I Love You, Adam

I Love You, Adam
Aku Tidak Apa-apa



Tiga Minggu kemudian...........


"Dam! Kamu udah ngeyel lho ini. Kita bener-bener di sini lebih dari dua Minggu. Sebulan kita di sini apa nggak papa?" Tanya Alba sembari menyisir rambutnya.


Adam yang tengah duduk di tengah kasur berucap, "Nggak papa kan, buktinya aku nggak terserang sakit kepala lagi. Ternyata benar, hati yang gembira adalah obat yang paling manjur" Adam lalu meraih laptop dan kameranya, dia letakkan kedua alat canggih itu di atas kasur karena, ia ingin memindahkan semua hasil foto jepretannya dari kamera digitalnya ke dalam flashdisk yang sudah ia tancapkan di laptopnya Adam menatap satu per satu foto kebersamaannya dengan Alba, di layar laptopnya dengan terus melukis senyum bahagia di wajah tampannya.


Adam terus berkonsentrasi dan asyik melakukan kegiatannya di pagi hari itu, yakni menyimpan semua foto pernikahannya dan semua foto kebersamaannya dengan Alba selama berbulan madu, di dalam flashdisk berbentuk robot mini lucu berwarna putih.


Alba duduk di sebelahnya Adam, lalu meletakkan kepalanya di atas pangkuannya Adam. Alba melihat foto-foto hasil jepretannya Adam di layar laptop dan memekik senang di foto dia dan Adam memakai baju seragam SMA, "Ini foto yang paling aku sukai, Dam. Kita masih pantas memakai baju seragam SMA, ya, hahahahaha. Wajah kamu lucu"


Adam menundukkan wajahnya untuk mencium pipinya Alba lalu berucap, "Kamu sih masih pantas pakai seragam SMA karena kamu nggak banyak berubah. Awet pendeknya, awet imutnya, lha aku akan bertambah tinggi dan udah brewokan, lucu tuh, kamu lihat kan, masak anak SMA brewokan" Adam lalu terkekh geli dan Alba tertawa lepas. Alba lalu menarik tengkuknya Adam dan mengajak Adam untuk berciuman.


Adam menarik bibirnya dengan terpaksa sambil berucap, "Tahan sebentar ya, Manisku, aku mau edit foto ini dulu lalu menyimpannya di flashdisk biar aman sampai aku sadar dari operasi nanti"


Alba mengerucutkan bibirnya, lalu bertanya, "Gitu ya sekarang, laptop lebih penting daripada Istri?"


Adam terkekeh geli lalu mendaratkan ciuman di pipinya Alba sambil terus menyelesaikan editannya.


Setelah menutup laptop dan mencabut flashdisknya, Adam menyerahkan laptop dan flashdisk itu ke Alba, "Tolong simpan baik-baik laptop dan flashdisk ini, ya? Jangan sampai ilang dan rusak file-nya!"


Alba mencium pipinya Adam lalu membawa flashdisk dan laptop untuk ia masukkan kembali ke dalam tas punggungnya Adam, "Aku masukkan ke sini dan...........Dam!" Alba menoleh ke arah Adam dan langsung berlari untuk menangkap tubuhnya Adam yang tiba-tiba limbung.


Adam kembali mendesis dan merintih kesakitan.


"Aku akan bawa kamu ke kasur lalu kita pulang aja ya? Satu bulan di sini aku rasa udah cukup untuk kita. Kamu harus segera dibawa ke rumah sakit untuk........"


"Dam!" Alba berteriak panik saat ia melihat suaminya tidak sadarkan diri.


Alba lalu membaringkan Adam di atas ranjang dengan pelan setelah itu ia bergegas menelepon seseorang dan tanpa sadar ia memencet nomer ponselnya Satya saking paniknya.


"Halo, Pak Hernowo, tolong saya! Adam pingsan maaf kalau......."


"Adam pingsan? Halo, ini Satya, Ba" Satya langsung berdiri dari atas pasir pantai.


Alba mengernyit lalu menatap layar ponselnya sejenak dan ia langsung menepuk keningnya, "Bodoh banget sih kamu, Ba. Kok malah nelpon Kak Satya, sih?"


"Maaf Kak, aku salah pencet. Aku akan matikan ponselnya. Aku harus segera mencari bantuan karena......."


"Aku akan ke sana" Klik! Satya memutuskan sambungan teleponnya dan langsung berlari ke kamarnya Adam.


Alba menautkan alisnya, "Kalau nunggu Kak Saya ke sini kan kelamaan. Kak Satya kan ada di ............


Tok, tok, tok, pintu kamarnya Alba diketuk oleh seseorang. Alba menautkan alisnya sambil berlari untuk membuka pintu dan ia tersentak kaget melihat Satya berdiri di depan pintu dan langsung masuk ke dalam kamar.


"Iya, Kak. Tapi, kenapa Kakak bisa ada di sini?"


"Ceritanya nanti saja" Satya berkata sembari mengayunkan tangannya ke dua orang laki-laki berseragam OB yang ia ajak serta berlari menuju ke kamarnya Adam. "Tolong angkat adik saya ke mobil saya! Kita harus segera membawanya ke rumah sakit"


"Barang-barang di sini gimana?" tanya Alba.


Satya lalu meraih tas punggung dan kamera digitalnya Adam untuk ia bawa, lalu ia berkata ke Alba, "Bea yang perlu dulu aja. Tas selempang kamu tuh! Lainnya biar nanti diurus sama Hernowo"


Alba langsung meraih tas selempanganya dan mengalungkan ke lehernya lalu berlari menyusul langkahnya Satya.


Setelah mengunci pintu kamarnya Adam, Satya memberikan kunci kamar itu ke Hernowo yang telah berdiri di depannya dengan napas terengah-engah.


"Tolong urus sisa barang yang ada di kamarnya Adam. Kau bisa kirimkan ke rumahnya Adam, nanti, kan?" tanya Satya.


Hernowo menganggukkan kepalanya dan menepuk bahunya Satya sambil berkata, "Cepat bawa Adam ke rumah sakit aja dan urusan lainnya biar aku yang selesaikan!"


Beberapa jam kemudian, Pihak rumah sakit di kota tempat kelahirannya Hernowo memasangkan begitu banyak alat medis di tubuhnya Adam dan membawa Adam ke rumah sakit pusat dengan menggunakan helikopter. Alba dan Satya ikut masuk ke dalam helikopter tersebut.


"Aku yang salah karena tidak bisa membujuk Adam untuk segera balik dan segera menjalani pemeriksaan di rumah sakitnya Dokter Felix"


"Kamu nggak salah. Adam memang orangnya keras kepala. Dia bahagia, sangat bahagia saat ia bersama dengan dirimu jadi, dia lupa akan sakitnya. Adam akan baik-baik saat. Kau dengar kata dokter tadi, kan? Jadi, berhentilah menangis dan tenang, ya?! Kau harus kuat demi Adam, oke?" Satya merangkul bahunya Alba dan mengelus bahunya Alba untuk menenangkan Alba.


Dalam waktu satu jam, helikopter telah mendarat di rooftop rumah sakit miliknya Dokter Felix. Dokter Felix dan beberapa tim medisnya menyambut kedatangan pasiennya. Adam segera dibawa ke ruang ICU dan mulai menjalani observasi.


Dokter Felix menemui Alba, "Om kecewa sebenarnya sama kamu karena, kamu tidak bisa menjalankan amanat Om dengan baik. Kamu nggak bisa memaksa Adam untuk segera pulang dan menjalani observasi. Tapi, Om maafkan kamu. Untungnya Adam tidak terlalu buruk. Tiga hari lagi, dia harus dioperasi. Sekarang Adam tengah dipindahkan ke kamar rawat inap karena, ia sudah sadar. Tunggulah di kamar S05 VVIP! Adam akan segera dipindahkan ke sana"


Satya menemani Alba melangkah menuju ke kamar S05.


Beberapa menit kemudian, Satya dan Alba melihat Adam dibawa masuk ke dalam. Adam menatap Alba dan Satya dengan wajah semringah walaupun wajah tampannya Adam tampak lesu.


Setelah suster selesai memindahkan Adam ke bed yang ada di kamar S05, Alba langsung memeluk Adam dan berkata, "Mulai sekarang, aku nggak mau menuruti kamu lagi! Kamu yang harus nurut sama aku"


Adam mengelus mesra kepalanya Alba yang telungkup di atas perutnya dengan tawa lirih laku berucap, "Maafkan aku telah membuatmu khawatir dan panik. Aku akan nurut sama kamu mulai detik ini juga! Udah jangan nangis! Aku nggak papa kok"


Alba menarik wajahnya dari atas perutnya Adam saat pintu kamar terbuka dan suara bass-nya Alex Baron menggema di ruang rawat inap tersebut. Alex Baron menatap Alba dengan sorot mata tidak suka dan Alba bisa merasakannya. Nindya langsung menarik tangannya Alba untuk menjauh dari bed-nya Adam dan membentengi jarak antara Adam dan Alba dengan tubuhnya.


Di saat Adam celingukkan mencari Alba, Alex Baron memeluk tubuhnya dan Alex Baron menangis sesenggukan di sana.


Satya lalu mengajak Alba untuk keluar dari dalam kamar. Satya pun bisa merasakan kalau Alex Baron dan Nindya tidak menyukai Alba.