I Love You, Adam

I Love You, Adam
Legit dan Manis



Adam menghentikan kegiatannya memburu bibirnya Alba tepat di saat hidungnya mencium bau yang aneh dan asing baginya. Adam menghentikan aktivitas panasnya lalu menegakkan wajahnya sambil berkata, "Bau apa ini?"


Alba langsung mengurai gelungan lengan Adam di pinggang.kecilnya lalu melangkah maju dan langsung berputar badan dengan cepat ke kompor untuk mematikan kompor dan di saat ia membuka tutup kukusan, ia memekik kesal, "Astaga! Siomay kukusku hampir saja gosong. Untung masih bisa diselamatkan, hanya air di kukusan aja yang sudah habis, fiuuuhhh"


Adam tidak merespons semua ocehannya Alba karena hasrat di dirinya yang ingin mencium bibirnya Alba belum lah padam, tapi Alba sudah menghilang dari dalam pelukannya


Alba lalu menoleh ke Adam, mendekati Adam untuk menggetok keningnya Adam dengan capit makanan yang terbuat dari plastik dan masih berada di dalam genggaman tangan kanannya. Adam langsung mengaduh dan langsung mengelus keningnya. Alba menatap Adam dengan wajah kesal dan kembali berkata, "Kamu sih ganggu aja. Pergi sana dan tunggu di meja makan!" Alba melotot ke Adam sambil bersedekap.


Alih-alih berbalik badan, Adam bergeming di depannya Alba.


"Mau aku getok lagi pakai ini?" Alba mengangkat tangan kanannya yang masih memegang capit makanan.


Adam mengerucutkan bibirnya, "Kamu ternyata galak banget, ish, ish, ish!" Lalu laki-laki tampan itu berputar badan dan pergi meninggalkan Alba sambil terus mengelus jidatnya.


Noah langsung bangkit dan berlari mendekati papa Bintangnya, "Papa kena getok pasti"


Adam berjongkok dan tersenyum lebar di hadapannya Noah, lalu ia meringis sambil menganggukkan kepalanya dan terus mengelus keningnya.


Noah meniup dan mengelus kening papa Bintangnya. Setelah meniup kening papa Bintangnya beberapa kali tiupan, Noah kemudian berkata, "Noah, kan, udah bilang ati-ati ke Papa, tadi. Dan Noah juga udah bilang ke Papa, jangan pergi ke dapur!"


"Hehehehe. Iya. Papa minta maaf karena nggak nurut sama Noah. Tapi, Papa senang kok kena getok. Itu tandanya, Mama kamu, perhatian sama Papa" Adam lalu bangkit berdiri dan menggendong Noah.


"Noah heran sama orang dewasa. Digetok itu, kan, sakit, kok bisa dibilang sayang?"


Adam terkekeh geli dan setelah mencium pipinya Noah, ia menurunkan Noah di depan meja makan. Noah Kembali duduk di kursinya semula lalu menoleh ke Adam, "Jangan ke dapur lagi! Kita tunggu Mama di sini dengan sabar"


"Ok, Bos kecilku" Adam berkata sembari mengusap rambutnya Noah.


Kedua laki-laki tampan yang memiliki rambut, bola mata, warna kulit, dan wajah yang sangat mirip itu, akhirnya memilih untuk bermain tebak huruf sambil menunggu Alba bergabung di meja makan daripada melongok ke dapur dan kena getok alat masak.


Beberapa menit kemudian, Alba muncul dengan membawa dua wadah makanan, yang satu berisi gurame asam manis dan yang satunya lagi, cumi goreng tepung.


Noah langsung merosot turun dan berlari ke dapur. Adam langsung berdiri dan menyusul Noah. Sesampainya di dapur, Adam melihat Noah berjinjit dan berusaha mengambil gelas.


Adam langsung membantu Noah, "Kenapa nggak minta bantuan?"


"Noah bisa kok" Sahut Noah.


"Mau ambil berapa gelas?" tanya Adam.


"Empat. Untuk Saya, Papa Bintang, Mama, dan Oma Heni. Om Satya nggak pulang hari ini"


Adam mengambil empat gelas lalu meletakkannya di atas nampan.


Noah lalu menuangkan sirup di semua gelas di depannya dan di saat ia berlari ke lemari es, Adam kembali bertanya, "Kau mau ambil apalagi?"


"Tempat minum. Sirup, kan, enaknya diminum pakai air dingin" Sahut Noah sembari mengambil tempat air minum yang terbuat dari plastik khusu untuk minuman lalu mendekapnya dengan kedua tangan mungilnya.


"Sini, biar Papa yang bawa!"


"Noah bisa kok. Papa bawa siomaynya aja ke meja makan. Mama kalau menata meja makan tuh lama" Sahut Noah.


"Kamu yakin bisa?"


"Bisa. Noah setiap hari membantu Mama bikin minum. Itulah kenapa semua gelas di sini terbuat dari plastik agar aman untuk Noah bawa"


"Kamu benar-benar anak yang sangat cerdas dan baik hati" Adam mencium pucuk kepalanya Noah lalu ia bergegas mengambil wadah makanan yang berisi siomay kukus. Kemudian ia bawa wadah berisi siomay kukus itu ke meja makan.


Adam melihat Oma Heni telah duduk di meja makan. Adam langsung tersenyum, menganggukkan kepalanya ke Oma Heni dan berkata, "Maafkan saya, saya nunut makan lagi di sini"


"Santai aja. Kita sebagai manusia harus saling berbagi, kan?"


Adam tersenyum lebar ke Oma Heni lalu ia meletakkan wadah berisi siomay di atas meja makan dengan berkata, "Iya. Anda benar. Berarti besok, giliran saya yang harus menyiapkan makan malam untuk kita semua"


Oma Heni tersenyum lebar ke Adam dan berkata, "Boleh. Ide bagus tuh"


Saat Adam hendak berbalik ke dapur untuk membantu Noah membawakan nampan berisi empat gelas plastik es sirup, Noah sudah sampai di meja makan dan meletakkan nampan berisi empat gelas plastik es sirup di atas meja makan.


Mereka makan dengan penuh rasa bahagia karena masakannya Hana yang sangat lezat dan karena kebersamaan mereka di malam hari itu dipenuhi cinta kasih yang tulus.


"Hmm! Enak banget masakan kamu, Ba" Adam tersenyum lebar ke Alba sembari mengunyah makanan yang sudah mendarat manis di dalam mulutnya.


"Alba memang jago masak" Sahut Oma Heni.


"Mama juga jago main piano, main gitar, dan jago bernyanyi" Sahut Noah.


Adam belum mengalihkan pandangannya ke Alba kemudian dengan sorot mata penuh arti, ia berucap, "Beruntung sekali pria yang menjadi suami kamu"


Noah menoleh ke Adam dan dengan wajah polosnya ia berucap, "Iya benar. Papa adalah pria yang beruntung"


"Noah!" Alba langsung mendelik ke Noah dan Noah langsung menundukkan wajahnya lalu berkata lirih, "Maafkan, Noah"


Adam langsung mendelik ke Alba, "Kenapa kau melotot ke Noah dan berteriak ke Noah?! Apa salah Noah, hah?!"


"Karena.........." Alba tidak sanggup melanjutkan kalimatnya dan memilih untuk bangkit berdiri dari tempat.duduknya lalu berputar badan dan berlari kecil menuju ke teras belakang.


Oma Heni langsung berdiri untuk memeluk Noah dan berkata, "Maafkan Mama kamu, ya. Mama kamu lagi capek, pasti"


"Iya Oma" Noah berucap sembari memeluk erat tubuh Oma Heni yang sangat ia sayangi dan sangat menyayanginya. Lalu Oma Heni menoleh ke Adam, "Susul dia!"


Adam langsung bangkit dan berlari kecil ke teras belakang.


Adam tertegun saat ia melihat Alba tengah berjongkok di tengah taman dan menangis sesenggukan. Kemudian, Presdir


muda dari Baron Grup itu melangkah pelan mendekati Alba dan berjongkok di sampingnya Alba.


"Maafkan aku karena telah membentakmu tadi" Adam berkata lirih.


"Tinggalkan aku!" Alba berucap di sela isak tangisnya.


"Aku nggak mau pergi. Aku akan menunggumu sampai tangis kamu reda. Kau mau dengar guyonan? Emm, aku nggak pandai bikin guyonan, tapi akan kau coba bikin agar kamu ketawa dan nggak nangis lagi. Emm, ada seorang gadis bertanya ke kekasihnya, makanan apa yang kau suka? kekasihnya menjawab sayur Gudeg"


Dan tanpa Adam duga, Alba mengangkat wajah, mengusap air mata di pipi lalu menoleh ke Adam dengan tanya, "Kenapa sayur Gudeg?"


Adam tersenyum senang karena akhirnya Alba mau menoleh ke arahnya dan tidak menangis lagi.


"Kok malah senyum nggak jelas kayak gitu? Kenapa sayur Gudeg?" Alba menautkan alisnya ke Adam.


Adam terkekeh geli lalu menjawab, "Karena sayur Gudeg,kan, semakin lama justru semakin terasa manis dan legit. Legit, sama seperti kamu dan manis, sama seperti cintaku padamu"


Tanpa Alba sadari ia mengulum bibir menahan geli dan Adam tertawa lirih lalu berucap, "Kamu lebih manis kalau tersenyum. Kumohon jangan menangis lagi! Tapi, kenapa kamu menangis?"


Alba langsung memerah wajahnya karena malu kemudian wanita manis itu bergegas berdiri lalu berlari kecil masuk kembali ke dalam. Alba langsung memeluk Oma Heni dan Noah sambil berkata, "Maafkan, Mama, ya, Noah"


Noah memeluk erat tubuh ramping Mamanya sambil berucap, "Noah selalu memaafkan Mama. Sama seperti Mama yang selalu memaafkan kenakalannya Noah. I Love You, Mama"


"I love you too" Sahut Alba.


"Aku juga mencintai kalian" Sahut Adam.


Oma Heni, Alba, dan Noah terkejut mendengar ucapannya Adam dan secara serentak mereka menoleh ke Adam lalu mereka tertawa.


Adam langsung merengut, "Aku serius kok diketawain, sih"


Oma Heni,.Noah, dan Alba kembali tertawa.


Setelah Alba menidurkan Noah dan Oma Heni pamit pulang, Adam mengajak Alba duduk di teras depan dan menagih janjinya Alba, "Katanya mau ceritakan sesuatu ke aku. Apa itu?"


Alba menatap Adam dengan helaan napas panjang dan berkata, "Baiklah. Aku akan mulai bercerita,.tapi aku minta kau dengarkan saja ceritaku dengan baik tanpa harus berusaha mengingat apapun, oke?"


"Oke" Sahut Adam.