirnya di daun telinganya Alba.
Alba tanpa sadar menggerakkan tangan kanannya ke belakang untuk membelai kepalanya Adam dan berkata, "Aku bahagia saat, Mas. Aku senyum-senyum sendiri tadi, karena merasa sangat bahagia"
Adam langsung memutar badannya Alba dan tanpa menunggu lama, di saat wajah Alba ada di hadapannya, Adam langsung memagut bibirnya Alba dengan penuh kerinduan.
Adam kembali menyusupkan wajahnya di leher Alba dan tangannya mulai bergerilya dari bawah. Terus bergerak naik hingga menemukan titik lemahnya Alba. Jari jemari Adam bergerak lincah di sana sambil terus menciumi leher dan beralih ke dada.
Alba mendesis, melenguh, dan dengan suara serak ia bertanya, "Mas, kalau Noah bangun gimana?"
Adam mengangkat tubuhnya Alba lalu mendaratkan pantatnya Alba di atas meja makan yang masih tampak longgar sambil berkata, "Aku tidak tahan lagi, Ba, maaf. Aku akan melakukannya dengan cepat" Adam langsung menyingkap dressnya Alba, mendesak cepat dan menyatukan raga di atas meja makan. Adam bergerak cepat dan menarik diri lalu merapikan kembali dressnya Alba sambil mencium keningnya Alba, setelah keduanya memekikkan jerit kepuasan mereka ke udara bebas.
Alba menepuk dadanya Adam dan berkata, "Jangan dibiasakan bermain di sini, Mas! Noah bisa bangun tiba-tiba dan memergoki kita"
Adam terkekeh geli dengan napas yang masih menderu lalu berkata, "Iya, maaf. Sepertinya aku harus cari tempat yang aman dari Noah, nih"
"Untuk apa?" Alba bertanya sembari merosot turun dari atas meja makan dan Adam langsung menangkap tubuhnya Alba lalu mendekapnya dan berkata, "Untuk berduaan denganmu, seperti yang barusan kita lakukan"
Alba merona malu dan dia segera melepaskan diri dari pelukannya Adam lalu berlari kecil meninggalkan Adam sambil berkata, "Aku akan mandi, Mas. Tolong panaskan semua sayur yang Mas beli kemarin, ya?!"
Adam tersenyum bahagia dan berteriak, "Siap delapan enam, Nyonya Adam Baron!"
Alba masuk ke dalam kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari dapur dan menyambar handuk bersih dan dress bersih yang masih ada di jemuran baju sambil terkekeh geli.
Adam memanaskan sayur sambil bersiul riang karena akhirnya, kerinduannya pada Alba di pagi hari itu sudah terpuaskan dengan sangat sempurna dan indah.