I Love You, Adam

I Love You, Adam
Kekesalan Adam



Akhirnya Adam dan Alba sampai di depan gerbang besi nan kokoh yang mengelilingi rumah yang sudah ditempati Adam sedari Adam lahir ke dunia ini.


Alba mengedarkan pandangannya melihat halaman hijau luas yang ada di balik gerbang besi tinggi dan kokoh itu lalu Alba mendongakkan wajahnya sampai ke lantai empat rumah besar yang menguasai sebagian besar halaman luas di balik pagar besi tinggi menjulang kokoh itu.


Alba kemudian berucap, "Besar sekali rumahmu. Rumahku pasti hanya seluas kamar mandi di dalam rumah kamu, ya?"


Pletak! Adam menyentil keningnya Alba dan berucap," Kalau disuruh memilih, aku lebih suka tinggal di rumah kamu"


Alba mengelus-elus keningnya, "Aduh! sakit!" sambil merengut dia berucap.


"Makanya jangan asal ngomong kalau nggak ingin disentil" Adam berucap dengan senyum jahilnya.


Alba lalu memajukan wajahnya ke Adam yang berdiri tegak di depan setang sepedanya, "Andai kita bisa bertukar tempat, aku akan sangat suka tinggal di rumah sebesar ini?"


Adam tersenyum tipis lalu berucap, "Kau bahkan belum merasakan tinggal di balik jeruji besi ini. Di dalam sana, hanya ada kesunyian, tak ada kehangatan sama sekali dan aku yakin jika kau bertukar tempat denganku, kau setiap hari akan menggertakkan gigi kamu dan bahkan menangis"


"Lebay" Alba menepuk bahunya Adam lalu ia memutar sepedanya, menoleh ke belakang dan berucap, "Aku pulang dulu, ya"


Adam menahan bagian belakang sepedanya Alba lalu berucap, "Tunggu! Biar kamu diantar pulang sama supirku. Ada mobil pick up. Sepeda kami bisa ditaruh di belakang. Ini sudah hampir malam. Bahaya buat anak gadis bersepeda malam-malam"


"Nggak papa, aku udah terbiasa" Alba nekat menarik sepedanya hingga terlepas dari cengkeramannya Adam lalu dengan cepat ia menggowes sepedanya sambil melambaikan. tangan kirinya ke Adam.


Adam menatap kepergiannya Alba dengan senyum ceria. Hatinya merasa sangat bahagia dan terasa sangat hangat lalu ia bergumam, "Dasar gadis bodoh. Kenapa dia nggak paham kalau aku belum ingin berpisah dengannya. Kalau dia mau dianter pak Bejo supirku, aku kan bisa ikut lagi ke rumahnya dan bisa lebih lama lagi mengobrol dengan kamu tapi, dasar bodoh! Kau malah menolah tawaranku tadi"


Adam lalu menoleh ke pos satpam dan berkata, "Buka gerbangnya!"


Salah satu satpam yang berjaga di rumahnya Adam selama dua puluh empat jam segera berteriak, "Siap Tuan muda!" dan terbukalah gerbang besar itu.


Adam melangkah masuk dengan kedua tangan berada di dalam saku celananya. Berjalan kaki dari gerbang depan menuju ke bangunan utama yang menjadi huniannya memerlukan waktu selama sepuluh menit.


Adam menghentikan langkahnya saat ia melihat ada dua buah mobil di halaman depan pintu masuk rumahnya. "Papa sudah pulang? Nenek sihir itu juga berada di sini" Adam merasa enggan untuk melangkah masuk namun, rasa lelah memaksa kakinya untuk melangkah masuk ke dalam rumah.


Papanya Adam tengah berciuman dengan Nindya kekasihnya. Adam merasa aneh dan memilih berbelok ke kamarnya tanpa menyapa Papa dan calon ibu tirinya itu dan Bam! dia membanting pintu kamarnya.


Papanya Adam dan Nindya tersentak kaget dan bibir mereka berdua spontan terpisahkan. "Adam sudah pulang" Ucap papanya Adam dan Nindya tersenyum dengan kata di dalam hatinya, Apa Adam cemburu padaku? Makanya ia membanting pintu kamarnya?"


Adam meletakkan tas ranselnya di atas meja belajarnya lalu ia bergegas mandi. Setelah mandi ia rebahan di atas kasur mewahnya sembari memencet-mencet remote Smart TV-nya yang super besar dan terpasang apik di dinding kamarnya, menghadap ke ranjangnya. Adam terus memencet-mencet remote TV dengan pandangan mengarah ke layar TV tapi, benaknya melayang-layang ke momen di saat ia nekat mencium calon ibu tirinya dan ibu tirinya membalas ciumannya.


Tok, tok, tok. Pintu kamarnya diketuk dan terdengar suara papanya dari luar memanggilnya untuk makan malam bersama. Adam menyahut dari dalam kamarnya dengan teriakan, "Aku akan makan nanti setelah wanitanya Papa pulang!"


Nindya yang diminta oleh papanya Adam untuk menginap malam itu bersitatap dengan papanya Adam. Kemudian Nindya berucap, "Aku akan pulang aja kalau gitu, Mas"


Papanya Adam menahan lengannya Nindya, "Nggak jangan! Aku sangat merindukanmu. Kita udah lama nggak menghabiskan waktu bersama"


"Tapi, Adam tidak menyukai aku ada di sini, Mas" sahut Nindya.


"Kamu tunggu dulu di ruang makan! Aku akan coba bicara dengan Adam" Papanya Adam mengecup keningnya Nindya lalu mengelus rambut indahnya Nindya.


Nindya menganggukkan kepalanya dan melangkah ke ruang makan.


Papanya Adam mencoba membuka pintu kamar putranya dan langsung melangkah masuk saat pintu itu terbuka. Adam tetap memainkan remote dan menatap layar televisinya.


Laki-laki tampan yang sudah menginjak kepala empat itu duduk di tepi ranjang lalu berkata, "Cobalah untuk mengenal calon Ibu tirinya, Adam! Papa mohon. Papa sangat mencintai calon Istrinya Papa itu. Kalau kamu mengenalnya, kamu akan menyayanginya. Dia baik, lembut, dan........."


"Munafik" Adam menambahkan kata itu dengan acuh tak acuh.


Papanya Adam menghela napas panjang, "Adam, kau belum mengenalnya. Kenapa kau mengatakan kalau dia munafik?"


Adam diam saja dan masih aja melanjutkan aktivitasnya memencet-mencet remote TV.


Nindya hendak duduk di atas kursi meja makan lalu ia berucap lirih, "Astaga! Kalau Adam memberikan rekaman itu?" Nindya langsung bergegas berlari menuju ke kamarnya Adam.


Nindya sampai di dalam kamarnya Adam di saat Adam bangkit. Adam dan Nindya bersitatap dan Papanya Adam langsung bertanya ke Nindya, "Kenapa kamu kemari, Sayang?"


Nindya tersentak kaget dan dengan tatapan mata yang masih mengarah ke kedua bola matanya Adam, Nindya berucap, "A.....aku mengkhawatirkan Adam, Mas. Aku takut kalau Adam sakit lagi. Adam sempat sakit di vila kemarin"


Papanya Adam menoleh ke Adam, "Kenapa kau tidak cerita ke Papa kalau kau sakit waktu di vila? Kau baik-baik saja kan sekarang?"


Adam menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun lalu ia melangkah keluar dari dalam kamar mendahului papa dan calon ibu tirinya.


Nindya menggamit lengannya calon suaminya dan sambil melangkah menuju ke ruang makan ia berucap, "Untung ada aku, Mas. Aku yang memantau kesehatannya Adam"


"Terima kasih, ya. Kau memang Ibu guru yang baik dan calon Ibu tiri yang baik untuk Adam" Papanya Adam mendaratkan ciuman di ujung kepalanya Nindya dan Nindya tersenyum lega dengan kata di hatinya, Sepertinya Adam belum memperlihatkan rekaman itu ke Papanya. Syukurlah dan semoga Adam nggak pernah memperlihatkan rekaman itu ke Papanya.